SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 49. Malam Pertama


__ADS_3

...Dan Senja telah mengajarkan kita, Bahwa Keindahan itu hanya Sementara...


...🍁...


Tidak ada pesta besar tidak ada resepsi mewah atau hiburan Indah seperti kebanyakan pernikahan Sultan pada umumnya.


Sederhana dan penuh makna, hingga telinga tetangga saja tidak bisa mendengar bagaimana sakralnya pernikahan Asmara dan Loka.


Bukan masalah biaya, hanya saja Loka bukan tipe orang yang suka membuang waktu dan tenaganya untuk sekedar berdiri Berjam jam dengan senyuman yang harus selalu Dia tampilkan.


Baginya adalah hanya bagaimana Asmara dan keluarganya nyaman dan bisa menerima Loka yang meski tanpa restu orang tua.


Terlebih pernikahan Asmara dan Loka ini bukan merupakan yang pertama bagi mereka, sehingga mereka merasa sudah tidak masanya membuat pesta mewah seperti kebanyakan pernikahan diluar sana.


Rangkaian sucinya upacara pernikahan Asmara dan Loka pun hanya ditutup dengan kegiatan makan bersama. Hingga satu persatu tamu undangan meninggalkan kediaman Asmara setelah sejuta doa baik dari mereka diberikan pada sepasang anak manusia yang baru saja SAH membina rumah tangga.


Semua kisah manis cinta Asmara dan Loka tidak luput dari kehadiran Senja diantara mereka.


Meski bukan putri kandung bagi Loka, namun tidak sedikitpun Loka membuat jarak diantara dirinya dengan Senja. Hingga Senja begitu nyaman bersama Ayah barunya.


Bahkan sedari beberapa saat yang lalu Senja tidak ragu untuk menunjukkan rasa bahagianya pada Loka.


"Ayah" Celoteh Senja dengan begitu manjanya.


"Em" Lembut Loka membelai rambut panjang Senja yang kini berada dalam pangkuannya.


"Iya Sayang"


"Ayah" Senja kembali memanggil Loka


"Iyaaaa"


"Ayah"


Berkali kali dan berulang kali Senja meyakinkan dirinya jika memang kini Loka telah benar-benar menjadi Ayah nya.


Loka pun dengan sabar menjawab panggilan dari putri barunya. Saking gemasnya pada Senja, Loka bahkan sampai menggelitik Senja hingga gadis kecil di pangkuannya tertawa terbahak-bahak.


Waktu menunjukan pukul 19.30


Sudah cukup malam dan banyak dari kerabat dan saudara yang telah pulang ke rumah masing-masing. Hanya tinggal ada beberapa tetangga dan juga Wo yang masih membereskan sisa-sisa acara sebelumnya.


Tidak hanya itu Loka juga meminta beberapa orang bawahnya untuk membersihkan kediaman Asmara dari sampah-sampah yang mungkin tersisa.


Setelah senja lelap dalam tidurnya, kini Loka beranjak menemui sang Oma yang masih setia menunggu di sana.


Ditemani oleh pak Basuki, terlihat Oma Ima begitu serius dalam obrolan Nya. Hingga pada saat Loka berada dekat dengan mereka, Oma dan Pak Basuki menghentikan pembicaraan mereka.


"Seru sekali Sepertinya"


Loka tampak menyela obrolan keduanya.


"Kamu ini, Ngagetin Oma saja" Oma Ima.


"Nak Loka" ucap Pak Basuki


Setelah kedatangan Loka, Pak Basuki memilih untuk meninggalkan keduanya, Karena mungkin saja ada hal-hal penting yang ingin di bicarakan Loka kepada Oma nya.


"Apa Kamu bahagia ?"


Oma Ima berbicara dengan nada khas orang tua. Mendengar itu pun Loka tersenyum manis pada Oma nya.


"Tentu Oma, semua kebahagiaan Loka saat ini tentu karena Oma yang ikut andil di dalamnya"


Mendengar penuturan cucunya, Oma Ima lantas tersenyum. Pandangan mata Oma seolah menerawang jauh, memandangi langit yang juga indah akan sinar malam nya.


"Oma kenapa ?"


Loka sedikit cemas karena sang Oma hanya diam saja sedari beberapa saat yang lalu.


"Tidak Loka, Oma sangat bahagia, setidaknya kalian telah bersama, meski mungkin sudah telat"


Loka tampak menajamkan pandanganya, menautkan kedua alisnya, masih belum memahami apa maksud dari ucapan sang Oma


"Tidak perlu kau pikirkan, Cukup kamu buat Asmara bahagia, itu sudah sangat cukup bagi Oma"


Oma lantas berbicara, memberi penjelasan atas kebingungan cucunya.


"Tentu saja Oma, tanpa di minta Loka akan selalu membahagiakan Senja dan Asmara"


Oma tampak menganggukkan kepalanya. Wanita yang masih cantik di usia senja nya itu tampak bahagia melihat bagaimana keyakinan sang cucu terhadap istri barunya.


Obrolan diantara keduanya masih tetap berlangsung hingga Supir dan pengawal pribadi Oma datang menjemput.

__ADS_1


"Sering-seringlah mengunjungi Oma" ucap Oma Ima sebelum dia meninggalkan Loka.


"Sejujurnya Oma sangat bahagia kalau kalian mau tinggal saja bersama Oma"


Lagi-lagi Oma mengulangi kembali ucapannya, hal itu karena Oma sangat berharap Loka dan Asmara bisa tinggal bersama dirinya.


Sudah 2 kali Oma Ima mengatakan keinginannya itu pada sang cucu, namun untuk yang kesekian kali Loka menolak lembut ajakan Oma nya.


***


Malam semakin larut, suara jangkrik semakin mendominasi dinginnya malam di Kertagiri. Penduduk desa mungkin juga telah tetap dalam tidurnya.


Lampu-lampu jalan yang biasanya sedikit terang kini agak redup karena kabut mulai menyapa, merayap hingga ke dalam rumah-rumah warga di sana.


"Nduk kamu istirahat saja, Temani suami mu" Bu Retno tampak menasihati Asmara


Jujur mungkin ini kali pertama setelah sekian lama Asmara tidak tinggal bersama seorang pria dengan status barunya sebagai suami sah Asmara.


Berdebar jantung Asmara tatkala mengingat bagaimana dia dan Loka nantinya. Menghabiskan malam panjang bersama.


'Ahhhhkkk Entah lah' batin Asmara


Sama gugupnya mungkin jika di bandingkan dengan pernikahan pertamanya, karena singkatnya perkenalan antara dirinya dan Loka, serta bagaimana cara Loka menikahinya yang menurut Asmara sangat kilat. Hal itu cukup membuat Asmara gugup menghadapi Suami barunya.


"Em. Sepertinya mas Loka sedang di teras depan buk"


Asmara tahu karena sebelumnya Loka memang berada di sana bersama Oma Ima, sebelum sang Oma pulang kembali ke rumahnya.


"Ya sudah kalau begitu Ibuk sama Bapak pamit juga ya mau pulang, Ini senja biar ikut Ibuk saja Sama Mbok Jum juga"


Asmara tampak membulatkan kedua matanya, tidak percaya jika Bu Retno akan meninggalkan dirinya sendiri saja bersama Loka.


"Lho buk, Kenapa begitu ?"


Asmara panik dengan ucapan Bu Retno barusan.


"Sudah tidak papa, kalian perlu bersama, Menghabiskan banyak waktu untuk saling mengenal" Tukas Bu Retno dengan senyum senyum di wajahnya


"Buk, tapi kan Senja sudah tidur"


"Tidak papa, nanti biar bapakmu yang gendong"


Deg.


Hingga pada akhirnya hanya helaan nafas yang menjadi jawaban atas ucapan orang tuanya.


Asmara sejujurnya tahu jika semua yang di lakukan orang tuanya tentu merupakan kebaikan bagi Asmara , hanya saja dia tidak menyangka responnya akan secepat ini.


***


Waktu menunjukan pukul 22.45


Sudah hampir tengah malam rupanya, namun Asmara Masih sibuk dengan beberapa pasien dadakan nya.


Setelah pulangnya pak Basuki, Bu Retno, Senja, Serta mbok Jum sebelumnya. Asmara justru kedapatan banyak pasien berkunjung. Kebanyakan dari mereka memang telah menunggu sejak pagi.


Karena acara dadakan pernikahan Asmara, maka banyak diantara warga yang ingin memeriksakan dirinya menunda hingga malam tiba.


Begitu juga Asmara yang tidak tega menolak kedatangan mereka meski keluhan mereka hanya sebatas batuk, pilek, dan diare namun tetap bagi Asmara yang memang satu-satunya tempat fasilitas kesehatan yg ada di sana mau tidak mau dia tetap harus melayani pasiennya.


Setelah semua pekerjaan selesai, Asmara beranjak dari duduknya. Seperti biasa dia akan memastikan kembali semua pintu telah terkunci, jendela juga telah tertutup rapat, baru dia akan tidur dengan nyenyak.


Ceklek.


Asmara perlahan membuka pintu kamarnya. Suasana kamar terlihat sunyi hanya temaram lampu dinding yang terlihat menyala.


'Mas Loka udah tidur kali ya' Batin Asmara


Tubuh yang masih terasa begitu lelah, membuat Asmara ingin segera merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Pikirannya hanya bagaimana dia segera mengistirahatkan tubuhnya.


Namun belum juga dia sempat mencapai tempat tidur, sosok dari belakang tubuhnya telah dengan erat memeluknya.


"Mas" Kaget Asmara mendapati Loka ternyata tidak tidur seperti bayangannya.


"Em"


"Belum tidur" tanya Asmara


Asmara berusaha bersikap biasa saja, meski dalam hatinya begitu gemetar menahan rasa yang begitu menyesakan dada.


"Mana Bisa tidur Asma , Bukanya malam ini malam pertama?" Bisik Loka tepat di telinga Asmara


Mendengar ucapan suami barunya, Asmara cukup merinding jadinya. Hingga tidak ada untaian kata yang bisa terucap di mulut Asmara.

__ADS_1


Diam Saja, mungkin merupakan pilihan yang paling tepat, dibandingkan harus berkata namun semakin mengundang debaran jantung nantinya.


Setelah tidak mendapatkan jawaban dari Asmara, Loka tampak menghela nafas kasar, semakin erat dia memeluk pinggang istri barunya, menikmati setiap aroma wangi Asmara yang masuk menusuk hidung Loka.


"Kenapa kamu lama sekali Asma, Susah-susah aku mengungsikan Senja dan Mbok Jum, Malah kamu sibuk sama pasien pasien mu"


Sangat lirih Loka katakan kejujuran itu pada Asmara. Terdengar pula nada kesal dari Loka.


Sejujurnya itu sangat lucu bagi Asmara, namun dia tidak bisa menertawakannya, karena hati dan pikirannya tengah di kendalikan oleh ketegangan.


Berbeda dengan Loka yang tampak biasa saja, Asmara justru kini membulatkan kedua bola matanya, mendapati jika Senja dan Mbok Jum yang saat ini berada di rumah pak Basuki merupakan ulah dari suami nya.


"Maksudnya mas Loka sengaja?"


Tanpa rasa berdosa Loka pun menjawab dengan anggukan kepala. Sementara itu Asmara hanya menggeleng-gelengkan kepala saja.


Suasana semakin dingin, terasa hembusan angin yang menyusup melalui celah jendela.


"Kau siap ?"


Pelan namun pasti Loka menangkap anggukan kepala dari Asmara, seolah tidak lagi ada penolakan dari istri barunya, Tidak seperti Asmara yang sebelumnya. Dimana dia akan selalu menjaga jarak dan membatasi Loka dari semua perbuatan jahil nya.


Perlahan Loka membalik tubuh Asmara, menghadapkan sosok wanita yang kini sah berstatus sebagai istrinya agar Asmara juga menghadap dirinya.


Loka menarik dagu runcing istrinya, dia ingin Asmara menatapnya, seperti saat ini Loka menatap Asmara. Meski malu pada akhirnya Asmara menurutinya.


Wajah merona Asmara tampak menggemaskan bagi Loka.


Sangat tampan , kesan pertama yang Asmara berikan untuk sang suami, jika sebelumnya Loka selalu memeluk Asmara dari belakang, maka kali ini berbeda Asmara dapat dengan jelas melihat bagaimana wajah tampan suaminya.


Tanpa sadar Asmara pun mulai mengusap lembut pipi dan alis Loka, untuk sesaat Asmara pun benar-benar kagum , terlebih bagian dada yang terasa kokoh, entah dorongan dari mana Asmara ingin sekali untuk menyentuhnya, hingga beberapa kali Asmara menusuk dada Loka dengan telunjuk nya, memastikan dada itu tidak akan kempes setelah mendapatkan cubitan kecil darinya.


Hal ini merupakan yang pertama setelah sekian lama tidak berada sedekat ini dengan seorang pria.


Dan kini Asmara kembali memantapkan hatinya untuk melayani sosok laki-laki yang sah sebagai teman hidup , teman berkeluh kesah, dan juga teman ranjang Nya.


"Apa kau menyukainya ?" bisik Loka


Asmara pun membelalakkan mata , mendengar pertanyaan sang suami, sungguh rona merah di wajahnya kini semakin terlihat, namun sejujurnya Asmara memang sangat menyukainya, terlihat begitu kuat dan perkasa.


Loka mendekatkan wajahnya pada Asmara, mengusap lembut bibir ranum milik istrinya , tidak butuh waktu lama, Loka melahap dan **********, dengan gerakan lembut namun menuntut, hingga Loka merasa tubuh Asmara menegang.


Sensasi aneh yang baru Loka rasakan untuk pertama kalinya. Sungguh tegangan tubuh Asmara membuat Loka tidak sabar untuk berlama-lama.


Sensasi pertama yang baru dia dapatkan dari Asmara, bahkan dengan mantan istri pertama nya Loka tidak merasakan hal ini, karena kerap kali mantan istrinya menolak ajakan Loka, tak jarang juga ketika melakukannya Selalu dengan tergesa-gesa. Entah karena sebab apa namun ketika bersama Asmara rasanya begitu berbeda.


Loka seolah menjadi raja, karena Asmara selalu mengimbangi gerakan nya, dan seolah memberi hak penuh atas dirinya pada Loka. Itu sebabnya mungkin yang menjadikan Loka begitu bahagia.


Asmara masih terlihat pasif , bingung mau melakukan apa, sampai pada saat Loka menggigit kecil bibir bawahnya, Asmara pun membuka mulut dan di sana dia dapat merasakan sentuhan nikmat dari suami baru nya.


Tangan yang semula di bagian belakang kini telah berpindah , satu tangan Loka aktif menelusup kedalam baju yang di kenakan Asmara.


Loka pun melepaskan pagutan nya tatkala Asmara mulai kehabisan udara, Tatapan keduanya seakan terkunci, Asmara yang awalnya malu-malu, kini mulai menikmati setiap sentuhan dari sang suami.


Rasa lelah yang sebelumnya melanda, kini berubah menjadi candu penuh bahagia. Nyatanya Asmara juga menginginkan lebih dari sekedar berciuman saja.


Entah dorongan dari mana ******* kecil lolos begitu saja , hal itu tentu membuat Loka semakin bersemangat untuk melanjutkannya.


Loka memang tidak ingin terburu-buru meski miliknya selalu ingin segera menancap, dia ingin memberikan kesan pertama yang tidak pernah Asmara dapat lupakan seumur hidupnya.


Meski bukan yang pertama bagi keduanya, namun dalam hubungan mereka berdua ini merupakan kali pertama.


Hal itu tentu akan membuat Loka semakin berkuasa atas diri Asmara. Hanya dirinya lah yang berhak untuk menikmatinya.


Loka mengangkat tubuh Asmara , dia dudukkan tubuh ramping itu diatas singgasana, Loka kembali mulai aksinya, mencari pengait bra yang di kenakan oleh Asmara.


Untuk sesaat Loka mendongakkan wajah, menatap sang istri yang seolah telah memberikan izin penuh untuk Loka melanjutkan aksinya.


Perlahan Loka melepaskan pengait milik Asmara , satu persatu dia longgarkan, sampai seluruhya terlepas. Sesuatu yang cukup besar dan menarik pandangan Loka terekspos sempurna tepat di depan wajah Loka.


Jiwa setan dalam tubuh Loka keluar tanpa aba-aba hingga salah satu benda di hadapannya menjadi sasaran kebrutalan nya.


Tidak menunggu lama, Loka langsung melahap salah satunya, dan meremas sisi lainya, tidak memberikan kesempatan untuk mendiamkan hidangan yang begitu menggoda.


Hal itu tentu membuat Asmara sangat terkejut, sebuah kenikmatan yang baru dia rasakan, hingga tanpa sadar Asmara pun membusungkan dadanya, untuk membuat ruang yang lebih lebar bagi suaminya.


Sungguh nikmat dan sangat menggoda bagi Loka, hingga berkali kali melahap habis, mencium dengan rakus benda kenyal di hadapannya.


Sampai pada saat penyatuan panjang yang terasa menegangkan.


Gelapnya malam yang sunyi tanpa bintang gemintang, menyatukan dua anak manusia yang kini tengah dimabuk Asmara.


Dibawah temaram lampu keduanya habiskan untuk saling memberikan kasih sayang.

__ADS_1


***


__ADS_2