SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 94. Titik Terang


__ADS_3

...Sabar itu ikhlas Tak terbatas. Jika Sabar masih berbatas Mungkin masih belum Ikhlas. ...


...🍁...


Kesedihan masih begitu kentara menyelimuti keluarga Wiratmaja. Tidak hanya Loka, tentu kedua orang tuanya, yang kini telah benar-benar menyesal atas semua tindakan dan perbuatan yang dengan sengaja di lakukan nya.


Hanya Oma saja yang terlihat tidak menyimpan kesedihan di wajahnya, mungkin juga karena Oma tidak pernah menyakiti cucu menantunya. 'Bisa saja' , Atau mungkin karena alasan lainya. 'Entah lah'.


Sore ini Loka kembali mencari. Tujuannya kali ini adalah kediaman sang istri. Ditemani Bu Sukma, Loka mulai menginjak pedal gas nya, menyusuri jalan sempit desa. Tidak butuh waktu lama keduanya telah sampai di kediaman Asmara.


Tidak ada yang berubah, masih tetap sama, karena selama Asmara tidak berada di sana, Loka selalu meminta mbok Jum untuk membersihkannya setiap hari, termasuk mengganti seprai dan melakukan kegiatan lainnya, meski sang pemilik tidak menempati.


Gaji juga selalu Loka berikan termasuk bonus besar yang tentu baru pertama kali, tidak pernah Mbok Jum dapatkan bonus dari Asmara, karena Mbok Jum sendiri tahu jika gaji Bulanan Asmara juga sudah tentu habis untuk keperluan rumah tangga.


Loka disusul Bu Sukma masuk kedalam rumah, tujuan Loka tentu untuk mencari sesuatu yang mungkin saja bisa membantu nya menemukan keberadaan Asmara.


Sementara Loka berada dikamar Asmara, Bu Sukma memilih berkeliling di rumah menantunya, bersih dan rapi, merupakan kesan pertama Bu Sukma saat melihat keadaan sekitar rumah Asmara.


Meski sudah berusia cukup tua, namun tampaknya Asmara memang selalu menjaga nya, hingga rumah ini masih begitu layak untuk di tempati. Rapi dan bersih, sama seperti dulu Baskara dan Halimah yang selalu menyukai sesuatu yang bersih dan tentu rapi.


Melihat potret gambar yang berusia cukup tua, Bu Sukma menajamkan mata nya. Menyadari sosok yang sangat dia kenal i.


Senyum di wajahnya terkembang seketika, tatkala menyadari itu merupakan potret diri dari mendiang sahabatnya Baskara dan Halimah, serta gadis kecil yang di yakini merupakan Asmara.


Lembut tangan Bu Sukma mengusap debu yang tertinggal di atas kaca, tidak berubah, kesan Bu Sukma pada mendiang sahabat lamanya.


Bu Sukma juga tidak pernah lupa bagaimana Budi baik mendiang ibu Asmara , yang telah sukarela mendonorkan satu ginjal untuk nya.


Untuk sesaat Bu Sukma terdiam dalam lamunannya, betapa dia sangat berdosa pada sosok Baskara dan Halimah. Yang telah begitu baik membantu nya.


Sementara Bu Sukma ?. Dia justru menyakiti dan melukai jiwa dan perasaan Asmara. Sungguh mungkin ini menjadi pelajaran berharga yang akan selalu Bu Sukma simpan dalam dada.


Betapa kesombongan telah menghancurkan dirinya, karena itu pula dia tega membuat orang lain terluka dan kecewa.


Setelah cukup bergelut dengan perasaanya, Bu Sukma kembali melanjutkan aktifitasnya.


Pandangan mata Bu Sukma meneliti pada setiap inc ruangan disana, rumah ini di beli oleh orang tua Asmara setelah Bu Sukma dan suaminya hijrah ke ibu kota.


Segar di ingatan Bu Sukma saat itu, Baskara dan Halimah menghubunginya dan mengabarkan jika mereka telah membeli sebuah rumah.


Tidak lupa Baskara dan Halimah mengundang Bu Sukma serta suaminya, untuk acara Syukuran saat itu, namun karena alasan satu dan lain hal Bu Sukma dan pak Adi tidak bisa hadir. Sampai pada saat Bu Sukma dan Pak Adi tidak pernah lagi menampakkan diri bahkan setelah Baskara dan Halimah berpulang.


'Rumah baru' Batin Bu Sukma.

__ADS_1


Bu Sukma seolah tengah memikirkan sesuatu, mencoba menggali kembali memori lama, yang mungkin bisa dia berikan pada putranya.


'Jika ini rumah baru, Lalu bagaimana dengan Rumah lama yang dulu sempat di tinggali oleh Baskara' Batin Bu Sukma.


'Apa rumah itu masih ada ?' Batin Bu Sukma bergejolak memikirkannya.


Segera Bu Sukma meletakkan kembali potret Asmara dan orang tuanya, Bu Sukma berlari mencari keberadaan putranya.


"Loka !"


"Ka !" Panggil Bu Sukma


"Ma. Loka kan dari tadi di sini, ngapain teriak-teriak, kita bisa dikira maling kalau mama heboh sendiri."


Loka memperingati mama nya, jika rumah tua ini juga bisa saja roboh jika mereka terus membuat kegaduhan dan kebisingan.


"Ka. Kayaknya mama tahu sesuatu"


"Soal Asma !"


Loka menajamkan penglihatannya, menautkan kedua alisnya, dan mencari kebenaran dari ucapan mama nya.


Agaknya Loka tidak bisa begitu saja percaya, bagaiman Mama nya bisa tahu sesuatu tentang Asmara sementara hubungan diantara keduanya saja sebelumnya tidak baik-baik saja.


"Maksud mama ?" Loka mulai bertanya.


"Kita mau kemana sih ma, disini masih ada yang belum Loka cek ma !!"


Loka sedikit kesal karena Bu Sukma yang terus saja menarik tangannya, Bu Sukma memang selalu saja seperti itu, memaksa kan kehendaknya sesuka hati. 'Batin Loka'


Namun meski kesal, pada akhirnya Loka menurut saja. Tentu alasannya karena dia tidak ingin berdebat dengan mama nya.


Sesampainya mereka di ruang tamu, Loka memilih duduk di sana, dan Bu Sukma meraih kembali potret gambar Asmara dan keluarganya, Bu Sukma menyodorkan foto tersebut pada Loka Putra nya.


"Coba kamu lihat ini"


Loka masih cukup bingung dengan maksud mama nya, pasalnya Bu Sukma hanya meminta Loka melihat foto lama istrinya.


"Ini Asma. Sama orang tuanya"


Datar Loka mengatakan siapa yang ada di dalam foto itu pada mama nya, hal itu tentu karena Loka merasa mama nya tangah menanyakan siapa saja di dalam sana.


"Bukan !" ucap Bu Sukma

__ADS_1


Loka semakin bingung dengan ucapan mama nya. Jika bukan lalu apa maksudnya 'Batin Loka'


"Coba kamu lihat baik-baik"


Bu Sukma kembali meminta pada putranya untuk semakin jeli mengamati.


Melihat sikap mama nya yang selalu memaksa, Loka memilih mengikuti saja apa maunya. Menatap tajam gambar Asmara kecil didalam sana. Bersama Ibu dan tentu bapak nya.


"Em. Asma mirip dengan Senja maksud mama ?"


Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Loka. Menyadari jika Asmara sangat mirip dengan Senja, dan ternyata hal itu baru di sadari oleh Loka.


Mendengar ucapan putranya, Bu Sukma hanya bisa menggetok kepalanya.


Bahkan Bu Sukma memutar bola mata nya, jengah dengan pemikiran Loka yang hanya sependek jarum saja.


"Kamu ini. Cuma pandai dalam hal matematika saja, selebihnya sama kaya papa !" Kesal Bu Sukma.


"Kenapa papa di bawa-bawa ?"


Loka dan Bu Sukma terlonjak kaget, menyadari kehadiran Pak Adi yang tanpa permisi. Keduanya pun spontan melihat kearah pintu depan, dan benar saja disana berdiri sosok tegap pak Adi.


"Kalian sedang apa disini ?"


Pak Adi lantas bertanya pada keduanya, namun Bu Sukma dan Loka seolah masih dalam mode kagetnya.


"Papa sendiri ngapain disini ?"


Bukan memberikan jawaban, Loka justru bertanya pada orang tua nya.


"Papa nyariin kalian. Kalian sendiri ngapain disini ?" tanya pak Adi pada keduanya.


Pak Adi masih terus bertanya tujuan keduanya berada di rumah Asmara dan sedang apa mereka disana.


"Nyari Asma !" Bu Sukma menjawab dengan nada ketus nya.


Sudah hal yang biasa bagi pasangan di depan Loka itu untuk berdebat, meski hanya karena hal kecil saja.


Pandangan mata pak Adi meneliti pada sebuah foto di tangan putranya. Semacam tidak asing dengan wajah-wajah disana.


"Ini Baskara?" Tanya pak Adi pada istrinya


Dan Bu Sukma menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan suaminya.

__ADS_1


Hanya dengan melihatnya saja , pak Adi seolah memahami sesuatu yang mungkin saja itu juga maksud dari Bu Sukma sebelumnya.


***


__ADS_2