
...Sesingkat Apapun Kisahnya, Melupakan Tetaplah Menyakitkan...
...🍁...
Setelah cukup berbincang dengan Zahra, Asmara memilih meninggalkan kamar adik dari calon suaminya. Sejujurnya dia masih betah berlama-lama dengan Zahra, namun agaknya tidak sopan jika dia bertamu namun hanya di kamar saja.
Asmara berencana untuk kembali ke ruang tamu, menunggu Loka hingga selesai dengan urusannya, pikir Asmara juga sekalian mengakrabkan diri dengan Bu Sukma, yang mungkin saat ini masih berada di sana.
"Kamu mau turun juga Za ?" tanya Asmara
"Enggak mba, Aku di sini aja capek. Kerjaan kantor tadi banyak banget" Keluh Zahra, menolak lembut ajakan Asmara.
Sejujurnya memang Zahra merasakan sangat kelelahan pasalnya dia selalu saja lembur akhir-akhir ini, karena Loka memilih fokus dengan usaha yang dia bangun, daripada menjalankan bisnis keluarga.
Asmara hanya mengulas senyum di bibirnya ,beranjak pergi meninggalkan kamar Zahra.
"Makasih ya tumpangannya" Ucap Asmara
"Iya mba, Santai aja" Zahra berbicara dengan gaya tengilnya.
Kembali menyusuri satu persatu anak tangga, Asmara mengedarkan pandanganya ke setiap sisi ruangan yang tidak pernah ada habisnya menurut Asmara.
Cukup unik dan menari, begitu batin Asmara, hingga kediaman orang tua Loka sangat sulit untuk di definisikan seperti apa bentuknya.
Benar saja tampak dari ujung tangga Asmara dapat melihat Bu Sukma duduk sendiri di ruang tamu rumahnya.
Perlahan Asmara mendekat, berjalan dengan pelan menghampiri calon ibu mertuanya.
"Tante sendirian saja ?"
Asmara pun memberanikan diri untuk menyapa. Sementara itu Bu Sukma hanya mengulas senyum di wajah cantik nya. Meski sudah tidak lagi muda, namun senyuman Bu Sukma masih terlihat manis bagi Asmara.
Tidak heran , karena kebanyakan orang kaya memang akan selalu menggunakan segala cara untuk mendapatkan kecantikan yang paripurna, bagaimana tidak, uang berapa pun mereka ada. Begitu batin Asmara.
"Kamu sudah selesai ?"
Bukan menjawab pertanyaan Asmara, justru Bu Sukma mengajukan pertanyaan kepada Asmara. Dengan sopan Asmara menjawab dengan anggukan kepala tidak lupa dia mengulas senyuman terbaiknya.
Sungguh Asmara sangat canggung berhadapan dengan calon ibu mertuanya, hingga Asmara berusaha untuk tidak sedikitpun membuat kesalahan.
"Duduklah, saya sudah minta pelayan siapkan minuman untukmu"
Suara Bu Sukma sejujurnya sangat terasa dingin di telinga Asmara, meski dalam ucapanya tidak lupa dia tersenyum pada nya.
Meski begitu Asmara tetap bahagia, karena perhatian kecil yang di berikan oleh Calon mertuanya. Secangkir teh di hadapannya cukup menjadi bukti jika Bu Sukma memperhatikan dirinya, dan hal itu seketika membuat hati Asmara berbunga-bunga
"Terima kasih Tante "
Asmara lantas duduk dan mendaratkan bokongnya tepat di depan Bu Sukma.
Asmara dapat melihat bagaimana Anggun dan cantiknya Mama dari calon suaminya, terlihat begitu sangat berkelas.
Beberapa kali Asmara melihat bagaiman lembut dan Anggun nya Bu Sukma menikmati secangkir minuman di tangannya.
Begitu juga Asmara yang perlahan menyesuaikan gaya calon mertuanya, menikmati secangkir teh hangat agaknya cukup melegakan perasaan Asmara.
Benar saja setelah beberapa teguk agaknya Asmara merasa cukup lega.
"Bagaiman. Apa kau suka ?"
Asmara tampak mendongakkan kepalanya, meletakkan cangkir yang dia pegang diatas pangkuannya.
"Teh nya enak Tante, Saya suka" Dengan Sopan Asmara menjawabnya.
Mendengar jawaban Asmara, sudut bibir Bu Sukma terlihat terangkat keatas. Namun tatapannya tampak tajam menatap Asmara.
"Bukan itu maksudnya"
Bu Sukma tampak terkekeh dengan pertanyaannya , tangan lentiknya masih setia menggenggam cangkir minuman milik nya.
Sementara itu Asmara semakin bingung dengan arah pembicaraan calon mertuanya, hingga dia hanya dapat membulatkan mata, dengan menajamkan pendengarannya, tidak lupa senyum pias terlihat di wajah cantik Asmara.
Sungguh Asmara tidak mengetahui Maksut ucapan Bu Sukma.
"Loka. Apa kamu suka pada Putra saya ?"
Deg.
Mendengar ucapan Bu Sukma agaknya Asmara sedikit bingung untuk menjawabnya, sejujurnya Asmara memang menyukai pribadi Loka, Loka cukup baik, menarik, dan sesuai dengan harapan Asmara tidak hanya itu dia juga sangat menyayangi putrinya Senja, terlebih Loka juga menjadi sosok yang begitu diidamkan banyak wanita, hanya saja untuk cinta Asmara mungkin belum memilikinya.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya hanya senyuman yang bisa dia berikan pada Calon mertuanya untuk menjawab bagaimana perasan Asmara terhadap Loka.
"Berapa lama kalian saling mengenal ?" Bu Sukma kembali bertanya.
"Em..Belum lama Tante, mungkin 3 bulan yang lalu"
Asmara masih dengan sopan menjawab setiap pertanyaan calon mertuanya.
Melihat respon Asmara, Bu Sukma hanya mengangkat sudut bibirnya. Tampak mengangguk-anggukkan kepala nya.
"Dulu saya dan papanya Loka sangat bekerja keras untuk mendapatkan apa yang kami inginkan, hingga saat ini kami sukses dan, ya... seperti yang kamu lihat sekarang ini"
Bu Sukma tampak menunjukan bagaimana dirinya didepan Asmara, sementara Asmara masih setia mendengar dengan sesekali menganggukkan kepala.
"Meski kami dari keluarga berada, tapi suami saya tidak pernah mau memanfaatkan harta dari orang tua saya. Karena itulah kami memutuskan untuk pindah ke kota dan membangun usaha kami sendiri"
"Hingga sukses seperti saat ini"
Lagi-lagi Asmara hanya menganggukkan kepala dengan mengulas senyum terbaiknya. Sepemahaman Asmara, Bu Sukma tengah menceritakan bagaimana gigihnya dia dulu dalam bekerja.
Dan hal itu memang benar adanya, karena jika diingat kembali bagaimana banyaknya harta yang di miliki Oma Sima, tentu mudah saja bagi Pak Adi dan Bu Sukma untuk memulai usaha, namun keduanya memilih untuk membangun usahanya sendiri di kota, hingga sukses seperti saat ini.
"Tapi apakah kamu tahu Asmara, Setelah sukses seperti ini, saya dan suami saya baru menyadari satu hal"
Asmara terlihat menautkan kedua alisnya, menunggu ucapan Bu Sukma selanjutnya. Begitu juga dengan Bu Sukma yang semakin tajam menatap Asmara.
"Kekuatan relasi itu sangat besar pengaruhnya terhadap Bisnis Keluarga saya"
Bu Sukma berbicara dengan mata tajam menatap Asmara, hal itu tentu membuat Asmara yang tidak paham apa-apa hanya mengangguk saja.
"Seperti contohnya menikahkan putra putri pengusaha dengan relasi bisnisnya. Misalnya !"
Deg.
Bu Sukma menajamkan Ucapanya, menjelaskan Maksud dan tujuannya mengajak Asmara duduk bersama dan berbicara.
Sampai di sini baru Asmara tahu kemana arah pembicaraan Bu Sukma. Sungguh Asmara tidak percaya jika sedari tadi ternyata dia bagaikan keledai bodoh yang mendengarkan dan mengiyakan ucapan lawan bicaranya.
Sementara dia yang terlihat bodoh, hanya percaya-percaya saja dengan gampangnya menganggukkan kepala pada setiap ucapan Bu Sukma.
"Maksut Tante ?"
Dengan suara bergetar Asmara mencoba mencari penjelasan dari ucapan Calon mertuanya.
"Sudahlah Asmara, Saya pikir kamu tahu apa maksut Saya"
Bu Sukma berbicara sembari terkekeh menutup mulut dengan anggun menggunakan sebelah tangannya.
Entah karena sebab apa, namun seketika Sudut mata Asmara menghangat oleh kata-kata orang tua Loka. Dia yang awalnya merasa bahagia kini justru sangat terluka.
Susah payah Asmara menguasai hati dan pikirannya, menguatkan diri dari gejolak hati yang terus meronta.
"Maksud Tante Saya tidak pantas untuk Mas Loka ?"
Kembali Asmara melihat Bu Sukma yang seolah menertawakan ucapan nya. Sungguh Asmara merasa kehadirannya memang tidak pernah di harapkan sudah sejak dari awalnya.
"Saya tahu bagaimana wanita seperti kamu ?"
Tajam mata Bu Sukma menatap Asmara, hingga mata Asmara pun juga tidak berkedip melihatnya, entah mengapa semakin di dengar dan semakin di lihat, kenyataan di depan matanya, membuat hati Asmara semakin terluka. Hingga sudut mata Asmara semakin berembun jadinya.
"Wanita seperti saya ?, Memangnya wanita seperti apa saya tante ?"
Bergetar suara Asrama bertanya pada Bu Sukma, penilaian seperti apa sesungguhnya yang orang tua Loka berikan padanya.
Terlihat bagaimana Bu Sukma menyesap minuman di cangkir yang sedari tadi dia bawa. Hembusan nafas lembut mengiringi senyum kecil di bibir Bu Sukma.
"Saya suka bagaimana cara kamu berbicara. Tapi maaf Asmara, mungkin saya tidak suka caramu mendapatkan Loka"
Asmara menajamkan penglihatannya, membulatkan dua bola matanya, memastikan maksud dari ucapan Bu Sukma pada dirinya.
"Maksut Tante bagaimana ?"
Lagi-lagi Bu Sukma terkekeh mendengar ucapan Asmara.
"Sudahlah Asmara, kamu tahu apa maksud saya !!"
"Kamu sendiri yang mengatakan pada saya jika Baru saja kamu mengenal Putra saya, Tapi saya tidak menyangka kamu begitu saja menerima ketika Loka meminta kamu menjadi pendamping hidupnya !"
"Tentu tidak lain tujuannya hanya lah karena harta ?, Bukan kah begitu Asmara?"
__ADS_1
Lembut dan menusuk hingga ke relung jiwa Asmara, sungguh ucapan yang seketika menjatuhkan buliran bening yang sedari tadi Asmara coba simpan di sudut mata indahnya.
Hanya helaan nafas panjang yang bisa Asmara lakukan, sungguh bibirnya terasa kelu meski hanya untuk membalas ucapan Bu Sukma.
Dada nya sudah begitu sesak, tubuhnya bergetar menahan amarah yang menyesakan dada, sungguh Asmara ingin sekali membalas ucapan orang tua Loka, namun lagi-lagi Asmara tidak sampai hati.
"Katakan berapa yang kau inginkan ?, Karena Loka sudah kami jodohkan"
Deg.
Ucapan yang seketika meruntuhkan Hati Asmara untuk kedua kalinya.
Nyatanya perasaan cinta yang barusaja akan dia pupuk bersama Loka harus kandas begitu saja, sama seperti saat dia bersama Bima.
Untuk sesaat Asmara hanya dapat memejamkan mata, mengurai sesak di dada. Yang terasa begitu melukainya.
"Jadi seperti itu Tante menilai saya sebagai wanita ?" Lirih Asmara berbicara.
Asmara mulai memberanikan diri untuk menjawab setiap ucapan yang merendahkan dirinya.
Bukan menyesali ucapnya, justru Bu Sukma tertawa mendengar perkataan Asmara.
Lagi-lagi tatapan mata Bu Sukma semakin menajamkan pemikiran Asmara, jika memang dia benar-benar tidak di terima dalam kehidupan Loka dan keluarganya.
"Sudah lah Asmara, kau tidak perlu sungkan, kami sudah biasa berhadapan dengan wanita sepertimu"
"Katakan berapa nominalnya dan segera tinggalkan Putra saya !!"
Bagai sebilah pisau yang menusuk tepat di hati Asmara, untuk kesekian kalinya dia merasa hatinya begitu terluka. Bahagia yang ingin ia rajut bersama Loka kini telah benar-benar sirna begitu saja.
"Tidak perlu Tante !"
Asmara kembali berbicara, tidak lupa dia menyeka Airmata yang keluar dari sudut mata nya.
"Simpan saja uang Tante untuk pernikahan Mas Loka dengan Wanita pilihan Tante Sukma"
"Maaf jika saya datang hanya untuk mengganggu saja"
"Tapi perlu Tante tahu, Saya bukan wanita yang gila harta, mempertaruhkan cinta hanya karena uang semata !!"
"Saya cukup bahagia bisa mengenal Mas Loka, saya juga Bahagia bisa mengenal keluarga ini. Begitu juga saya tidak akan pernah menyesali pertemuan ini. Karena dari sini saya Menyadari satu hal "
Sama seperti Bu Sukma sebelumnya , Asmara pun membalikkan ucapannya.
"Ternyata Tidak semua orang kaya berfikir dengan hatinya, Saya juga cukup sadar siapa saya dan Mas Loka"
"Sama seperti Mas Loka Yanga akan selalu Tante jaga. Mungkin juga sama halnya dengan orang tua saya yang akan melakukan hal yang sama Pada saya"
Meski bergetar, Asmara berusaha untuk tidak membiarkan hatinya kembali terluka, cukup menyedihkan memang namun itulah kenyataan.
Hingga Gelengan kepala menjadi pertanda begitu sakitnya hati Asmara, lagi-lagi air matanya menetes begitu saja.
"Terima kasih untuk jamuan dan makan malamnya"
"Assalamualaikum "
Asmara mengatakan dengan sangat sopan pada Bu Sukma meski hatinya begitu terluka.
Asmara meraih tas nya, perlahan namun pasti Asmara beranjak dari duduknya, berjalan meninggalkan Bu Sukma yang masih duduk terdiam di sana.
Asmara tidak sedikitpun ragu meninggalkan rumah yang telah begitu membuatnya terluka, meski baru sesaat dia berada di sana.
Masih dengan lelehan bening yang membasahi wajahnya, Asmara beranjak meninggalkan kediaman keluarga Loka.
Hingga beberapa pelayan disana hanya dapat terdiam melihat bagaimana majikanya sangat mengintimidasi calon menantu mereka.
Sampai di depan gerbang rumah besar tersebut , Asmara berlari menjauhinya, semakin jauh hingga Asmara merasakan sesak di dadanya begitu terasa.
***
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
Udah mulai rame Ni Readers Fillah nya. Tapi kok Like Komen dan Subscribe nya masih sepi-sepi aja ya 🤭. Apa pada nggak suka ya 😂.
Yuk yuk Semangatnya ya buat Author, Biar tambah rajin lagi nulisnya.
Author tidak bosan mengingatkan, untuk jangan pernah meninggalkan jejak keburukan di tulisan manapun 🥰🤗🙏, Jika memang tidak suka silahkan Tinggalkan Saja.
Tanpa Harus memberikan Bintang Keburukan 🤗.
__ADS_1
Sehat dan bahagia selalu ya buat kakak Kakak Readers Fillah yang tentu datang karena Allah. 🥰🥰🥰🥰🙏🙏🙏
...❤️❤️Lope Sekebon ❤️❤️...