
Yudha dan kakaknya Yuni akhirnya pulang setelah Vira meyakinkan mereka jika dirinya tidak ingin kembali pada mantan suaminya itu. Dia tidak ingin mengulang masa lalu bersama pria itu lagi. Cukup sudah kesakitan yang dia alami. Bukannya Vira dendam, tapi itu semua demi kewarasan dirinya.
Vira mengambil nasi goreng yang tadi dimasaknya dengan segelas kopi. Wanita itu duduk di samping atasannya.
"Bapak pasti belum sarapan. Ini tadi saya buat nasi goreng. Makanlah!" ucap Vira. Wanita itu tahu kebiasaan atasannya yang jarang mau sarapan. Di kantor saja, Vira yang selalu mengingatkan Raka.
"Terima kasih, Vira. Aku memang lapar," ucap Raka.
Raka menyantap hidangan dengan lahapnya. Tanpa malu, pria itu menghabiskan sepiring nasi yang Vira berikan.
"Bapak lapar apa doyan?" tanya Vira dengan senyuman.
Atasannya itu menyantap nasi goreng tanpa sisa sebutir nasipun di piring. Vira senang melihatnya.
"Dua-duanya. Lapar dan doyan." Vira kembali tersenyum mendengar jawaban dari pria itu. Tiada satupun karyawan yang tahu jika Raka sebenarnya suka bercanda. Hanya orang yang telah dekat dengan dia yang tahu sifat Raka sebenarnya.
"Aku datang untuk mengajakmu ke apartemen. Ada Papa dan Mama. Mereka ingin kenalan."
"Kenalan? Tapi saya malu. Lihatlah perut saya sudah makin membesar, Pak."
__ADS_1
"Kenapa malu? Justru seharusnya kamu bangga karena itu salah satu anugerah. Banyak wanita yang mengharapkan ada di posisi kamu hingga berobat kemanapun," ucap Raka.
Raka teringat mantan istrinya yang sangat mengharapkan kehamilan, yang pada akhirnya pergi untuk selamanya. Sejak saat itu Raka belum pernah membawa atau mengenalkan seorang wanita manapun pada kedua orang tuanya.
"Aku mandi dan ganti pakaian dulu, Pak."
"Oke. Aku tunggu di sini ya!"
Vira masuk ke kamar dan segera mandi. Setelah mandi, dia mengenakan dress selutut dengan warna pink menambah kecantikan wajahnya. Saat wanita itu keluar dari kamar, Yudha memandangi tanpa kedip.
Vira menunduk, menyadari jika dia diperhatikan. Wanita itu tersenyum menghampiri atasannya itu.
"Terserah Bapak."
Raka berdiri dari duduknya dan mengajak Vira, berjalan menuju mobilnya yang terparkir. Pria itu membukakan pintu untuknya. Setelah Vira masuk, barulah dia masuk dan mengendarai mobil dengan pelan menuju apartemen tempat dia tinggal. Sebuah apartemen mewah.
Setengah jam perjalanan, sampailah mereka di apartemen itu. Vira tampak gugup ketika akan masuk. Wanita itu berhenti di depan lift.
"Kenapa berhenti, Vir?" tanya Raka, melihat wanita itu berhenti melangkah.
__ADS_1
"Saya gugup, Pak. Sebenarnya kenapa kedua orang tua Bapak ingin kenalan dengan saya?" tanya Vira.
Raka tersenyum. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Kedua orang tuanya ingin bertemu karena Raka yang selalu saja menceritakan tentang Vira. Sebenarnya Vira juga telah merebut hati pria itu. Namun, Raka belum pernah terus terang mengatakan semua. Raka berpikir dengan perhatian yang dia berikan pastilah Vira mengerti.
"Aku sering cerita tentang kamu dengan mama. Maaf jika kamu keberatan."
"Cerita tentang saya? yang baik apa jelek, Pak?" tanya Vira lagi.
"Tentu saja yang baik. Makanya mama ingin kenalan." Raka mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
Vira tersenyum melihat tingkah laku Raka yang lucu jika sedang gugup. Vira sebenarnya penasaran dengan apa yang dikatakan Raka dengan ibunya.
Saat sampai di depan apartemen, Raka langsung membukanya. Degup jantung Vira berpacu dengan cepat. Dia takut kedua orang tua Raka tidak menyambut dengan baik.
Raka mengajak Vira masuk. Terlihat dua orang paruh baya sedang duduk menonton depan televisi. Vira tersenyum dengan keduanya.
"Selamat Siang, Bu. Bapak!" ucap Vira dengan tersenyum.
Kedua orang tua Raka menoleh mendengar suara sapaan. Keduanya tersenyum dengan Vira. Mama Raka lalu mempersilakan Vira duduk.
__ADS_1
...****************...