
Mendengar ucapan Alex, dada Weny terasa sesak. Ini yang selalu dikatakan pria itu. Jika bukan anaknya Alex, anak siapa lagi yang dia kandung. Bukankah mereka berdua sering melakukan hubungan badan, dan Weny hanya melakukan dengan pria itu.
"Jika ini bukan anakmu, jadi kamu pikir anak siapa?" tanya Weny dengan suara tinggi.
"Mana aku tahu. Kamu yang melakukannya," jawab Alex enteng. Wanita yang dipeluknya hanya tersenyum mendengar ucapan pria itu.
Weny merasa sangat hatinya terasa sakit. Nyeri. Kenapa pria itu bisa mengatakan itu.
"Aku bukan pel*cur. Tentu saja anak yang aku kandung ini anakmu! Aku hanya pernah melakukan hubungan badan denganmu saja!"
Alex tertawa mendengar ucapan Weny. Begitu juga wanita itu. Dia seolah mengejek apa yang Weny katakan. Itu membuat hatinya makin terasa sakit.
"Sepertinya aku salah lagi. Seharusnya aku sadar, kamu tidak akan pernah mau bertanggung jawab. Aku saja yang dulu begitu bodohnya mau terperdaya dengan mulut manismu. Padahal kau hanyalah seorang pecundang. Sampai kapanpun kamu tetaplah Alex yang hanya seorang pria pengecut. Yang hanya mau enaknya saja."
Tenggorokan Weny terasa tersekat, dadanya terasa sesak. Wanita itu menarik napas panjang, mencoba tersenyum seceria mungkin, padahal hatinya terasa sakit.
"Maaf aku mengganggu waktumu. Aku harap kau tidak akan pernah menyesal karena pernah menolak darah dagingmu sendiri. Aku berharap tidak ada wanita yang menjadi korban atas mulut manismu!" ucap Weny dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Weny membalikan badan dan berjalan meninggalkan Alex dan wanitanya. Dadanya kembali terasa sesak menahan sebak.
Air mata mulai jatuh membasahi pipi wanita itu. Dia tidak tahu apa yang akan dia katakan jika kedua orang tuanya bertanya, kenapa dia kembali ke rumah.
Kedua orang tua Weny itu bukanlah orang tua kandungnya. Dia hanyalah anak angkat. Itulah sebabnya dari kecil Weny sudah mencari uang jajan sendiri.
Weny berjalan terus tanpa pedulikan siapa-siapa. Air mata mengalir membasahi pipinya.
Aku harus bagaimana? Kemana aku harus pergi? Aku takut kembali ke rumah. Namun, jika tidak pulang aku mau kemana? Aku sudah nggak memiliki uang lahi.
Setelah capek berjalan, akhirnya Weny memutuskan tetap kemvali ke rumah orang tuanya. Dia tidak memiliki pilihan lagi.
Pintu rumahnya tampak terbuka. Weny berjalan masuk setelah mengetuk pintu rumah. Tampak kedua orang tuanya sedang menonton televisi.
"Selamat sore, Bu," sapa Weny.
Ibu memandangi Weny dengan intens. Pandangannya tertuju pada perut dan tas yang dibawa Weny.
__ADS_1
"Kenapa kamu bawa tas gede banget? Kamu mau menginap?" tanya Ibu Weny.
Weny berjalan menuju sofa dan duduk di samping kiri ibunya. Ayahnya juga memandangi Weny tanpa kedip.
"Kehamilan kamu sudah besar. Apa kamu dan Yudha telah berhubungan badan sebelum menikah?" tanya Ayah. Pria melihat ada kejanggalan dengan kehamilan putri angkatnya itu.
"Aku bukannya mau menginap. Tapi aku akan tinggal di sini lagi," ucap Weny pelan.
Ibu dan ayah tampak kaget mendengar ucapan Weny. Dahi ibu tampak berkerut.
"Apa maksud ucapanmu itu?" tanya ayah Weny.
"Aku dan Yudha telah berpisah. Jadi akan tinggal di sini lagi," ucap Weny.
"Berpisah? Kenapa kamu sampai berpisah? Apa yang kamu lakukan sehingga Yudha menceraikan kamu?" tanya Ayah dengan suara tinggi.
Weny hanya diam membisu. Tidak mungkin dia mengatakan jika Yudha menceraikan dirinya setelah mengetahui jika anak yang dikandungnya bukan anak pria itu. Jika dia jujur, Weny bisa pastikan ayahnya akan murka. Pikir Weny.
__ADS_1
...****************...