
...Jika akhirnya aku memilih untuk melepaskanmu, yang perlu kamu tahu, aku sudah mematahkan seluruh hatiku, aku sudah berdebat hebat dengan diriku sendiri. Dan aku sudah melangitkan beribu doa agar Tuhan menunjukan jalan selain perpisahan. Namun, akhirnya aku memilih takdir-Nya bahwa satu-satunya cara hanyalah merelakan kamu dan melepaskan semua ikatan diantara kita....
Vira keluar dari kamar setelah berpakaian rapi. Tampak ibu mertuanya sedang menyusun tas berisi pakaiannya di tengah ruangan. Sebenarnya hati wanita itu tidak tega melihat ibu dan suaminya sedang menyusun barang mereka.
Namun, setelah Vira pikirkan dari kemarin, demi kewarasannya dia harus melakukan itu. Harus tega dan tidak boleh lagi lemah.
Vira berjalan melewati mereka menuju meja makan. Diambilnya sesuatu di kulkas. Ternyata Vira mengambil telur dan sayur. Dia membuat omelet telur sayur. Setelah selesai memasaknya, Vira memakannya.
Baru beberapa suapan, Vira merasa mual. Dia menghentikan makannya dan masuk ke kamar mandi untuk memuntahkan makanan tadi. Wanita itu merasa kepalanya sangat pusing, tapi dia mencoba menahannya.
Vira berjalan dan kembali melewati ibu mertua, suami dan madunya Weny. Langkahnya terhenti mendengar Yudha memanggilnya.
"Vira, sebelum kami meninggalkan rumah ini, aku ingin bicara sebentar," ucap Yudha.
Vira membalikkan tubuhnya menghadap pria yang masih berstatus suaminya itu. Wanita itu memandangi wajah yang dulu sangat dia kagumi dan cintai.
__ADS_1
"Apa ada yang perlu kita bicarakan lagi, Mas? Jikapun ada itu nanti dipengadilan agama saja," ucap Vira. Sebenarnya dadanya sesak saat mengatakan semua itu, tetapi dia harus lakukan.
Baru mengetahui kehamilan Weny saja, Yudha telah sangat berubah. Apa lagi jika nanti wanita itu telah melahirkan. Pasti semua perhatiannya hanya tercurahkan pada Weny dan bayinya.
"Sudahlah, Yudha. Jangan mengemis pada wanita yang tidak memiliki perasaan ini. Nanti tambah besar kepalanya. Jika dia minta cerai, kamu tinggal kabulkan," ucap Ibu Desy.
Wanita paruh baya itu lalu mendekati Vira. Memandang dengan tatapan tidak menyenangkan.
"Dengar ya. Mulai hari ini kita tidak ada lagi hubungan apapun. Aku pastikan jika Yudha akan mengabulkan permintaan kamu. Mempertahankan kamu sebagai istri juga tidak ada gunanya. Tetaplah dengan kesombonganmu ini. Hidup seorang diri tanpa ada yang menemani. Jangan pernah kau datang lagi pada Yudha. Apa lagi jika ingin meminta dia kembali. Harga diri anakku sudah cukup kau hina. Hanya karena kami menumpang, hingga kau semena-mena. Semoga kau tidak merasa kesepian karena harus hidup seorang diri," ucap Ibu Desy.
"Dengar wanita mandul. Aku doakan kau tidak akan pernah memiliki keturunan. Hidup seorang diri hingga akhir hayatmu. Seharusnya kau bersyukur jika ibu Desy dan kami tinggal bersamamu. Dengan begitu kamu ada temannya. Tidak sakit atau mati seorang diri nantinya!" ucap Weny kasar.
Vira bukannya marah tapi memberikan senyumnya pada wanita itu. Mungkin hatinya telah beku dan kebal dengan kata-kata kasar dari mereka.
"Terima kasih doanya. Aku yakin, setiap doa yang jelek akan kembali pada yang mendoakan. Semoga saja bukan kamu yang akan mengalami apa yang kamu ucapkan tadi," ucap Vira sambil tersenyum.
__ADS_1
Vira lalu melangkahkan kakinya kembali. Saat telah sampai di pintu, wanita itu membalikkan badannya menghadap ketiga orang itu lagi.
"Bawa semua barangmu, Weny. Aku tidak mau ada yang tersisa. Jangan nanti jadi alasan buat kembali," ucap Vira.
Vira kembali berjalan menuju mobilnya yang terparkir. Saat akan masuk, tangannya di tahan Yudha.
"Kenapa kamu berubah? Vira yang aku kenal tidak pernah berkata kasar."
Vira melepasakan pegangan tangan Yudha. Wanita itu memandangi wajah pria yang sebenarnya masih dia cintai. Namun, rasa cintanya tidak sebesar rasa sakit hatinya.
"Aku atau kamu yang berubah, Mas. Coba kamu pikirkan itu. Apa yang telah kamu lakukan sejak menikah lagi dengan Weny," ucap Vira.
Setelah mengucapkan itu, Vira masuk ke mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan Yudha yang masih diam terpaku ditempatinya berdiri.
...****************...
__ADS_1