
...Sabar saja. Jika tidak di dunia, mungkin diakhirat nantinya....
...🍁...
Pak Adi lantas meraih bingkai tua dari tangan putranya, meneliti dan mengamati dengan seksama tidak hanya pada gambar-gambar orang di dalamnya.
Cukup lama pak Adi memandangi, hingga alis tebalnya saling bertautan.
Di titik ini pula Bu Sukma menyadari jika mungkin saja suaminya memikirkan apa yang sedang di pikirkan nya.
"Pa ?"
Bu Sukma tampak mengulas senyum di wajahnya.
"Tunggu deh ma"
Pak Adi menyela ucapan istrinya, tentu karena dia masih begitu fokus memandangi bingkai foto di hadapannya.
"Papa Liat apa ?"
Melihat ekspresi pak Adi yang masih diam saja, Bu Sukma Lantas bertanya pada suaminya. Namun entah mengapa sudut bibir Bu Sukma seketika terangkat keatas, menyadari jika suaminya menemukan sesuatu disana.
"Rumah lama kita ma !"
Senyum terkembang seketika di wajah Bu Sukma. Bagaimana tidak, nyatanya suaminya memiliki pikiran yang sama dengan dirinya, mungkin inilah mengapa keduanya berjodoh.
Sementara kedua orang tuanya tampak begitu bahagia, justru Loka semakin bingung dengan tingkah mereka.
'Rumah lama ?' batin Loka.
Entah apa yang saat ini ada di pikiran kedua orang tuanya, hanya saja Loka mulai lelah melihat tingkah papa dan mama nya yang mulai bernostalgia 'Batin Loka'
"Udah yuk ma pa. Kita pulang aja, Nanti biar mbok Jum yang bereskan"
Ucap Loka yang menyadari jika situasi sudah mulai membosankan, beginilah jadinya jika dia mencari Asmara namun melibatkan kedua orang tuanya, akan ada saja kendala yang entah itu darimana.
Contohnya seperti saat ini mereka hanya menghabiskan waktu sekedar untuk memandangi foto lama istrinya 'Batin Loka'.
"Ehhh... Kok pulang sih, ini kamu musti liat ini ka!!! "
Bu Sukma kembali menarik lengan putranya untuk duduk lagi di sofa.
Ketiganya kini lantas kembali duduk bersama, kembali memandangi dan mengamati bingkai foto di tangan pak Adi.
Sejujurnya Loka sudah sangat tidak ingin berada di sana, terlebih dia tidak paham maksud dari mama nya.
__ADS_1
Dari pada duduk diam disana lebih baik Loka berkeliling mencari Asmara 'batin Loka'
"Loka kan udah liat ma, itu Foto Asma sama bapak ibuk nya"
Kembali Loka menjawab permintaan mama nya yang terus saja meminta dia untuk melihat foto masa kecil Asmara.
"Ka. Kamu denger dulu apa kata mama mu!" ucap pak Adi menengahi.
Melihat keseriusan dari kedua orang tuanya, Loka lantas menurut dan kembali duduk dengan tenang di tempatnya semula.
Loka menatap kedua orang tuanya bergantian, seolah dia tengah mempertanyakan apa yang sebenarnya ingin di katakan. Dan kenapa kedua orang tuanya selalu meminta dia melihat foto Asmara dan kedua orang tuanya.
"Jadi gini ka"
Bu Sukma mulai bercerita pada putranya. Tatapan tajam Bu Sukma tertuju pada Loka. Berharap setelah ini Loka akan paham apa maksud nya.
Dalam kalimat panjang lebar yang di katakan mama nya, Loka tahu jika di dalam Foto masa kecil Asmara, merupakan Foto yang diambil di rumah lama kedua orang tuanya.
Loka baru menyadari jika rumah tua di dalam foto Asmara sangat jauh berbeda dengan Rumah yang saat ini di tempati Asmara.
Rumah tersebut tampak sama dengan rumah-rumah lain di samping kanan dan kirinya.
Lebih tepatnya perumahan yang di berikan oleh mendiang kakeknya, dan Oma Sima pada karyawan yang sudah mengabdi cukup lama.
Semacam penghargaan karena telah mendedikasikan diri dan mengabdi pada pabrik milik keluarga Wiratmaja. Hingga pabrik tersebut masih berdiri kokoh hingga saat ini.
Baskara dan pak Adi mendapatkan rumah tersebut sebelum keduanya menikah dengan Halimah dan Bu Sukma.
Pak Adi sendiri sempat tinggal di sana, meski tidak lama, sebelum akhirnya menikah dengan Bu Sukma dan pindah ke rumah Oma Ima.
Namun Baskara dan Halimah tetap tinggal di sana, Se ingat Pak Adi cukup lama mereka menempatinya, sampai kabar tentang rumah baru ini mereka dengar. Barulah Baskara memboyong keluarganya untuk menempati rumah barunya, dan meninggalkan rumah pemberian Oma Ima.
Disini Loka mulai menyadari jika mungkin saja saat ini Asmara berada disana.
"Lalu dimana rumah ini berada ma ?" Loka serius bertanya pada kedua orang tuanya.
Luas dan lebarnya perkebunan milik keluarga Wiratmaja, membuat Loka sendiri tidak pernah mengetahui sampai mana saja batas-batasnya. Bahkan mengenai rumah tersebut agaknya juga baru kali ini Loka mendengar nya.
Baik pak Adi maupun Bu Sukma hanya saling pandang saja, bukan tidak tahu, hanya saja mereka tidak yakin jika rumah itu masih ada.
Sudah cukup lama mereka tidak kesana, sehingga jalan menuju ke sana saja mungkin mereka juga sudah lupa. Hingga gelengan kepala menjadi jawaban pak Adi untuk putranya.
Untuk sesaat Loka terdiam dalam lamunannya, harapan besar sirna seketika, menyadari jika rumah tersebut sudah tidak ada, tentu Asmara juga tidak lah berada di sana.
"Kita tanya Oma saja!"
__ADS_1
Bu Sukma semangat dan yakin dengan ucapanya. Menyadari tentu saja Oma masih mengetahui dan mengingat segalanya. Terutama tentang rumah lama tersebut.
"Oma pasti masih tahu tentang rumah itu, dan ---"
" Tunggu ma !!".
Belum sempat mama nya menyelesaikan ucapanya, Loka lebih dulu menyahut dan menghentikannya.
Bu Sukma dan pak Adi lantas memandangi sang Putra dan mencari jawaban atas penolakannya.
"Sebaiknya jangan tanya Oma"
Loka lirih dalam ucapanya, meski begitu pelan, namun baik Bu sukma maupun pak Adi masih jelas mendengar nya.
"Loka tidak yakin Oma akan membantu kita"
Jika tadi Loka, kini giliran Bu Sukma yang tidak paham dengan maksud putranya.
"Nggak mungkin ka, Oma nggak bantu kita. Jelas-jelas Oma sayang banget sama Asma!"
Bu Sukma mulai meragukan pemikiran putranya. Segar di ingatan Bu Sukma bagaimana dua bulan lalu dia mendapatkan tamparan pertamanya hanya karena Asmara.
"Bukan gitu ma, Loka tahu Oma sangat menyayangi Asma--"
Loka tampak menjeda ucapanya, dia lantas menatap dalam papa dan mama nya bergantian. Sejujurnya masih ragu untuk Loka mengatakan, terlebih dia juga bingung untuk menyampaikan pada kedua orang tuanya.
Loka mulai menceritakan keraguannya pada sosok Oma, yang mungkin saja tahu sesuatu tentang Asmara. Itu juga mengapa Loka tidak lagi menggebu dan panik untuk mencari keberadaan istrinya, Loka memang tetap selalu mencari namun dia tidak lagi bertindak bodoh seperti sebelumnya.
Loka hanya berfikir jika Oma terlibat dalam menghilangnya Asmara, maka tentu keadaan Asmara saat ini baik-baik saja.'Pikir Loka'
"Bagus dong kalau Oma mu tahu. Kita tinggal tanya. Beres urusan nya"
Enteng sekali rasanya Bu Sukma mengutarakan pendapatnya. Namun berbeda dengan pak Adi yang justru menyetujui usulan putranya.
"Ada benarnya juga ma, kita tidak melibatkan Oma"
"Sempat papa berfikir, menghilangnya Asmara merupakan bagian dari rencana Oma untuk menyadarkan kita"
Pak Adi mulai meneliti kembali. Dan nyatanya dia sepemikiran dengan Loka. Pak Adi sendiri Menyadari betapa saat itu Oma sangat kecewa pada dirinya dan istrinya. Dan Bu Sukma pada akhirnya mengangguk saja.
Meskipun Bu Sukma masih belum begitu paham, namun pada akhirnya dia mengikuti saja langkah pencarian dari suami dan putranya.
"Terserah kalian. Mama ikut saja"
Ucap Bu Sukma pada Akhirnya"
__ADS_1
***