
Satu minggu telah berlalu sejak pertemuan Yudha dan Vira. Hubungan Vira dan Raka sudah semakin dekat saja.
Yudha hendak mengajak Weny untuk jalan-jalan hari ini agar perempuan itu tidak terlalu bosan di rumah. Mumpung hari ini juga hari Minggu, mereka punya waktu luang yang banyak untuk bersenang-senang. Dokter juga sudah bilang agar Weny lebih banyak bergerak di usia kandungannya yang seperti ini. Itu bisa membuat bayinya lebih sehat daripada harus diam di rumah dan berbaring seharian, itu yang Weny katakan. Yudha sendiri tidak tahu pasti berapa usia kandungan istrinya itu.
Yudha bersiap sedangkan Weny berada di ruangan lain. Dia masih membersihkan dirinya sebelum kemudian mencari kaos sederhana namun cukup nyaman untuk dibawa santai hari ini. Dia belum mengatakannya kepada Weny karena ini agar hal tersebut menjadi kejutan. Dia tahu kalau ini akan langsung antusias.
Dia keluar dari ruangan itu sambil menggosokkan handuk kecil di rambut, menatap Weny di sana yang tampak sedang menikmati kue. Weny menatap Yudha sambil tersenyum.
"Kau tidak punya kegiatan lain di hari Minggu ini, bukan? Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Aku janji kau tidak akan terlalu lelah. Kau tinggal bilang kalau kau ingin pulang."
Seperti dugaan Yudha tadi, perempuan itu tersenyum senang bahkan tidak lagi memedulikan kuenya. Weny masih belum mandi bahkan masih mengenakan piyamanya.
"Benarkah?!" Weny bertanya memastikan, suaranya terdengar sangat antusias seolah sedang diberi sesuatu yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya. Dia sudah terbiasa jalan-jalan tapi berbeda jika Yudha yang mengajaknya. Suaminya itu jarang membawanya pergi ke luar rumah.
Namun, menghabiskan waktu berdua bersama Yudha tentu jauh lebih menyenangkan baginya daripada semua yang pernah dialami sendiri selama ini.
"Apa aku terlihat seperti orang yang sedang bercanda? Ayolah, jangan membuang waktu. Aku akan menunggumu di sini selagi kau berdandan."
Weny hampir saja melompat seandainya tidak teringat pada kandungannya. Dia langsung berjalan cepat menuju kamar kemudian pergi ke kamar mandi setelah itu.
Kehamilan yang sungguh menjadi suatu keberuntungan baginya. Mungkin terlalu berlebihan, namun dia merasa menjadi orang paling bahagia di dunia ini. Yudha begitu peduli padanya. Sesuatu yang dia impikan sejak dulu.
__ADS_1
Hanya butuh beberapa menit saja untuk membersihkan tubuh sebelum kemudian beranjak berdandan. Bahkan dia merasa berubah di mana dahulu dia bisa menghabiskan banyak waktu ketika berdandan, namun kini enggan melakukannya lagi.
Tidak mau membuat lelaki itu menunggu lama. Lagi pula dia merasa juga terlalu lelah dan terlalu bosan untuk berdandan. Cukuplah memoleskan skincare atau sunblock tipis di kulit wajahnya. Dia juga mengenakan pakaian yang cukup sederhana hari ini.
Setelah semua siap, Weny hendak keluar dari kamar itu seandainya saja ponselnya tidak berbunyi. Dia berdecak kesal ketika melihat nama di layar ponsel itu. Mengganggu saja, dia menggerutu dalam hati.
Padahal dia tidak mau diganggu hari ini. Dengan kesal Weny mengangkat telepon itu dan harus meluangkan waktunya sebentar untuk berbicara dengan orang di seberang sana.
Yudha yang mulai menyadari kalau Weny terlalu lama di kamar pun memutuskan untuk beranjak dan memeriksanya, memastikan kalau tidak ada sesuatu yang salah terjadi pada Weny.
Namun, baru saja dia sampai di depan pintu dan belum sempat mendorong pintu tersebut, dia mendengar suara Weny sedang berbicara dengan seseorang. Suara orang itu terdengar samar-samar, sudah bisa di tebak kalau ini sedang berbicara lewat telepon. Yudha sama sekali tidak mengenali suara orang itu, bisa dibilang mungkin dia tidak pernah mendengarnya.
"Kau ini mengganggu saja. Aku akan jalan-jalan bersama Yudha hari ini. Jadi tolong biarkan aku bersenang-senang hari ini saja." Itu suara Weny yang tampak marah-marah.
Tidak terdengar lagi suara orang di telepon itu, entah telepon itu sudah tidak terhubung atau karena Weny memelankan suara ponselnya.
"Sungguh, aku sudah tidak punya waktu untuk berbicara denganmu hari ini. Kita bicarakan saja lain hari.Bukankah selama ini kau tidak mengakuinya," ucap Weny lagi.
Tidak terdengar lagi suara di seberang sana. Weny seperti sedang berbicara sendiri.
"Oh, ayolah! Ini adalah saat bahagiaku dengan Yudha. Aku tidak mau ada orang lain yang menghancurkannya. Dan aku tidak mau siapa pun mengatakan kebenaran itu kepada Yudha."
__ADS_1
Yudha mengangkat alis semakin penasaran. Kebenaran apa? Apa yang tidak dia ketahui selama ini? Apakah wanita itu telah menyembunyikan sesuatu yang besar terhadap dirinya? Dan kalimat selanjutnya dari Weny semua membuatnya merasa terkejut.
"Aku tidak akan mau meskipun hanya diminta untuk membayangkan ketika suatu saat nanti Yudha mengetahui bahwa anak yang kukandung bukanlah anaknya. Oh, ayolah! Duniaku akan langsung hancur ketika suatu saat nanti itu tiba. Dan akan lebih baik apabila dia tidak pernah mengetahuinya selamanya."
Yudha membeku di tempat. Suatu hal yang seakan membuatnya ingin menghancurkan diri sendiri. Suatu hal yang membuat harga dirinya jatuh. Dia langsung merutuki dirinya sendiri yang entah kenapa terlihat sangat bodoh dalam menghadapi perempuan penipu itu.
Mengapa bisa seperti ini? Mengapa dia bisa dibohongi? Mengapa dia bisa sebodoh ini?
Sial, dia telah melakukan kesalahan yang sungguh fatal. Kesalahan yang merugikan dirinya sendiri. Kesalahan yang mungkin saja tidak akan pernah dia maafkan selamanya. Berani sekali Weny melakukan hal ini padanya.
"Ok, aku bisa bicara lain kali denganmu, namun tolong jangan sekarang. Aku sedang tidak punya waktu. Aku hanya ingin bersenang-senang bersama Yudha hari ini. Jadi tolong jangan mengganggu."
Ketika Yudha menyadari kalau Weny sudah mematikan telepon itu, dia langsung menyingkir dari sana, tanpa suara kembali ke tempat semula dan seolah tidak terjadi apa pun.
Tidak, bukan sekarang waktunya membuat wanita itu terjebak karena kebohongannya sendiri. Mungkin dia harus mencari waktu yang lebih baik untuk mempertanyakan semua itu kepada Weny. Dia akan memastikan bahwa Weny tidak akan lari dan tidak akan mengelak.
"Ayo, aku sudah siap. Maaf kalau aku membuatmu harus menunggu lama. Kita mau ke mana hari ini?"
Yudha berusaha tersenyum ketika Weny bertanya. Dia tahu kalau ini sama seperti wanita lainnya, peka apabila melihat sesuatu yang salah dari wajah seseorang, atau secara sederhananya bisa menebak apa yang dirasakan oleh orang lain hanya lewat ekspresinya.
"Eh, terserah kau saja, yang penting kau senang. Kita bisa ke bioskop, ke taman, atau ke mana pun yang kau mau."
__ADS_1
Weny tersenyum lebar, tampak tidak menyadari sama sekali bahwa ada sesuatu yang telah diketahui oleh pria itu. Setidaknya Yudha merasa sangat lega. Setelah ini dia akan mencari waktu yang paling tepat untuk membuat wanita itu terdiam dan tidak bisa lagi mengelak perbuatannya sendiri. Biarlah suatu hari ini saja dia membahagiakan wanita itu, sebelum nanti dia akan menghancurkannya.
...****************...