
...Dia tidak Pergi. Dia masih ada. Hanya saja waktunya yang berbeda ...
...🍁...
"Antrian Pertama !!!"
Asmara mulai dengan teriakan paginya.
Tidak seperti biasanya, Asmara selalu lantang dengan teriakan nya, kali ini terdengar sedikit pelan dari biasanya. Selain mungkin karena memang Asmara belum sarapan, juga karena dia tengah hamil muda.
Rani yang menyadari Asmara sedikit tidak nyaman dengan perutnya, bergegas dia menghampiri nya.
"Kamu baik-baik aja kan Ma?"
Sebagai wanita yang juga tengah merasakan ketidak nyamanan dari kehamilannya, Rani tentu tahu jika Asmara sedang tidak baik-baik saja.
"Iya Ran. Sebenernya aku cuma laper aja, tadi nggak sempat sarapan"
Sudut bibir Asmara terangkat keatas menyadari hari ini Rani begitu memperhatikan dirinya.
Tidak lama setelah Rani bertanya, Asmara mendapati Rani tengah menyodorkan sebuah kotak makan yang dari luar terlihat menggoda, tutup kaca yang transparan membaut Asmara bisa melihat apa isi di dalamnya.
"Sarapan dulu gihh"
Asmara menautkan kedua alisnya, tidak percaya jika Rani benar-benar memberikan kotak makan itu pada nya.
"Buat Aku ?"
"Iya lah Asma, Siapa lagi !!"
"Udah sana sarapan dulu sana, biar ini aku yang teruskan !!" . Titah Rani.
"Berikutnya !!!!"
Sengaja Rani segera memanggil pasien selanjutnya, hal itu untuk menghindari pertanyaan dari Asmara, karena sadar jika sahabatnya itu tidak akan pernah puas dengan jawaban nya.
Belum lagi jika memikirkan dia yang selalu saja kelepasan ketika menghadapi pertanyaan Asmara.
Asmara segera menerima kotak bekal yang di berikan Rani, dan menepi ke bagian ruang samping yang memang ada meja dan kursinya, lebih tepatnya ruang tindakan yang di peruntukan bagi pasien emergency Puskesmas.
Asmara cukup tidak sabar untuk segera membuka isinya, benar saja di dalam sana ada semua yang sangat menggugah selera.
Hingga melihatnya saja Asmara merasa air liurnya ingin menetes begitu saja.
Cukup lahap Asmara dengan makanan nya, hingga dia lupa dari mana asal makanan itu sebenarnya.
__ADS_1
Kotak makan yang terdiri dari dua susun box nyatanya menyimpan tidak hanya makanan namun juga buah-buahan segar yang begitu nikmat.
Asmara sangat bahagia, hingga dia menghabiskan semua makanan dan buah-buahan di hadapannya.
Setelah selesai, barulah Asmara bisa mencerna isi pikirannya. Menyandarkan tubuh pada kursi tempatnya semula.
Asmara mulai mengingat jika Rani tidak pernah sekalipun membawa bekal makanan, Asmara sangat yakin jika ini kali pertama dia melihat sahabatnya membawa makanan ke tempat kerja.
Sungguh aneh rasanya. Rani yang terbiasa hidup dengan boros kini membawa kotak bekal ke kantor, rasa-rasanya hal itu bukan kepribadian sahabatnya.
Namun apa pun alasannya, Asmara cukup beruntung mendapatkannya, selain dia tidak perlu repot keluar mencari makan juga nyatanya makanan yang di bawa Rani begitu nikmat dan tentu bergizi.
"Udah selesai ?"
Rani yang menyadari Asmara telah berdiri di belakangnya. Segera bertanya pada sahabatnya.
"Udah. Makasih ya Rani !!"
Senyum cerah terlihat di wajah cantik Asmara.
"Ohya Tumben kamu bawa bekel ?"
Asmara yang kembali merasa curiga kini mulai bertanya.
Rani melongo seketika, mendengar pertanyaan dari sahabatnya yang nyatanya selalu tidak percaya pada dirinya.
"Program Ngirit Asma!!!!. Aku kan mau persiapan persalinan!!!"
Rani sedikit ngegas dengan kalimatnya, berharap Asmara tidak akan semakin merasa curiga.
Benar saja, setelah mendengar ucapan Rani dengan nada tinggi, agaknya Asmara mulai mengerti.
Meski ini bukan merupakan kebiasaan sahabatnya, namun Asmara berusaha percaya saja.
Asmara kembali menempati posisinya, dan keduanya kembali bekerja bersama-sama.
Seseorang dari tempat berbeda merasa bahagia tatkala melihat wanita yang begitu dia cinta telah menghabiskan semua yang dia siapkan untuknya.
Video kiriman dari Rani menjadi bukti jika Asmara begitu menikmati setiap makanan dari nya.
Siapa lagi jika bukan Loka Wiratmaja, meski berada jauh dari Asmara, namun tangan-tangan Loka nyatanya berada di mana-mana. Jika hanya untuk melakukan hal itu saja Rasanya tidak sulit bagi seorang Loka Wiratmaja.
Dan melihat video kiriman dari Rani cukup membuat Loka ikut merasakan bahagia.
Untuk saat ini Loka mungkin memang belum bisa mendekat kembali pada Asmara, selain sudah pasti Asmara akan menolaknya, juga karena tentu saja itu akan membahayakan Asmara, senja, serta janin dalam kandungan wanita yang begitu dia cinta.
__ADS_1
Meski Bu Sukma sudah tahu jika Loka telah berpisah dari Asmara, namun agaknya orang tua Loka masih saja mencari informasi tentang mantan menantunya.Dan tentu keselamatan Asmara menjadi prioritas Loka.
"Mas !"
Ketenangan Loka hancur begitu saja tatkala Luna datang menyapa. Bayangan tentang cantiknya wajah Asmara seketika pergi entah kemana.
Sejak pernikahan keduanya memang Loka tidak pernah tinggal bersama Luna, selain karena pernikahan bukan keinginan Loka juga, karena Loka tidak ingin semakin jauh membuat Asmara terluka.
Baginya hanya sekali ikrar cinta, dan jika hatinya telah tertaut pada Asmara makan tidak akan ada wanita lain yang bisa mengisi nya.
"Mas, Bisakah kita makan siang bersama ?" ajak Luna
"Tidak" jawab Loka dengan begitu singkat nya.
Bahkan kini Loka telah selinuk.dengan pena dan beberapa kertas di hadapannya, padahal Luna tahu jika sebelumnya Loka tengah memainkan ponselnya sebelum Luna datang dan menghampirinya.
Dinding kaca yang mengelilingi ruang kerja Loka, tentu siapa saja dapat dengan mudah melihat aktifitas orang di dalamnya.
Luna sadar jika Loka tidak pernah mengharapkan dirinya, dan tentu saja itu membuat Luna juga merasakan sakit di hatinya.
Namun Luna yang begitu sangat mencintai Loka, tidak pernah menyerah untuk membuat Loka melirik dirinya, meski dia sadar di hati Loka hanya ada Asmara.
Sejujurnya Luna tidak masalah jika Loka masih mempertahankan Asmara, karena bagi nya, bisa bersama Loka saja Luna sudah merasa bahagia.
Hidup bertiga pun bagi Luna tidak menjadi masalah, asalkan dia juga bisa bersama Loka.
Namun nyatanya Asmara justru rela melepaskan Loka demi dirinya. Dan hal itu sejujurnya semakin menambah rasa bersalah di hati Luna.
Tidak hanya cinta namun juga raga Loka nyatanya tidak bisa Luna dapatkan, meski keduanya terikat dalam pernikahan.
"Luna mohon mas, Sekali saja"
Luna begitu memaksa Loka agar dia mau mengikuti ajakannya.
"Tidak hanya kita, disana nanti juga ada mama"
Luna semakin meyakinkan Loka dengan ucapanya.
Melihat bagaimana Luna mengatakan jika mereka tidak hanya berdua saja, membuat Loka kembali berfikir atas tawaran istri kedua nya.
Mengingat selain mereka juga ada orang tuanya, tentu hal itu tidak bisa begitu saja Loka abaikan. Kesehatan papa nya tentu masih menjadi prioritas dari seorang Loka Wiratmaja.
"Baiklah"
Singkat Loka menyetujui ajakan Luna. Dan mendengar satu kata dari suaminya agaknya membuat Luna begitu merasa sangat bahagia.
__ADS_1
Tidak sia-sia Luna begitu antusias merias tubuhnya sebelum dia menemui Loka.
***