
...Sebaik-baik kesabaran, adalah dimana engkau lebih memilih untuk diam, padahal Emosimu sedang meronta dan meminta untuk di dengarkan. ...
...🍁...
Waktu menunjukan pukul 14.45 , jam pulang kantor telah tiba dan Asmara pun beranjak dari duduknya.
"Ran kamu mau aku Anterin?, atau mau tunggu Bagas ?"
Ibu hamil muda itu memang selalu menunggu suaminya untuk menjemput, namun tidak jarang Asmara mengantarkannya pulang. Hanya saat suami dari sahabatnya sibuk dengan pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan.
"Kayaknya Bagas telat deh Ma, Aku bareng kamu ya" Rani memohon dengan kerlingan mata.
"Iya " Jawab Asmara singkat dengan senyuman terbaiknya.
Keduanya bergegas mengemasi barang milik masing-masing, serta merapikan kembali meja kerja dan ruangan KIA. Keduanya sepakat untuk pulang bersama.
Jarak rumah Rani dengan rumah Asmara tidak lah jauh, hanya sekitar 15 menit menempuh perjalanan, jika dari Puskesmas kurang lebih 30 menitan.
Asmara membonceng kan Rani dengan motor Scoopy nya, satu-satunya kendaraan yang dia miliki saat ini.
Cukup pelan jika di bandingkan dengan ketika Asmara pulang sendirian, tentu hal itu alasannya karena memang Rani tengah hamil muda, Asmara tidak ingin mengambil resiko dengan berkendara seperti biasanya.
Sepanjang perjalanan keduanya lalui dengan canda tawa, tak jarang Rani menggoda Asmara dengan guyonan konyolnya.
Suasana terasa sejuk dengan pemandangan daun teh di samping kanan kiri jalan yang di lalui.
Tidak butuh waktu lama, motor yang di kendarai Asmara telah terparkir di halaman rumah Rani.
"Masuk dulu yuk" ajak Rani.
"Nggak lah Ran, aku langsung saja"
Agaknya Asmara ingin segera menemui putri kecilnya. Mengingat Asmara menjanjikan Senja untuk berjalan-jalan sore ini.
"Ayo lah ma, Sebentar saja !!" Rani memaksa dengan penuh permohonan.
Sejujurnya Asmara sangat enggan, terlebih saat ini sudah cukup sore, belum lagi dia masih harus menepati janjinya pada senja. Namun melihat bagaimana usaha Rani untuk memaksa nya, membuat Asmara tidak tega untuk menolak ajakan sahabatnya.
"Oke. Tidak lama"
Segera Asmara menstandart kan Motor miliknya, dan menyusul Rani yang telah lebih dulu masuk kedalam rumah.
Asmara begitu terkejut mendapati di rumah Rani ada seseorang yang cukup Asmara familiar dengannya, Tatapan matanya tertuju pada satu orang yang sangat menyita perhatiannya.
Bukan apa-apa hanya saja Asmara merasa tidak asing dengan sosok disana, Tidak begitu mengenal, hanya saja dia cukup tahu siapa itu.
"Asma, Silahkan masuk" sapa Bagas suami dari Rani.
Asmara agak sedikit ragu, namun pada akhirnya dia pun masuk kedalam rumah, kedatanganya disambut hangat dengan senyum Mirza yang telah lebih dulu berada di sana.
__ADS_1
"Makasih ya Ma, udah anterin Rani"
Asmara tersenyum simpul dengan anggukan kepala "Iya gas, Sama-sama"
Suasana ruang tamu mendadak sepi, tatkala Bagas dan Rani mengatakan akan mengambil minuman dan makanan di belakang.
"Apa kabar Asmara?" Mirza menyapa dengan sopan.
Asmara pun mendongakkan wajah, menatap sekilas lawan bicaranya, dan lantas menjawab dengan sopan pertanyaan Mirza "Alhamdulillah Pak Mirza, Baik"
Mirza tampak menganggukkan kepala, tidak lupa dengan senyum terbaiknya.
Terlihat jelas bagaimana Mirza menatap Asmara dengan begitu intens, cukup membuat Asmara tidak nyaman, namun hal itu tidak lantas membuat Asmara melarang Mirza untuk memandanginya.
Bagas dan Rani tentu mereka sengaja meninggalkan keduanya. Agaknya Asmara mulai curiga dengan kedua sahabatnya, dimana keduanya memang sengaja mempertemukan dirinya dengan Mirza, namun Asmara tidak ingin ambil pusing dengan prasangka buruknya.
Suasana canggung seketika menyelimuti keduanya.
"Ohya. Tidak perlu memanggil pak, Aku tidak setua itu Asma" Mirza terkekeh dengan ucapanya.
Asmara pun tersenyum ramah, menanggapi ucapan Mirza dengan kembali menganggukkan kepala.
Keduanya tampak berbincang akrab, dengan sesekali terdengar gelak tawa dari Asmara, Meski tidak seperti pertemanan akrab pada umumnya, namun Asmara berusaha mengimbangi gurauan Mirza.
Sama.sepwrti dua sahabatnya Rani dan Bagas, Mirza pun nyatanya juga suka bercanda.
Hingga tanpa disadari obrolan keduanya terjeda karena Rani dan Bagas yang datang dengan membawa minuman serta beberapa cemilan.
"Udah akrab aja nih" Goda Rani dengan senyum tengil nya.
Keduanya tampak malu-malu dengan candaan pasangan suami istri yang memang hobi bercanda itu.
"Ran , Udah sore aku pulang ya"
Asmara melongo pada jam yang ada di tangannya, sudah 1 jam tanpa terasa Asmara berada disana.
Mirza sempat menawarkan untuk mengantar Asmara namun secepat itu pula Asmara menolak tawarannya.
Bukan tanpa alasan, selain karena tidak nyaman juga karena Asmara sangat menjaga diri dari gunjingan para tetangga yang terkadang kerap kali menyakiti.
Setelah menghabiskan minuman nya, Asmara bergegas meninggalkan rumah Rani, Kembali mengendarai motor Scoopy milik nya, menyusuri jalanan yang terasa sejuk dan sedikit dingin.
Agaknya tidak sesuai ekspektasi Asmara, karena mendadak kabut turun begitu saja, dia mempercepat laju kuda besinya agar segera Samapi ke rumah dan secepatnya membawa Senja berjalan-jalan sesuai janjinya tempo hari.
Asmara sudah mengingkari janji nya pada sang putri sebanyak 4 kali, tidak mungkin hari ini dia akan kembali mengingkari janji dengan tidak jadi membawa Senja berjalan-jalan.
Setelah kurang lebih 15 menit berkendara, Asmara sampai di depan rumah, kedatanganya langsung disambut begitu saja oleh putri kecil yang selalu menantikannya.
"Ibukk...."
__ADS_1
Senja berlari dan menghambur pada Asmara yang baru saja selesai menstandart kan Motor nya.
"Enja Sayang, Sudah mandi ?"
Asmara meraih tubuh mungil putrinya, dia gendong dalam pelukan dan kembali membawa senja untuk masuk kedalam rumah.
"Halan-halan ibuk" celoteh Senja penuh harap.
Bukan menjawab pertanyaan Asmara, justru senja melontarkan ajakan yang seketika mengingatkan Asmara pada janjinya.
Sejujurnya Asmara sedikit tidak yakin, namun melihat bagaimana putrinya sangat berharap membuat Asmara tidak tega untuk kembali mengingkari nya.
"Oke Sayang, Ibu Mandi dan ganti baju dulu ya sayang, Enja tunggu ibu ya"
Senja menganggukkan kepala penuh semangat, binar bahagia terlihat jelas di wajah kecilnya.
Asmara mendudukkan putrinya di kursi ruang tamu, sementara dirinya beranjak menuju kamar untuk segera membersihkan diri.
Tidak butuh waktu lama , Asmara telah keluar dari kamarnya dengan wajah yang jauh lebih segar, meski jiwa dan raganya mungkin saja lelah, namun tidak untuk senja yang selalu membuatnya bersemangat.
Selama Asmara berada di dalam kamar , beruntung mbok Jum telah mengganti pakaian senja menggunakan baju dan celana panjang, sehingga tidak akan menghabiskan waktu lama untuk sekedar bersiap-siap dan menunggui putrinya.
Keduanya lantas berangkat bersama mengendarai motor Scoopy dengan senja yang duduk di bagian depan.
Sepanjang perjalanan Senja terlihat begitu bahagia, senandung lagu yang tidak begitu jelas apa bunyinya selalu dia dendangkan mengiringi perjalanan Asmara, Hal itu tentu berbalik dengan perasaan Asmara yang justru merasa was-was karena kabut semakin turun. Tidak menutup kemungkinan sebentar lagi akan kembali turun hujan.
Beruntung jalanan cukup sepi, atau mungkin karena memang tengah kabut. Hal itu Asmara manfaatkan untuk menambah laju Kendaraanya, tidak butuh waktu lama dia telah sampai di Taman tempat dimana biasanya Senja bermain.
Sembari Senja bermain, Asmara memesan beberapa makanan di warung yang masih tampak buka, karena kebanyakan warung di sana sudah tutup sejak sebelum Asmara dan Senja tiba.
Dua buah pop mie, satu cup Susu hangat serta , Satu cup jeruk hangat menjadi pilihan Asmara untuk mengisi perut bersama sang putri tercinta.
Bukan makanan berat yang menjadi pilihannya, alasannya simpel, karena tentu Asmara tidak akan mengambil resiko lama untuk menunggu makanan siap, sementara jika mie instan jenis pop mie hanya tinggal di seduh saja, tidak akan butuh waktu lama. Selain itu juga karena mie instan merupakan salah satu makanan kegemaran Senja, meski itu tidak sehat namun Senja selalu bersemangat ketika Asmara mengizinkan dia untuk memakannya.
Mungkin tidak hanya Senja, kebanyakan anak-anak menyukai makanan jenis mie instan, meski sejujurnya itu sangat tidak baik untuk kesehatan.
Dengan telaten Asmara memberikan suapan demi suapan pada putri nya, tentu juga dengan dirinya yang ikut makan. Tidak butuh waktu lama keduanya telah menghabiskan makanan dan minuman yang sebelumnya di pesan.
Kini saatnya untuk Asmara kembali membawa putrinya pulang.
Nahas belum juga sempat Asmara berjalan menuju parkiran, hujan lebih dulu menyapa, sehingga Mau tidak mau Asmara terpaksa mencari tempat untuk berteduh.
Sebrang jalan, tidak jauh dari parkiran terdapat pangkalan ojek yang telah sepi, disana merupakan tempat pilihan Asmara untuk berteduh.
Cukup nyaman, selain ada beberapa kursi panjang juga disana ada penerangan.
Cukup lama Asmara dan putrinya menunggu hujan reda, namun agaknya semakin sore hujan juga semakin deras, tidak mungkin bagi Asmara untuk membawa putrinya, meski Asmara membawa jas hujan namun agaknya dia ragu untuk menerobos hujan dengan pekatnya kabut yang menyelimuti jalan an.
***
__ADS_1