
...Jika raga masih dalam dada tentu harapan masih akan selalu Ada. Namun jika Raga telah berada di tempat yang jauh adanya, maka hanya doa yang bisa menyelamatkannya....
...🍁...
Takdir kembali menguji dengan ujian lain nya, baru saja selesai dengan satu masalahnya, Asmara harus kembali merasakan Luka.
Namun kali ini bukan luka hati dan batinnya, tapi luka pada jiwa yang entah bagaimana nantinya.
Perjuangan cinta yang akan berakhir bahagia ataukah sia-sia adanya, dan mengenai Asmara, entah siapa yang akan lebih dahulu menjemputnya.
Mungkinkah kematian atau Loka Wiratmaja yang masih sah berstatus suaminya.
Kesedihan semakin terasa menguliti jiwa tatkala tidak ada airmata yang jatuh saat Asmara terluka, tidak ada sanak saudara yang mengetahui kondisinya.
Bertarung nyawa, mengharap ridho dan belas kasih Nya, Asmara hanya bisa berdoa lirih dalam dada, dengan sisa-sisa tenaga untuk kebahagiaan Senja, dan keselamatan buah hati yang masih dalam kandungannya.
Sebelum benar-benar kesadaran Asmara hilang dari pikirannya. Sekelebat wajah Senja muncul begitu saja di pikiran nya. Senyum dan wajah cantik putrinya memuat Asmara seolah selalu ingin melihatnya.
Lambaian tangan senja menjadi akhir dari pertemuan di alam bawah sadar Asmara, karena setelah itu semua tampak gelap dan sunyi adanya.
Ambulan datang.
Gerak cepat dari beberapa petugas kesehatan, membuat Asmara segera mendapatkan penanganan pertama.
"Bertahanlah Asma!!"
Tangisan dan raungan, serta ketakutan Luna menjadi pertanda jika dia begitu merasakan kekhawatiran yang besar disana, harapan pasti akan selalu ada, namun melihat darah yang masih saja keluar dari balik kepala Asmara, kemungkinan hanya doa saja yang bisa menyelamatkannya.
Didalam ambulance Luna selalu berdoa atas keselamatan dalam diri Asmara, Luna setia menemani Asmara bahkan dia tidak lagi memikirkan bagaimana nanti Loka akan mengumpat i nya.
Beruntung Ambulance datang dengan supir profesional nya, dan tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah sakit.
Unit Gawat Darurat.
Ambulance telah tiba di rumah sakit, beberapa tenaga medis dengan sigap mendatangi dan memberikan pertolongan pertama.
Terlihat disana semua orang sibuk dengan tugasnya, pemberian penyangga di Bagian Leher dan kepala. Cedera kepala yang di alami Asmara mungkin cukup parah, karena terlihat darah yang juga mengalir dari telinga nya.
"Asma Bertahan lah"
Derai air mata membasahi pipi Luna yang menunggu diluar ruang periksa.
Beberapa kali terlihat dia menghela nafas panjangnya, berusaha kembali menguasai diri dan hatinya. Setelah cukup tenang Luna bergegas menghubungi Loka.
Meski takut dan gemetar namun Loka berhak tahu atas kondisi Asmara, hingga ponsel di tangan Luna berakhir pada sebuah nama 'Suamiku'.
Tut Tut Tut.
Antara takut, khawatir, dan cemas menjadi satu. Apakah Loka akan bisa menerima atau justru akan semakin menyalahkan Luna.
Semua pertanyaan Luna kesampingkan demi kondisi Asmara, yang tentu sangat membutuhkan dukungan Loka sebagai suaminya.
Butuh waktu cukup lama hingga Loka benar-benar mengangkat telepon dari Luna.
Panjang lebar Luna menjelaskan semua kejadian yang dialami Asmara, mulai dari kedatangan Bu Sukma, hingga tragedi menimpa Asmara, lengkap semua Luna ceritakan pada Loka. Tidak ada penambahan atau pengurangan dalam narasinya.
Luna merasa sedikit lega setelah mengatakan semua pada Loka, meski hanya sendiri saja, Luna berharap Loka akan segera tiba dan bisa menemani di saat-saat genting Asmara.
Tidak berselang lama, Loka akhirnya tiba, dan menghampiri Luna yang tengah duduk di depan sebuah ruang periksa, terlihat dalam mata Loka, Luna masih begitu takut dan gemetar.
"Bagaimana kondisi Asma?"
__ADS_1
Kepanikan jelas terlihat di wajah tampan seorang Loka Wiratmaja. Hal itu semakin membuat Luna yakin, jika keputusan berpisah dengan Loka memang benar adanya.
Meski sakit dan kecewa, pernikahannya harus berakhir sia-sia. Setidaknya Luna tidak terbebani dengan rasa bersalah jika tetap membiarkan Loka bersama dirinya. Sementara Asmara tentu akan semakin terluka dan kecewa.
"As As Asma.. Sedang di perisa mas"
Bergetar suara Luna mengatakan hal itu pada Loka. Derai air mata kembali membasahi pipinya, tatkala mengingat rentetan kejadian yang baru saja menimpa Asmara.
Sangat cepat dan bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mengatakan jangan ataupun menghindar dari kenyataan yang ada.
Melihat bagaimana Luna dengan ketakutan nya, Loka reflek menarik Luan dan mendekap dalam pelukannya, sosok wanita yang sangat dia tidak suka, namun kini telah menyelamatkan nyawa wanita yang sangat dia cinta. Satu wanita yang begitu dalam mengisi hati sosok Loka Wiratmaja saat ini.
'Asmara'
Dan untuk pertama kali juga Luna bagi merasakan ketulusan dan kelembutan dari sosok Loka Wiratmaja yang begitu sangat ingin dia gapai cinta nya.
Berada dalam pelukan Loka, hangat dan nyaman rasanya, hingga beberapa kali bahkan Luna menghirup aroma maskulin dari dada kekar Loka. Cukup menenangkan dan menentramkan jiwa. Itulah yang di rasakan Luna ketika berada dalam dekapan dada kekar suaminya.
Berada sangat dekat dengan sosok laki-laki yang begitu dia cinta, cukup mendebarkan rasanya. Beruntung Luna masih sadar dan bisa menguasai dirinya. Karena kenyamanan yang kini dia rasakan tentu hanya semata karena simpatik Loka pada dirinya. Bukan sayang apa lagi cinta.
Meski Luna begitu berharap Loka bisa menjadi miliknya, keputusan Luna tetaplah sama, berpisah dari Loka sudah menjadi pilihannya.
Setelah cukup tenang Loka melepaskan pelukan dari Luna, tidak lupa dia meninggalkan usapan lembut tangannya di punggung wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya.
"Asma akan baik-baik saja" ucap Loka
"Dia wanita kuat. Dia pasti bisa melewati semua ini"
Loka meyakinkan dirinya , dengan semua pikiran baik dan positif nya untuk membuat dirinya lebih bisa menerima semua kenyataan yang baru saja di lewati oleh Asmara.
Luna hanya diam melihat bagaimana Loka begitu mengkhawatirkan Asmara, jangankan berharap hal yang sama, untuk iri saja rasanya Luna tidak memiliki kesempatan yang sama seperti Asmara.
Tidak berselang lama dari ketegangan yang di rasakan oleh Loka dan Luna. Seorang dokter keluar dari ruangan dimana Asmara berada dan mengabarkan kondisi Asmara yang masih berada didalam sana.
Seorang dokter paruh baya, dengan botak di kepalanya , Berbicara dengan tegas dan sangat jelas. Cukup tua jika dilihat dari perawakan nya yang terlihat sedikit membungkuk. Tertera pula disana gelar dokternya Prof. Dr. Indrawan Kusuma, Sp.B.,M.Kes.
"Saya dok. Saya Suami nya" Jawab cepat Loka
Anggukan kepala menjadi pemandangan pertama di mata Loka dari sosok dokter di hadapannya.
Setelah menghela nafas dalam, dokter Indra memulai dengan kalimat nya. Tidak lupa senyum hangat terlihat di wajah tua dokter yang menangani Asmara. Mungkin sudah menjadi kewajiban nya melakukan hal demikian, tetap ramah meski dalam suasana darurat sekalipun.
Hanya dengan satu alasan Dokter Indra tersenyum pada Loka, tentu hanya untuk menenangkan lawan bicaranya.
"Ada satu kabar baik dan tiga kabar buruk untuk bapak"
Deg.
Kenapa harus ada kabar buruk, Satu kata yang agaknya sangat tidak ingin Loka dengan dari dokter Indra.
Namun rasanya juga mustahil jika tidak ada kabar buruk yang menyertai Asrama, sementara menurut penuturan Luna sebelumnya kondisi Asmara sangat memprihatinkan.
"Kabar baiknya. Janin dalam kandungan Bu Asma saat ini. Baik-baik saja !"
Saat ini. Mungkin nanti akan menjadi tidak baik-baik saja 'Batin Loka'.
Sedikit terlihat senyum di wajah tampan Loka, namun hal itu tidak berlangsung lama, karena setelah kabar bahagia dokter akan menyampaikan kabar buruknya.
"Kabar buruknya"
Masih dengan nada jelas dan tegas, Dokter Indra menjeda ucapanya.
__ADS_1
"Bu Asma memerlukan tindakan penanganan segera, Cedera yang di alami Bu Asma cukup parah dan tidak bisa di tunda penanganannya, operasi menjadi jalan satu-satunya !"
Sudah Loka duga jika dokter akan mengatakan nya, dan benar saja, seolah dunia berhenti untuk sesaat bagi Loka. Mendengar perjuangan yang masih terasa sangat panjang untuk Loka bersama dengan Asmara.
"Tindakan yang akan di lakukan hanya bersifat penanganan, dan semua tentu ada resikonya. Kematian mungkin menjadi yang terburuk dari semua kemungkinan yang akan di alami oleh Bu Asma"
Deg.
Dunia seakan runtuh. Mendengar satu kata yang begitu menghujam tepat di jantung Loka. Entah sejak kapan namun sudut mata Loka menggenang seketika, mendengar setiap penjelasan dokter Indra.
Rasanya masih tidak percaya, pagi tadi Loka masih sempat melihat senyum diwajah Asmara. Kemudian meninggikan nya bersama Luna masih pula dengan senyum menghiasi wajahnya.
Namun saat ini semua sirna begitu saja, menyisakan harapan yang terus menguasai jiwa Loka atas kesembuhan Asmara.
"Yang terakhir. Jika kondisi Bu Asma Koma atau tidak bisa selamat dari bahaya,tentu kemungkinan Janin dalam kandungannya juga tidak akan bisa diselamatkan"
Lengkap tiga kabar buruk dalam menit-menit menegangkan yang baru saja Loka dengarkan. Menyeka air mata saja rasanya tidak cukup untuk menggambarkan betapa pedih dan menderita nya Asmara.
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya dok !. Berapapun biayanya !"
Sepenuh hati Loka memohon pada dokter di hadapannya. Berharap jika Asmara akan baik-baik saja. Namun agaknya melihat respon dokter Indra yang hanya biasa saja, justru membuat Loka semakin khawatir dengan kondisi Asmara.
"Apapun resikonya !" Tukas dokter Indra
Mendengar ucapan dokter di hadapannya, Untuk sesaat Loka terdiam dengan semua kenyataan yang ada. Jangankan memilih keputusan, berfikir jernih saja rasanya sangat sulit bagi Loka.
"Bukan saya menakut-nakuti anda, hanya saja memang semua perlu saya sampaikan"
"Jika kabar bahagia tentu kalian juga akan merasa bahagia"
"Namun jika kabar duka, Setidaknya kalian bisa bersiap untuk semua kemungkinan yang ada !"
Agaknya dokter di hadapan Loka ini sosok orang yang sangat teliti dan hati-hati, serta sosok yang terlihat tanpa basa-basi. Terbukti dari setiap ucapan dan perkataanya sangat jelas dan mudah di mengerti.
Tidak mengada-ada dan membingungkan keluarga pasiennya.
"Apapun Resiko nya dok !"
Derai air mata membasahi pipi Loka, mengingat bisa saja kemungkinan terburuk yang akan menghampiri Asmara. Pilihan yang sangat sulit sejujurnya, Apapun hasilnya loka tetap berharap keselamatan untuk istrinya.
Ruang Dokter Indra.
Disana Dokter Indra bersama dua perawat Asisten nya, kembali menjelaskan semua tahapan penanganan dan kemungkinan resiko dari setiap tindakan yang dilakukan pada Asmara. Sementara Loka hanya pasrah dan mengangguk saja.
Semua berkas Inform Consent dan Inform Choice telah di siapkan lengkap bersama pena untuk Loka membubuhkan tandatangannya di sana.
***
...🍁🍁🍁...
Assalamualaikum Readers Fillah yang tentu datang karena Allah. 🤗🙏❤️
Mohon maaf Kakak kakak Readers Fillah, Atas vakumnya saya dua hari ini. Semoga BAB ini bisa mengobati kerinduan para Readers semua atas tulisan sederhana saya.
Jangan kecewa dengan Alur ceritanya, karena Asmara akan merasakan bahagia, namun saat ini belum waktunya, InshaAllah Segera 🤗🍁
Silahkan berkomentar apapun, asal jangan memberi rating bintang 1, 2, 3, 4 ya. Karena lebih menyakitkan dari kata dan tulisan yang hanya sebagai kritikan dan masukan tentunya.
Semua kritik dan Saran selalu Author terima 🤗🤗
Salam Cinta dari saya Untuk semua Readers kesayangan. Semoga Allah selalu melindungi dan melimpahkan rezeki berlipat ganda untuk kita semua.
__ADS_1
...🍁🍁🍁🍁🍁...