SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 62. Pasrah.


__ADS_3

...Mengapa Takut pada Lara, Sementara Semua rasa bisa Kita Cipta...


...🍁...


Berikutnya..... !!!


Suara panggilan Asmara pada pasien nomor berikutnya.


Terdengar lesu dan tidak bertenaga seperti hari-hari sebelumnya. Asmara yang selalu ceria dan semangat dalam bekerja


Bukan tidak profesional terhadap tugas dan tanggungjawabnya namun nyatanya masalah yang terjadi pada Asmara dan Loka cukup membuat hati nya tidak baik-baik saja.


Sementara Rani yang biasanya selalu bisa membuat suasana hati Asmara kembali bahagia, kini hanya bisa meratap melihat nasib sahabatnya yang nyatanya harus kembali merasakan kecewa.


Cukup banyak pasien yang harus di layani Asmara, sementara jujur saja dia ingin segera pulang ke rumahnya.


Lelah hati nyatanya cukup membuat Asmara merasakan lelah jiwa juga.


"Ma..." Rani memberanikan diri untuk bertanya.


Namun nyatanya setelah beberapa kali panggilan darinya Asmara baru menyahuti nya.


"Aku lelah Ran"


Singkat kalimat Asmara cukup menjelaskan pada Rani jika sahabatnya sangat terluka.


Rani yang biasa menanggapi kesedihan Asmara dengan canda tawa nya, kini seolah dia juga kehabisan kata-kata.Entah apa yang harus Rani katakan pada Asmara.


"Sabar Ma, Semoga semua masalah mu segera selesai"


Usapan lembut di punggung Asmara menjadi pertanda jika Rani juga paham atas kesedihan sahabatnya.


Jam pulang kantor tersisa beberapa menit saja, entah mengapa Mood Asmara kini telah berubah seketika. Asmara ingin menunda kepulangannya karena belum siap bertemu dengan sang putri tercinta.


"Yakin kamu nggak pulang sama aku aja ma ?"


Rani yang khawatir atas kondisi sahabatnya, sebenarnya dia tidak tega meninggalkan Asmara begitu saja, namun ternyata Asmara juga menolak tawaran dari nya.


"Kamu tenang aja Rani, aku nggak akan nekat bunuh diri !!" Kelakar Asmara pada sahabatnya


Bukan tertawa , justru Rani merasa bergidik ngeri. Bagaimana tidak, ucapan Asmara seolah menegaskan kekhawatiran Rani pada nya.


"Huss... Udah ah ma, jangan gitu ngomongnya"


Keduanya sempat tertawa bersama mengingat sejak pagi tadi suasana terasa sunyi dan sepi karena Rani tidak berani untuk sekedar membercandai Asmara.


"Huft.. Harusnya dulu nikahnya sama Mas Mirza aja" seloroh Rani. Ada raut wajah kesal di wajah Rani saat ini.


Asmara terkekeh mendengar penuturan sahabatnya, bukan marah justru Asmara tahu jika Rani juga begitu memperhatikan dirinya.


"Terus kalau sama Mas Mirza emang menjamin nggak akan ada masalah ??"


Rani tampak berpikir, karena sejujurnya setiap pilihan pasti ada saja konsekuensinya, dan Rani pun paham dengan semuanya.


"Iya sih " jawab Rani singkat.


Keduanya lantas kembali tertawa, entah menertawakan apa namun yang jelas hal itu cukup melegakan bagi Asmara.


Tidak butuh waktu lama, terlihat Bagas telah menjemput Rani.


"Duluan ya ma" ucap Rani pada Asmara


Anggukan kepala menjadi pilihan Asmara untuk menjawab ucapan sahabatnya.


Rani dan Asmara berpisah di parkiran, karena tentu tujuan keduanya berbeda. Lambaian tangan Asmara menjadi pertanda kepergian Rani sahabatnya yang lebih dulu pulang ke rumahnya.


Sementara Asmara tentu masih sibuk dengan beberapa ritual sebelum dia berkendara.


***


Waktu menunjukan pukul 15. 11

__ADS_1


Kabut tebal mulai kembali menyapa, dan Asmara harus segera mempercepat langkah kuda besi nya, tentu karena tidak ingin hujan kembali menyapa sebelum Asmara sampai pada tujuannya.


Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, Akhirnya Asmara telah sampai di depan rumahnya, setelah menstandart kan Motor kesayangan nya, Asmara bergegas untuk masuk.


"Ibukkk..."


Sambutan putri kecil yang sudah sangat dia rindukan menjadi obat bagi kegalauan Asmara.


"Enja. Sayang"


Pelukan hangat Senja membuat Asmara tenang dan bahagia.


"Enja sudah makan sayang ?"


"Sudah buk, Enja tadi banyak makan nya"


Senja begitu bersemangat mengatakan hal itu pada Asmara, meski hanya makan banyak, namun bagi anak kecil seusia Senja tentu itu merupakan pencapaian yang sangat berharga.


"Wau keren sekali Anak ibuk"


Kembali Asmara menghujani Senja dengan pelukan dan ciuman di pipi.


"Ibuk, Ayah Loka dimana ?"


Deg.


Pertanyaan Senja seketika mengingatkan Asmara tentang bagaimana dulu juga Senja mengatakan hal yang sama ketika Asmara awal berpisah dengan Bima.


'Dimana Ayah' kata yang selalu bisa membuat Asmara kembali terluka.


Entah karena apa namun seketika pelupuk mata Asmara tergenang dengan cairan bening disana.Dan tentu susah payah Asmara akan menahannya.


Sungguh masalah apa pun itu, hanya karena Senja saja yang begitu dapat merapuhkan jiwa Asmara.


Ingin rasanya Asmara memberi kehidupan yang baik bagi putrinya, namun apa lah daya Asmara yang hanya bisa memberi sebisa nya untuk Senja, Tidak seperti anak kecil seusia nya yang selalu berkecukupan kasih sayang dari kedua orang tuanya.


"Ayah---"


"Ayah marah sama ibuk ya ?"


Agaknya Asmara sedikit gagap untuk menjawab tebakan putrinya.


"Tidak sayang, Ayah tidak marah, Ayah hanya sedang ada pekerjaan, jadi mungkin ayah tidak akan pulang"


Susah payah Asmara memberi penjelasan pada putrinya, entah Senja akan mengerti atau tidak itu urusan nanti. Karena hanya diam tentu Senja akan terus bertanya dimana keberadaan Loka.


"Apa ayah Loka juga akan meninggalkan Senja sama seperti ayah Bima buk ?"


Begitu lirih Senja bertanya pada ibu nya. Asmara sangat tahu jika saat ini Senja sudah berusaha untuk menahan air mata nya.


Entah dari mana Senja tahu kondisi dirinya dan Loka, namun yang jelas Asmara tahu bagaimana perasaan putrinya.


"Enja. Enja sayang kan sama ayah Loka. Enja percaya kan sama ayah Loka ?"


Senja hanya mengangguk saja, sementara Asmara berusaha meyakinkan putrinya jika semua akan baik-baik saja.


"Ayah hanya pergi untuk bekerja, Kalau sudah selesai Ayah akan pulang lagi ketemu sama Senja"


Penuh semangat Asmara menjelaskan pendapatnya pada Senja, namun nyatanya linangan Air mata ikut serta dalam kalimat nya.


Bagaimana Senja ?. Dan tentu Senja juga ikut menangis melihat kerapuhan Asmara.


Sejujurnya dia juga begitu sedih atas kepergian Loka, entah mengapa perasaan Asmara sudah tidak baik-baik saja sejak pertemuan terakhir pagi tadi dengan sang suami.


Seolah merasakan sesuatu yang besar akan terjadi. Namun Asmara hanya bisa memasrahkan semua pada Illahi Robbi.


***


Satu Minggu berlalu.


Pada kenyataanya Asmara memang hanya menghubungi Loka hanya saat diperlukan saja. Begitu juga dengan Loka yang juga melakukan hal sama.

__ADS_1


Entah mengapa perasaan cemas dan khawatir mulai menyelimuti hati kecil Asmara, namun dia tidak memiliki cukup nyali untuk bertanya kapan Loka akan kembali datang menemui dirinya dan Senja.


Lalu bagaimana dengan Senja?


Sudah pasti dia juga selalu menanyakan Loka, Kesedihan selalu kembali menyapa setiap kali Asmara tidak dapat menjelaskan dimana keberadaan Loka.


Namun terakhir kali Senja tidak lagi bertanya setelah Asmara memberi penjelasan pada putrinya.


Jika apa pun yang terjadi pada mereka, Asmara tidak akan pernah meninggalkan Senja, karena hanya bersama Asmara saja tentu Senja sudah bisa bahagia. Senja cukup mengerti dengan semua perkataan Asmara.


Sama seperti sebelumnya ketika Senja hanya bersama Asmara, mereka juga bisa bahagia.


Dan sejak saat itu tidak lagi terdengar pertanyaan 'Dimana Ayah' dua kata yang sulit untuk Asmara berikan jawabannya.


Ingatan Asmara menerawang jauh saat sebuah kalimat keluar dari mulut putri kecilnya.


'Enja tidak papa tidak punya Ayah, karena sama ibu saja Enja sudah bahagia'


Kalimat senja yang begitu menggores relung hati Asmara. Bahkan Senja juga sudah pasrah setelah lelah menanyakan keberadaan Loka.


Atau mungkin saja Senja juga merasa jika Loka akan berlaku sama seperti Bima yang tega meninggalkan mereka.


Tiga Minggu berlalu.


Hampir satu bulan nyatanya Loka meninggalkan Senja dan Asmara.


Asmara hanya mendengar kabar jika ayah mertua nya sudah kembali sehat seperti sebelumnya.


Itu juga bukan dari Loka yang memberi tahu nya, Asmara hanya sempat menanyakan kondisi mertuanya pada Zahra adik ipar Asmara.


Kini mulai jarang Asmara menghubungi Loka, bahkan terakhir kali mungkin 3 hari yang lalu keduanya sempat bertukar kabar.


Cuaca sore ini terasa berbeda dari sebelumnya, senja masih setia menampakkan pesonanya, padahal seharusnya saat ini gelap sudah harus menyapa.


17.55 Waktu datangnya sendakala yang begitu indah di Pandangan mata.


Secangkir teh madu menemani sore Asmara yang begitu syahdu.


Tok tok tok


Ketukan di pintu terdengar nyaring di telinga Asmara.


Tidak biasanya ada yang bertamu saat magrib seperti ini, jika pasien mungkin mereka akan datang justru setelah waktu isya.


"Sebentar" Teriak Asmara dari dalam rumahnya.


"Biar saya saja buk" Ucap mbok Jum yang baru saja muncul.


"Oh iya mbok"


Karena mbok Jum yang akan membuka pintu, Asmara kembali duduk dan menikmati secangkir teh miliknya.


Merdunya suara Adzan telah selesai, dan saat ini waktu bagi Asmara untuk menjalankan kewajiban.


Bangkit dan berdiri dari duduknya merupakan pilihan yang tepat sebelum waktu ibadah habis tak bersisa.


Langkah yang baru beberapa nyatanya terhenti saat sebuah tangan melingkar sempurna di pinggang Asmara.


Deg.


Deru nafas yang jelas Asmara tahu milik siapa, sungguh kedatanganya cukup menciptakan bahagia di dalam hati Asmara.


"Maafkan aku, karena sudah sangat lama meninggalkan mu" Bisik Loka tepat di telinga Asmara.


Untuk yang kesekian kalinya cairan bening merembes begitu saja di sudut mata indah Asmara.


"Bagaimana kabarmu mas ?"


Masih dengan posisi sama, Asmara memulai untuk membuka suara.


"Aku yang seharusnya bertanya bagaimana kabarmu ?" ucap Loka.

__ADS_1


Loka terasa semakin mengeratkan pelukannya, menikmati aroma tubuh Asmara yang sudah tentu sangat dia rindukan.


***


__ADS_2