
...Percayalah bahagia akan tiba. Hanya butuh kesabaran saja untuk menantinya ...
...🍁...
Mendengar pertanyaan Asmara sebelumnya, seketika senyuman di wajah Bima menghilang begitu saja. Asmara sedikit penasaran dengan apa sebab perubahan sikap mantan suaminya, namun dia tidak memiliki cukup nyali untuk bertanya pada Bima.
Namun agaknya Bima semakin tertunduk dalam lamunannya.
"Mas !. Bapak, Ibuk baik-baik aja kan ?"
Sejauh Asmara mengenal Bima, hanya karena orang tua bima bisa merasa sedih dan terluka, mungkin saja ada sesuatu yang menganggu pikirannya 'Batin Asmara'.
"Bapak baik" ucap Bima terbata
"Ibuk--"
Terlihat Bima menjeda ucapanya. Begitu juga Asmara yang seketika menjadi penasaran karena Bima menghentikan kalimatnya.
"Ibuk kenapa mas ?"
Asmara menautkan kedua alisnya, berharap Bima akan segera menjawab pertanyaannya.
"Ibuk sakit, dia minta kamu datang menemuinya, Ibuk sangat merindukan kalian"
Agaknya Bima tidak sedang bercanda, Asmara tahu betul jika saat ini Bima tengah menahan kesedihannya.
Hal ini tidak biasa terjadi pada Bima ,dan sangat jarang sekali terjadi. Asmara melihat bagaimana seorang Bima begitu rapuh dengan sudut mata yang menampakkan kaca bening nya.
"Ya udah Mas kita langsung ke Jakarta saja"
Tanpa bertanya , dan tanpa pikiran panjangnya, Asmara telah mengambil keputusan untuk menemui mantan ibu mertuanya.
Selain Asmara yang akan sedih jika terjadi apa-apa, juga karena Senja tentu saja akan sedih dan kecewa jika terjadi sesuatu dengan neneknya.
Tidak hanya itu, tentu Asmara tidak begitu saja melupakan semua kebaikan dan kasih sayang ibu mertuanya, segar di ingatan Asmara bagaimana dulu ibu mertuanya begitu baik dan sangat menyayangi Asmara juga Senja, bahkan dia tidak rela jika Asmara berpisah dengan Bima.
Satu satunya orang yang paling menentang perpisahan Asmara dengan Bima, dan selalu memohon untuk keduanya tetap bersama.
Namun nyatanya Asmara tidak bisa melanjutkan hubungan nya dengan Bima .
Meski terkejut namun Bima langsung saja menganggukkan kepala nya , beruntung tidak diperlukan drama untuk memaksa Asmara.
Karena Bima sempat berfikir jika bisa saja Asmara menolak ajaknya untuk ke ibukota.
Namun nyatanya Asmara justru lebih dulu mengajaknya segera kembali ke Jakarta.
Hanya ada satu syarat yang diajukan oleh Asmara, Asmara tidak ingin menggunakan jalur darat karena tentu akan memakan waktu cukup lama, Asmara meminta untuk menggunakan jalur udara saja.
Selain karena ingin segera mengetahui kondisi ibu mertuanya, juga karena Asmara tidak bisa lagi mengajukan izin kerja lebih lama, pasalnya bulan ini saja dia sudah 2 x Asmara absen kerja.
Beruntung hal itu tidak masalah bagi Bima, Karena baginya Asmara tidak menolak saja dia sudah cukup bahagia.
__ADS_1
Sementara Asmara tengah menyiapkan baju-baju dan keperluan lain untuk dirinya dan juga Senja putrinya. Bima di luar sana tengah sibuk memainkan ponselnya, mencari penerbangan yang paling cepat hari itu juga.
Bersyukur Bima, masih ada penerbangan hari itu juga, meski jam terbang cukup malam namun sepertinya tidak masalah.
Tidak butuh waktu lama, Senja bersama Asmara telah kembali ke teras rumahnya.
Sementara mbok Jum yang memang tidak ikut perjalanan mereka, bersiap menjaga rumah Asmara.
Bok Jum juga tidak lupa membawakan koper milik Senja dan Asmara, tidak banyak yang keduanya bawa, hanya 1 koper berukuran sedang milik Senja karena selain baju ada beberapa mainan dan buku juga yang Senja bawa, Sementara Asmara hanya menggunakan koper kecil saja.
"Sudah ?" tanya Bima
"Sudah mas" jawab Asmara
Setelah berpamitan dengan mbok Jum , Bima tidak lupa meraih koper dari tangan asisten asmara, tidak lupa mbok Jum juga berdoa atas kesembuhan ibunda Bima, serta tidak lupa juga dia menitipkan salam pada mantan majikanya.
Asmara, Senja, dan juga Bima bersiap untuk menuju bandara.
Mobil Pajero hitam milik Bima, mulai melaju memecah hening nya malam Kertagiri, Senja berada dalam pangkuan ibunya, sementara Bima tampak fokus dengan Kemudi nya.
Dalam musibah yang menimpa Bima agaknya sedikit memberi celah bagi Bima untuk kembali bisa mendekati Asmara.
Melihat Asmara yang tidak keberatan dekat dengan dirinya, cukup membuat hati Bima menjadi berbunga.
Entah mengapa senyum manis terlihat di wajah tampan Bima. Mungkin saja Bima tengah membayangkan bagaiman dia, jika pada akhirnya kembali bersama Asmara.
Namun agaknya Asmara tetap biasa saja, dalam hatinya saat ini hanya bagaimana kondisi mantan ibu mertuanya. Jujur Asmara sangat mengkhawatirkan nya.
Melihat Senja yang sudah lelap dalam pangkuan ibunya. Membuat Bima tidak tega melihat Asmara yang juga ikut terjaga. Bima dengan lembut meminta Asmara untuk istirahat dalam perjalanan yang masih lumayan lama.
Karena memang tubuh Asmara sangat lelah, Asmara menurut saja, toh Bima juga tidak akan berbuat macam-macam, pasal nya ada Senja diantara mereka, 'Batin Asmara'.
Tidak butuh waktu lama, Asmara pun lelap dalam tidurnya. Menyisakan Bima yang kembali fokus dengan Kemudi nya.
Kurang lebih satu setengah jam lamanya jarak antara Kertagiri dengan bandara terdekat di kota Surakarta.
Hening nya jalanan kota membuat Bima bisa menambah kecepatan mobilnya, hingga tidak berselang lama, Mobil yang di kemudikan Bima telah mencapai tujuannya.
'Bandara Adi Soemarmo Surakarta'
Bima telah memarkirkan mobilnya, sejenak menatap wajah teduh mantan istrinya, membuat Bima kembali merasakan debaran di dalam dada.
Cukup lama Bima memandangi wajah cantik mantan istrinya hingga suara Senja membuyarkan lamunan nya.
"Ibuk. Pipis" Senja terbangun dengan rasa sakit di perutnya.
Mendengar rengekan putrinya, tentu saja Asmara juga akan langsung bangun jadinya.
"Sayang, Enja udah bangun nak ?"
Beberapa kali Asmara mengerjab kan mata nya, menyusun kembali kesadaran di otak dan kepala nya.
__ADS_1
"Pipis buk" kembali Senja merengek pada Asmara.
Asmara menatap ke sekeliling, sinar terang lampu Bandara benar-benar membuatnya membuka mata.
"Kita sudah sampai ya mas ?"
Anggukan kepala menjadi jawaban yang paling tepat Bima berikan pada Asmara.
"Kalian ke toilet saja dulu, aku akan bawa kopernya masuk dan mencetak tiket kita" titah Bima
Asmara menganggukkan kepalanya, setuju dengan usulan Bima.
Ketiganya turun dari mobil, Asmara dan seja lebih dulu berjalan mencari Toilet, sementara Bima masih sibuk mengeluarkan koper milik Asmara dan Senja.
Tidak lupa Bima membayar untuk parkir mobil yang tentu akan lumayan memakan waktu cukup lama. Nomor parkir mobil telah dia dapatkan, dan kini saatnya dia mencetak tiket yang sebelumnya telah dia beli secara on-line.
Tidak butuh waktu lama, ketiganya kembali bersama-sama, menunggu jadwal keberangkatan yang masih kurang lebih setengah jam lamanya.
Sejak dari toilet sebelum nya , Senja telah kembali lelap dalam tidurnya, Menyisakan Bima dan Asmara yang masih setia terjaga.
"Biar Senja aku gendong"
Menyadari Asmara terlihat lelah sedari tadi menggendong Senja. Bima berinisiatif untuk meminta Senja, tentu agar Asmara bisa beristirahat.
"Asma" panggil Bima
"Em" jawab Asmara
"Kamu sudah kasih tahu bapak ?"
Mendengar pertanyaan Bima, seketika Asmara mengetuk jidatnya, sungguh Asmara melupakan bagian terpenting itu.
Bergegas Asmara meraih ponselnya, mencari sebuah nama di sana 'Bapak' Tidak butuh waktu lama Asmara telah tersambung dengan pak Basuki di Kertagiri.
Terlihat Asmara serius dalam perbincangan nya, ada rasa bersalah karena sebelum nya tidak meminta izin dari sana, namun seketika terlihat wajah Asmara yang menjadi lega, tatkala dia telah menutup teleponnya.
"Sudah ?" Tanya Bima
Anggukan kepala menjadi jawaban Asmara atas pertanyaan Bima.
"Bapak titip salam buat ibuk" ucap Asmara
Senyuman di bibir Bima menjadi jawaban atas salam dari mantan bapak mertuanya.
Tidak lama setelah Asmara menghubungi bapaknya, Petugas bandara telah memberikan informasi berkaitan keberangkatan pesawat yang akan di tumpangi Bima dan Asmara.
Bima kembali menyerahkan Senja pada ibunya, sementara Bima menarik dua koper di tangannya tidak lupa tas jinjing milik Asmara.
Kurang dari satu jam perjalanan, ketiganya akan sampai di ibukota. Lebih tepatnya 45 menit perjalanan dari kota solo hingga Jakarta.
Bima dan Asmara berencana akan langsung ke rumah sakit saja setelah mereka tiba di Jakarta.
__ADS_1
***