
...Mencinta itu mudah Saja. Namun bertahan dengan pilihan yang sama dalam waktu lama itu Luar Biasa. ...
...🍁...
Suasana masih terasa sama, setiap detik menitnya adalah perjuangan dan doa.
Setelah pak Basuki. Giliran Luna yang menjadi orang berikutnya, dimana dia akan bertemu dengan Asmara. Bukan senja atau Bu Sukma.
Kenapa ?.
Alasan kenapa Senja tidak masuk kedalam sana adalah karena usia yang masih sangat kecil tentunya, dokter tidak mengizinkan karena hal tentu akan membuat trauma bagi Senja serta mungkin saja bisa mempengaruhi psikologis nya, dengan melihat kondisi ibunya saat ini.
Sementara Bu Retno memilih untuk tetap.nersama cucunya Senja, karena dia sendiri telah di wakilkan oleh pak Basuki.
Mengapa pula bukan Bu Sukma , tentu alasannya adalah karena Loka yang belum sepenuhnya bisa mempercayai mama nya.
Kejadian yang bertubi dan berulang kali menimpa Asmara, terlebih kebanyakan merupakan campur tangan kedua orang tuanya, agaknya cukup membuat Loka harus lebih waspada, sekalipun terhadap mama yang jelas sudah menyesali semua perbuatanya.
Bukan Loka mendendam, hanya saja dia perlu untuk selalu waspada dengan kondisi Asmara, sekalipun itu dari orang terdekat nya.
Perlahan Luna masuk kedalam ruang dimana Asmara mempertaruhkan nyawanya. Saat ini mungkin masih dalam masa-masa perjuangannya dari status kritis yang dokter berikan pada nya.
Lelehan bening menetes begitu saja dari mata indah Luna, melihat bagaimana pucat dan menderita nya Asmara cukup membaut Luna seketika merasakan sesak dalam dada.
Sedikit banyak semua yang menimpa Asmara juga karena dirinya hadir diantara keluarga Wiratmaja.
Jika dia tahu akan jadi seperti ini pada akhirnya, mungkin saja Luna juga akan dengan tegas menolak perjodohan dengan Loka.
Namun sayang Luna juga hanya wanita biasa, manusiawi jika dia tergoda dengan ketampanan Loka Wiratmaja yang dia tahu saat itu telah berkeluarga.
"Maafkan aku. Maaf Asma"
Bergetar suara Luna dengan semua penyesalannya. Sejujurnya mungkin bukan sepenuhnya menjadi kesalahan Luna, hanya saja hati lembutnya tidak menduga jika semua ini akan terjadi pada Asmara. Sampai sejauh ini akibat yang harus di tanggung oleh teman barunya.
Tidak banyak kata yang keluar dari mulut Luna, Sosok Luna yang tidak hanya sahabat namun juga merupakan madu Asmara dalam rumah tangganya bersama Loka.
Hanya doa dan air mata saja yang jelas terlihat mendominasi suasana hati Luna.
Hingga dirasa cukup rasanya, Luna beranjak dari duduk dan keluar dari ruang tempat Asmara mendapatkan semua perawatannya.
***
Satu Minggu berlalu.
Tanda-tanda Asmara akan membuka mata, rasa-rasanya masih sangat jauh dari benak Loka.
Setiap hari Loka menemani sang istri, menjaga dan merawat Asmara dengan cinta, doa, dan juga air mata tentunya.
Entah sampai kapan Loka akan menerima tuah dari semua perbuatan Orang tua nya, tentu juga termasuk perbuatannya. Cinta yang tertunda nyatanya begitu membuatnya tersiksa. Mungkin ini rasa yang di alami Asmara saat sebulan lamanya Loka pergi dan meninggalkan istrinya saat itu.
Datang kembali dengan kabar berita Loka telaah menikah dengan Luna, bagaimana perasaan Asmara, mungkin saja seperti ini rasanya 'Batin Loka' .
__ADS_1
Loka selalu berjaga, mau siang ataupun malam, tidak sekalipun dia keluar dari rumah sakit meski untuk alasan mendesak sekalipun. Bu Sukma lah yang selalu membawakan Baju ganti dan makanan untuk Putra nya.
Bahkan Proyek yang telah selesai proses pengerjaanya, harus tertunda peresmiannya karena Loka ingin fokus mengurus Asmara
Tak jarang Bu Sukma juga ikut berjaga menemani putranya, mungkin juga karena penyesalan, sehingga dia merelakan waktunya demi menemani sang putra menjaga istrinya.
Sore ini merupakan hari terakhir pak Basuki berada di ibu kota, karena esok dia sudah harus kembali ke desa, menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin disana.
Tidak banyak yang bisa di harapkan dari pak Basuki, karena tugas dan tanggung jawabnya tentu juga harus menjadi prioritasnya.
Bagaimana Senja ?. Tentu saja gadis kecil itu akan turut serta bersama kakeknya.
Tidak ada orang lain yang bisa Pak Basuki percaya untuk menitipkan Senja jika tetap berada di ibukota. Sehingga membawa serta Senja ke desa merupakan jalan satu-satunya.
Sejujurnya senja pun sangat ingin menemani ibunya, namun keadaan memaksa dia untuk ikut kakeknya.
Mengapa tidak Bima saja yang menjaga Senja. Tentu besar Alasan pak Basuki tidak mempercayai mantan menantunya.
Selain karena Bima yang tidak begitu perhatian terhadap Senja, juga karena Neneknya atau ibu Bima sedang tidak baik-baik saja. Sehingga tentu perhatian Bima juga akan lebih fokus pada kesembuhan ibu nya.
Lagi pula tidak banyak yang bisa pak Basuki harapkan dari sosok Bima, jelas dia tahu pria seperti aaa mantan menantunya itu.
Sementara Loka, tentu dia juga akan kerepotan jika ditambah mengurus Senja, sementara Asmara juga sangat membutuhkan perhatian nya.
"Loka Janji akan menjaga Asma Pak"
Dua laki-laki beda usia itu tengah duduk bersama, menatap sebuah ruang kaca dengan Asmara berada di dalam sana.
Tatapan kedua pria tersebut tertuju pada satu titik yang sama 'Asmara'
"Tidak perlu berjanji, Cukup Buktikan !!"
"Bapak Sudah banyak mendengar Janji janji dari banyak laki-laki"
"Mereka semua sama, Hanya bermodal janji namun tidak bisa menepati !!"
Sebagai orang tua tentu pak Basuki sudah begitu jengah dan kecewa pada sesama lelaki lainya yang tega menghancurkan dan membuat putrinya sakit hati dan terluka.
Loka hanya menundukkan wajahnya, sungguh dia sangat malu meski hanya sekedar menatap wajah bapak mertuanya. Selain malu juga janji serupa pernah Loka ucapkan padanya 'Menjaga Asmara' namun pada akhirnya Asmara kembali terluka.
"Baik pak. Saya akan berusaha"
Lirih Loka dengan semua sesal dalam dada.
'Huffft......' Berat dan sangat panjang helaan nafas Pak Basuki, entah berapa banyak pesakitan yang menghimpit jiwanya. Hingga anggukan kepala menjadi tanda jika dia benar-benar memasrahkan Asmara untuk yang kedua kalinya pada Loka Wiratmaja.
"Bapak pegang ucapanmu !. Jaga Asma. Jika terjadi sesuatu pada nya, segera kabari Bapak !"
Tegas pak Basuki dengan semua kalimatnya. Loka pen mengangguk kan kepala, sebagai jawaban atas semua kepercayaan dan harapan Pak Basuki pada dirinya.
Setelah cukup perbincangan diantara mereka pak Basuki beranjak dari duduknya, menghampiri senja yang berada dalam gendongan istrinya. Menatap jauh kaca bening di hadapannya.
__ADS_1
Disana terbujur lemah tubuh Asmara dengan segala macam alat yang menunjang kehidupan nya.
"Kek. ibu..."
Sudut mata kecil Senja begitu saja menitihkan air mata tatkala sang kakek meraihnya dan mendekap Senja dalam gendongannya.
"Ibu akan baik-baik saja, Enja doakan saja ya"
Selalu itu saja yang pak Basuki katakan pada cucu nya, sementara keadaan sebenarnya bagaimana, dan nanti akan seperti apa kondisi Asmara sendiri juga tentu dia tidak mengetahuinya.
"Enja mau sama ibuk kek..."
Lirih Senja dengan suara gemetar yang keluar dari bibirnya.
Sungguh jika di lihat saja, mungkin Senja akan meraung dan menangis sejadi-jadinya, namun Senja berusaha tegar dan tidak membuat keributan di rumah sakit.
Gadis kecil yang begitu tabah menghadapi semua kondisi, persis seperti ibunya Asmara yang selalu tegar apa pun keadaanya.
Sungguh buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, beruntung semua kebaikan dari Asmara mendominasi sifat dan sikap Senja. Bukan dari Ayahnya.
"Kita pulang ya sayang, kita doakan ibu dari rumah. Setelah ada kesempatan kita datang lagi"
Lembut pak Basuki memberi penjelasan pada Senja harapannya agar semua kata pak Basuki bisa mudah di pahami dan di mengerti oleh cucunya.
Hingga anggukan kepala menjadi jawaban Senja atas penuturan kakeknya, sementara mata tidak lagi dapat di bohongi, kesedihan jelas terlihat di wajah kecil Senja, akan berpisah dengan ibunya tentu sangat menyisakan luka.
Senja tidak tahu akankah Asmara akan segera pulih dan lekas menemuinya, ataukah ini merupakan pertemuan terakhir mereka.
Sungguh takdir lah yang bisa menjawabnya, dan waktu kapan akan tiba tentu tidak ada satu makhluk pun yang mengetahuinya, karena hanya Allah sang pemilik jawaban terbaik nya.
***
Waktu menunjukan 05.45
Senja mulai menyapa Ibukota, sendakala juga mulai terlihat indah dengan pesonanya, merah jingga warna khasnya menjadi pertanda jika malam sebentar lagi akan tiba.
Senja tetap indah, meski Asmara tengah bergelut dengan luka jiwa nya.
Kurang dari 30 menit, merupakan jadwal penerbangan terakhir, pak Basuki beserta rombongannya mereka telah bersiap lengkap dengan semua barang bawaan serta koper nya.
Kesedihan jelas terpancar di wajah Senja, tatkala dia benar-benar meninggalkan ibukota, meninggalkan ibu kandungnya dengan kondisi masih sama dengan sebelumnya.
Senja hanya berharap ibunya akan kembali, dan tersenyum pada nya. Menjadi malaikat pelindung satu-satunya.
Seandainya Senja bisa mengungkapkan semua rasa dalam hatinya, mungkin saja dia juga akan mengumpat pada Loka dan semua orang yang telah jahat pada ibu nya.
Sayang Senja tetaplah seorang anak, dan naluri anak hanyalah kesedihan dan tangisan yang menggambarkan sejuta perasaan.
"Enja, kita pulang ya Nduk"
Pak Basuki masih setia menggendong Senja dalam pelukannya. Lembut tangan nya mengusap punggung cucunya.
__ADS_1
Sementara Senja hanya terus saja menatap kebelakang, berharap ibunya akan datang, namun hingga pesawat terbang, nyatanya asmara juga tidak pernah datang.
***