
...Sendiri memang nyaman. Namun terlalu naif untuk tidak bilang kesepian...
...🍁...
Mendung yang kembali menyapa mungkin memang merupakan isyarat dari sang Maha Kuasa, jika Asmara akan kembali merasakan Luka.
Takdir tetaplah takdir dan Asmara harus kembali menerima. Meski percaya tidak akan selamanya Asmara merasakan kecewa, namun untuk saat ini hati pun telah berbicara bagaimana dia sangat terluka.
Tidak Samapi di situ saja, Derai air mata ternyata juga menjadi saksi bagaimana Kata tidak dapat mewakili rasa yang begitu sangat menyesakan dada.
Begitu pula dengan takdir yang seolah begitu mempermainkan dirinya, hingga Asmara masuk kedalam jurang terdalam kesedihan.
Bisa saja mungkin Asmara meronta, namun untuk apa ?, Semua yang terjadi akan tetap terjadi sementara luka akan tetap ada di dalam dada.
Jika sudah seperti ini lalu mau bagaimana ?, Bahkan semesta pun tidak pernah berbisik pada Alamnya ketika Sebuah luka kembali datang padanya.
Satu hal yang Asmara percaya, ketika luka kembali menyapa, maka hanya hamparan sajadah saja yang menjadi obat bagi dirinya.
Terkadang gelegar petir memang tidak berakhir dengan turunnya hujan, namun justru petir lah yang tidak jarang membuat jiwa kembali merana, sebab pelangi hanya ada setelah hujan badai turun menyapa.
Dan hal itu pula yang sangat di khawatirkan oleh Asmara. Akan kah hal ini merupakan permulaan atau kah akhir dari kesulitan, atau justru akan ada hal lain yang lebih berat menghadang langkah Asmara di depan.
Entah lah.
Batin dan jiwanya kembali tersiksa atas sikap ibu mertuanya, namun yang lebih menyakitkan dari semuanya adalah bagaimana Loka yang ternyata juga tahu tentang keadaan sebenarnya.
Waktu dua hari saja, nyatanya cukup mampu memberi pelajaran berharga di kehidupan Asmara.
Kenapa hal semacam ini harus kembali terjadi ketika hidup Asmara baru saja mulai bahagia, nyatanya bahagia yang baru di rasa telah hancur begitu saja. Hilang menguar layaknya kepercayaan Asmara pada Loka .
Loka sendiri sadar jika tentu saja Asmara sangat kecewa pada dirinya. Namun kejadian ini terasa sangat cepat, bahkan Loka tidak menyangka jika sang mama benar-benar nekat dengan rencana perjodohan nya. Sementara kedua orang tuanya jelas tahu jika dia telah menikah dengan Asmara.
Sial nya lagi kenapa Loka tidak langsung memberi tahu Asmara ketika dia mengingat siapa Luna. Nasi sudah menjadi bubur, kini hanya tinggal bagaimana Loka meyakinkan Asmara.
Suasana mendadak hening, hanya deru nafas Bu Sukma yang terdengar mendominasi udara.
"Satu hal yang ingin mama katakan pada mu Loka"
Bu Sukma kembali membuka suara, namun kali ini terdengar lebih rendah dari pada saat dia berbicara pada Asmara.
"Papa sakit, dan dokter menduga ini ada kaitannya dengan dia yang selalu memikirkan mu"
"Mama harap kau bisa mengambil keputusan terbaik antara papa atau Dia !!" Tunjuk Bu Sukma tepat di wajah Asmara.
Mendengar penuturan dari sang mama, Loka hanya dapat menghela nafas kasar saja.
"Ma. Aku tidak akan pernah memilih papa ataupun Asmara."
"Seribu kali pun mama memaksa, sebanyak itu pula aku akan menolaknya. " Tegas Loka pada orang tuanya.
Mendengar ucapan putra kandung yang di nilai Bu Sukma sangat kelewatan, hal itu cukup membuat Bu Sukma sakit hati dan kembali menampakkan kemarahannya.
Tidak hanya Bu Sukma, nyatanya Asmara juga sama terkejutnya, Loka begitu kekeh mempertahankan dirinya.
Namun hal itu tidak menjadikan Asmara begitu saja lupa atas diam nya Loka pada dirinya. Asmara tak ubahnya keledai bodoh yang menerima semua kebohongan yang jelas terlihat di depan mata nya.
Sementara Luna, gadis itu hanya menjadi penonton dalam perdebatan antara anak dan orang tua di hadapannya.
Suasana semakin memanas tatkala Loka dengan tegas mengatakan tidak akan berpisah dengan Asmara bagaimana pun kondisi nya.
Hal itu semakin membuat Bu Sukma merasa kecewa dan marah pada putranya.
__ADS_1
Melihat bagaimana Loka bersikap pada ibunya sejujurnya Asmara juga tidak tega melihatnya. Terlebih yang sedang diajak bicara oleh Loka adalah ibu kandung nya sendiri.
Sebagai seorang wanita dewasa, dan Asmara pun merasakan menjadi seorang ibu, tentu dia tahu bagaimana hancurnya hati Bu Sukma, melihat putra nya kasar dan bahkan tidak menurut pada nya.
Namun yang ada hanyalah Asmara yang tetap diam saja, menyaksikan perdebatan antara mereka. Karena jika dia berbicara mungkin saja akan kembali memancing kemarahan dari mertuanya.
Untuk saat ini mungkin memang hanya diam yang akan menjadi solusi nya.
"Sudah cukup ma, sebaiknya mama pulang saja !" ucap Loka
"Dan jangan Lupa bawa dia Juga !!" Tunjuk Loka pada Luna.
Loka tegas mengusir orang tua yang telah melahirkannya. Sungguh di detik ini pula Asmara sangat tidak percaya jika Loka akan sanggup melakukanya.
"Mas !!"
Meski Asmara sakit hati dan kecewa, namun nalurinya tetap tidak suka jika Loka bertindak kasar pada ibu nya.
Ingin rasanya Asmara mengingatkan Loka, namun sakit hatinya masih begitu mendominasi jiwa, sehingga Asmara memilih untuk kembali diam saja.
Bagaimanapun Asmara hanya wanita biasa, dia juga memiliki batas kesabaran ya.
Perubahan wajah Bu Sukma sudah jelas menjadi tanda bagaimana dia sangat kecewa pada Asmara. Bahkan mungkin saat ini Bu Sukma sudah mengumpat i Asmara dalam hatinya.
Dengan kekesalan yang masih tersisa di dalam dada, Bu Sukma pergi begitu saja dari kediaman Asmara. Tanpa salam dan tentu tanpa berpamitan.
Asmara menatap kepergian ibu mertuanya, mobil yang di tumpanginya semakin menjauh dari pandangan mata Asmara.
Sementara Loka tetap diam dengan pikiran yang entah kemana.
Suasana hening membuat Asmara ingin segera mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
"Asmara"
"Asma lelah mas, bisakah kita bicara nanti saja"
Dingin suara Asmara menjawab pertanyaan Loka, dan hal ini tentu baru pertama bagi Loka melihat bagaimana Asmara hanya bisa diam dalam kemarahannya.
Wanita seperti Asmara tentu sangat jarang rasanya, tutur kata yang tetap lembut meski dirinya tengah menyimpan rasa kecewa.
Sungguh Loka merasa bersalah atas semua perbuatan orang tuanya pada Asmara.
Setelah kepergian Asmara, kini hanya tersisa Luna dan Loka saja.
Helaan nafas dalam Loka terasa memekakkan telinga. Karena jujur saja Loka masih begitu tidak percaya dengan semua kejadian yang terjadi secara tiba-tiba.
Bagaimana dengan Luna ?. Meski begitu di inginkan oleh Bu Sukma , namun Luna juga tidak ingin berada di posisi ini, meski dia begitu menyukai Loka dan tentu ingin memiliki nya, namun tidak sampai hati rasanya jika Luna harus melihat bagaimana Asmara bersedih karena dirinya.
Luna memang tidak tahu betul bagaimana permasalahan awalnya, sebatas yang dia tahu adalah perjodohan antara dirinya dan Loka merupakan usaha dari kedua orang tua Loka.
"Aku akan menjelaskan semua pada Asmara" Ucap Luna pada akhirnya.
Sungguh Luna ikut andil dalam kesedihan yang di rasakan Asmara. Sehingga dia akan berusaha untuk memperbaiki semuanya.
Mendengar penuturan dari Luna, Loka pun hanya tetap diam saja, karena saat ini semua terasa sulit bagi nya.
Bukan hanya soal Asmara saja, namun Loka juga tidak menutup hatinya dari kondisi sang papa yang saat ini sakit karena dirinya.
Menyadari Loka hanya tetap diam saja, Luna pun memilih untuk berlalu meninggalkan Loka.
***
__ADS_1
Waktu menunjukan pukul 14.53
Sudah hampir sore, dan Asmara belum keluar dari kamar nya.
Sejak perdebatan pagi tadi agaknya Asmara lebih betah mengurung diri.
Meski begitu sedih, Asmara sendiri tidak lupa memberi kabar pada pak Basuki atas kondisi yang baru saja terjadi.
Dan nyatanya pak Basuki paham dengan situasinya, sehingga dia memilih untuk menahan Senja agar tetap berada di rumahnya.
Tok tok tok
Sebuah ketukan pintu, nyaring terdengar di telinga Asmara
"Asma. Bisa kita bicara ?"
Dari dalam kamar, Asmara jelas mendengar suara Luna yang memohon pada nya. Jujur Asmara belum ingin menemuinya. Namun mengingat Luna merupakan tamunya, rasanya tidak etis jika Asmara berdiam diri saja, dan mengabaikan keberadaan Luna di rumah nya.
Ceklek.
Entah setelah berapa kali ketukan, Asmara akhirnya membuka pintu kamarnya.
"Bisa kita bicara ?"
Luna tampak mengulangi ucapanya.
Bukan menjawab pertanyaan Luna, Asmara justru menatap Luna dengan tatapan sendu nya. Hingga dia tidak dapat berkata-kata, dan berlalu menuju ruang tamu di rumahnya.
Bukan marah hanya saja Asmara kecewa , kenapa Luna yang sudah dia anggap sebagai temanya ternyata justru Luna yang juga andil dalam membuat luka hatinya.
"Katakan apa yang ingin kamu bicarakan" ucap Asmara
Sedikit ragu Luna mengatakan semua pada Asmara, namun tidak mungkin juga baginya hanya diam saja, sementara hubungan Loka dan Asmara menjadi taruhannya.
"Aku tahu kau marah padaku Asma"
"Maafkan aku .. !!"
Sesal Luna dengan wajah mengiba. Helaan nafas seolah menjadi jeda bagi Luna untuk memulai kembali kalimatnya.
"Aku mungkin memang mencintai suami mu, namun aku juga tidak akan bertindak diluar batas kemampuanku"
Deg.
Kaget ?. Sudah pasti, Sungguh ucapan Luna cukup membuat hati Asmara merasa kecewa, namun Asmara juga kagum pada Luna yang berani jujur mengatakan semuanya.
Kedua wanita dewasa itu tampak berbicara dari hati ke hati, saling terbuka dengan semua kondisi yang ada. Asmara sendiri sejujurnya tidak menyalahkan Luna, hanya saja mungkin memang saat ini keberuntungan sedang tidak berpihak pada dirinya.
"Aku memang datang kesini untuk mencari Loka"
"Namun percayalah pertemuan kita murni bukan karena sengaja aku atau Tante Sukma yang mengaturnya"
"Aku dan Loka bahkan terkejut, ketika pagi tadi kami bertemu, dan percaya lah itu merupakan pertama kali kami bertemu"
"Maafkan aku yang tidak jujur meski aku memiliki kesempatan untuk berbicara"
Asmara hanya diam dan mendengarkan penuturan dari Luna.
Entah mengapa Asmara merasa ucapan Luna tidak mengada-ada , namun Asmara juga tidak dapat begitu saja percaya.
"Terima kasih atas kejujuranmu" ucap Asmara pada akhirnya.
__ADS_1
Sudah tidak ada air mata seperti sebelumnya, Namun Luna semakin merasa perubahan sikap Asmara pada dirinya, cukup menjelaskan bagaimana hati wanita di hadapannya masih sangat terluka.
***