SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 59. Berulang kali Tersakiti.


__ADS_3

...Hargai Sebelum Pergi. Berhenti Sebelum Benar-benar Tersakiti. Intinya Tahu diri....


...🍁...


Sarapan pagi telah usai.


Satu persatu orang di meja makan beranjak meninggalkan tempat sebelumnya. Begitu juga Luna yang langsung masuk kedalam kamarnya.


Suasana pagi yang sebelumnya cerah, semakin menghilang karena kabut kembali menyapa.


Kertagiri memang selalu indah dengan pesona alam nya, Desa sejuta pesona, syahdu dengan keindahan yang tidak pernah membuat mata menjadi jemu.


Melihat bagaimana kemesraan yang di tunjukan Asmara pada Loka, sejujurnya Luna juga merasa sangat iri padanya.


Ingin sekali Luna mendapatkan perhatian dan juga memberi kasih sayang pada sosok lelaki yang begitu sangat dia ingin cintai.


Namun Luna cukup tahu diri siapa dia dan bagaimana statusnya.


Perasaan cinta yang sempat dia pupuk dalam hatinya, Membuat Luna merasa sedikit kecewa melihat kenyataan yang ada.


Nyatanya calon jodoh yang kini telah menjadi milik orang lain tidak akan pernah bisa dengan mudah Luna dapatkan. Mengingat bagaimana Loka dan Asmara saling mencinta.


Pesona seorang Loka Wiratmaja memang sangat dalam masuk ke relung hati Luna, bahkan meski dia tahu Loka telah berkeluarga.


Sementara Luna tengah galau dengan perasaanya. Loka justru menunjukan sikap agresifnya pada Asmara.


Cup.


Loka selalu bisa membuat Asmara menghentikan aktifitasnya.


Sikap manis Loka selalu mampu membuyarkan fokus Asmara. Terlebih bagaimana Loka begitu manis memperlakukan dirinya.


"Mas. Nanti kan bisa, Asma lagi nyuci !"


Busa sabun yang menempel di tangan Asmara saja belum sempat dia bilas karena Loka tiba-tiba memeluknya.


Cup.


Bukan mengindahkan ucapan Asmara, loka justru kembali mengecup pipi kanan Asmara. Mengeratkan tangannya yang kini sempurna melingkar di pinggang Asmara.


Seolah tidak membiarkan sedetikpun Asmara jauh darinya, Loka semakin mengikis jarak diantara keduanya.


"Mas !!"


"Em" jawab Loka sekenanya.


Bukan memberi ruang gerak pada Asmara, justru Loka semakin menempel pada istri nya. Pada akhirnya Asmara melakukan pekerjaan rumah dengan Loka yang mengekor di belakangnya.


Tak butuh waktu lama, Asmara juga sudah selesai dengan semua pekerjaannya.


Meski ada mbok Jum namun apabila Asmara sedang bisa untuk mengerjakannya, makan Asmara sendiri juga akan segera melakukanya, tidak menunggu tangan mbok Jum yang melakukannya.


"Mas mau kopi ?"


Ucap Asmara yang kini telah berbalik menatap Loka, Menatap wajah tampan suami yang tidak pernah bosan untuk dia pandangi.


"Em boleh"


"Kopi hitam dengan sedikit gula"


Loka mengingat bagian yang paling dia suka dari kopi racikan istri nya.


Asmara pun terkekeh mendengar ucapan suaminya, sungguh Loka selalu mengingat setiap hal yang dilakukan Asmara, meski usia pernikahan keduanya masih tergolong muda.


Namun semenjak ikrar cinta Loka terhadap Asmara, agaknya Loka selalu belajar untuk memahami istrinya.


Sementara Loka menunggu Asmara menyiapkan kopi kesukaannya, dia memilih untuk duduk di teras rumah Tua milik mendiang orang tua Asmara.


Temat tersebut memang selalu menjadi tempat favorit Asmar dan Loka.


Dari teras rumah Asmara, Dengan jelas terlihat luasnya hamparan perkebunan teh yang begitu menyejukkan mata.


Tinggi dan megahnya pesona Gunung Lawu juga tidak kalah memanjakan mata. Bagaimana Gunung terbesar di pulau Jawa itu selalu Indah dengan pesona nya.


Suasana pagi menjelang siang masih terasa sejuk karena sinar matahari yang masih enggan kembali.


Meski bukan musim penghujan namun suasana sejuk meski di siang hari sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi penduduk Kertagiri.


Sejuk dan terasa dingin menyapa kulit putih seorang Loka Wiratmaja. Untuk sesaat Loka memejamkan mata, menikmati sejuknya alam desa Kertagiri.


"Boleh aku duduk disini"


Sekilas Loka menatap sosok yang mengajaknya berbicara, namun jelas dia sangat enggan untuk menjawab pertanyaannya, Loka pun memilih untuk tetap diam saja.


Tahu jika pertanyaannya tidak akan pernah mendapatkan sahutan dari Loka, hal itu membuat Luna pada akhirnya duduk begitu saja, tanpa persetujuan dari Loka.


Mata indah Luna mengikuti kemana Arah Loka memandang jauh kesana.


"Ehem !!"


Suara deheman Luna yang seketika memecah keheningan diantara keduanya.


"Indah ya"

__ADS_1


Luna mencoba membuka suara. Namun nyatanya dia tidak mendapatkan sahutan dari Loka.


"Aku suka di tempat ini"


Lagi-lagi Luna kembali membuka suaranya.


"Tidak perlu basa-basi, katakan saja apa yang ingin kau ketahui"


Tegas Loka katakan pada Luna, sebagai pria dewasa jelas Loka tahu bagaimana dan kemana arah pikiran wanita di hadapannya.


Mendengar ucapan Loka yang sangat terbuka agaknya semakin membuat Luna merasa tertarik padanya. Tawa renyah seketika menghiasi bibir Luna yang saat ini tengah menatap Loka.


Terlihat setelahnya Luna menghela nafas dalam, mengurai ketegangan yang begitu menyesakkan.


"Em"


"Jika kalian baru menikah, itu berarti Senja bukan Anak kandungmu bukan ?"


Luna tampak kembali mengajukan pertanyaan pada Loka. Namun reaksi Loka hanya sama, dia tetap diam dan enggan menanggapi ucapan Luna.


"Aku tidak yakin kau benar-benar menerima putri Asmara"


Luna kembali membuka suara. Kali ini Luna benar-benar berusaha memancing Loka untuk mau berbicara pada nya.


Benar dugaan Luna, jika Loka akan bereaksi ketika dia menanyakan soal sikapnya pada Putri tiri nya.


"Bukan Urusanmu !!" Tegas Loka dengan sorot mata tajam nya.


Luna terdiam dengan dua kata yang baru saja keluar dari mulut Loka.


Sejujurnya dia cukup tahu apa yang akan keluar dari mulut Loka, namun tetap saja kalimat itu cukup menyisakan Luka. Dan seketika membuat Luna semakin yakin jika tidak pernah ada nama nya di hati seorang Loka Wiratmaja.


"Kau juga harus cukup tahu, bagaimana istriku telah merawat mu"


"Dan mengenai bagaimana diriku pada Senja, Ku rasa orang lain tidak perlu mengetahuinya"


"Ohya !!"


"Aku pikir kau sudah sangat sehat. Saranku segeralah pergi, dan jangan pernah kembali !!"


Tegas Loka dengan suara dingin nya, entah mengapa Loka sangat tidak suka dengan kedatangan Luna, entah itu karena sengaja atau tidak baginya Loka sangat tidak menyukainya.


Suasana seketika menjadi hening tatkala Loka dan Luna melihat kemunculan Asmara yang datang dengan membawa kopi pesanan Loka sebelumnya.


"Lho ada Luna juga"


Asmara sedikit terkejut dengan Luna yang sudah duduk bersama suaminya. Karena seingat Asmara, Luna telah kembali beristirahat di kamarnya sejak selesai sarapan sebelumnya.


Namun Asmara tidak ingin lebih jauh berfikir tentang perasaanya , dia memilih untuk abai saja. Dan kembali pada kopi yang ingin dia berikan pada suaminya.


"Apa itu Asma ?"


Mendengar pertanyaan Luna, Asmara pun tersenyum padanya.


"Ini kopi kesukaan mas Loka. Apa kau juga mau mencicipi nya" Senyum manis menghiasi wajah Asmara yang kini tengah memberikan secangkir kopi pada Loka.


"Terima kasih sayang" Loka dengan wajah bahagia menerima secangkir kopi buatan Asmara


Aroma kopi yang menguar di udara membuat Loka tidak sabar untuk segera menikmatinya, kepulan Asap panas jelas terlihat mengudara.


Menandakan jika kopi hitam tersebut di seduh dengan air yang benar-benar mendidih diatas panci nya.


Beberapa kali terlihat Loka menikmati kopi hitam di tangan nya, menghirup aroma wangi kopi di dalamnya, cukup menenangkan jiwa, setelah sebelumnya Loka merasa tidak suka dengan kehadiran Luna. Terlebih dengan perdebatan singkat antara dirinya dan Luna.


"Asma. Boleh aku meminta yang sama seperti milik Loka ?"


Uhuk...!!!


Loka merasa cukup terkejut mendengar permintaan Luna pada istri nya.


"Kopinya ?"


Berbeda dengan Loka , justru Asmara sangat memahami apa keinginan Luna. Dan benar saja Luna menganggukkan kepala, setelah Asmara mengatakan nya.


Asmara bergegas untuk kembali ke dapur nya, menyiapkan secangkir kopi untuk Lun, sama seperti racikan yang Asmara buat untuk Loka.


Setelah kepergian Asmara, terlihat Luna akan kembali berbicara pada Loka.


"A---"


"Aku tidak tahu apa tujuanmu, tapi aku pastikan apa pun itu, tidak akan pernah merubah statusku"


Belum sempat Luna mengutarakan kalimatnya, Loka lebih dulu membungkam wanita di hadapannya dengan kata-kata yang cukup menohok baginya.


Menyadari dingin nya sikap Loka terhadap dirinya, Luna pun hanya dapat menatap dengan tatapan penuh iba.


Prihatin dengan dirinya yang tak ubahnya punguk merindukan Bulan. Belum sempat cinta menyapa kini sudah harus kandas juga.


"Ohya satu hal lagi. Aku tidak akan pernah diam saja jika orang-orang yang aku cinta terluka !!"


Tegas Loka sampaikan semua pada Luna, mungkin memang terdengar sangat kasar namun itulah Loka, yang tidak pernah suka jika kehidupan pribadinya di usik oleh siapa saja, termasuk itu kedua orang tuanya.


Luna cukup sadar jika kalimat Loka merupakan kalimat yang jelas memperingatinya.

__ADS_1


Agaknya memang Loka sudah benar-benar tahu rencana dari kedua orang tuanya.


Semua tampak kembali biasa saja, saat Asmara kembali datang dengan membawa minuman kopi untuk Luna.


Tidak hanya kopi untuk Luna, nyatanya Asmara juga membawa secangkir teh madu untuk dirinya.


Namun langkah Asmara terhenti ketika mata indahnya bertatap dengan sosok wanita paruh baya yang selalu tidak suka pada dirinya.


Wanita yang bergelar ibu mertua baginya, kini datang menyapa.


Penampilan elegan dan berkelas, tidak membuat Asmara begitu saja lupa dengan sikap kasar setiap kali keduanya saling menyapa.


"Ma.. Mama" gumam Asmara lirih, namun masih jelas terdengar oleh Loka dan Luna.


Baik Loka maupun Luna, kini Keduanya mengalihkan pandangan, mengikuti arah mata Asmara yang melihat Bu Sukma datang entah dengan tujuan apa.


Cukup terkejut, hingga untuk beberapa saat Asmara terdiam dalam lamunannya. Namun hati sudah tidak dapat berdusta, karena setiap kedatangan Bu Sukma pasti akan selalu ada prahara yang ikut menyertainya.


Begitulah perasaan Asmara yang tentu saat ini sudah tidak baik-baik saja.


Plakk !!!


Benar saja dugaan Asmara jika dia akan mendapatkan getah nya.


"Ma !!!"


Begitu terkejut Loka melihat bagaimana mama nya memperlakukan Asmara semena-mena, hingga dia bangkit dan membentak Orang tuanya.


Terasa panas dan seketika menjadi kebas, Pipi sebelah Kanan Asmara yang berpapasan langsung dengan tangan kosong Bu Sukma, sampai sini Asmara benar benar meyakini jika di hadapannya memang adalah mertuanya.


Bagai mimpi di siang bolong Asmara mendapatkan tamparan keras untuk yang kesekian kalinya.


Tatapan menghujam Bu Sukma tertuju langsung pada Asmara. Sementara Asmara hanya dapat diam dan menunduk saja.


"Murahan !!!" ucap Bu Sukma


"Cukup Ma !" mohon Loka pada ibu kandungnya.


Asmara masih terdiam, rasa sakit di pipinya cukup membuat dia tidak sanggup untuk berkata-kata.


Namun yang tidak bisa di lupa, adalah bagaimana Hati Asmara yang semakin terluka dengan perlakuan orang tua suaminya.


Entah dari mana datangnya, namun seketika Airmata menggenang di pelupuk mata Asmara. Sungguh sakit hatinya lebih pedih jika dibandingkan sakit di pipi nya.


Untuk kesekian kali Wanita yang dia anggap sebagai ibu ketiga nya ternyata begitu tidak menyukai bahkan sangat membenci nya.


Sejujurnya Asmara ingin sekali menghormati dan menyayangi wanita yang merupakan mertua dan sekaligus ibu kandung dari suaminya. Namun sepertinya Asmara tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk sekedar berbakti padanya.


Bukan memelas melihat bagaimana Asmara menahan rasa sakit dan malu nya, Justru Bu Sukma merasa puas bisa melampiaskan kekesalannya pada Asmara.


Tidak hanya Asmara yang terdiam, nyatanya Luna yang juga masih berada di sana pun ikut diam seribu bahasa.


Luna sampai tidak habis pikir jadinya, Bu Sukma sampai hati melakukan hal itu Pada wanita sebaik dan selembut Asmara.


Meski ingin sekali Luna memiliki Loka, namun tidak seperti ini caranya, dengan berusaha menyingkirkan dan menyakiti hati seorang wanita yang tidak berdosa seperti Asmara


"Tante, Luna mohon Hentikan !"


CK.


"Tidak Luna wanita ini pantas mendapatkannya, aku sudah pernah memperingatinya, namun ternyata dia masih saja berani mendekati Loka !"


" Sudahlah Tante !"


Luna terdengar kekeh menghentikan pertengkaran diantara mereka. Apapun alasannya Luna juga tidak suka jika ada hati yang terluka.


"Luna. dia juga harus tahu siapa kamu dan seperti apa dirimu, Wanita yang sudah Tante pilih untuk menjadi pendamping Loka !!"


Deg.


Nanar mata Asmara mendengar ucapan Bu Sukma yang begitu mengagetkan nya, sungguh kalimat itu cukup menyakitkan bagi Asmara.


'Jodohkan, Luna, Mas Loka' Batin Asmara bergejolak memikirkannya.


Ternyata firasatnya tidak salah, nama 'Luna 'yang sempat Asmara pikir merupakan wanita pilihan orang tua Loka, nyatanya saat ini benar-benar telah berdiri di hadapannya.


Entah karena sengaja atau takdir yang telah mempertemukan mereka, namun Asmara cukup paham jika situasi saat ini sedang tidak baik-baik saja terlebih untuk dirinya.


"Mas ?. Apa ini maksudnya??"


Linangan Air mata kembali deras menyapa pipi Asmara, entah mengapa Asmara merasa kan sesak di dada yang begitu luar biasa.


"Katakan mas, apa ini maksudnya?"


Mohon Asmara dengan suara bergetar. Sungguh Asmara sangat tidak percaya jika Loka pun menutupi semua ini dari dirinya.


Diamnya Loka membuat Asmara semakin percaya jika benar Loka telah mengenal siapa sosok Luna yang telah menjadi pasien sekaligus tamu di rumahnya.


Tapi mengapa ?. Mengapa Loka hanya diam saja, sementara Asmara terlihat bodoh diantara dua orang yang saling mengenal dirumah nya.


"Asma aku bisa jelaskan, Percayalah aku juga tidak tahu sebelumnya jika dia datang atas perintah mama"


"Aku baru menyadarinya setelah benar-benar mengingat siapa dia"

__ADS_1


Loka berusaha menjelaskan bagaimana situasi nya, namun agaknya Asmara sudah terlanjur kecewa pada suaminya.


***


__ADS_2