
Sejak pernyataan cintanya diterima Vira, hubungan Raka dan Vira makin dekat. Dia mendapatkan banyak perhatian bukan hanya dari atasannya itu saja. Namun, ibu Raka juga sering mengirim makanan buat dirinya.
Vira sangat berharap, jika dia dan Raka menikah, perhatian kedua orang tua Raka tidak berubah. Dia juga ingin berhubungan dekat dengan mertuanya, tidak seperti dulu dengan ibunya Yudha.
Hari ini Vira merasa sangat senang karena Raka mengajaknya untuk pergi ke toko pakaian. Mereka akan memilih banyak pakaian untuk calon bayi Vira nanti. Vira berusaha membuat dirinya terlihat rapi dan nyaman dilihat pagi ini. Dia juga merasa lebih segar. Raka kembali meneleponnya pagi itu untuk memastikan kalau Vira sudah siap untuk dijemput.
"Vira, apa kamu yakin kalau tidak terlalu merasa lelah hari ini? Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk ikut bersamaku ke toko kalau memang kamu merasa tidak kuat berjalan." Itu hal pertama yang diucapkan Raka setelah Vira mengangkat telepon itu.
Vira hanya tersenyum, memaklumi mengapa Raka begitu khawatir pada kondisinya padahal Raka sendiri yang mengajaknya kemarin untuk pergi ke toko pakaian.
Pria itu hanya tidak ingin dirinya kelelahan. Akhir-akhir ini Vira sering kelelahan karena kandungannya yang makin membesar.
"Tidak apa-apa. Kurasa tidak akan ada masalah apa pun, Mas. Aku merasa kalau aku cukup bugar untuk bergerak pagi ini. Lagi pula tidak mungkin juga aku menghabiskan hari hanya dengan berbaring sepanjang hari di rumah."
Mendengar kalau suara Vira cukup ceria di seberang sana, Raka jadi dengan mudah melupakan rasa khawatirnya itu. Sekarang dia yakin bahwa tidak masalah sama sekali kalau dia mengajak Vira berkeliling toko, jelas tidak akan terlalu berlebihan, minimal mereka sudah membeli beberapa baju bayi yang sesuai dengan selera Vira.
"Baiklah kalau memang begitu. Aku akan menjemputmu sekarang. Jika lelah jangan dipaksa, kita bisa pesan secara online."
"Nggak apa, Mas. Aku juga ingin menghindari langsung."
"Baiklah, aku segera ke sana."
__ADS_1
Vira pun menunggu di ruang tamu apartemennya, dan dalam beberapa hitungan saja orang yang dia tunggu akhirnya datang. Vira tersenyum tipis melihat kedatangan Raka. Hari ini Raka juga tampak sangat rapi dengan kaos sederhana yang dipadu dengan celana jeans.
Raka dan Vira langsung meninggalkan apartemen. Mereka menuju keparkiran mobil dengan bergandengan. Tampak seperti sepasang suami istri.
"Ayo, sebelum tokonya ramai dan jadi sesak. Kita harus cepat," ucap Raka sambil membukakan pintu mobil untuk Vira.
Vira pun memasuki mobil itu, mereka melaju menuju toko pakaian khusus bayi.
"Apa tidak ada masalah beberapa hari terakhir ini? Dokternya juga tidak bermasalah, bukan?" tanya Raka sambil fokus menyetir mobil. Vira mengangguk, dia memang merasa jauh lebih baik setelah ditangani oleh dokter yang direkomendasikan oleh Raka kemarin.
Bahkan sekarang Vira merasa sudah tidak perlu mengkhawatirkan banyak hal yang berkaitan dengan kandungannya. Dia percaya bahwa dokter pribadinya akan melakukan sesuatu yang terbaik untuk kesehatannya dan juga kesehatan sang calon bayi.
"Ya, aku sangat berterima kasih karena Mas memilihkan dokter itu untukku. Aku berharap itu tidak terlalu membuat kamu kerepotan atau menguras isi dompetmu. Mas tahu kalau sebenarnya aku juga bisa membayar dokter itu dengan uangku sendiri."
Vira tersipu mendengar hal itu. Benar, tidak terpikir sama sekali kalau sebentar lagi dia akan kembali mendapatkan seorang lelaki yang akan menjadi provider dan protector untuknya. Padahal dia sudah berpikir bahwa setelah ini dia tidak akan menikah lagi dan memilih untuk fokus merawat calon anaknya nanti. Namun ternyata semesta memiliki rencana sendiri untuk Vira. Rencana yang tidak pernah dipikirkan oleh Vira sendiri. Tidak pernah menduga akan menikah dengan bosnya sendiri yang super baik dan lembut.
"Dan sayangnya mungkin aku tidak terbiasa hidup seperti itu. Aku telah terbiasa hidup dengan uang sendiri, begitu juga saat menjadi istri Mas Yudha. Aku juga biasa bebas tanpa larangan."
Raka kembali tersenyum. "Aku tidak akan pernah mengekangmu bahkan setelah kita menikah nanti. Kamu bebas mencapai apa pun yang menjadi ambisimu. Aku juga tahu kalau kamu manusia biasa yang punya hasrat untuk mengejar impiannya sendiri. Itu sesuatu yang sebenarnya sudah sangat biasa bagi siapa saja."
Beberapa menit mereka habiskan di perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di toko itu. Vira langsung melihat sekeliling dan merasa sangat takjub melihat baju bayi di sana. Dia sampai merasa bingung harus memilih yang mana. Semuanya cantik dan lucu. Dia jadi membayangkan akan seperti apa anaknya nanti apabila mengenakan semua pakaian itu sekaligus memainkan mainannya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu harus memilih yang mana. Aku tidak pandai memilih pakaian, apalagi memilih pakaian bayi untuk pertama kalinya." Vira sampai menggaruk kepalanya karena merasa sangat bingung. Raka tentu saja lebih merasa bingung karena itu, dia tidak berpengalaman dalam hal mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan bayi. Sejak dulu dia tidak dibiasakan dalam hal itu.
Beruntungnya, para petugas toko itu mau membantu mereka dan merekomendasikan berbagai macam jenis baju di sana. Pada saat mereka sibuk memilih baju, tanpa disangka sama sekali Vira melihat mantan suaminya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Yudha. Bukan hanya Vira, Yudha sendiri juga menyadari keberadaan perempuan itu di sana bersama lelaki lain.
Yudha hanya menatap sekilas dari jauh, tidak berani untuk berjalan mendekat dan bertukar sapa dengan Vira. Dia hanya bisa melihat Vira yang tampak bahagia membeli baju bayi bersama lelaki lain. Pemandangan itu membuat hatinya semakin sakit. Penyesalan kembali menyergapinya.
Lihatlah, bahkan aura wajah Vira tampak jauh lebih baik daripada ketika sedang bersamanya. Vira tanpa jauh lebih bahagia sekarang setelah dia pergi. Dia yakin kehidupan perempuan itu kini lebih tentram bila tidak ada dirinya.
"Seharusnya aku yang mendampingi kamu mencari pakaian bayi buat anak kita," ucap Yudha dalam hatinya.
Sedangkan Vira sendiri juga berusaha untuk mengalihkan perhatiannya agar tidak fokus pada Yudha yang tidak sengaja dia lihat dari kejauhan. Dia tidak mau mengacaukan suasana di saat bahagia seperti ini. Dia hanya ingin menikmatinya bersama dengan Raka. Tidak mau ada satu hal kecil saja yang mengganggu momen mereka.
"Saya pilih yang ini saja, ya, Mbak," ucap Vira kepada pemilik toko itu, masih berusaha berpura-pura bahwa dia tidak melihat keberadaan Yudha di sana. Raka sendiri juga tidak menyadari keberadaan Yudha. Dia terlalu senang ketika Vira begitu bersemangat mencari banyak baju di sana.
"Kamu yakin sudah merasa cukup dengan semua baju ini? Kalau kamu sudah yakin, lebih baik sekarang kita pergi ke toko mainan. Aku yakin kamu akan semakin bingung lagi untuk memilih mainan mana yang cocok untuknya. Ada banyak aksesoris juga di sana."
Vira hanya tersenyum menanggapi perkataan Raka. Mereka kemudian berlalu dari sana dan Vira sudah tidak lagi melihat keberadaan Yudha di mana pun. Dia merasa sangat lega karena setidaknya tidak ada hal yang bisa merusak suasana bahagia seperti ini.
Mereka pergi ke toko mainan dan Vira harus kembali pusing untuk menentukan mainan yang bagus untuk calon anaknya nanti. Setidaknya mainan yang akan dia beli ini bisa bertahan hingga beberapa bulan setelah kelahiran bayinya. Dia tidak perlu repot lagi kembali ke pusat perbelanjaan hanya untuk mencari mainan baru. Paling nanti anaknya akan meminta mainan baru setelah usianya sekitar dua atau tiga tahun.
Kali ini Raka berusaha untuk membantu Vira memilih. Dia tidak lagi hanya diam dan juga bertanya kepada pemilik tokonya. Dia juga merekomendasikan banyak mainan di sana yang bisa dibeli oleh Vira. Dalam sekejap saja Vira sudah melupakan Yudha yang baru beberapa saat yang lalu dia lihat. Dia ingin fokus pada kehidupan calon anaknya saat ini.
__ADS_1
...****************...