SENANDUNG KEIKHLASAN

SENANDUNG KEIKHLASAN
Bab 57. Bertemu Lagi


__ADS_3

Yudha masuk ke kamar dan melihat itu sedang memasukan pakaiannya ke dalam tas. Tampak Weny melakukan semua itu dengan wajah cemberut.


"Seandainya Yudha terpengaruh dengan ucapan kakaknya aku harus bagaimana? Apakah Yudha membiarkan aku pergi dan menolak bayi dalam kandunganku ini?" gumam Weny pada dirinya sendiri.


Yudha mendekati Weny dan memeluknya dari belakang. Weny yang merasakan pelukan, tampak langsung tersenyum.


"Maafkan aku yang sempat meragukan anak dalam kandunganmu ini," ucap Yudha.


Weny membalikkan badannya dan memeluk suaminya itu. Terus terang dalam hatinya Weny, dia telah mulai jatuh hati pada Yudha. Awalnya dia menikah dengan pria itu hanya untuk memanfaatkan pria itu saja.


"Kita makan di luar saja. Sekalian ingin mencari perlengkapan bayi. Aku ada simpanan sedikit," ujar Yudha.


Tadi ibunya merayu Yudha agar mau baikan dengan Weny. Ibu tidak rela kehilangan calon cucunya, hingga memohon pada Yudha.


Weny hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Hatinya sangat bahagia karena Yudha lebih percaya dirinya.


Yudha meminta istrinya itu untuk berganti pakaian. Dia juga mengganti pakaiannya. Saat ini keduanya telah berada di mobil membelah jalanan ibu kota.


Sampai di sebuah restoran langganannya, Yudha berjalan dengan bergandengan tangan menuju ruangan VIP.


Saat memasuki ruangan itu, matanya tertuju pada satu meja. Begitu juga Weny. Kebetulan meja yang akan mereka tempati bersebelahan dengan meja wanita yang tidak lain Vira itu.


Melihat siapa yang mendekati meja sampingnya, Vira tersenyum. Tidak menyangka bertemu kembali dengan mantan suami dan mantan madunya.


"Kamu sendirian aja?" tanya Weny dengan nada mengejek, dia makin mempererat pelukan di lengan Yudha.


Vira hanya menjawab dengan senyuman. Mata Yudha memandangi wajah Vira tanpa kedip. Menyadari sedang diperhatikan Yudha, wanita itu menunduk.


"Kamu baru potong rambut?" tanya Yudha, melihat penampilan mantan istrinya yang berubah. Rambutnya Vira saat ini dipotong pendek. Wajahnya tampak lebih ceria dan berseri.

__ADS_1



Weny cemberut mendengar suaminya itu bertanya pada mantan istrinya. Apa lagi melihat tatapan Yudha yang mengagumi Vira.


Setelah duduk, pandangan mata pria itu tetap masih sama. Memandangi dengan kagum mantan istrinya itu.


"Hhhmmm ...," Deheman dari Weny mengagetkan Yudha sehingga pria itu mengalihkan pandangannya dari wajah Vira.


Baru saja Yudha akan bersuara, tapi kembali urung melihat pria yang masuk ke ruang itu. Dengan langkah tegap Raka masuk. Dia tadi ke toilet.


Mata Weny juga menatap tanpa kedip pada pria itu. Raka memang tampak lebih tampan dengan berpakaian kasual.



"Pak Raka tampan sekali. Apa dia ada hubungan dengan Vira?" tanya Weny dengan berbisik pada suaminya.


Raka yang belum menyadari kehadiran Yudha, menyapa Vira dengan tersenyum. Dia langsung duduk berhadapan dengan wanita itu.


"Maaf ya, aku sedikit lama. Mama menghubungi aku. Dia mengundang kamu ke rumah," ucap Raka.


"Aku ...?" tanya Vira kaget. Kenapa orang tua Raka mengundangnya.


"Iya. Tadi mama tanya, aku lagi dimana dan dengan siapa. Aku jujur aja bicara, jika pergi denganmu. Sehingga mama mengundang kamu, ingin kenalan."


"Tapi saya malu, Pak. Selain itu memangnya Bapak ceritakan apa tentang saya?" tanya Vira.


Dia merasa heran karena orang tua atasannya hingga mau berkenalan dan mengundangnya makan malam. Vira merasa malu. Apa lagi dia merasa tidak pantas ada di antara keluarga bosnya itu.


Weny dan Yudha yang mendengar ucapan Raka, menjadi saling pandang. Entah apa yang kedua orang itu pikirkan.

__ADS_1


Yudha akhirnya berinisiatif menyapa Raka duluan. Dengan suara sedikit keras.


"Selamat malam Pak Raka. Dunia ini memang terlalu kecil, sehingga kita sering bertemu," ucap Yudha.


Raka menoleh ke arah suara yang menyapa dirinya. Kaget melihat siapa mereka.


"Selamat malam Pak Yudha. Ucapan Bapak itu sepertinya benar. Kita selalu saja bertemu," ucap Raka.


"Apa ini salah satu bagian dari kerjanya Vira? Untuk menemani atasannya makan malam," ucap Yudha.


"Apakah ini bagian dari pekerjaan atau bukan, aku rasa tidak perlu bapak Yudha tahu!" ucap Raka sedikit ketus.


"Vira, kebetulan makanan belum kita pesan. Bagaimana jika kita pindah restoran saja?" tanya Raka.


"Terserah Bapak saja."


"Kalau begitu kita pindah saja. Setelah melihat menu, aku kurang sesuai dengan masakan di sini."


Raka lalu berdiri dari duduknya diikuti Vira. Sebenarnya wanita itu merasa sangat bersyukur atasannya itu meminta mereka pindah. Vira merasa kurang nyaman dengan mantan suami dan madunya.


"Maaf Pak Yudha, kami harus pergi. Selamat menikmati makan malamnya," ucap Raka. Sedangkan Vira hanya tersenyum simpul tanpa mengucapkan kata apapun. Wanita itu mengikuti langkah atasannya.


Baru saja keduanya keluar dari ruangan, Weny langsung angkat bicara. Dia memanasi suaminya Yudha.


"Hebat banget Vira, baru saja menjanda langsung dapat menangkap kakap. Beruntung banget," ucapnya pelan, tapi masih dapat didengar.


Yudha tampak menarik napas berat mendengar ucapan istrinya itu. Dadanya terasa sesak melihat Vira begitu akrab dengan pria lain. Namun, dia sadar jika Vira bukan siapa-siapanya lagi. Dia harusnya bersyukur jika wanita yang pernah mengisi hatinya itu mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari dirinya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2