
...KECEWA ITU LEVELNYA DIATAS MARAH. Orang kalau masih dalam level marah, dia akan tetap bersedia untuk ngomong. Adu argumen karena dia masih percaya kalau orang itu masih bisa berubah. Tapi kalau levelnya udah kecewa, mungkin juga dia akan ngomong panjang lebar namun setelahnya memilih untuk tidak terlihat lagi. Banyak orang yang pada akhirnya memilih pergi bukan karena marah, tapi karena sudah terlalu kecewa....
Darah segar keluar dari sudut bibirnya. Vira mencoba menahan air matanya, menghapus darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Memandangi Yudha dengan tatapan tajam.
"Kenapa hanya sekali Mas menamparku? Tampar lagi, ayo tampar lagi!" teriak Vira.
"Ini yang kamu katakan adil? Kenapa kamu tidak bertanya alasan aku menampar istri tercintamu itu? Aku pergi kemarin karena aku kecewa denganmu, Mas. Kau katakan tidak akan berubah. Baru tahu Weny hamil saja kau telah jauh berbeda. Apa aku harus diam saja dituduh Weny dan ibu pergi dari rumah untuk mencari pria lain. Apa aku harus diam saja dituduh tidur dengan pria lain?"
Napas Vira tampak memburu saat mengatakan semua itu. Sakit dipipinya tidak seberapa dibanding dengan sakit hatinya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Vira, pria itu terdiam. Dia dapat melihat pipi istrinya yang membiru karena kerasnya tamparan tadi.
"Coba kau pikirkan, apa yang kau lakukan sejak menikah dengan Weny. Apa kau pernah tahu bagaimana perasaanku? Jika aku mengizinkan kamu menikah lagi, itu karena aku sangat mencintaimu. Aku pikir kamu akan bersikap sama dan tidak akan berubah. Ternyata aku salah. Memang benar kata orang, cinta itu hanya ada antara aku dan kamu. Bukan antara aku, dia dan kamu. Aku menyerah. Aku capek dengan semua ini. Mulai detik ini aku mau kita berpisah. Aku juga sudah mendaftarkan gugatan cerai kita. Dan aku minta kesadaran kamu untuk meninggalkan rumahku secepatnya!" ucap Vira akhirnya.
Setelah mengucapkan itu, dengan langkah tergesa Vira pergi meninggalkan ketiga orang itu. Yudha masih terdiam, tidak percaya dengan apa yang Vira ucapkan.
Ibu Desy dan Weny saling pandang. Ibu tidak percaya jika Vira akan berani mengusirnya, apa lagi tadi wanita itu minta cerai.
"Vira, kita harus bicara. Aku minta maaf karena terbawa emosi. Aku tidak mendengar apa yang Weny katakan yang membuat kamu marah. Cobalah mengerti aku, Vira. Tidak mudah untuk berlaku adil itu," ucap Yudha.
__ADS_1
Vira menghentikan kegiatannya yang sedang mengeluarkan pakaian Yudha. Memandangi pria itu dengan wajah marah.
"Jika kau tahu sulit untuk adil, kenapa harus berpoligami. Aku minta kita pisah karena aku sangat mengerti kamu. Biar kamu tidak lagi dipusingkan dengan dua istri," ucap Vira dengan suara tinggi. Menarik napas sejenak, Vira melanjutkan ucapannya.
"Jika kamu memang tidak mendengar, seharusnya kamu bertanya dulu, kenapa aku bisa marah? ini bukan pertama kali kamu lakukan padaku. Selalu saja kata maaf yang kamu ucapkan. Apa kamu tahu bagaimana perasaanku saat kamu hanya mau mendengar ucapan ibu dan Weny? Sakit. Sakit hati ini, Mas. Jika dulu aku bisa menerima semua cacian dan makian ibumu itu karena aku sangat mencintaimu dan aku masih menghormatinya. Namun, sekarang cintaku telah mati. Hatiku telah hancur karena sikapmu. Tidak ada lagi tempatmu dihati ini. Dsri pada kita saling menyakiti, lebih baik kita berpisah!" ucap Vira dengan napas memburu.
"Aku mengaku salah, Vira. Aku janji akan merubah sikapku. Aku mungkin terlalu bahagia karena Weny hamil. Aku telah menunggu saat ini sejak lama, mungkin karena itu aku jadi lupa diri. Tapi percayalah Vira, aku masih sangat mencintai kamu. Aku tidak ada maksud menyakiti hatimu. Sekali lagi maafkan aku, Vira. Kita bisa memulainya lagi. Aku janji akan meminta ibu dan Weny lebih menghargai kamu," ucap Yudha.
"Sudah terlambat, Mas. Aku telah mendaftarkan gugatan cerai kita. Kamu tunggu saja surat panggilan dari pengadilan. Maaf, aku sudah tidak bisa lagi serumah denganmu. Kamu dan istri tercintamu itu bisa pergi besok. Sekarang aku mau kamu keluar dari kamarku!" usir Vira.
__ADS_1
...****************...