SENANDUNG KEIKHLASAN

SENANDUNG KEIKHLASAN
Bab 79. Kedatangan Yudha Kembali


__ADS_3

Vira merasa kehidupannya jauh lebih baik sekarang dan juga terasa lebih nyaman ketika dia berhasil mendapatkan satu asisten yang merupakan seorang perempuan muda. Gadis itu sepertinya baru saja tamat SMA dan tidak melanjutkan kuliahnya.


Dia gadis yang ramah dan sangat santun. Sangat ahli dalam pekerjaan rumah, terutama memasak. Bahkan Gadis itu mengaku bahwa memasak adalah hobinya. Setidaknya semua ini bisa meringankan beban Vira. Dengan begini dia hanya perlu fokus pada kebutuhan anaknya. Asistennya yang kemarin membantu Vira dalam menjaga Leon, putranya


Semua itu tidak luput dari usaha Raka dalam mencari asisten bagi Vira. Bukan sembarang mencari, dia juga memastikan bahwa orang yang akan dipekerjakan sebagai asisten maupun security di apartemen tersebut adalah orang baik-baik. Jangan sampai mereka malah menyerang dari dalam dan memanfaatkan situasi.


"Maaf kalau aku sedikit terlambat hari ini. Pekerjaanku jadi menumpuk. Ada banyak hal yang harus ditangani di kantor," ucap Raka.


Vira tersenyum ketika melihat kedatangan Raka. Pria itu terlihat sedikit berkeringat. Sepertinya dia memang sangat kelelahan.


"Sejak kapan aku mengatur waktu agar Mas datang kemari sehingga merasa terlambat hari ini? Mas bisa datang kapan pun mau. Aku merasa tidak masalah dengan itu. Ini aja aku sudah sangat malu karena sering merepotkan Mas," ucap Vira sambil memberi dot pada bayinya. Tentu saja bukan susu formula, melainkan ASI milik Vira sendiri yang sudah dipompa.


"Aku merasa kamu telah menjadi kewajibanku, walau kita akan menikah satu bulan lagi," ujar Raka.


"Aku merasa menjadi beban kamu, Mas. Padahal kita baru akan meresmikan pernikahan bulan depan, tapi aku sudah banyak merepotkan."


"Jangan pernah katakan itu lagi. Kamu dan Leon itu sudah menjadi tanggung jawabku sejak kita memutuskan menikah," ujar Raka.


Vira merasa menjadi beban karena selama ini, walau telah menikah dengan mantannya, dia tetap membiayai semua kebutuhannya dengan uang sendiri. Karena gaji Yudha hanya cukup biaya kebutuhan dapur dan kakaknya Yuni. Bahkan buat Yuni, Vira yang akan menambahnya.


Tanpa pernah Vira pikirkan ternyata pada hari itu juga mantan suaminya datang bersama mantan mertuanya. Vira merasa sedikit terkejut ketika mendengar suara bel apartemen itu berbunyi. Raka yang membuka pintunya, sedangkan Vira berdiri di belakang Raka dan melihat siapa yang datang.


"Wah, kebetulan sekali kalian berdua datang. Silakan masuk dulu," ucap Raka dengan ramah pada Yudha dan juga Ibu Desi. Yudha yang melihat wajah Raka pertama kali setelah pintu itu terbuka tentu saja merasa terkejut.

__ADS_1


Ada rasa dendam dan cemburu dalam hatinya terlebih ketika melihat Vira ada di belakang Raka. Dia tentu saja tidak terima apabila Raka yang lebih dulu datang ke apartemen itu daripada dirinya.


Dalam diam Yudha masuk ke apartemen itu, akan berat rasanya tersenyum pada Vira dalam keadaan seperti ini. Sekilas Yudha melirik ke arah anaknya yang digendong oleh Vira. Hatinya langsung luluh seketika. Melihat wajah itu seakan mengubah dunianya dalam sekejap. Dia yang tadinya cemburu dan marah pada Raka, kini merasa meleleh setelah melihat wajah lembut dari bayinya.


"Aku tidak tahu kalau Mas akan datang hari ini. Mas mau makan sesuatu atau Ibu ingin aku buatkan apa?" tanya Vira dengan ramah pada Yudha. Sejenak pria itu tidak menjawab sama sekali karena bingung harus mengatakan apa. Dia terlalu merasa canggung apabila ada Raka di sana. Dia merasa malah menjadi orang asing di sini sekalipun dia adalah ayah biologis dari bayi itu.


"Um, tidak apa-apa. Aku hanya ingin menjengukmu. Ibu juga sangat rindu pada bayi ini. Ibu ingin menggendongnya sebentar saja. Itu pun kalau kamu mengizinkan."


Vira tersenyum mendengar jawaban Yudha. Dia menatap sekilas pada mantan ibu mertuanya itu. Merasa sedikit kasihan ketika menyadari bahwa ada harapan besar di mata perempuan tersebut agar bisa menggendong bayi Vira. Dan tentu saja dia membiarkan Ibu Desi menggendong bayinya. Bagaimanapun dia adalah neneknya Leon.


Ibu Desi merasa sangat bahagia namun tidak mengatakan apa pun. Dia merasa bahwa perasaannya saat ini tidak bisa digambarkan dengan kalimat apa pun, bahkan untuk seorang pujangga atau sastrawan terbaik sedunia.


Dia menggendong bayi itu menjauh dari sana, memberikan tempat yang nyaman dan juga sejuk untuk bayi tersebut. Sedangkan Yudha, Vira, dan juga Raka duduk di ruang tamu.


"Dia asisten baru di rumah ini. Raka yang memilih dia sebagai asisten di sini. Raka bilang kalau aku akan sedikit kerepotan apabila mengerjakan tugas rumah sendirian dan dalam keadaan bayiku masih berusia dua bulan. Dia juga mempekerjakan security untuk menjaga rumah ini di malam hari."


Yudha merasa sangat sakit hati mendengar apa yang dikatakan oleh Vira. Vira malah menceritakan semua itu dengan wajah berseri-seri, memperlihatkan kebahagiaannya setelah mendapat perhatian banyak dari Raka.


Yudha tentu saja tidak rela apabila ini terjadi pada dirinya. Dia tidak mau ada lelaki lain yang menjadi pahlawan bagi perempuan itu. Tidak ada pahlawan lain selain dirinya. Seharusnya dia yang lebih peduli kepada bayinya sekarang. Orang lain tidak berhak sama sekali.


"Oh, syukurlah kalau memang begitu. Setidaknya kamu hanya harus fokus pada anak kita dan tidak perlu terlalu khawatir untuk pekerjaan rumah ataupun soal keamanan." Yudha tentu saja berpura-pura senang akan hal tersebut. Biar bagaimanapun dia tidak mau mengganggu suasananya. Dia tidak mau ada keributan yang tidak berarti sama sekali di sini.


Mendengar Yudha mengatakan anak kita ada sedikit cemburu di hati Raka. Namun, jawaban dari Vira membuat dirinya kembali tersenyum.

__ADS_1


"Bayinya juga tumbuh sangat sehat. Aku tidak membiarkannya untuk meminum susu formula untuk saat ini selagi aku masih bisa menyusuinya. Untungnya ASI-ku cukup lancar. Semuanya karena bantuan dari keluarga Mas Raka juga, terutama Mama. Mereka membiarkanku istirahat total setelah melahirkan agar aku tidak depresi. Mungkin itu menjadi alasan aku bisa lancar menyusui hingga saat ini dan tidak ada beban sama sekali."


Vira seperti tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat ini, sekali lagi tidak sadar kalau Yudha merasa terluka dengan semua yang dia katakan. Yudha tidak pernah berpikir sama sekali bahwa bukan hanya Raka yang peduli pada mantan istrinya, melainkan juga seluruh keluarga pria itu.


Ibu Desy juga merasa tertampar mendengar penuturan Vira. Mantan menantunya itu terus-terusan memuji mama Raka.


"Apa keluarga Raka juga sering datang kemari?" tanya Yudha.


"Tidak, tapi dua bulan yang lalu,sejak Leon lahir, kami menyuruh Vira untuk tinggal di rumah dan dirawat oleh Mamaku. Jadi selama dua bulan itu dia istirahat total. Banyak orang yang membantunya di sana. Jadi sekarang sangat mudah baginya untuk kembali sehat pasca melahirkan," jawab Raka.


Kali ini giliran Raka yang menjawab. Sama seperti Vira, Raka juga tidak menyadari kalau lelaki di hadapannya ini merasa sangat terluka dengan apa yang mereka katakan sejak tadi.


"Sepertinya kamu dan Raka sudah makin dekat," ucap Yudha.


"Tentu saja kami harus mendekatkan diri karena sebulan lagi kami akan menikah," ujar Raka lagi. Vira tampak tersenyum dan duduk makin mendekat dengan Raka.


Yudha merasa harga dirinya hancur begitu saja. Sekarang dia merasa sangat gagal sebagai lelaki yang selama ini tidak bisa membahagiakan Vira. Dia harus menerima kenyataan bahwa Vira sudah bahagia bersama lelaki lain di mana keluarga lelaki itu juga sangat mencintai Vira seperti mencintai anak mereka sendiri.


Yudha teringat kembali pada kelakuan ibunya. Semua itu membuatnya malu dan tidak bisa lagi berkata-kata. Dia merasa bahwa dia adalah pria paling pengecut di dunia. Seakan sudah tidak ada lagi perempuan yang mau bersamanya dan dia juga tidak bisa membuka hati dalam keadaan seperti ini, atau mungkin selamanya tidak akan pernah lagi membuka hati.


...****************...


Selamat Siang, sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.

__ADS_1



__ADS_2