
...Adakah benar-benar cinta sejati ?. Atau Sebenarnya hanya dua orang yang saling melengkapi ?...
...🍁...
Satu Minggu setelah Asmara siuman, semua alat-alat yang terpasang dalam tubuhnya memang telah di lepas semua, hanya penyangga leher yang masih tampak melekat di sana.
Tidak masalah, hanya butuh waktu kurang dari dua bulan semua akan normal kembali. 'Batin Asmara'
Kabar tentang Asmara yang telah siuman juga telah sampai pada telinga pak Basuki dan kerabat lainya.
Semua tampak bahagia dengan kembalinya Asmara, sungguh mukjizat itu nyata adanya, dan kekuatan doa lah yang bisa mewujudkan nya.
Senja sudah datang sejak 3 hari yang lalu, karena saat ini Asmara sudah di pindahkan ke ruang perawatan Biasa 'Paviliun' Menjadi ruang Asmara menyambut tamu-tamunya yang datang untuk sekedar menjenguk dan membesuknya.
Sudah sejak 3 hari pula kakek dan neneknya berada di ibukota untuk turut berjaga bersama Senja.
Pak Basuki dan Bu Retno setia berjaga dan menemani Senja menemui ibunya, namun kali ini agaknya kesehatan Bu Retno kurang baik, akibat kelelahan dan kurang tidur, sehingga keduanya memilih untuk istirahat di hotel yang telah di siapkan oleh Loka sejak kedatangan mereka, sementara Senja masih tetap bersama ibunya.
Mengapa tidak di rumah orang tua Loka ?, Tentu alasan Loka adalah demi kenyamanan pak Basuki dan yang lainya, meski Bu Sukma sempat meminta hal itu pada Loka namun agaknya Loka tidak begitu setuju dengan usulan mama nya.
Belum lagi tentu pak Basuki dan yang lainya juga tidak akan setuju jika tinggal bersama papa dan mama nya.
Kali ini pemandangan berbeda Loka tangkap dari sosok Senja putri sambungnya.
Senja mungkin sudah tidak seperti dulu, selalu manja dan butuh perhatian dari Loka, Senja yang sekarang tampaknya lebih mandiri dan hanya pada Asmara saja dia merasa aman bersama.
Sejujurnya perubahan itu justru membuat Loka sedih dan sedikit tidak nyaman, meski hanya ayah sambung, namun jujur Loka sangat menyayangi Senja, namun saat ini Senja seolah masih marah, dan menjaga jarak dengannya.
Ceklek.
Pintu ruangan seketika terbuka tanpa ada ketukan atau salam sebelum nya.
Hal itu pula yang seketika mengarahkan pandangan 3 orang di dalamnya untuk kompak melihat kearah sana.
Setelah pintu benar-benar terbuka, dari balik sana terlihat sosok Bu Sukma tengah berdiri di ambang pintu.
Langkahnya terhenti ketika bertatap dengan mata sayu Asmara. Begitu juga Asmara yang seketika menunjukan respon takut nya pada sosok ibu kandung suaminya.
Asmara tampak erat memeluk Senja, dan pemandangan itu sempat di tangkap oleh Loka.
Secepat itu pula, Loka menahan langkah mama nya yang akan semakin masuk menemui Asmara.
"Loka. Mama mau ketemu sama Asma"
Bukan mengindahkan ucapan ibunya, justru Loka semakin membawa Bu Sukma untuk keluar dari ruangan dimana Asmara berada.
"Ma. Jangan salah sangka"
"Mama lihat kan tadi, Asmara masih takut lihat mama"
"Aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk kembali terjadi"
Loka tegas mengatakan hal itu pada Bu Sukma, tentu dia tidak akan mengambil resiko dengan membiarkan keduanya bertemu, sementara kondisi Asmara mungkin saja belum siap.
Loka masih harus mengkonsultasikan hal ini pada dokter Indra.
__ADS_1
Meski berat hati, namun pada akhirnya Bu Sukma menyadari jika semua terjadi juga karena dia yang telah berulah membuat Asmara terluka.
Sejujurnya Bu Sukma sangat ingin menemui wanita yang sah berstatus menantu nya, namun keadaan memaksa dia untuk lebih bersabar dengan semuanya.
Kabar mengenai kehamilan Asmara juga telah sampai pada telinga Bu Sukma, mungkin itu salah satunya yang membuat Bu Sukma semakin menyadari kesalahannya.
Beberapa saat Loka berbincang bersama mama nya, memberi penjelasan dan pengertian, agar tidak terjadi salah paham. Sampai pada Loka mendengar teriakan Senja.
"Ibuk... !"
'Kejang'
Benar saja, belum juga lama Loka meninggalkan Asmara , jelas dalam pandangan mata Loka, dimana Asmara kejang dan bergerak tidak beraturan. Disampingnya masih ada senja yang menangis melihat kondisi ibunya.
Ini mungkin pertama kali bagi Senja, begitu juga bagi Loka. Sementara Bu Sukma yang juga masih berada di sana cukup panik melihat kondisi Asmara.
Bergegas Loka segera menekan tombol emergency di samping tempat tidur Asmara, hingga tidak butuh waktu lama Dokter jaga dan beberapa perawatnya datang dan segera memberikan penanganan.
Loka segera membawa Senja keluar dari ruangan, sementara Bu Sukma menyusul putranya yang juga keluar dari ruangan.
Hal ini cukup mengagetkan, pasalnya ini pertama kali setelah Asmara sadar dari koma nya. 'Mungkinkah karena ketakutan Asmara pada Bu Sukma' entah lah atau mungkin saja.
Loka hanya berharap semua akan baik-baik saja, dan Asmara bisa kembali seperti sebelumnya.
"Ibuk..."
Isak tangis Senja melihat ibunya membuat Loka semakin merasa bersalah pada gadis kecil di gendongan nya.
"Ibu akan baik-baik saja sayang"
Tidak berselang lama dokter masuk, kini mereka semua keluar dan mendorong brankar Asmara entah kemana, karena tidak ada satu orang pun yang memberi tahu Loka, pada akhirnya Loka pun ikut berlari untuk menyusulnya.
'Ruang Tindakan' Batin Loka.
Setibanya di ruang tindakan disana sudah ada Dokter Indra yang ternyata sebelumnya telah mendapatkan informasi dari anak buahnya jika terjadi masalah dengan Asmara.
"Bagaimana kondisi Istri saya dok ?" panik Loka
"Kami akan informasikan setelah dilakukan pemeriksaan"
Bergegas dokter Indra masuk dan memeriksa kondisi Asmara, entah apa yang di lakukan mereka di dalam sana, yang jelas Loka tidak dapat melihatnya karena ruang tersebut tertutup dinding rapat dan hanya tenaga kesehatan saja yang di izinkan untuk masuk.
Harap-harap cemas Loka diluar bersama Senja, doa tidak pernah putus dari mereka yang berharap kesembuhan atas Asmara.
Loka yang semakin cemas dengan kondisi Asmara langsung saja menghubungi pak Basuki, dia merasa jika pak Basuki berhak tahu kondisi sesungguhnya dari Asmara.
Sudah 45 menit sejak terakhir kali dokter dan team masuk ke ruangan tindakan, dan sampai saat ini belum ada satupun diantara mereka yang terlihat bayang hidungnya.
Pak Basuki juga telah berada di rumah sakit bersama Loka, senja, dan Bu Sukma.
"Kek... Ibu...!" Senja kembali menangis di pelukan pak Basuki.
Tentu senja begitu terkejut melihat Asmara yang tiba-tiba kejang, sementara sebelumnya hal itu tidak pernah terjadi, dan tentu saja kejadian itu membuat senja takut.
"Sudah. Sudah. Kita doakan ibu saja ya"
__ADS_1
Lembut pak Basuki menenangkan cucuknya. Ucapan lembut di punggung dan puncak kepala tidak lupa dia berikan pada gadis kecil dalam gendongannya.
Beruntung setelah cukup lama, dokter Indra keluar dengan wajah yang tidak bisa di artikan.
"Bagaimana dok Istri saya ?"
Helaan nafas menjadi pemandangan pertama yang Loka lihat dari sosok dokter di hadapannya.
"Untuk sementara kondisi Bu Asmara baik-baik saja, dan kejang yang dialami juga sudah tertangani. Hal ini seharusnya tidak terjadi, kecuali ada sesuatu yang mengganggu pikirannya"
Dokter Indra terlihat sedikit bingung juga dengan penemuan yang baru dia dapatkan dari Asmara, sangat kecil kemungkinan terjadi komplikasi pasca operasi ketika pasien telah sadar.
"Sebaiknya jangan buat Bu Asmara stress selama masa pemulihan, saya khawatir jika hal serupa kembali terjadi. Maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi kerusakan pada syaraf otaknya"
"Kerusakan syaraf otak sendiri dapat mengakibatkan banyak berdampak lebih buruk yang mungkin bisa di alami oleh Bu Asmara"
Deg.
Untuk sesaat Loka terdiam dengan semua penjelasan dari dokter Indra, mungkinkah semua itu karena mama nya. 'Mungkin saja' batin Loka bergejolak memikirkannya.
"Setelah kondisi Bu Asmara membaik, kami akan kembali pindahkan ke kamar"
Kalimat terakhir yang di sampaikan dokter Indra sebelum dia meninggalkan Loka dan yang lainya.
Dalam detik ini, tatapan tajam pak Basuki melayang pada sosok menantunya.
Terlihat kilatan api menyambar dari bola mata tajam bapak mertuanya, entah Tamparan atau Bogeman yang akan dia dapatkan, Loka tampak sudah pasrah saja.
"Setelah Asmara sadar, dan pulih kembali, bapak harap kamu sadar diri !!"
"Jangan pernah lagi temui Asmara ataupun Senja!!"
"Bapak akan mengurus Perpisahan kalian !!"
Bagai petir di siang bolong, apa yang baru saja dia dengan dari sosok di hadapannya begitu membuatnya tidak percaya.
Mungkin lebih baik Loka di hajar atau di tampar, daripada dia harus meninggalkan Asmara.
"Pak . Ini juga diluar kendali saya !"
Loka kekeh dengan pendiriannya untuk tetap mempertahankan Asmara.
"Bapak tahu !!. Tapi tentang orang tua mu, seharusnya kau bisa mengendalikannya !!"
Tegas dan jelas sindiran pedas dari sosok paruh baya di hadapan Loka.
Melihat bagaimana kemarahan dari besannya, jujur Bu Sukma juga merasa sangat sedih dan terluka, nyatanya dampak dari semua perbuatanya samai hampir membuat Asmara celaka untuk yang kesekian kalinya.
Bu Sukma hanya terus diam dengan penyesalannya, melihat pertengkaran antara putranya dengan bapak mertuanya. Sungguh pemandangan yang sangat tidak patut di contoh, namun apalah daya jika semua memang seperti itu adanya.
Sementara Loka sendiri juga hanya terdiam, mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan pak Basuki, sejujur ya mungkin saja iya, pernah tuanya menjadi sebab dari kambuhnya Asmara.
***
***
__ADS_1