
...Tidak apa-apa, Semua akan baik-baik saja. Kalau sekarang belum baik, Maka tunggu saja, Mungkin memang belum waktunya....
...🍁...
Malam hampir tiba, sendakala telah menampakkan pesonanya. Merah jingga yang merona membuat setiap hati Manusia merasa bahagia.
Namun mungkin tidak bagi Asmara yang justru merasakan sebaliknya, Hatinya masih begitu terluka atas setiap tuduhan menyakitkan yang di layangkan oleh keluarga Loka.
Mengingat bagaimana Luka yang di berikan oleh Bima belum sembuh sepenuhnya, Asmara sudah harus merasakan pedihnya Luka yang di tanam Orang tua Loka pada dirinya.
Belum juga pikiran dan hati Asmara sempat beristirahat. Kini pikiran dan hatinya dipaksa harus kembali Romusha.
'(Romusha / Kerja pasa jaman penjajahan)'
Kenyataan lain kembali menghampiri nya, tatkala Loka yang tiba-tiba saja mengajaknya untuk menikah, tentu membuat pikiran Asmara kembali terpecah belah.
Ingin rasanya Asrama menepi, namun sejauh apapun Asmara berlari, takdir akan tetap menghampiri.
Layaknya hembusan Angin yang menggoyangkan dahan di pepohonan, hingga daun daunnya berguguran begitu saja, Begitulah cara takdir menyapa Asmara.
Lamunan yang tiada bertepi, membuat Asmara hanya dapat meyakinkan diri untuk mengikuti kehendak Illahi Robbi.
Memejamkan mata walau untuk sesaat, nyatanya mampu memberikan ketenangan batin dan jiwa Asmara.
Pelik hidupnya cukup membaut Asmara semakin merana, namun kembali lagi, dia akan selalu ikhlas menerima setiap Hadian dari Allah SWT.
Karena sejatinya Hadian tidak hanya berupa kebahagiaan, karena terkadang kesedihan juga merupakan hadiah dari yang Maha Kuasa, hanya saja bentuknya berbeda.
Asmara sadar jika Tidak semua kejutan selalu terbungkus dengan keindahan, Adakalanya sebuah kejutan, Allah bungkus dengan Lembaran kertas Koran.
Asmara terdiam dalam lamunannya. Hingga terasa sentuhan hangat tangan Loka yang menyentuh kulitnya.
Cukup nyaman Asmara merasakan hangatnya dada Loka yang menyentuh punggungnya. Hingga dia merasa tidak ingin hal ini berakhir begitu saja.
Cukup egois kedengarannya , karena Asmara terkesan mendahului takdirnya. Meski sejujurnya dia hanya ingin sebuah perhatian dan rasa cinta dari lawan jenisnya.
"Kau sedang melamun ?"
Sudut bibir Asmara terangkat seketika. Sebuah senyum kecil terlihat di bibir ranum Asmara.
"Saat ini adalah waktu Senja" Loka berkata pada Asmara
"Em. Iya, Dan senja di sana Sangat indah bukan ?"
Asmara menunjuk pada sendakala yang memancarkan cahaya terangnya. Menyejukkan setiap pasang mata yang melihatnya. Bisa jadi termasuk Asmara dan Loka.
Suasana kembali hening, hingga yang terdengar hanya deru nafas dari keduanya.
Sepoi angin menambah suasana sahdu sore itu.
"Apa kau percaya, jika mungkin saja semesta Lah telah menjodohkan kita ?" Ucap Loka.
Asmara tampak menautkan kedua alisnya, mendongakkan kepala, menatap wajah Loka yang kini tengah memeluknya dari belakang.
"Maksud mas Loka?"
Kembali Asmara bertanya pada sosok yang berdiri tepat di belakangnya.
"SENJA ASMARALOKA"
"Sebuah kata yang berasal dari Bahasa Sansekerta, sangat indah maknanya, mencerminkan keindahan sebuah cinta Yang memiliki kekuatan begitu Dahsyatnya, dan apakah Kau tahu apa maknanya ?"
Asmara Lantas menggelengkan kepalanya mendengar penuturan dari Loka. Karena sejujurnya Asmara memang tidak mengetahuinya.
"Senja Asmaraloka. Yang memiliki makna Kisah Cinta di Waktu Senja. Indah bukan Artinya ?"
Asmara lantas mengulas senyum di wajah cantiknya, tidak menyangka jika Loka memiliki pandangan tersendiri dari rangkaian Nama mereka.
__ADS_1
Anggukan kepala dari Asmara cukup menegaskan jika dia paham dengan apa yang di katakan Loka baru saja.
Loka dengan lugas dan jelas mengatakan setiap makna dari kata yang dia ucapkan.
Terdengar bijaksana dan Berwibawa. Loka yang saat ini memeluknya, tentu bukalah Loka yang sebelumnya ingin menjajah Asmara.
Asmara cukup senang mendengar Makna dari untaian kata nama mereka , Hingga terdengar indah di telinga. Dan terasa sejuk di hati keduanya.
"Jika memang begitu Aku akan sangat Bersyukur" Ucap Asmara dengan rasa haru nya.
Loka lantas mengeratkan pelukannya, menikmati semilir angin yang menembus melalui celah jendela di depannya.
***
Pagi Hari.
Seperti sebelumnya Asmara akan bersiap untuk menjalankan tugasnya Sebagai bidan di sebuah instansi Pemerintahan.
Puskesmas Kertagiri. Tempat dimana Asmara mengais Rezeki.
Tidak mudah menjadi pegawai pemerintah, meski jiwa dan raganya masih begitu terluka, namun Asmara tetap saja harus kembali bekerja seperti biasanya.
Karen Negara tidak akan mengaji, ketika Asmara hanya berdiam saja.
Sungguh sejujurnya Asmara sangat ingin menikmati kesedihan nya, dengan minum kopi ditambah gorengan buatan mbok Jum 'Misalnya' Batin Asmara, tentu hal itu akan sedikit melonggarkan hati dan pikiran Asmara.
Namun kenyataan, dia tetap harus kembali bekerja, karena Negara dengan Program BPJS nya tidak mengcover luka dan sakit hatinya.
Sudah cukup terang rupanya, dan mungkin saja Asmara akan telat ketika Sampai di kantornya. Namun tidak masalah baginya daripada dia harus makan gaji buta.
Karena sejak kemarin Mbok Jum dan Senja di rumah pak Basuki, maka pagi ini Asmara pun juga terpaksa berangkat bekerja dengan perutnya yang masih kosong.
Sejujurnya Sebelum Loka pulang, dia sempat menawarkan Asmara untuk di belikan makanan, namun Asmara menolak tawaran dari calon suaminya.
Ceklek.
Mentari pagi kembali menyapa Asmara dengan kesedihannya yang masih tersisa.
Tatapannya tajam menatap Loka yang terlihat segar dan mempesona dalam benak Asmara.
Sungguh semakin di pandang Loka juga semakin terlihat tampan. Dan hal itu tentu menjadi ujian hati bagi Asmara yang harus akan cinta.
"Mas Loka ngapain pagi-pagi kesini ?"
Dengan bodohnya Asmara bertanya.
"Menikah denganmu"
Begitu enteng Loka menjawab pertanyaan Asmara.
Ucapan Loka agaknya membuat Asmara tertawa seketika, sungguh hal-hal semacam ini pernah Asmara lakukan, namun saat itu sepertinya Asmara masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Meminta lawan jenisnya untuk menikah dengannya. Cukup membuat hati geli namun itulah masa kecil Asmara yang penuh canda tawa dengan guyonan seolah membina Rumah tangga dengan keluarga yang memiliki panggilan papa mama oleh anak Kelas Lima.
Tawa di bibir Asmara terhenti seketika, tatkala melihat sosok wanita yang tidak lagi muda keluar dari sebuah mobil mewah yang baru saja terparkir di depan rumahnya.
'Oma Ima'
Batin Asmara dengan mata jeli menatap wanita tua yang kini berjalan mendekatinya.
Sosok Wanita Tua yang merupakan nenek dari calon suaminya. Seketika meyakinkan Asmara jika Loka tidak hanya main-main saja.
Oma Ima yang berjalan dengan bantuan tongkat serta Bi Asih yang setia berada di belakangnya cukup membuat hati Asmara menghangat seketika.
Asmara pun menghambur dalam pelukan Oma Ima, bagaimana tidak , Asmara yang sudah tidak memiliki ornga tua, sementara Loka tidak di dampingi orang tuanya agaknya cukup membuat pernikahan ini layaknya candaan semata.
Namun kehadiran Oma Ima tentu membuat Loka dan Asmara bahagia.
__ADS_1
Tidak hanya Oma Ima, Pak Basuki, Senja, Bu Retno dan Mbok Jum. Orang orang yang paling dekat dalam kehidupan Asmara kininjuga tengah berdiri di hadapannya, lengkap dengan batik dan baju kebaya yang sudah melekat di tubuh mereka.
Asmara pun tidak melihat kesedihan di wajah putrinya Senja. Mungkinkah Semalam Loka telah menghapus jejak kesedihan di hati putrinya ' Begitu batin Asmara'.
Jiwa raga dan keseriusan telah Loka bawa kehadapan Asmara. Hingga membuat Asrama merasa tidak percaya.
Bak Cinderella dalam dunia nyata, Asmara seolah merasa dirinya tengah dihadapkan dengan pangeran tampan yang akan membawanya ke dermaga impian.
Tidak sampai di situ saja, Asmara harus kembali terkejut dengan beberapa iring-iringan mobil yang membawa orang-orang dengan berpakaian kebaya, bahkan entah sejak kapan datangnya Asmara sampai tidak menyadarinya.
"Mas ini apa maksudnya?"
Agaknya pikiran Asmara tidak dapat mencerna setiap kejadian yang barusaja Asmara lihat di rumahnya.
Sangat cepat dan terkesan tiba-tiba.
"Bukankah aku sudah mengatakan jika hari ini kita akan menikah ?"
Asmara pun membulatkan kedua bola matanya,menatap tidak percaya pada Loka yang sebelumnya dia anggap hanya main main saja.
"Mas Tapi Kan--"
"Aku sudah mengatakan sebelumnya jika aku sudah tidak bisa mundur lagi Asmara"
Tegas Loka membungkam mulut Asmara dengan ucapannya.
"Tapi mas, Asmara harus bekerja"
Masih sempat Asmara memikirkan pekerjaannya. Sementara kini Bertambah pula mobil-mobil yang terparkir di depan rumahnya.
Mulai dari mobil karyawan Loka, Mandor, dan Beberapa bawahan Loka di perusahaan yang dia pimpin, juga Mobil Catering dan Mobil Dekor , Serta tidak lupa Mobil milik Penata rias dan penata busana juga telah berjajar di sana, sementara Asmara masih mengenakan seragam dinasnya.
Melihat reaksi bingung dari Asmara cukup membuat Loka merasa semakin gemas pada calon istrinya.
Mungkin Asmara tidak menyangka jika Loka bisa melakukan apa saja, meski saat ini tidak ada dukungan dari keluarga namun bukan berarti Loka kehilangan segalanya.
Atau bisa dikatakan menjadi miskin tiba-tiba itu tidak berlaku dalam kehidupan seorang Loka Wiratmaja.
Jauh sebelum orang tua Loka mencabut dan meminta kembali harta yang telah di berikan pada Loka, Loka telah memiliki berbagai usaha dan memimpin perusahaanya sendiri di bidang konstruksi.
Jika hanya karena finansial, orang memandang Loka akan menjadi miskin begitu saja, setelah orang tuanya meminta semua Asetnya. Itu salah besar, karena justru dengan dia melepaskan tanggung jawab yang di berikan orang tuanya Loka justru merasa bebas.
"Mas . Ini serius kita menikah ?" Tanya Asmara
Loka hanya menjawab dengan anggukan kepala, tidak lupa dengan senyum terbaiknya.
"Mari Bu, Kami akan mendandani Bu Asmara"
Seorang wanita dengan koper besarnya mendekat pada Loka dan Asmara. Wanita yang di perintahkan loka untuk membuat calon istrinya itu cantik dalam waktu singkat nya.
Namun agaknya Asmar6masih tidak percaya, hingga untuk sesaat Asmara melongo dibuatnya.
"Bersiaplah, Sebentar lagi Penghulu, dan wali hakim akan datang"
Deg.
Mendengar kata penghulu agaknya membuat Asmara merinding seketika, pasalnya ini tentu nyata, bukan dongeng seperti pikiran Asmara sebelumnya.
Tanpa terasa lelehan bening menetes begitu saja di sudut mata indah Asmara.
"Mas "
Lirih Asmara diantara Isak tangisnya. Entah harus sedih atau bahagia namun Asmara merasa Loka begitu serius membawa bukti cinta nya.
"Simpan Air matamu sayang, Karena nanti malam aku akan membuatmu menangis lebih dari ini"
Ucap loka dengan kerlingan mata.
__ADS_1
Wanita dewasa mana yang tidak tahu arti dari ucapan seorang Loka Wiratmaja, Sungguh mendengar itu Asmara hanya dapat mengelengkan kepala.
***