
...Yang benar-benar kita butuhkan terkadang bukanlah uang atau kasih sayang, Hanya sekedar perhatian, sepertinya lebih melegakan....
...🍁...
Senja mulai menyapa Ibukota.
Waktu menunjukan pukul 15.55. Setelah selesai dengan empat raka'at kewajibannya. Loka dan Asmara bergegas untuk kembali ke rumah sakit.
Ini merupakan Jama'ah pertama setelah sekian purnama perpisahan keduanya. Menjadi imam dan makmum yang sebenar-benarnya.
Tentu keduanya merasa begitu bahagia, terlebih diantara mereka kini telah ada buah hati yang begitu di nanti.
Senyum merekah di wajah Asmara tatkala Loka dengan lembut mengecup kening dan mengusap lembut perut datarnya.
Menyadari berjuta perhatian dan kasih sayang, Asmara tak kuasa untuk menolaknya, terlebih sudah cukup lama sejujurnya dia diam dalam lamunannya.
Meski masih ragu dengan keputusannya, namun Asmara tidak ingin egois dengan mengabaikan janin dalam kandungannya. Hingga keputusan kembali bersama menjadi pilihan dari Asmara.
"Mas"
"Em"
"Bisakah aku bertemu dengan Luna ?"
Mendengar pertanyaan Asmara, Loka lantas menautkan kedua alisnya, untuk sesaat dia terdiam dalam lamunannya. Hingga anggukan kepala dan senyuman manis di bibirnya menjadi jawaban dari Loka atas permintaan istrinya.
Meski tidak begitu yakin pula dengan Luna, namun Loka berusaha berpikiran positif saja, toh diantara Luna dan Asmara pernah menjalin pertemanan, dan lagi janji Luna pada Loka agaknya bisa menjadi pertimbangan Loka untuk mengizinkan keduanya bertemu.
"Baiklah, aku akan mengaturnya" ujar Loka
"Terima kasih mas "
Asmara mengulas senyum di wajahnya, namun seketika dia kembali menatap suaminya.
"Tapi Asma mau sendiri saja, tanpa mas Loka"
Mendengar permintaan Asmara yang ini agaknya Loka tidak bisa menyetujuinya, namun usaha Asmara meyakinkan Loka jika tidak akan terjadi apa-apa dengan mereka, membuat Loka pada akhirnya mengizinkan Asmara.
Keduanya saling tersenyum bahagia, sadar masih akan ada tantangan lain di depan mata, namun setidaknya untuk saat ini mereka menjalaninya dengan bahagia dan saling menguatkan satu sama lainya.
"Makan lah yang banyak, aku lihat akhir-akhir ini kamu tidak makan dengan benar"
Asmara membulatkan kedua bola matanya, mencari kebenaran dari ucapan suaminya, darimana Loka tahu tentang hal itu ? 'Batin Asmara'
"Mas tidak menguntit kan ?"
Tawa Loka pecah tatkala mendengar tuduhan Asmara pada dirinya, bagaimana bisa Asmara benar-benar menganggap Loka tengah menguntit nya.
"Kenapa aku harus menguntit, jika semua yang kamu lakukan aku tahu ?"
Loka masih dengan tawa nya menjawab enteng pertanyaan Asmara.
Asmara semakin bingung mendengar ucapan Loka. Namun dia tersadar ketika mengingat Loka sempat memasang CCTV di seluruh sudut rumah nya.
"Hufttttt"
Dengusan kasar Asmara membuat Loka merasa gemas jadinya.
Tidak heran Asmara jika Loka tahu segalanya, bahkan meski dia telah lupa, mungkin saja Loka dapat mengingat semua kejadian yang dilakukan Asmara.
***
Waktu menunjukan pukul 16.09
__ADS_1
Seperti janji Loka sebelumnya, akan mempertemukan Asmara dengan Luna. Loka pun menyetujui dan mengabulkannya.
Tidak ada Loka ataupun yang lainnya, Loka hanya mengantar Asmara dan kemudian meninggalkannya. Hanya ada Asmara dan Luna saja yang kini saling sapa meski masih dengan bahasa kalbu nya.
Hening.
CoffeShop pilihan Loka menjadi tempat dimana Asmara dan Luna melakukan pertemuan, keduanya merupakan teman sekaligus madu dalam rumah tangga bersama Loka.
Tidak di sangka pula keduanya hari ini mengenakan pakaian dengan warna senada.
Asmara duduk tepat di hadapan Luna, keduanya tampak biasa saja, meski ada rasa canggung namun semua sirna tatkala Asmara menyapa Luna dengan kalimat lembut nya.
"Apa kabar?"
Tidak lupa Asmara mengulas senyum terbaiknya. Dua teman yang sempat tidak saling sapa, dan hilang rasa kepercayaan dari salah satunya, hingga perpecahan menjadi jalan satau-satunya, namun kini di pertemukan kembali dengan rasa yang telah Sama seperti sebelumnya.
Asmara tulis ikhlas memaafkan semua kesalahan Luna, begitu juga Luna yang telah mengakui semua perbuatannya, bahkan dia sangat menyesali semua yang telah terjadi.
"Aku baik Asma. Kamu apa kabar ?" Jawab Luna atas pertanyaan Asmara sebelumnya.
Senyuman manis menghiasi wajah cantik Asmara.
"Seperti yang kamu lihat, Aku juga baik-baik saja" ujar Asmara.
Keduanya tampak menikmati secangkir kopi di tangan masing-masing. Kopi dengan jenis sama yang tentu juga merupakan Loka si pemesan nya.
"Maafkan aku atas semua sikap yang mungkin pernah menyakitimu"
"Aku mencintai Loka, namun aku sadar jika itu salah, dan aku berjanji tidak akan lagi mengulangi hal seperti ini"
Terlihat Luna tengah menjeda ucapan nya, butuh sesaat pula untuk dia menghela nafasnya.
"Keputusan terbaiknya aku akan kembali ke Jerman setelah semua urusanku dengan Loka benar-benar selesai." tukas Luna dengan keyakinannya.
Namun dalam pandangan Asmara, dia melihat bagaimana Luna begitu tertekan dengan pernikahannya dengan Loka. Meski Asmara juga jelas melihat cinta Luna yang tulus pada suaminya.
Dengan semua pengakuan Luna, Asmara hanya mengulas senyum di bibirnya. Tidak mudah untuk mengakui itu semua, namun Asmara cukup salut dengan keberanian Luna yang Jujur pada dirinya.
Asmara jelas merasakan bagaimana terluka nya hati Luna, hingga tidak ada kata yang bisa dia ungkapkan, selain hanya doa dan dukungan pada Luna sang mantan madu dan mantan istri kedua dari suaminya.
Untuk sesaat suasana menjadi hening, hingga Luna terdengar kembali membuka suara nya.
"Satu hal lagi Asma. percayalah meski aku menikah secara sah Agama dan negara, Namun tidak sekalipun Loka pernah menyentuhku"
"Aku mungkin memiliki raga nya, namun tidak dengan hatinya"
"Dia tetap menjadi milikmu seutuhnya"
Bergetar suara Luna tatkala mengatakan hal itu pada Asmara, impian indah dalam rumah tangga yang baru saja dia mulai, namun berakhir dengan meninggalkan luka yang begitu menyiksa.
Jujur saja Luna memang sangat mencintai Loka, namun dia juga tidak bisa hidup bersama pria yang dalam otak dan hatinya menyimpan wanita dari masa lalunya.
Sakit sejujurnya ketika Luna harus mengatakan jika Loka begitu mencintai Asmara, sementara kenyataan berkata cintanya pada Loka hanya bertepuk sebelah tangan saja.
Melepaskan mungkin menjadi jalan terbaik bagi Luna dan Loka.
Sementara Asmara masih terdiam dengan pandangan nya menatap Luna yang begitu sedih menceritakan kehidupan rumah tangganya bersama Loka. Karena nyatanya tidak seindah bayangan Asmara.
Beruntung saat ini semua sudah berjalan sebagaimana mestinya, meski mungkin Luna merasakan kecewa, namun dia bahagia telah menyatukan kembali Loka dan Asmara.
Luna sendiri tidak akan sampai hati membaut janin dalam kandungan Asmara kehilangan Figur Ayahnya.
Semua bisa terjadi karena diantara mereka saling melunak kan ego masing-masing, saling memahami dan mengerti kondisi masing-masing. Pengalaman yang sangat berharga bagi keduanya.
__ADS_1
"Ohya selamat ya Asma, aku turut bahagia dengan kehamilanmu" ucap Luna.
"Terima kasih Lun. Semoga kebahagiaan juga segera menghampirimu" jawab Asmara
Keduanya kembali menikmati secangkir kopi yang masih tersisa.
Luna yang telah berbaikan dengan Asmara menawarkan diri untuk mengantarkan temanya ke rumah sakit, seperti yang sebelumnya Asmara katakan pada Luna jika kedatanganya ke ibukota hanya semata karena alasan mantan ibu mertuanya.
Asmara pun menganggukkan kepala sebagai jawaban atas ajakan Luna, toh dia juga tidak bisa selalu merepotkan Loka untuk terus mengantar jemputnya.
Setelah acara ngopi cantik selesai, keduanya sepakat untuk beranjak , dan bergegas menuju rumah sakit.
"Yuk" Ajak Luna.
Asmara mengekor Luna yang berjalan di depannya. Hingga keduanya sampai di parkiran pinggir jalan. Luna mempersilahkan Asmara masuk kedalam mobilnya.
Dari kejauhan Asmara tampak menangkap sosok yang tidak asing baginya, siapa lagi jika bukan ibu mertuanya, yang tidak lain adalah Bu Sukma.
Kilatan api di matanya terlihat jelas membara, entah bagaimana jadinya jika dia memulai pertengkaran dengan Asmara di tempat umum seperti ini, betapa malunya dia. 'Batin Asmara'
Namun apa yang dia pikirkan nyatanya tidak lah menjadi kenyataan, karena ibu mertuanya kini justru menghampiri Luna di sisi sebelah mobilnya.
"Luna. Mama tidak mau tahu kamu harus kembali dengan Loka !!"
Entah darimana datangnya, Luna sampai kaget mendapati Bu Sukma telah mencengkeram bahu nya, dan menggoyang-goyangkan tubuhnya bagai anak kucing yang ketahuan maling.
Raungan dan teriakan wanita paruh baya di hadapan Asmara membuat nya terdiam untuk sesaat.
"Luna !!, Kamu tidak bisa mengambil keputusan begitu saja, Tanpa persetujuan mama !!"
Melihat bagaimana luapan emosi dari ibu mertuanya yang on the way menjadi mantan ibu mertua agaknya Luna juga mulai terbakar emosinya.
Luna yang menyadari situasi dan kondisi mulai tidak terkendali, berencana menyiapkan kuda-kuda kalau saja ibu mertuanya bertindak nekat pada nya.
Hingga dia berusaha menghempaskan cengkeraman tangan Bu Sukma dari bahunya.
Terlihat oleh pasang mata Asmara dimana kedua wanita di hadapannya tengah saling dorong dengan begitu kuatnya.
Asmara yang menyadari sebuah mobil melintas dari arah timur, dalam benak nya, tentu sesuatu bisa terjadi pada Bu Sukma jika kedua wanita di sana tidak segera menghentikan keributan nya.
Srakkkk !!!
Bruakkk !!!
Benar saja, Mobil yang sebelumnya melaju dengan kekuatan penuh nya, nyaris saja menyambar tubuh Bu Sukma yang tepat berada di bibir jalan, Beruntung gerakan cepat Asmara meraih tubuh Ibu mertuanya, namun nahasnya justru Asmara sendiri terpental ke trotoar.
"Asmara!!!"
Teriakan Luna memecah kepanikan dalam ramainya kerumunan orang yang seketika berdatangan
"Asma !!"
"Ya Tuhan. Asmara!!"
Luna menangis sejadi-jadinya, melihat kondisi Asmara yang tidak sadarkan diri dengan luka di kepala nya.
Sementara pemandangan di hadapannya membuat Bu Sukma sangat tidak percaya, hingga dia terdiam dalam waktu yang cukup lama.
"Tolong ... !!! Tolong Bantu saya pak !!"
Bergetar Luna memohon bantuan pada siapa saja yang mengerubungi mereka.
***
__ADS_1