SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 53. Tidak Disangka.


__ADS_3

...Karena Takdir tidak selalu sesuai dengan Rencana. Itulah Mengapa di setiap doa Selalu ada Kata Semoga....


...🍁...


Sore Hari.


Tepat Satu Minggu setelah terakhir kali kedatangan Bima di kediaman Asmara.


Cukup menghebohkan bagi Keluarga Asmara, tidak terkecuali pak Basuki. Yang belakangan baru Tahu jika Bima baru saja datang untuk menemui Asmara.


Begitu juga tepat dengan 1 Minggu Kepergian Loka untuk agenda kerja nya yang tidak bisa dia wakilkan atau dia tunda.


Seperti biasa meski weekend seperti ini Asmara selalu berjaga di tempat praktiknya, karena saat sore banyak pasien berdatangan, sekedar untuk periksa kandungan, untuk Suntik kontrasepsi dan banyak keluhan lain khas orang desa.


"Buk"


Asmara dikagetkan dengan kedatangan mbok Jum yang menghampiri hingga ke tempat praktiknya.


"Iya Mbok ?"


"Ada tamu"


Asmara tampak menajamkan penglihatannya.


"Siapa mbok ?"


Dengan jelas Asmara dapat melihat bagaimana wajah ragu dari asisten nya.


"Pak Bima Buk!"


Deg.


Entah mengapa mendengar nama mantan suaminya di sebut, Asmara seolah kembali merasakan sesak di dada.


'Mau apa lagi mas Bima datang' batin Asmara


Sudah jengah rasanya untuk menghadapi mantan suami yang sudah coba Asmara kubur dalam sanubari.


"Baik mbok, Sebentar lagi Asma akan kesana"


Dengan anggukan kepala sebagai jawaban, mbok Jum bergegas meninggalkan Asmara.


Asmara sangat tidak ingin bertemu dengan mantan suaminya, terlebih saat ini tidak ada Loka yang menemani dirinya. Bisa jadi perdebatan yang tidak terelakkan akan kembali Bima layangkan.


Bukan karena dendam atau kecewa, jujur Asmara sudah mulai melupakan perlakuan Bima pada dirinya, terlebih saat ini Asmara telah memiliki Loka yang jauh lebih baik dari mantan suaminya.


Dengan menghela nafas dalam, Asmara beranjak dari duduknya, mengayunkan langkah kakinya menemui mantan suami.


"Mas Bima ?"


Tatapan Bima tertuju pada Asmara.


"Asma"


Bima tampak mengulas senyum ramah di wajah tampannya , namun entah mengapa hal itu justru semakin membuat Asmara tidak suka.


Seperti tamu lainnya, Asmara hanya akan menyambut para tamu tamunya sampai di teras depan rumahnya saja.


Karena sejatinya tamu memang hanya sampai di situ, tidak masuk bahkan tinggal di rumahnya. Seperti hati Asmara saat ini yang jelas telah tertutup untuk seorang Bima.


Tidak menunggu lama mbok Jum keluar dengan membawa dua cangkir teh hangat lengkap dengan makanan kecil yang ada di dalam toples.


"Mbok, Minta tolong jemput Senja ya"


Dengan anggukan kepala mbok Jum menyetujui titah majikannya.


"Mas Bima mau ketemu Senja kan, tunggu sebentar lagi mbok Jum akan menjemputnya di rumah Bapak. "


Mendengar ucapan Asmara, Bima hanya tersenyum saja.


Asmara merasa seolah Bima yang kini di hadapannya bukan Bima yang Asmara kenal sejak hari pernikahan mereka, hingga keduanya sepakat mengakhiri rumah tangganya.


Agak nya lain sikap Bima saat ini pada Asmara, namun bukan suka, justru Asmara merasa risih jadinya.


"Selain Senja, aku juga ingin bertemu denganmu Asma"


Lirih Bima dengan mata tertuju pada Asmara.


Mendengar ucapan mantan suaminya Asmara lantas menajamkan pendengarannya, kalau-kalau dia salah dalam mendengar ucapan Bima.


"Ada perlu apa ya mas Bima sama Asma?"

__ADS_1


Terdengar ketus nada bicara Asmara pada mantan suaminya.


Sejujurnya Asmara juga tidak ingin melakukanya, namun entah mengapa dengan Bima kata-kata ketus keluar begitu saja.


"Aku.. Aku dan Diana telah berpisah"


Respon biasa terlihat jelas di wajah Asmara, tidak ada rasa kaget ataupun terkejut mendengar penuturan mantan suaminya.


"Oh ya ?"


Terlihat Bima menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan singkat Asmara


Bima menceritakan jika Diana baru saja melahirkan anaknya, tepat di hari dimana Asmara bertemu dengan Bima saat di Jakarta.


Namun nahas berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium , Anak yang baru saja dilahirkan oleh Diana mengalami kelainan darah. Dan dokter mengatakan pada Bima jika hanya orang tua biologisnya saja yang bisa membantu kesembuhan Bayi tersebut.


Sekring telah di lakukan pada Diana namun hasilnya tidak cocok karena struktur darah keduanya berbeda.


Dokter juga menyampaikan, jika Kemungkinan besar struktur darah dan kromosom anak akan sama dengan ayahnya, Oleh karena itu kemudian dilakukan Skrining pada Bima.


Namun alangkah terkejutnya Bima ketika mendapati hasil pemeriksaan dirinya dan Bayi yang baru saja dilahirkan oleh Diana menyatakan jika struktur darah keduanya juga berbeda.


Mulai dari sana Bima menaruh kecurigaan jika bayi yang selama ini di kandung Diana bukanlah merupakan anak biologisnya.


Dengan kata lain tidak hanya dengan Bima saja Diana menghabiskan malam nya. Namun kenyataan mengatakan jika ada laki-laki lain yang telah memuaskan hasrat Diana.


Dengan mantap Bima melakukan tes DNA , Dan benar saja anak yang di melahirkan oleh Diana bukan merupakan anak kandungnya.


"Dan karena itu mas Bima tega meninggalkan mba Diana ?"


Asmara sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan mantan suaminya.


Semakin lama semakin Asmara dapat melihat dengan jelas bagaimana Bima dan sifat-sifatnya.


"Bagaimana aku bisa melanjutkan pernikahan dengan seorang penghianat Asma?, Terlebih anak itu bukan anakku"


Mendengar ucapan mantan suaminya, Sungguh Asmara hanya menggelengkan kepala, ingin rasanya dia menertawakan kekonyolan mantan suaminya.


"Lalu apa kabar dengan aku dan Senja mas ?, kamu juga tega meninggalkan kami, meski kamu tahu aku masih sah menjadi istrimu dan Senja juga merupakan anak biologis mu !!!"


Bima hanya diam saja mendengar penuturan dari Asmara.


"Tunggu !. Sebenarnya mas Bima ini waras nggak sih ??"


Namun sungguh aneh, mendengar kalimat kasar Asmara, bukan membalas justru Bima hanya diam saja, seolah dia tengah mengakui semua kesalahan yang telah dia lakukan pada Asmara dan Senja putrinya.


"Maafkan aku Asma" Lirih Bima dengan wajah lesu nya.


"CK. Maaf ?" ucap Asmara


"Tidak perlu minta maaf mas, lagi pula Asma sudah memaafkan mas Bima sebelum mas Bima memintanya"


Bima hanya mendengar ucapan Asmara yang memang semua benar adanya.


"Satu hal yang ingin Asma sampaikan pada Mas Bima"


"Mungkin saja semua kejadian ini Bukan merupakan teguran. Tapi merupakan Balasan dari yang maha kuasa Atas semua perbuatan Mas Bima pada Asmara dan Senja"


Sungguh sampai detik ini ingin rasanya Asmara segera mengusir Bima dari rumahnya.


Perbincangan yang tidak pernah ada faedahnya selalu saja Bima bawa ketika dia berkunjung untuk menemui putrinya. Sungguh tidak masuk akal bagi Asmara.


"Untuk urusan mas Bima dengan Mba Diana itu bukan urusan Asmara, Jadi Asma mohon jangan pernah libatkan Senja didalamnya !!"


Asmara begitu jengah bahkan untuk menanggapi ocehan mantan suami yang tidak punya hati ini.


Hening.


Helaan nafas menjadi tanda bagaimana Asmara sudah tidak ingin berhadapan dengan Bima.


"Asma"


Mendengar panggilan Bima yang menyebut namanya, Asmara memilih untuk diam saja.


"Maaf " Lirih Bima


"Aku menyesal. Bisakah kita kembali seperti dulu lagi"


Deg.


Ucapan yang tidak pernah Asmara duga akan keluar dari mulut Bima yang dulu pernah sangat dia cinta, namun terasa hambar bagi Asmara setelah semua perbuatan Bima pada dirinya.

__ADS_1


Sungguh Asmara sangat ingin tertawa, jika tidak melihat bagaimana wajah sedih Bima.


"Hentikan omong kosong ini mas, Dan Asmara rasa sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan saat ini, Mas Bima boleh pergi"


Berdiri dengan tangan menunjuk pagar rumah, Tegas Asmara mengusir Bima untuk meninggalkan rumahnya.


"Aku mohon Asma, Kita bisa memulainya Lagi, Aku janji akan memperbaiki diriku"


Sayang seribu sayang ucapan yang dulu pernah di harapkan Asmara akan Bima ucapkan namun terasa biasa saja setelah sekian lama dan Bima baru sadar untuk mengatakannya.


"Pernikahan mu dan Loka hanya secara agama, Tinggalkan dia, dan kita bisa bersama-sama kembali membina rumah tangga"


Sungguh memalukan seorang Bima , Yang Asmara kenal sangat kaku dengan pendiriannya, namun kini terdengar mengiba dan memohon akan status cinta pada Asmara


"Maaf !!. Tapi asma Tidak Bisa !!"


Kembali Asmara menunjuk pagar rumahnya, berharap Bima akan segera sadar dan meninggalkan dirinya.


Namun tidak di sangka justru Bima justru memeluk Asmara dan mengeratkan tubuh keduanya, seolah Bima tidak ingin kehilangan Asmara untuk yang kedua kalinya.


"Lepaskan !!"


Sekuat tenaga Asmara menghempaskan tangan Bima dari tubuhnya.


Namun nahas. Entah sudah sejak berapa lama Amara melihat pak Adi dan Bu Sukma berdiri di depan pagar rumahnya.


'Papa Mama' Batin Asmara


Srak.


Kembali Asmara melepaskan eratnya tangan Bima yang memeluk dirinya, hingga tangan itu benar-benar terlepas dari tubuhnya


Bola mata Asmara seakan ingin lepas dari tempatnya, melihat bagaimana tatapan orang tua Loka yang kini telah menjadi mertuanya , meski restu belum Asmara dapatkan, namun itulah kenyataan jika keduanya kini terikat karena Loka menjadi suami dari Asmara.


Jeli mata Asmara melihat kobaran api di wajah Bu Sukma.


Plakkk !!!


Sebuah tamparan keras tepat mengenai pipi kanan Asmara, sudah tentu sangat perih rasanya


Tidak puas hanya disana


Plakk !!!


Sebuah tamparan keras kembali melayang di pipi kiri Asmara.


Menyadari betapa sakit dan perihnya tangan Bu Sukma, seketika Asmara menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Perempuan *** *** !!"


"Murahan !!"


"Dasar Tidak tahu malu !!"


Kalimat rasis yang sudah Asmara duga akan keluar dari mulut ibu mertuanya.


"Ma. Ini tidak seperti dugaan Mama"


"Cih. Jangan kau memanggilku dengan sebutan itu, karena aku tidak pernah menganggap mu sebagai menantu ku"


Sudah jatuh tertimpa tangga itulah peribahasa yang tepat menggambarkan diri Asmara.


Entah dari mana datangnya, namun mendengar hal itu seketika linangan air mata mengucur deras dari sudut mata indah Asmara.


"Sekali sampah memang hanyalah sampah !!"


"Dan sekali murahan akan tetap murahan !!"


"Kebetulan sekali ya !!. Saya datang kesini dan melihat adegan kalian sedang bermesraan"


"Ingat Asma saya tidak akan pernah membiarkan putra saya tergoda dengan wanita seperti kamu !!"


"Mungkin Loka sudah dibutakan oleh cinta, tapi ingat Mata saja Tidak akan buta melihat ini"


Ketus ucapan Bu Sukma menusuk hingga ke relung jiwa Asmara.


Entah mengapa saat ini Asmara hanya merasakan sesak di dada, hingga setiap ucapan kasar Bu Sukma tidak dapat Asmara berikan balasannya.


"Sudah ma, Sebaiknya kita pulang saja!" Pak Adi menimpali.


Bagaimana Bima ?. Nyatanya tidak hanya Asmara namun agaknya Bima juga shock melihat bagaimana tingkah mertua baru Asmara yang tentu diluar dugaannya.

__ADS_1


***


__ADS_2