SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 58. Siapa Sebenarnya.


__ADS_3

...Sebuah kenyamanan mungkin saja datang tanpa disengaja. Namun ingat, Sebuah kepergian Mungkin juga datang secara Tiba-tiba....


...🍁...


Sementara Asmara sibuk mengurus keperluan Loka. Luna hanya terdiam kembali mengingat satu nama yang selalu dia ingat sejak kedatanganya di Indonesia.


Cukup mengejutkan hingga Luna hanya dapat terdiam entah sebab apa.


Sinar pagi yang sebelumnya sempat menyapa kini mulai beranjak pergi karena kabut yang juga mulai turun kembali menyapa Kertagiri.


Sama halnya dengan hati Luna yang juga saat ini mulai berkabut.


"Bu Luna . Kenapa bengong"


Suara mbok Jum yang seketika membuyarkan lamunan Luna pada Asmara dan suaminya.


"Oh. em. Enggak mbok"


Cepat-cepat Luna menguasai hati dan pikirannya kembali.


Sementara itu mbok Jum terlihat tersenyum setelah mendapatkan jawaban dari tamu majikannya.


"Mbok Jum Tunggu !"


Luna terdengar menghentikan langkah mbok Jum yang akan beranjak pergi meninggalkannya.


"Iya Bu ?" jawab mbok Jum sopan.


Terlihat wajah Luna yang ragu-ragu untuk bertanya, dan hal itu jelas terlihat oleh pasang mata asisten Asmara.


"Ada apa Bu Luna ?"


Mbok Jum kembali bertanya, Karena sedari tadi Luna hanya terdiam saja.


"Oh. Nggak mbok, nggak jadi" ucap Luna dengan menggaruk kepalanya


Sementara itu mbok Jum hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan Luna di ruang tamu.


Cukup lama Luna menunggu Asmara, entah sedang apa keduanya berada di dalam kamar sana, namun yang pasti Luna melihat bagaimana keduanya begitu saling mencintai.


Sinar mentari pagi yang kian menghilang, menyisakan awan mendung yang mendominasi keadaan.


Larut dalam syahdunya pagi dengan sekelebat matahari, membuat Luna cukup menikmati hati yang entah bagaimana nanti.


"Bu Luna ?"


Kembali suara mbok Jum mengagetkan Luna yang sedari terdiam dalam lamunannya.


"Ada apa mbok ?" Tanya Luna pada akhirnya


"Itu , Bu Asma sudah menunggu Bu Luna di meja makan"


Dengan sopan mbok Jum mengatakan pula untuk mengajak Luna sarapan bersama.


Hembusan nafas dalam terdengar hingga ke telinga lawan bicara Luna.


"Baik mbok"


Luna beranjak dari duduknya, dengan di bantu Mbok Jum, keduanya berjalan menuju meja makan yang letaknya menjadi satu dengan dapur.


Pemandangan pertama yang tampak oleh pasang mata Luna, bagaimana Asmara begitu lembut dan telaten melayani suaminya.


Entah mengapa Luna juga tidak sedikitpun memalingkan pandanganya pada sosok suami dari Asmara.


Loka memang sangat tampan dan penuh wibawa, tidak heran sekelas Luna pun pasti juga kagum dengan pembawaannya.


"Mbok Jum kita sarapan sama-sama saja" Ucap Asmara


"Tidak Bu, tadi Senja minta kerumah kakeknya, mungkin saya akan suapi sekalian kesana"


Dengan sopan mbok Jum menolak ajakan majikanya. Selain karena segan pada Loka, mbok Jum juga merasa tidak nyaman makanan dalam satu meja dengan seorang Loka Wiratmaja, meski Loka sendiri sebenarnya tidak masalah Saja.

__ADS_1


"Ya sudah kalau memang begitu mbok" jawab Asmara pada akhirnya.


Setelah berpamitan pada Asmara dan juga Loka, mbok Jum bersama Senja pergi meninggalkan ketiganya.


Suasana meja makan terasa hening setelah mbok Jum pergi.


Asmara masih sibuk menyiapkan makanan di piring Loka, sementara Luna masih tetap diam dan melihatnya.


"Luna, kamu mau makan pakai apa?. Biar aku siapkan " Tanya Asmara pada tamu nya.


Pertanyaan dari Asmara diabaikan begitu saja, karena sedari tadi Luna sibuk menatap wajah Loka. Dan di detik itu pula Asmara tahu jika mungkin saja Luna menyimpan sesuatu dalam hatinya.


Tatapan tajam mata Asmara seketika tertuju pada Luna , yang masih saja belum sadar akan statusnya.


Sementara itu Loka tampak tidak suka dengan tatapan Tamu sekaligus pasien dari istrinya.


"Jaga sikap anda, ingat sedang dimana anda berada !!"


Tegas dan Lugas Loka katakan pada Luna dan seketika ucapan Loka membuyarkan lamunan Luna.


"Oh. Em. Em maaf kan aku Asma"


Gelengan kepala menjadi pertanda betapa Luna sangat tidak enak hati pada Asmara akan sikapnya pada Loka.


"Maafkan aku, Sungguh aku tidak bermaksud ---"


Luna tampak gagap dengan ucapanya, entah apa yang saat ini tengah berada dalam pikirannya. Luna cukup tahu diri atas sikapnya yang memang kelewatan menatap suami dari wanita yang telah begitu baik hati merawat dirinya.


Namun senyuman Asmara menjadi penenang hati Luna yang sempat merasa canggung setelahnya.


"Kamu mau makan apa ?" tanya Asmara ada akhirnya.


"Em. Apa saja Asma, aku suka"


Masih dengan logat gagapnya Luna menjawab pertanyaan Asmara.


Selama sarapan bersama Luna hanya menundukkan wajahnya, dia tampak tidak nyaman dalam situasi yang dia buat canggung sendiri.


"Mas, Tadi Asma siapkan Pusing labu, Mas mau coba ?"


Ucapan Asmara seketika memecah kesunyian di meja makan.


"Benarkah ?"


Anggukan kepala menjadi jawaban atas pertanyaan Loka


"Tentu saja aku mau sayang"


Binar bahagia terlihat diwajah cantik Asmara. Begitu juga Loka yang bahagia atas pelayanan dari Asmara yang


"Tunggu sebentar, Asma siapkan"


Puding yang baru saja selesai di buat sebelumnya, Asmara telah simpan dalam lemari pendingin. Bergegas Asmara memotong dan menyiapkan untuk sang suami tercinta.


"Apa kau tidak ingat dengan ku ?"


Luna tampak berbicara pada Loka yang kini keduanya hanya berdua saja di meja , Sementara Asmara tengah sibuk dengan puding buatannya.


Mendengar ucapan Luna, Loka pun menyimpan kembali sendok dan garpu nya.


"Aku rasa, aku tidak perlu mengingat siapa dirimu !"


Terdengar dingin suara Loka menusuk di telinga Luna.


"Aku tidak menyangka ternyata Tante Sukma, membohongiku !"


Tatapan iba Luna mengarah pada Loka. Jujur mungkin saja saat ini Luna telah menyimpan rasa pada Suami dari teman barunya.


Namun melihat bagaimana Asmara memperlakukan dirinya , Tidak sampai hati rasanya Luna merebut Loka dari Asmara.


Loka hanya diam saja dengan ucapan Luna, jujur dia sangat enggan meski untuk sekedar membalas nya saja.

__ADS_1


Ingatan Loka menerawang jauh pada kejadian beberapa bulan sebelumnya. Jauh sebelum dirinya bertemu dan menikah dengan Asmara.


Mengenai siapa sosok Luna sebenarnya, dan bagaimana Loka begitu tidak suka dengan kehadiran Luna.


Tepatnya dimana Loka memutuskan untuk ke desa dan membangun usaha disana.


Nyatanya bukan tanpa alasan Loka mengembangkan usahanya di Pegunungan Kertagiri, salah satunya adalah untuk menghindari perjodohan antara dirinya dan Luna.


Pertemuan antara dirinya dengan Luna sudah sempat di rencanakan oleh kedua orang tua Loka, namun kerasnya penolakan Loka membuat Luna semakin penasaran terhadap Sosok seorang Loka Wiratmaja.


Keduanya mungkin tidak saling mengenal, namun potret diri masing-masing semat di tunjukan oleh Bu Sukma pada keduanya.


Dan dari sana wajah Loka tidak asing bagi Luna yang meski baru pertama melihatnya Luna sudah bisa jatuh cinta pada sosok Loka Wiratmaja.


Begitu juga dengan Loka, meski bukan rasa terkejut terhadap Sosok Luna namun dia cukup penasaran bagaimana Luna bisa sampai ke tempat ini dan menemui Asmara.


"Tidak kah kau ingin tahu bagaimana perasaanku ?"


Lirih Luna dengan tatapan sendu pada suami dari teman barunya.


Bukan mengiba, justru Loka semakin tidak suka dengan kehadiran Luna diantara dirinya dan Asmara.


"Seharusnya kau cukup Tahu diri. Pantaskah pertanyaan itu kau tanyakan pada Laki-laki yang telah beristri ?"


"Tapi Tante Sukma bilang kamu masih sendiri !!!!!"


Suara Luna agak meninggi, menjawab pertanyaan Loka yang begitu menusuk hatinya.


Menyadari kegaduhan yang terjadi, buru-buru Asmara mempercepat kegiatan nya.


Namun belum sampai Asmara di tempat duduknya, Loka dan Luna telah menghentikan perbincangan keduanya.


Luna cukup tahu diri untuk tidak membuat kegaduhan di rumah ini.


Sementara Loka kembali bersikap biasa saja, seolah tidak pernah terjadi perbincangan diantara keduanya.


"Mas, Kok sudah ngobrolnya ?, Ngomongin apa sih ?"


Asmara yang tahu jika keduanya sempat berbicara pun juga ingin tahu apa yang keduanya bicarakan.


Deg.


Loka sempat khawatir kalau saja Asmara mendengar perbincangan nya bersama Luna, namun dari cara Asmara bertanya, tampaknya dia tidak mendengar apa yang sebelumnya Loka bicarakan bersama Luna.


"Tidak sayang, aku hanya bertanya, bagaimana dia bisa mendapatkan luka di kakinya"


Senyum manis menghiasi wajah taman Loka yang kini memberi penjelasan pada Asmara. Bagaimana Luna ?, Tentu saja dia hanya bisa menunduk dan diam saja.


"Oh. Kirain ada apa" jawab Asmara sekenanya.


Sepertinya semua orang telah kembali menyimpan sendok dan garpu nya, meski masih ada cukup banyak sisa makanan di piring masing-masing.


Namun hal itu tidak masalah, terlebih Asmara telah menyiapkan puding untuk mereka.


"Dimakan mas, aku tidak tahu mas akan suka atau tidak"


Asmara menyodorkan sepiring kecil berisi puding yang telah dia siapkan untuk suaminya.


"Terima kasih sayang, aku pasti menyukainya" Ucap Loka dengan binar bahagia.


Tidak hanya kepada suaminya saja, Asmara juga tidak lupa memberikan puding pada Luna yang kini tampak sudah tidak berselera untuk menikmatinya.


Berbeda dengan Luna, Loka tampak antusias menikmati puding khusus buatan Asmara, Nyatanya apa pun yang disiapkan istrinya, Loka tidak pernah menolaknya.


Loka sudah terbiasa dengan pelayanan yang di berikan istrinya, dan dari sini dia sendiri dapat membedakan bagaimana mantan istrinya dulu dan Asmara melayaninya.


Karena sebab itu juga Loka sudah tidak membutuhkan wanita model apa saja, karena baginya Asmara telah memiliki semua yang Loka pinta.


Asmara tidak hanya melayani, namun juga menghormati Loka.


Karena itu pula kedatangan Luna, sedikit pun tidak berarti apa-apa pada Loka.

__ADS_1


***


__ADS_2