SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 96. Tamu Malam


__ADS_3

...Carilah Pasangan Yang Mau Dengan Mu. Bukan Pasangan Yang Kamu Mau. Sebab Yang Kamu Mau, Terkadang Tidak Tahu Cara Membahagiakan Mu...


...🍁...


Sementara Loka, dan kedua orang tuanya tengah sibuk menyusun rencana untuk menemukan Asmara. Ditempat lain tampaknya seorang wanita dengan perut besarnya tengah tergopoh-gopoh melewati jalan setapak menuju sebuah desa.


Licin jalan disana membuat dia sangat berhati-hati memijakkan kaki.


Tidak sendiri. Dengan di temani sang suami. Wanita tersebut berjalan dengan langkah Lelah nya.


Sebuah desa yang jaraknya lumayan jauh dari Kertagiri berada.


'Rani Prameswari'


Sosok wanita yang sudah hampir 1 setengah bulan lamanya selalu melewati jalan sempit di bawah kakinya.


Bukan keinginannya, hanya saja sebuah tugas yang mengharuskan dirinya untuk selalu ke sana.


Setelah cukup lama berjalan Rani di temani sang suami, akhirnya tiba di sebuah desa, cukup jauh letaknya dari tempat tinggal Rani sebelumnya.


Desa yang hanya berpenghuni beberapa orang saja, tidak banyak, jika di hitung dengan angka mungkin hanya ada sekitar 35 kepala keluarga saja. Termasuk salah satunya 'Asmara'


Ya. Tidak salah lagi.


'Asmara'


Asmara telah berada di sana sudah sejak pelariannya, bukan menghindari Loka dan yang lainya, lebih tepatnya Asmara berusaha menyembuhkan luka di jiwa dan raganya.


Sejak pertemuan pertama Asmara dengan Bu Sukma. Asmara sadar jika dia belum siap untuk berinteraksi terutama dengan keluarga suaminya.


Asmara masih membutuhkan waktu untuk sendiri, tidak masalah jika harus mengasingkan diri. Bagi Asmara selama kesehatan jiwa dan raga nya baik-baik saja, jauh dari Senja dan Loka mungkin saja tidak masalah baginya.


Karena yang terpenting bagi Asmara saat ini adalah bagaiman dia mengobati hati dan diri dari luka yang menganga dalam dada.


Karana Asmara harus sembuh sepenuhnya, selain dirinya, masih ada Senja dan janin dalam kandungannya yang tentu sangat membutuhkannya.


"Asmaaaa !!!"


Teriak Rani pada sahabatnya, sungguh tubuhnya terasa lelah membawa beban seberat itu, tidak hanya tubuh Rani yang membesar namun usia kandungan yang juga menginjak hari persalinannya, membuat Rani merasa mulai tidak kuat untuk melakukan tugasnya.


"Kalian. Kok udah kesini lagi" ujar Asmara


Asmara tampak mengulas senyum di wajahnya, menyadari dua orang sahabatnya telah datang membesuknya.


"Capek tau Ma. Kamu juga kenapa kabur nggak nyari tempat di kota aja, kenapa musti di sini sih"


Kesal Rani dengan mengibas-ngibaskan tangannya, sembari berbincang Rani juga menyeka keringat yang membasahi kening dan lehernya.

__ADS_1


Mendengar ucapan Rani, Asmara hanya tersenyum saja, mungkin bagi Rani memang tempat ini sangat terpencil, terlebih banyak penduduknya yang sudah hijrah ke desa tetangga yang tentu lebih ramai di sana.


Hanya Lansia dan manula saja yang mendominasi tempat dimana Asmara berada.


"Kamu juga Ran ngapain tiap hari kesini, kan bisa seminggu sekali" ujar Asmara


Melihat Asmara dan Rani berbincang, Bagas suami Rani memilih untuk menyibukkan diri, menata perlengkapan dan bahan yang sebelum nya dia bawa dari bawah kedalam rak-rak yang telah Asmara sediakan.


Suasana tampak tenang, dengan Rani yang mencoba menguasai kembali Nafas nya. Cukup melelahkan perjalanan menanjak hingga ke tempat Asmara berada.


Hening.


"Ma. kamu nggak pengen apa pulang ?" Rani mencoba menggali isi hati sahabatnya.


Asmara kembali terdiam dengan pertanyaan Rani. Mungkin saja dia juga ingin kembali, tapi waktunya mungkin bukan saat ini.


"Sampai kapan kamu menghindar Ma. Kalau tiba-tiba Loka nemuin kamu, Apa kamu juga masih akan sembunyi"


Asmara menghembuskan nafas kasar nya. Mengusap lembut perut yang kini mulai menampakkan benjolan kecil disana. Usia kandungan Asmara mungkin sudah 2 bulan dan Asmara sudah bisa meraba nya.


"Kasian dia ma, pasti juga kangen bapak nya" ujar Rani menunjuk pada perut Asmara.


Sejujurnya benar apa.yang di katakan Rani, namun Asmara harus berfikir berulang kali sebelum benar-benar dia ingin kembali.


Menatap sekilas pada sahabatnya, Asmara mulai berfikir mungkinkah dia telah egois dengan hanya memikirkan dirinya sendiri ? . 'Batin Asmara'


Lirih Rani dengan menundukkan wajahnya, jujur bukan dia menolak utusan Bos nya, hanya saja Rani mempertimbangkan kondisi bayi dalam kandungannya.


"Aku tahu Ran. Maafkan Aku"


"Kamu tidak perlu meminta maaf Ma. Lagipula aku kan juga tidak cuma-cuma sampai kesini" seloroh Rani mencoba mencairkan suasana.


Rani sadar karena ucapan sebelumnya, mungkin Asmara sedikit memikirkannya.


Keduanya lantas kembali bercerita, ada suka, ada duka ada canda dan tentu ada tawa diantara keduanya.


Sejenak Rani berfikir dalam lamunannya, jujur jika tidak sedang hamil mungkin saja Rani akan menerima job ini bahkan sampai kapanpun, namun itu rasanya tidak mungkin sementara sebentar lagi Rani harus melahirkan.


"Aku harap kamu mempertimbangkan kembali keputusanmu" ujar Rani


Asmara hanya mengulas senyum di wajahnya. Sebagai tanggapan atas saran dari sahabatnya.


"Oma akan memikirkan semuanya" ujar Asmara pada akhirnya.


'Oma' mungkin semua orang akan bertanya-tanya mengapa Oma ?.


Benar saja, dalang dibalik menghilangnya Asmara memang hanya Oma, selain Oma tentu juga di bantu pak Basuki yang ikut terlibat didalamnya.

__ADS_1


Nyatanya tidak hanya Rani dan sang suami, Oma pun kerap mengunjungi Asmara, bersama pak Basuki dan Senja tentunya.


Benar yang menjadi dugaan Loka, jika Oma terlibat dalam menghilangnya Asmara, karena mungkin saja memang benar omah ingin menyadarkan anak dan menantunya tentang semua kesalahan di masa lalu nya.


Sementara Rani sendiri, tentu di gaji untuk melakukan tugas ini, tidak main-main 3 kali gaji bulan dia sebagai pegawai pemerintahan. Siapa yang berani menolak jika Oma sudah bertindak.


Cukup lama keduanya saling berbincang, hingga Rani mulai merasakan perutnya mendadak kram karena terlalu lama berjalan sebelumnya.


"Ma. Aku sama Bagas pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa kamu hubungin aja aku"


Asmara tersenyum dengan binar bahagia di wajahnya. Sudah di bantu saja batin Asmara sudah sangat senang rasanya.


Sejujurnya Asmara tidak pernah mau di jenguk setiap hari, hanya saja Rani selalu datang setiap hari.


"Kamu hati-hati ya sama Bagas" Ujar Asmara.


Meski akan sepi setelah kepergian Rani, namun tidak masalah, karena Asmara telah terbiasa.


Semenjak dia tinggal di lingkungan tersebut, Asmara juga sudah tidak lagi merasakan sakit di kepala nya.


Kegiatan Asmara masih sama dengan saat di rumah lama nya, dimana dia juga tetap membuka praktik nya, meski tidak ada plang yang terpasang.


Membantu sesama mungkin sudah menjadi kebiasaan Asmara, sehingga meski sendiri, dia tidak bisa jika harus berdiam diri.


Malam semakin larut, pasien biasa akan datang hingga jam 7 saja, dan setelahnya Asmara sudah tentu akan menutup pintu nya.


Tidak ada orang yang akan berkunjung di jam-jam malam kecuali sangat mendesak.


Asmara merebahkan tubuhnya diatas kasur berukurang 150x200, cukup lebar jika hanya di gunakan untuk seorang saja.


Malam ini juga terasa lebih dingin dari biasanya, setelah menyelesaikan 4 raka'at ibadah wajibnya, Asmara bergegas menuju tempat tidurnya.


Nyaman dan sangat tenang rasanya. Kehidupan seperti ini sudah satu bulan tanpa terasa Asmara rasakan.


Entah hanya mimpi atau memang nyata adanya, Samar samar telinga Asmara menangkap ketukan di pintu rumahnya.


Tok tok tok


Asmara mulai menajamkan pendengarannya, untuk sesaat ada rasa takut menyelimuti hatinya.


Jam di dinding menunjukan pukul 21.45, hampir tengah malam rupanya. Dan ini juga tidak seperti biasa nya, Asmara mendapatkan tamu hingga semalam ini.


Desa yang di dominasi penduduk lansia dan manula, tentu tidak akan berkunjung hingga selarut ini 'Batin Asmara'.


Semakin di diamkan , suara ketukan di luar sana semakin terasa memekakkan telinga.


***

__ADS_1


__ADS_2