SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 89. Kabar


__ADS_3

...Bersama gemitang, bersama rembulan, bersama jumantara gelita, cukup dengan memandang semesta kamu merasakan kedamaian...


...-----...


...Bersama langit bintang, bersama bulan, bersama langit malam. Cukup dengan alam, kamu merasakan kedamaian...


...🍁...


Senandung cinta Asmara.


Cerita hidup seharusnya masih akan tetap sama, meski lakon utama tengah berjuang dalam pesakitan nya.


Senja dan fajar silih berganti menyapa setiap jiwa yang bernyawa, tentu setiap hari akan ada cerita , menjadi berbeda dan tidak sama seperti sebelumnya.


Namun Asmara?. Asmara seolah tetap sama dan tidak sedikitpun menunjukan perubahannya. Masih tetap setia dengan diam dalam Tidur panjangnya.


Sudah 14 hari lamanya Asmara enggan membuka mata nya, seolah dia begitu menikmati masa-masa hibernasi dimana kepompong akan berubah menjadi kupu-kupu, namun apakah Asmara juga akan seperti itu ?. Entahlah.


Layaknya Asmara yang masih sama seperti sebelumnya, Loka pun juga masih setia seperti sebelumnya, tetap menunggu dan menemani Asmara, tidak pernah meninggalkan dia, bahkan meski sebentar saja.


Asmara bukan pula putri tidur yang akan bangun ketika ciuman pangeran mendarat di bibirnya. Dia hanya wanita biasa yang tengah berjuang melewati masa-masa sulitnya , namun akankah dia mampu untuk melewatinya ?.


Sesal pasti akan selalu ada dari sosok suami yang pernah begitu menyakiti 'Loka Wiratmaja' mungkin kini dia tengah begitu merasa kecewa pada.dirinyansendiri.


Loka merasa begitu berdosa. Mata nalarnya tidak pernah lepas untuk menatap jeli pada jendela kaca dimana Asmara berada. Disana wanita yang begitu dia cinta masih bertarung nyawa demi keselamatannya.


Semua yang terjadi pada wanita malang disana tentu karena dia masuk dalam keluarga Wiratmaja, dan tentu peran Loka besar di dalam nya.


Entah sampai kapan semua ini akan bertahan, mungkinkah seperti pangeran arab yang setia dalam tidurnya bahkan hingga 17 tahun lamanya, Atau mungkin Asmara juga akan merasakan hal yang sama, sampai bertahun lama nya.


Lelah bergelut dengan pikirannya, Loka memilih untuk selalu berdoa, dan berfikir positif dari semua keadaan yang masih sama.


Tidak lupa setiap harinya Loka selalu mengabarkan kondisi Asmara pada pak Basuki dan Senja yang berada jauh disana.


Berharap doa mereka akan menjadi perantara kesembuhan Asmara. Terutama Senja, dukungan darinya untuk Asmara tentu akan sangat berguna bagi ibunya.


Setiap hari pula Loka melakukan perannya sebagai suami siaga. Mengusap dan menyeka keringat dan debu yang mungkin menempel dari tubuh Asmara.


Loka tidak mengizinkan perawat melakukanya. Pekerjaan itu dan apa pun lainya akan Loka lakukan sendiri, memastikan kenyamanan dan keamanan bagi istrinya, semua akan dia lakukan selain memeriksa kondisi kesehatan Asmara.


Selesai dengan tugasnya, tidak lupa Loka mengajak Asmara berbincang meski hanya sebentar saja, namun itu cukup membuat Loka bersemangat menjalani harinya.


Berkomunikasi dengan Asmara meski hanya satu arah saja, itu tidak masalah bagi Loka, dan dia tidak akan pernah lelah untuk melakukanya.


Usapan lembut di perut Asmara yang masih tampak datar juga tidak lupa Loka lakukan, selain untuk berinteraksi dengan anak di dalam kandungan Asmara juga untuk menguatkan Asmara jika di dalam sana ada harapan besar yang harus dia jaga.


Menyedihkan sejujurnya, dimana dia harus berjuang untuk kesembuhannya, Asmara juga masih harus menjaga dan mempertahankan buah cintanya bersama Loka.


Selain Loka yang selalu berjaga, ada juga Luna yang terkadang hadir untuk menyapa, sesekali juga Bu Sukma yang turut memastikan kondisi Asmara baik-baik saja.


Selain mereka ada juga Bima yang terkadang datang untuk menjenguk Asmara, meski tidak sekalipun ada interaksi antara Bima dan Loka, namun kehadiran Bima cukup menjelaskan jika dia masih sangat mengkhawatirkan kesehatan Asmara, dan dari situ semua orang tentu paham jika Bima masih sangat mencintai Asmara, meski dalam kondisi keterbatasan nya.

__ADS_1


Setelah semua pekerjaan yang berhubungan dengan Asmara selesai dia lakukan, Loka akan berjaga di luar ruang , mengamati wanitanya dari balik dinding kaca yang memisahkan mereka.


Selalu sama, dan seperti itu lah kegiatan Loka selama Asmara berada di sana. Mungkin juga masih akan lebih lama.


Hening.


Sekelebat mata Loka menangkap bulu mata Asmara mengerjab, sangat lemah namun jelas terlihat oleh pasang mata Loka.


Namun setelah benar-benar memastikan dan mengusap beberapa kali mata nya, nyatanya itu hanya pikiran Loka saja, yang terlalu berharap wanitanya akan sadar dan sembuh dari koma nya.


Agaknya Loka sedikit kecewa dengan harapan besarnya, nyatanya Asmara masih terus saja setia dengan diamnya.


Tapi !!.


Tunggu !


Apa ini !. Tajam mata Loka kembali menatap Asmara dari balik dinding kaca di depannya.


Apa kah ini mimpi ?. Loka meyakini jika ini hanyalah halusinasi. Namun rasa-rasanya ini nyata, Loka benar-benar melihat Asmara dengan mata terbuka.


Masih sangat tipis namun, perlahan Asmara benar-benar membuka matanya. Sungguh pemandangan yang sangat sulit Loka percaya.


"Dokter !!!"


Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Loka berlari dan menghampiri tempat dimana petugas berjaga disana.


Segera Loka melaporkan temuanya, dan secepat itu pula dokter Indra dan beberapa perawat lainya menghampiri ruangan dimana Asmara berada.


Mondar mandir dia menunggu Asmara, Loka begitu bahagia menyaksikan wanita yang begitu dia cinta telah membuka mata nya, Loka masih berada di tempatnya semula, mengamati dokter dan team nya memeriksa Asmara.


Jelas dalam pandangan mata Loka tangan-tangan terampil itu memeriksa setiap inc dari tubuh istrinya, memastikan semua baik-baik saja. Tidak sampai di situ saja, Loka juga melihat dokter melepas beberapa alat yang terpasang pada tubuh Asmara.


Bahagia sekali rasanya.


Hingga Loka tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata, betapa dia sangat bersyukur atas kesembuhan Asmara. Atau lebih tepatnya kesadaran istrinya yang telah kembali seperti sedia kala. Untuk kesembuhan mungkin masih butuh proses panjang bagi Asmara untuk menjalaninya.


Namun setidaknya hal ini cukup membuat Loka merasa bahagia, harapan akan bersama kembali, seketika muncul begitu saja di pikiran dan hati Loka.


Ceklek.


Senyum cerah secerah sinar mentari pagi menghiasi


Wajah sosok tampan Loka Wiratmaja.


"Bagaimana keadaan istri saya dok ?"


Tanpa basa basi Loka langsung bertanya, Binar bahagia jelas terlihat dari mata Loka, betapa dia sangat berharap kabar baik dari dokter di hadapannya.


Senyum Loka akhirnya bersambut bahagia dengan ucapan hangat yang menentramkan jiwa dari sosok dokter Indra.


"Selamat pak. Bu Asmara sudah melewati masa kritisnya"

__ADS_1


Benar saja, masa kritis yang di lalui Asmara telah lewat, setelah penantian yang cukup lama. Asmara kembali sadar dari koma nya.


Hampir-hampir Loka tidak bisa berkata-kata mendengar kalimat yang terdengar begitu membahagiakan hatinya, setelah cukup lama Loka merasakan gundah gulana kini Loka bisa bernafas dengan Lega.


"Bapak bisa menemui Bu Asmara setelah perawat selesai dengan tindakannya"


Ucap dokter Indra sebelum dia benar-benar meninggalkan Loka.


Jujur tidak sabar Loka untuk segera menemui Asmara, Selain mengkhawatirkan Asmara juga karena Loka sangat merindukannya.


Dari kejauhan terpisah antara dinding kaca , Loka setia menantikan Istrinya.


Tidak butuh waktu lama , semua perawat yang sebelumnya melakukan tugasnya kini telah memberi izin pada Loka untuk menemui istrinya.


Binar bahagia jelas terpancar dari wajah seorang Loka Wiratmaja, tidak lupa dia merapikan rambut dan bajunya sebelum dia benar-benar masuk dan menemui Asmara, wanita yang begitu dia cinta.


Setelah dirasa cukup sempurna, bergegas Loka menghampiri istrinya. Tidak ada kata yang benar-benar terucap dari mulut Loka, karena Loka saat ini masih menatap Asmara dengan rasa tidak percaya.


Mulutnya seolah terasa kelu, melihat bagaimana wajah pucat itu benar-benar nyata tengah menatapnya.


Entah sejak kapan, namun Loka merasakan lelehan bening menetes begitu saja dari sudut mata nya.


Terlihat bagian Leher Asmara masih diberikan penyangga, sementara di bagian kepala juga masih ada perban disana. Selain di sana hanya ada selang infus yang masih tetap menempel, sementara selang-selang lainya sudah di lepas.sebelumnya. Namun meski begitu, tidak masalah bagi Loka setidaknya saat ini Asmara bisa bernafas tanpa bantuan alat yang menopang kehidupan nya.


"Apa kabar ?"


Kesadaran Loka berangsur sempurna setelah mendengar dua kata yang keluar dari mulut Asmara. Sungguh hal itu begitu membahagiakan.


Rasanya seperti mimpi, saat ini Asmara benar-benar telah menyapa dirinya.


Hingga seketika Loka memeluk Asmara yang masih terbujur lemah diatas tempat tidurnya.


"Auchhh"


Sakit di bagian lehernya, membuat Asmara meng aduh, dan seketika itu pula Loka menghentikan Aksinya.


"Maafkan aku. Apa aku menyakiti mu ?"


Sungguh Loka tidak sengaja, jika perbuatanya akan kembali membuat Asmara terluka.


Namun gelengan kepala dari Asmara, menjadi jawaban atas semua pertanyaan dan kekhawatiran Loka.


"Apa aku tidur cukup lama ? "


Terdengar masih lemah dalam cara Asmara berbicara. Namun Loka tampak sabar menjawab semua pertanyaan istrinya.


"Tidak masalah, berapa lama pun aku akan tetap menjagamu" Ucap Loka pada akhirnya .


Keduanya tampak berbincang lumayan lama, sebelum pada akhirnya, Loka keluar ruangan untuk mengabarkan kondisi Asmara yang sudah siuman pada pak Basuki dan keluarganya.


***

__ADS_1


__ADS_2