SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 44. Kesedihan Senja


__ADS_3

...Jalani Lah Kehidupan dunia ini, Tanpa Membiarkan Dunia hidup Dalam Dirimu. Karena ketika perahu berada diatas Air, Ia mampu berlayar dengan Sempurna, Namun ketika Air Masuk Kedalamnya, Perahu itu Akan Tenggelam Begitu Saja...


...🍁...


Untuk sesaat Asmara memilih memejamkan mata, mengingat bagaimana tubuh, pikiran dan hatinya sangat lelah.


Tidak lagi Asmara hiraukan keamanan dan kenyamanan dirinya. Karena bagi Asmara harapannya hanya satu yaitu segera sampai dan bertemu dengan Senja putrinya.


Jika saja masih ada kedua orang tuanya, mungkin Asmara bisa menceritakan duka Lara nya kepada mereka, namun sayang keduanya telah kembali kepada yang Maha Kuasa.


Bukan menyesal hanya saja Semua luka hatinya terasa berat bagi Asmara jika terus saja dia simpan di dalam dada.


Sebagai wanita ada kalanya Asmara ingin sekali mencurahkan keluh kesah dan isi hatinya, bagaimana dia sangat lelah menjalani hari-hari, bagaimana dia sangat ingin di sayangi, di mengerti, di kuatkan ketika jatuh.


Sama seperti wanita lain di luar sana, Asmara juga ingin di manja oleh sosok yang dia cinta, namun semua ita terasa sulit baginya.


Hingga tanpa terasa lelah tubuh dan pikirannya membuat Asmara terlelap begitu saja.


Fajar menjelang, sorot matahari mulai menampakkan pesonanya. Cukup Lelap Asmara terbuai dalam tidurnya, hingga dia melewatkan waktu nya untuk menjalankan kewajiban paginya.


Asmara meraih ponselnya, Terlihat deretan panggilan Mulai dari Loka hingga pak Basuki juga menghubungi Asmara.


Waktu menunjukan pukul 06.15


Mungkin tidak sampai 2 jam lagi Asmara akan sampai di kota kelahirannya.


Rencananya dia akan menumpang Ojek setelah tiba di terminal nanti, sudah Asmara pikirkan untuk menghubungi Tukan ojek Langganan kedua orang tuanya dulu.


Asmara kembali memainkan ponselnya, Tidak hanya panggilan telepon, nyatanya banyak sekali pesan berderet yang masuk kedalam ponselnya.


Tidak hanya Loka dan pak Basuki saja, ternyata juga ada pesan dari Rani dan Juga Bu Retno.


Mungkin saja kabar mengenai dirinya ini sudah sampai pada telinga Pak Basuki, sehingga Mereka semua terlihat mencemaskan Asmara.


Belum sempat Asmara membaca satu persatu pesan yang masuk kedalam ponselnya. Dering telepon sudah membuyarkan fokus Asmara


'Bapak' Batin Asmara


Segera Asmara menggeser ikon tanda hijau di layar ponselnya.


"Assalamualaikum pak" Sapa Asmara dengan suara seraknya.


"Waalaikumsalam Nduk"


Terdengar kecemasan dari suara pak Basuki


"Kamu baik-baik saja ?, Kenapa semalam nak Loka tanya sama bapak kamu dimana, Memangnya kalian tidak bersama ?"


Panjang lebar pak Basuki bertanya, namun dari pertanyaan itu Asmara dapat menangkap jika Loka belum menceritakan semua kejadian yang dialami Asmara pada Keluarganya.


"Bapak Bingung, sampai semalam Bapak telpon Rani, Bapak pikir dia tahu kamu dimana "


Pak Basuki kembali berucap, mendapati Asmara masih setia dengan diam nya.


"Oh. Iya pak, Maaf kan Asma ya pak. Asma Bikin Bapak khawatir. InshaAllah Asma Baik-baik saja, bapak tidak perlu khawatir ya "


Panjang lebar pula Asmara memberi penjelasan pada bapak nya.


"Syukur lah kalau begitu Nduk, bapak sempat khawatir"


Asmara sejujurnya sangat kasihan kepada pak Basuki, memikirkan dirinya tentu membuat orang tua keduanya itu tidak bisa tidur semalaman.


Persis seperti mendiang ibunya yang juga dulu selalu mengkhawatirkan Asmara.


Dalam panggilan telepon keduanya pak Basuki juga menceritakan jika senja baik-baik saja, meski sesekali menanyakan Asmara namun tidak lantas membuat gadis kecil itu rewel mencarinya.


Hal itu cukup melegakan bagi Asmara yang kini tengah begitu merindukan Senja.


"Ohya Asma, Kamu sama nak Loka kan ?"


Deg.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan bapaknya seketika membuat Asmara kembali mengingat kejadian semalam.


"Pak. Maaf Asma sedang sarapan, nanti saja kalau sudah sampai rumah Asma cerita ya pak"


Buru-buru Asmara mengakhiri panggilan telepon nya, tentu satu alasan Asmara, jika pak Basuki Samapi tahu jika saat ini dia tidak bersama Loka maka dia akan semakin mengkhawatirkan Asmara.


Terlebih lagi jika sampai bapak Basuki tahu semuanya saat ini, tidak menutup kemungkinan Asmara akan kembali menitihkan air mata, Sesuatu yang sangat Asmara hindari ketika di tempat umum seperti ini.


Asmara terpaksa Berbohong, karena mungkin itu keputusan yang paling tepat bagi nya saat ini.


Setelah beberapa saat Bus melaju, kini tibalah Asmara di pemberhentian terakhirnya.


Terminal Kota Surakarta.


Sebuah kota yang berada di pinggiran kota Jawa tangah. Namun perjalanan Asmara tidak sampai di sana, karena dia masih harus kembali melanjutkan perjalanan nya ke desa Kertagiri, desa yang merupakan tempat kelahirannya.


Seperti rencana Asmara semula, seorang tukang ojek langganan telah menunggu dirinya di pintu keluar.


Tidak lupa Asmara pada sosok laki-laki paruh baya yang juga selalu menjadi langganan Orang tuanya ketika semasa hidupnya.


"Mba Asma"


Sapa tukang ojek yang sudah menatap Asmara sedari kedatangannya.


"Iya pak, Betul " Ramah Asmara menjawab nya.


"Mau sarapan dulu atau langsung pulang saja mba ?"


"Langsung pulang saja pak Kamto"


Sapaan yang akrab pada sosok tukang ojek langganan keluarganya itu.


Selain karena malas, Asmara juga merasa sangat tidak berselera untuk sekedar mengunyah nasi dalam mulutnya.


Sebelum Asmara melaju dengan Tukang ojeknya, sempat Asmara melihat ponsel miliknya, kembali tertera panggilan dari Loka.


Namun rasanya Asmara sudah enggan untuk menjawabnya, setidak nya untuk saat ini Asmara hanya ingin menenangkan hatinya dari semua yang berhubungan dengan Loka.


Masih bisa dibilang pagi, karena saat ini masih sekitar pukul 9 lewat. Namun jalanan terasa sudah begitu ramai. Sengatan sinar matahari mulai terasa menyentuh kulit putih Asmara.


Hingga kurang dari 1 jam keduanya tiba di depan rumah Asmara, tidak lupa Asmara membayar ongkos pada tukang ojeknya, Serta memberikan sedikit kelebihan untuk nya.


"Terima kasih pak Kamto "


"Sama-sama mba Asmara, Bapak langsung saja"


Setelah kepergian tukang ojek yang mengantar Asmara hingga ke rumahnya, kini Asmara berjalan masuk kedalam rumahnya.


Namun pemandangan berbeda Asmara lihat disana, atau sebenarnya Asmara masih berada di alam mimpi nya.


Entah lah, namun yang jelas Asmara melihat sosok Loka tengah berdiri menanti kedatanganya, tepat di depan pintu rumah miliknya.


"Asmara !"


Suara Loka pun terdengar sangat nyata, namun rasa-rasanya Asmara tidak sedang bermimpi.


Keyakinannya semakin pasti ketika melihat Pak Basuki tiba-tiba muncul dari balik punggung kekar seorang Loka Wiratmaja.


'Ada apa ini' Batin Asmara.


Asmara tidak dapat mencerna bagaimana bisa Loka sudah berada di hadapannya, namun jangankan untuk bertanya mungkin berfikir saja Asmara sudah tidak kuasa.


Hingga pandangan mata Asmara seketika menjadi buram dan terasa gelap begitu saja.


***


Waktu menunjukan pukul 14.45.


Asmara merasakan belaian lembut di puncak kepala nya, entah siapa yang melakukannya, namun Asmara merasa nyaman tatkala tangan hangat itu berada diatas kepalanya.


Perlahan namun pasti Asmara mulai membuka matanya, wajah pertama yang Asmara lihat adalah Loka.

__ADS_1


Deg.


Untuk sesaat Asmara hanya terpaku dalam lamunannya, menyadari jika sosok di hadapannya adalah nyata, Loka Wiratmaja tengah menatap dirinya.


Sungguh tatapan Loka tak kuasa menahan diri Asmara untuk tidak kembali menitihkan Air matanya, Membayangkan bagaimana sikap Mama nya semalam kepada Asmara.


Namun dari tatapan Loka Asmara juga tahu jika Loka telah mengetahui segala yang terjadi pada dirinya. Terlihat bagaimana Loka menatapnya dengan penuh sesal dan rasa iba.


Mengedarkan pandanganya, Asmara mendapati pak Basuki tengah menggendong Senja.


"Ibukk..."


Kesedihan putri kecilnya tidak lagi dapat di tutupi. Asmara melihat bagaimana sudut mata Senja menitihkan Air mata.


Melihat pemandangan itu saja sudah cukup membuat Asmara kembali merasakan sesak di dada. Hingga tanpa terasa Asmara juga menitihkan air mata untuk yang kesekian kalinya.


"Ibuk Atit, Kenapa ibuk Angis , Ibuk sedih ?"


Pertanyaan dari sang putri, sungguh membuat hati Asmara teriris, namun yang tampak oleh wajahnya hanya senyuman saja.


"Ibuk baik-baik saja Enja"


Asmara mengusap punggung putri kecilnya, orang tua mana yang sanggup melihat anaknya sedih karena memikirkan orang tuanya. Begitu juga Asmara dia pun juga merasakan hal yang sama.


"Enja, jangan nangis ya, ibuk Cuma kangen sama Enja"


Asmara menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur, memeluk tubuh kecil Senja dalam dekapannya.


Adegan ini cukup membuat Amara harus kembali menguasai hati yang saat ini sudah tidak lagi bisa diajak kompromi.


Tubuhnya bergetar menahan tangis yang seolah selalu ingin keluar.


Menyadari kesedihan Asmara, Senja pun juga kembali menangis, bahkan kali ini terdengar lebih keras dari sebelumnya.


Selayaknya anak kecil pada umumnya, senja juga akan menangis jika terjadi sesuatu pada Asmara.


Satu satunya orang tua yang begitu dekat dan selalu memperhatikan dirinya, berbeda dengan Ayahnya Bima yang justru tidak pernah menganggap keberadaan Senja.


Eratnya pelukan Asmara pada senja perlahan membuat tangis keduanya mereda. Asmara bergegas mengusap air mata di pipi putri kecilnya.


Begitu juga Senja yang mengikuti gerakan ibunya, kembali mengusap lembut pipi Asmara.


Senja menatap Loka dengan tatapan penuh iba, sontak hal itu membuat Loka merasa bersalah padanya, begitu juga pak Basuki yang menyadari situasi antara Senja dan Asmara, namun dia sendiri hanya dapat diam saja.


"Paman kenapa buat ibuk Senja menangis ?" Celoteh Senja


Loka yang merasa di tanya masih tetap diam seribu bahasa, sejujurnya dia tidak memiliki jawaban atas pertanyaan gadis kecil dihadapannya itu.


Dadanya bagai ditikam belati tajam, bahkan apa yang di tanyakan oleh senja mungkin sebuah kenyataan jika memang Loka lah penyebab timbulnya Air mata Asmara.


Namun tidak mungkin Loka mengatakan semua kenyataan pada Senja begitu saja.


"Dulu Ayah Bima juga buat ibu Menangis, Kenapa Sekalang Paman juga buat ibuk nangis ?"


Senja begitu sedih mengungkapkan isi hatinya, Masih dengan sesenggukan mengusap sisa air matanya.


Bagi Asmara ucapan sang putri cukup menyayat hati , bagaimana tidak, nyatanya Senja begitu memperhatikan dirinya.


"Ibuk"


"Iya sayang ?"


"Senja udah gak mau punya ayah, kalau semua ayah bikin ibuk nangis"


"Tidak papa buk Senja sama ibuk saja, senja tidak akan minta Ayah sama Ibuk lagi"


Terdengar pilu namun itulah kejujuran dari seorang Senja mengatakan isi hatinya pada Asmara


Sungguh kalimat menohok dari putrinya cukup membuat Asmara kembali menitihkan Air mata nya.


Tak kuasa Asmara berkata-kata , kini hanya pelukan hangat yang bisa Asmara berikan pada Senja.

__ADS_1


Hati senja mungkin sangat sensitif sehingga bagaimana perasaan Asmara dia pun ikut merasakannya.


***


__ADS_2