
Yudha sudah mendengar kabar kalau mantan istrinya itu telah melahirkan bayi yang sehat dan mirip dengannya. Hal itu membuat Yudha sudah tidak bisa menahan diri untuk melihat anak kandung yang dia idam-idamkan selama ini. Dia sudah tidak peduli apa yang akan dikatakan oleh Vira nanti bila dia datang ke rumah sakit untuk melihat bayi itu.
Untuk saat ini, dia hanya ingin bertemu buah cintanya. Ibunya sendiri juga sudah mendengar kabar menyenangkan itu.
"Apa Vira tidak akan marah kalau kita datang mengunjunginya? Ibu sangat takut apabila kita malah membuatnya merasa terganggu nanti, terlebih lagi dengan semua yang sudah terjadi. Ibu benar-benar menyesal. Seandainya Vira mau memberikan kesempatan padamu untuk kembali lagu, ibu janji tidak akan mencampuri urusan rumah tanggamu lagi," ujar Ibu Desy.
Yudha menatap lembut ke arah ibunya ketika wanita itu berkata dengan nada sendu, terdengar seperti nada putus asa yang membuat ibunya tidak lagi bersemangat. Dia mengerti keinginan ibunya. Setiap hari ibunya selalu saja menyesali perbuatannya pada Vira dan berharap waktu bisa diputar kembali.
"Tidak ada salahnya bagi kita untuk mencoba. Aku yakin dia akan luluh dan mengizinkan kita untuk melihat bayi itu. Bagaimanapun aku ayah kandung anaknya dan ibu neneknya." Yudha berusaha untuk meyakinkan dan menghibur hati ibunya.
Ibu Desy tetap saja merasa ada yang menjanggal dalam hatinya. Dia juga perempuan sama seperti menantunya itu. Dia sudah sangat tahu bagaimana cara berpikir perempuan, terutama apabila sudah menjadi ibu sekaligus sudah pernah disakiti.
Dalam hal ini, Desy sangat setuju dengan kalimat bahwa wanita adalah ahli sejarah terbaik di dunia. Semua yang menimpa mereka, termasuk sesuatu menyakitkan yang dilakukan oleh orang lain tidak akan pernah terlupakan begitu saja. Selamanya tidak akan pernah terlupakan. Mungkin mereka bisa memaafkan seseorang itu, namun untuk melupakannya seolah tidak pernah terjadi apa-apa itu sangat sulit untuk dilakukan.
"Ibu belum yakin dia akan mengizinkan kita untuk melihat bayi itu. Semua yang sudah kita lakukan padanya pasti sangat membekas hingga sekarang. Itu sesuatu yang menyakitkan, Yudha."
Yudha menyadari hal tersebut. Dia tahu bahwa itu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan bagi Vira dan tidak akan sangat mudah untuk memaafkan dirinya atas semua yang sudah terjadi. Namun Yudha tetap bertekad untuk meminta maaf dan mengunjungi Vira di rumah sakit.
"Aku akan tetap mencoba untuk mengunjunginya di rumah sakit. Aku tidak akan menyerah sebelum melakukannya. Aku sangat yakin bahwa Vira setidaknya akan membiarkan kita berdua untuk menengok bayi tersebut. Jika aku sudah melihat wajah dari bayiku, maka itu sudah sangat cukup."
__ADS_1
Desy akhirnya menyerah dan membiarkan putranya melakukan apa yang dia inginkan. Tentu saja Desy juga ikut ke sana untuk menengok cucu yang sudah dia dambakan itu.
Mereka berdua merasa sangat gugup ketika sudah masuk ke rumah sakit itu. Yudha merasa beruntung karena dia tidak mendapati adanya Raka di sana. Ruangan kamar itu hanya ditempati oleh Vira dan juga bayinya. Vira tampak sedang menyusui bayinya saat ini.
Vira merasa sangat terkejut begitu menyadari kedatangan Yudha dan juga mantan ibu mertuanya. Namun, dia sama sekali tidak bisa melakukan apa pun. Dia merasa cukup lelah setelah semua prosedur yang dia lakukan di rumah sakit ini. Dokter juga mengatakan agar dia tidak terlalu banyak bergerak. Untuk saat ini hanya bisa berdiam diri di kamar dan berbaring di kasur itu sambil menyusui bayinya.
"Mas Yudha." Hanya kata itu yang bisa diucapkan oleh Vira begitu matanya melihat lelaki itu. Tidak, dia jelas tidak mungkin mengamuk karena dia juga tidak punya cukup tenaga saat ini.
Dia juga berusaha mengendalikan dirinya sendiri dan menganggap bahwa semua peristiwa buruk yang terjadi itu sudah berlalu dan tidak ada gunanya lagi untuk diingat kembali. Dia berusaha untuk berdamai dengan diri sendiri.
Yudha terdiam di sana dan sama sekali tidak berani untuk berjalan mendekat ke arah Vira ketika perempuan itu menyebut namanya. Rasanya sudah lama sekali dia tidak mendengar suara Vira. Dia menyadari bahwa dia sangat merindukan suara itu.
Vira menghela napas diam-diam. Jujur memang ada sesuatu dalam hatinya yang tak kuasa dia lawan. Dia sudah berusaha untuk menyingkirkan semua rasa dendam itu. Dia ingin meyakinkan kepada dirinya sendiri bahwa dia bukanlah wanita pendendam, dia adalah wanita pemaaf. Namun, rasanya memang sangat susah.
Hingga sekarang dia masih berusaha untuk melawan dirinya sendiri dan melupakan masa lalu. Sejenak dia menunduk sebelum kemudian tersenyum ke arah Yudha dan mengangguk, mengisyaratkan bahwa Yudha boleh berjalan mendekat dan melihat wajah bayinya.
Vira berusaha memposisikan dirinya di posisi Yudha saat ini. Dia berusaha untuk berpikir apa yang dirasakan oleh Yudha apabila tidak diperbolehkan menengok anaknya sendiri. Vira sadar jika bayi itu adalah darah dagingnya Yudha.
Yudha akhirnya bisa tersenyum bahagia ketika Vira membiarkannya melihat wajah anaknya sendiri. Dengan perlahan dan dengan hati yang sangat bergetar, dia akhirnya bisa melihat wajah bayi itu, wajah yang sangat mirip dengannya sebagaimana dahulu dia masih kecil.
__ADS_1
Yudha hampir saja menangis melihat wajah anaknya sendiri. Desy sendiri sudah tidak bisa menahan air matanya. Dia akhirnya bisa bertemu dengan sang cucu.
"Kau sudah berjuang sampai sejauh ini. Kami sangat meminta maaf padamu atas semua yang sudah terjadi, Nak," ucap Desy pelan.
Vira merasa tidak bisa menggerakkan kepalanya begitu mantan ibu mertuanya itu meminta maaf dengan nada sendu. Dia paling tidak nyaman dalam situasi semacam ini di mana dia membuat hampir semua orang merasa bersalah.
Dia merasa salah menjadi manusia yang kejam. Dan dengan situasi semacam ini bagaimana mungkin dia tidak akan memaafkan dua orang itu. Dia sendiri menyalahkan diri sendiri apabila sampai tidak memberi kata maaf pada mereka.
"Jangan terlalu dipikirkan, Bu. Semua itu sudah berlalu. Sebelum kalian meminta maaf aku sudah memaafkannya lebih dulu. Yang penting sekarang aku sudah bahagia dengan kehidupanku. Aku tidak menyalahkan siapa pun."
Entah kenapa Yudha malah merasa sakit hati mendengar perkataan Vira. Vira bahagia tanpa dirinya, dengan kata lain dirinya selama ini hanyalah menjadi benalu dalam hidup Vira, tidak bisa melakukan apa pun yang berarti bagi perempuan itu.
Dia tidak tahu apakah Vira begitu tulus memaafkan mereka berdua, namun selamanya dia sendiri tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Jika kau berkenan, bolehkah aku menjengukmu besok hari apabila aku memiliki waktu luang? Apakah itu tidak akan terlalu mengganggumu?" tanya Yudha. Vira mengangkat kepala dan tersenyum. Dia mengangguk kecil dengan wajah manis. Hal itu semakin membuat Yudha merasa senang.
Ternyata Vira memang sangat tulus memberi maaf pada mereka berdua. Tidak ada keterpaksaan yang dia lihat di mata Vira. Setidaknya satu fakta ini sudah cukup membuat Yudha merasa lega. Semua masa lalu itu sudah berlalu dan sudah saatnya mereka melanjutkan hidup sendiri.
...****************...
__ADS_1