
...Aku memilih untuk berhenti, bukan berarti aku tidak suka, hanya saja bagian itu terlalu rumit untuk Aku pahami. Mungkin nanti aku akan kembali namun tentu semua sudah tidak lagi sama....
...🍁...
Tidak seperti biasanya hari Jumat yang mungkin akan sedikit pasien datang, nyatanya hari ini cukup ramai, hingga Asmara merasa tubuhnya sangat lelah.
Selain karena semalam dia tidak cukup istirahat, juga karena pikiran dan hatinya banyak tersita untuk hal-hal diluar kendali nya , mungkin itu sebabnya saat ini Asmara merasa sangat lelah.
"Pucet Amat buk ??"
Rani kembali mengagetkan Sahabatnya, mendapati Asmara yang banyak melamun saja.
"Sakit ya ?" Rani kembali bertanya.
"Enggak, Kecapean aja" Jawab Asmara sekenanya.
"Terus kenapa nggak semangat, loyo gitu ?"
Asmara enggan menjawab pertanyaan Sahabatnya, atau memang Asmara tidak ada jawaban untuk dia berikan.
"Makanya kamu itu musti cepet-cepet olahraga Ma, biar semangat"
"Ngehina !!, Aku tu tiap hari olah raga tau Ran"
"Ohya ?" Rani tampak tidak percaya.
"Udah coba olahraga yang diatas kasur emangnya ?" Seloroh Rani dengan tawa nya yang tanpa dosa.
"Ishhh... Apan sih Ran " Asmara begitu kesal mendengar ucapan sahabatnya
Asmara pikir jika Rani serius bertanya padanya, eh tidak tahu nya lagi-lagi dia juga hanya menggoda nya.
Sejujurnya meski Rani selalu berbicara ngelantur, namun Asmara juga sangat menikmatinya, karena sejak dirinya pindah ke desa, hanya Rani saja yang setia menjadi sahabatnya.
Sebenarnya semua rekan kerja Asmara sangat baik, namun yang sangat perhatian dan sangat mengerti kondisi Asmara mungkin hanya Rani saja.
"Cobain deh Ma, bikin ketagihan. Malemnya di cas, paginya udah Full lagi, on 100% Tau. Dijamin" kelakar Rani
Asmara tampak membulat kan kedua matanya, tidak heran sahabatnya itu selalu tampak bahagia, ada saja banyolan yang selalu dia bawa.
"Eman Handphone di cas !!"
"Ehh di bilangin ngeyel Lo kamu itu Ma.. Ma..!!"
Rani tampak menautkan kedua alisnya. Berbicara seolah dia yang paling tahu segalanya.
"Habis kamu itu Ran, Ada-ada aja, Teori dari mana coba ?"
"Ehh... Yang kaya gitu nggak perlu teori, Langsung praktek aja. Dah lah dijamin "
Keduanya tertawa bersama, seolah tiada hari tanpa gurauan sahabatnya. Asmara cukup lega setelah bercanda dengan Rani, sejujurnya tidak mengurangi beban pikiran dan tanggungannya, hanya saja adanya Rani seolah mengaburkan kegalauan yang tengah di rasakan Asmara.
"Kemarin bilangnya jangan Nyicil, sekarang suruh nyobain, Malah suruh langsung praktek !!, Kamu tu sebenernya gimana sih Ran, Dasar plin-plan !!"
Mendengar ucapan komplain dari Asmara, Rani hanya tertawa saja.
"Bercanda Ma, Bercanda !!" Keduanya kembali tertawa.
Pekerjaan keduanya memang telah usai, namun jam pulang kantor masih ada beberapa saat.
"Eh omong-omong, emang kamu setiap hari ya Ran gituan sama Bagas ?"
Bukan menjawab justru Rani menampakkan senyum seringainya.
"Cieeee.... Penasaran ya, udah ada yang pengen nih kayaknya !!" Seloroh Rani
Asmara merasa salah memberikan pertanyaan, hingga dia sendiri terjebak didalamnya, dan pilihan satu satunya hanya menggelengkan kepala.
"Nggak gitu Rani, aku tu cuma mau ingetin, kamu itu masih hamil muda, bahaya kalau sering-sering"
"Inget Rawan terjadi perdarahan"
"Kamu juga pasti paham kan"
"Iya iya Bu Bidan " goda Rani dengan kerlingan mata nya, yang justru membuat Asmara kembali menggelengkan kepala.
__ADS_1
Melihat reaksi sahabatnya, justru membuat Asmara ikut tertawa. Rani memang selalu begitu ada saja ide banyolan konyolnya.
"Nggak sering juga sih, cuma kalau Bagas pengen ,atau aku pengen atau kita berdua pengen, ya gitu deh ma"
Enteng dan tanpa beban Rani ucapkan, Sungguh hal itu cukup membuat Asmara melongo seketika.
"Sama aja tiap hari itu mah !" seloroh Asmara
Perbincangan yang sejujurnya tidak bermanfaat itu terus saja berlangsung hingga waktunya pulang kantor telah tiba.
"Asma, Bagas udah jemput nih, Kamu bareng aku aja" ajak Rani pada Asmara
"Nggak usah Ran, kamu duluan aja" tolak Asmara
Asmara masih fokus membereskan meja kerjanya, memasukan beberapa barang bawaannya kedalam tas.
"Emang kamu mau pulang sama siapa ?, kan tadi gak bawa motor!"
Rani tampak memaksa Sahabatnya, dia hanya berfikir tidak tega membiarkan Asmara pulang sendirian. Pasalnya jelas-jelas sebelumnya Rani tahu jika Asmara tidak membawa motornya.
"Dijemput mas Loka" Asmara tampak malu-malu mengucapkannya.
"Apa ?? Yakin aku gak salah denger ?"
Sontak ucapan Asmara justru mengundang kehebohan dari sahabatnya. Rani bahkan menggoda Asmara hingga wajah Asma merah merona.
Rani begitu penasaran bagaimana reaksi Asmara ketika nanti Loka menjemputnya, namun sayang Bagas telah menunggunya, mau tidak mau dia harus pulang duluan.
Begitu juga dengan Asmara, Meski sangat berisik namun Asmara tahu jika sahabatnya hanya meluapkan rasa bahagianya.
"Cie yang mau dijemput ayang"
"Husstt.. Rani !!"
Rani terkekeh sembari berlalu meninggalkan Asmara yang masih betah di meja kerjanya.
Hingga tanpa terasa dering telepon membuyarkan lamunan Asmara.
'Mas Loka' Gumam Asmara
"Assalamualaikum Mas ?"
"Waalaikumsalam, aku tunggu di depan ya ?" jawab Loka dari ujung telepon
"Iya mas "
Bergegas Asmara bangkit dari duduknya, berjalan cepat menghampiri Loka yang telah beberapa saat menunggu dirinya.
Benar saja tampak dari kejauhan , Loka telah berdiri di samping mobil nya, menatap Asmara yang tampak anggun dengan seragam dinas nya.
"Maaf mas, Nungguin lama ya?"
Sejujurnya Asmara merasa tidak enak hati, harus membuat Loka menunggu dirinya di tengah teriknya matahari di siang ini.
Namun respon Loka justru sebaliknya, dia tersenyum dengan manisnya, seolah begitu bahagia meski di sengat teriknya matahari.
Keduanya masuk kedalam mobil, bersama menyusuri jalanan yang mulai kembali ramai menjelang akhir pekan.
"Kamu sudah makan ?" Tanya Loka. Sementara Asmara hanya menggelengkan kepala.
"Mau makan apa ?"
"Terserah mas Loka saja"
Asmara menurut saja pada pilihan Loka.
Loka pun kembali fokus pada kemudi nya. Berharap segera Samapi pada tujuannya.
Tidak butuh waktu lama, Loka telah sampai di sebuah restoran tempat tujuannya, Restoran dengan nuansa pegunungan yang menampakkan hamparan teh sejauh mata memandang.
Memilih tempat duduk yang sedikit jauh dari ramainya pengunjung lain, hal itu tentu karena satu alasan, agar keduanya lebih fokus dan nyaman ketika berbicara.
Karena Asmara serba menurut pada Loka, maka Loka langsung saja memesan beberapa menu untuk keduanya.
Selama menunggu pesanan sampai, Loka agaknya ingin memulai pembicaraan diantara keduanya.
__ADS_1
"Mas ?"
Belum juga Loka sempat bertanya, Asmara lebih dulu mendahuluinya.
"Iya"
"Mas-- Em--"
Asmara tampak ragung dengan apa yang ingin dia tanyakan pada Calon suaminya.
"Katakan saja, Jika bisa aku akan menjawabnya, jika tidak mungkin akan aku tanyakan pada ahli nya"
Sontak ucapan Loka mengundang gelak tawa dari Asmara, dia yang sebelumnya gugup bahkan takut untuk berbicara pada Loka kini harus menahan perutnya akibat gaya bicara Loka yang lebih mirip dengan Rani sahabatnya.
Namun untuk sesaat Asmara kembali menguasai dirinya, mencoba fokus terhadap tujuan utamanya, bertanya pada Loka.
"Mas Loka sebetulnya serius kah dengan Asma ?" Asmara tampak gelagapan dengan ucapanya.
Mendengar pertanyaan Asmara, Loka justru hanya menautkan kedua alisnya.
"Serius lah, kalau gak serius mana mungkin di kenalin sama Oma"
Enteng dan jelas Loka menjawab pertanyaan Asmara sebelumnya. Sementara Asmara hanya tertawa sumbang mendengar jawaban Loka.
Mungkin bukan itu maksudnya, hanya saja Asmara bingung merangkai kata untuk bertanya pada Loka.
"Maksud Asma bukan itu mas"
"Lalu ?" Loka dengan cepat bertanya.
"Mas Loka itu punya segalanya, mungkin memang Asma belum begitu mengenal siapa mas Loka sebenarnya, sedikit yang Asma tahu kalau mas Loka itu keturunan darah biru"
Asmara tampak mengingat bagaimana pembicaraannya semalam dengan pak Basuki.
"Bukankah mudah saja bagi Mas Loka untuk mencari yang lebih sempurna dari Asmara, Tapi kenapa harus Asma yang mas pilih sebagai teman hidup mas Loka?"
Loka tampak mengulas senyum terbaiknya, sungguh pertanyaan Asmara cukup menggelitik hatinya, rasa tidak percaya Asmara justru jarang Loka temukan dari wanita lain yang pernah singgah di hatinya.
Kebanyakan dari mereka akan menampakkan pesona kecantikan nya untuk memikat Loka agar tertarik padanya, namun Asmara tidak, bahkan dari tutur katanya Asmara, Loka dapat menilai jika Asmara masih ragu akan kesungguhan niat baiknya.
"Lalu , Kau tidak mau ?"
"Bukan. Bukan begitu mas maksud Asma, Hanya saja ---"
Asmara tampak menjeda ucapnya, sungguh sampai di sini dia pun kehabisan kata-kata. hingga hanya helaan nafas yang keluar dari mulut manisnya.
"Kamu percaya ?, Jika tidak selalu cinta yang menjadi pondasi dalam rumah tangga ?"
"Tidak jarang juga Mereka yang bersama karena belum adanya cinta, namun berakhir bahagia"
"Atau begini saja, Apakah bisa cinta menjamin keutuhan sebuah rumah tangga ?"
Loka menjelaskan secara sederhana, tidak lupa dia menyisipkan kalimat sindiran dari penuturnya. Hal itu tentu Agar pikiran Asmara terbuka, karena cinta dan rumah tangga tidak selalu melulu soal harta, tahta, dan nama.
Dibangun nya sebuah rumah tangga tentu selain cinta juga ada aspek penting lainya, misalnya visi misi yang sama, tujuan hidup yang sama, dan impian yang juga ingin di capai bersama pasangan selamanya.
Apa yang di ucapkan Loka, agaknya sedikit demi sedikit menyadarkan Asmara, bahkan dirinya sendiri termasuk salah satu dari yang di sebutkan Loka sebelumnya.
Rumah tangga yang dia bangun susah payah dengan cinta, namun pada akhirnya harus berakhir juga karena pihak ketiga.
Ironi kehidupan nyata yang harus Asmara terima. Tapi hal itu tidak menjadikan sosok Asmara lemah dan goyah, karena baginya selama Senja selalu bersama dirinya, maka dunia Asmara akan tetap baik-baik saja.
"Kalau begitu Boleh tahu Kenapa mas Loka mau menikah dengan Asma?
Asmara berusaha meyakinkan kembali hatinya. Tentu harapannya adalah kedepan agar Asmara tidak kembali salah dalam melangkah.
"Kamu cantik, kamu baik, kamu sopan, kamu Shalihah, kamu penyayang, dan kamu memiliki semua hal yang ingin aku miliki, dan tidak aku temukan dari wanita lainnya"
Meleleh seketika hati Asmara mendengar penuturan Loka yang begitu sempurna, sesungguhnya dia cukup terlena dengan manisnya Ucapan Loka.
Percaya tidak percaya kini wajah asmara sudah sangat merah merona, bahkan jika di pegang mungkin akan terasa panas setelah mendengar penuturan calon suaminya.
Namun Lagi-lagi Asmara tetap harus menjaga hatinya. Meski Loka telah meyakinkan dirinya, namun perjalanan cinta yang sesungguhnya justru baru saja akan di mulai, begitu batin Asmara.
***
__ADS_1