SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 82. Cinta yang kembali Ada.


__ADS_3

...Seperti Ketidak Sengaja an Yang Telah Diatur Baik Oleh Tuhan...


...🍁...


Belum begitu siang rasanya, dan terik pun juga belum begitu berada di puncaknya, namun entah mengapa Asmara sudah merasakan Panas di bagian puncak kepala nya.


Memikirkan bagaimana dan apa yang akan kembali menimpa dirinya, entah sedih atau bahagia yang tentu masih menjadi rahasia yang maha Kuasa. Membuat Asmara ingin menghindar saja.


Beberapa kali Asmara meneguk minuman dalam gelas di tangannya. Hingga kesadarannya kembali sempurna. Asmara mulai menyadari jika Loka tidak sedang bercanda dengan ucapanya.


Loka jelas-jelas mengatakan dengan mantap semua ucapan yang keluar dari mulutnya, keseriusan Loka untuk kembali pada Asmara. Haruskah bahagia ?, Atau Sedih ?, Rasanya Asmara sudah tidak bisa memilihnya.


Namun meski begitu, tidak lantas membuat Asmara lupa dengan semua perbuatan Loka.


Loka yang pernah begitu mencintai dirinya, namun dia juga Orang yang begitu dalam menambah Luka batinnya, akankah Asmara bisa begitu saja menerima, Namun dia juga tidak bisa abai begitu saja pada janin dalam kandungannya yang tentu butuh sosok ayahnya.


Lalu apakah benar apa yang Loka ucapkan tentang talak yang dia jatuhkan, jika talak itu sah, maka tidak ada jalan lain selain, selain perpisahan. Namun jika talak yang sempat di ucapkan tidak sah, itu berarti Asmara pun masih sah pula sebagai Istri seorang Loka Wiratmaja.


Loka dengan sabar menemani Asmara, menjelaskan apa yang telah dia dapatkan setelah konsultasi panjangnya bersama seorang ustadz kepercayaan nya.


Singkatnya waktu tidak membuat Loka lantas mengabaikan bagaimana Islam telah mengatur segalanya, termasuk di dalamnya tentang kehidupan berumah tangga.


Sebelum Loka bertindak sejauh ini, nyatanya dia telah lebih dulu berkonsultasi demi mendapatkan sebuah solusi.


Tidak hanya karena Loka sangat menginginkan Asmara semata, namun juga bagaimana keadilan dalam kehidupan mereka bertiga 'Asmara, Luna, dan Loka' dapat saling memberi solusi. Tentu yang terbaik bagi mereka semua.


Anggukan kepala menjadi jawaban Asmara atas penuturan yang di sampaikan Loka.


"Tapi maaf mas, kita tetap tidak bisa bersama"


Loka membulatkan kedua bola matanya, menyadari kalimat singkat yang baru saja Asmara ucapkan. Bagaimana bisa Asmara kembali menolak nya.


Sementara Loka sangat menginginkan kembalinya hubungan mereka, Selain karena begitu besarnya cinta Loka pada Asmara juga karena Ada janin dalam kandungan Asmara yang merupakan buah cinta mereka.


"Tidak !!, bagaimana pun caranya aku tidak akan melepaskan mu lagi !"


Tegas Loka dengan semua keyakinan dalam dirinya. Tatapan tajam Loka terarah pada Asmara yang masih setia dengan penolakannya.


"Dalam hubungan kita sebelumnya, Aku pernah terluka. Jadi mungkin lebih baik tidak, jika tanpa restu kedua orang tua mas Loka"


Asmara sekuat tenaga mengatakan isi hatinya, alasan betapa dia masih sangat terluka, terlebih dengan sikap dan penolakan kedua orang tua Loka.


Isak tangis kembali mewarnai obrolan kedua nya. Sejujurnya Asmara mungkin masih ingin bersama Loka namun mengingat bagaimana perlakuan dan sifat kedua orang tuannya, rasa-rasanya Asmara lebih baik untuk sendiri saja.


Lagipula jika Alasan Loka karena anak dalam kandungan Asmara, makan mudah saja. Sejatinya darah akan tetap pada pemiliknya, dan Loka juga akan tetap menjadi Ayahnya dari anak dalam kandungan Asmara, meski keduanya tidak lagi bersama.


Sama seperti Senja yang tidak pernah Asmara berikan batasan untuk bertemu dan berkomunikasi dengan sang mantan suami.


"Asmara tidak mau jika nantinya hubungan kita harus kembali di uji dengan masalah yang sama"


"Aku tidak akan sanggup mas !"


Lelehan bening menetes begitu saja dari sudut mata indah Asmara.


"Asma sudah cukup bahagia, Meski hanya bersama Senja dan calon buah hati kita"


Bergetar suara Asmara, mengingat bagaimana sakit dan kecewa hatinya pada sosok mantan ibu dan ayah mertua nya yang seolah memandang sebelah mata pada Asmara.


"Aku tetap akan membuatmu kembali padaku"


"Untuk papa dan mama, aku akan mengurusnya"


Tegas Loka sampaikan hal itu pada Asmara, keyakinan lah yang telah membaut Loka hingga sampai pada titik ini. Dan tentu tidak mungkin dengan begitu mudah Loka melepaskannya kembali.

__ADS_1


Asmara hanya menghembuskan nafasnya saja, tidak ada lagi kata yang bisa dia katakan pada Loka yang nyatanya masih sah menjadi suaminya.


Terlebih mendengar pengakuan Loka dimana dia dan Luna telah sepakat untuk bercerai saja, toh diantara mereka yang ada hanya saling menyakiti.


Tidak lupa Loka memperlihatkan bukti chat terakhirnya dengan Luna. Diman Kesepakatan perceraian antara mereka tertulis jelas disana.


"Berbaring lah, kamu harus banyak istirahat"


Loka begitu memperhatikan Asmara, bahkan dia tidak ingin semua kejadian yang telah menimpa, mempengaruhi kesehatan dan kehamilannya.


"Tidak. Aku disini saja mas"


Asmara tentu menolak ajakan Loka jika itu ranjang tempatnya, meski hanya untuk istirahat saja, namun rasa-rasanya dia lebih nyaman berada di sofa saja.


Sementara Loka yang mulai tidak sabar dengan tingkah Asmara yang selalu menolaknya, langsung saja menggendong Asmara dan membawanya ke sebuah ruangan yang tampak luas dengan kasur berukuran king size, Loka langsung menurunkan Asmara disana, bahkan meski tanpa persetujuan nya.


"Aku tidak akan berbuat macam-macam, jadi istirahatlah dengan tenang"


"Tentang Senja. Kamu tidak perlu memikirkannya, aku sudah mengurusnya"


Belakangan di ketahui sebelum Loka membawa Asmara ke apartemen nya, Loka telah lebih dulu menemui Senja dan juga mantan ibu mertua Bima. Disana Loka menjelaskan semua kondisi nya pada mantan ibu mertua Asmara.


Agaknya ibu Bima lebih bisa di ajak bicara daripada Bima, sehingga lebih mudah bagi Loka untuk membawa Asmara, Tidak lupa Loka menempatkan seorang pengasuh untuk menjaga Senja ketika bersama neneknya, sehingga tidak akan merepotkan semuanya.


Sungguh persiapan yang sudah sangat terencana, namun tidak heran jika semua itu merupakan usaha dari tangan-tangan seorang Loka Wiratmaja.


Meski tidak merasa ngantuk namun pada akhirnya Asmara hanya menurut apa kata Loka saja, hingga dia merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk disana.


Terasa nyaman hingga Asmara yang awalnya tidak ingin merebahkan tubuhnya jadi merasa ngantuk seketika.


Namun belum juga satu jam dia berada di sana, Asmara harus kembali di kejutkan dengan keberadaan Loka di belakang tubuhnya.


"Tetaplah seperti ini"


"Mas !"


Asmara berusaha menghindar dari Loka yang seolah tengah mengikis jarak diantara mereka.


Benar saja, dua buah tangan Loka telah menelusup masuk di balik baju yang di kenakan Asmara.


Terasa lembut tangan Loka mengusap perut datarnya, Nyaman?. Tentu saja 'Batin Asmara'


Namun apakah benar tindakan mereka, Asmara merasa jika ini merupakan kesalahan besar baginya, Meski mungkin saja dia memang masih sah menjadi istri Loka. 'Batin Asmara Bergejolak memikirkannya'


"Tenanglah, aku tidak akan melakukan lebih daripada ini"


"Aku hanya merindukan Junior kita"


Loka menjelaskan dengan begitu terbuka, jika dia berharap bisa bersama calon anaknya, meski hanya sebentar saja.


Mendengar penuturan dari Loka, Asmara sadar jika janin dalam kandungannya juga merupakan hak dari nya, dan Asmara tidak bisa memaksa Loka untuk menjauhinya.


Pada akhirnya Asmara diam dan menikmati setiap sentuhan hangat tangan kekar suaminya.


Sungguh hal ini sudah sejak lama Asmara inginkan, namun mungkin baru saat ini dia mendapatkan kesempatan untuk di perhatikan.


Hening.


Tidak ada suara tidak ada kata, hanya usapan lembut tanggal Loka yang mendominasi suasana.


"Aku sangat merindukan mu Asma"


Deg.

__ADS_1


Ucapan Loka ditengah gentingnya suasana hati Asmara, semakin menambah debaran jantung dalam dada nya.


Jujur Asmara pun merasakan hal yang sama, namun diantara mereka kini telah berbeda, dan Asmara tidak bisa menjalin cinta dan bahagia diatas penderitaan wanita lain 'Luna' batin Asmara.


"Mas?"


Lirih Asmara, mencoba mengajak bicara Loka dengan sewajarnya.


"Em"


"Bisakah kita tidak seperti ini"


Selain tidak nyaman , Asmara juga tidak begitu suka dengan sikap Loka yang agaknya mulai memancing suasana.


"Kalau kamu mau bicara, bicara saja, biarkan ini tetap di sini"


Dengan mata terpejam Loka berbicara sekena nya, tidak lupa dia mengusap lembut perut datar Asmara yang mulai menciptakan sensasi geli di sana.


Namun melihat sikap Loka yang terlihat acuh saja, membuat Asmara pada akhirnya juga terpaksa diam dengan segala kebingungannya.


***


Ditempat berbeda.


Sepasang mata terlihat begitu murka dengan wajah yang tidak lagi bisa menyembunyikan Amarah nya.


Gemelutuk gigi menahan kemarahan yang mendominasi dalam jiwa. Kilatan api terlihat membara dalam dua mata tajam nya.


'Bu Sukma'


Wanita paruh baya yang baru saja mendapatkan pengakuan dari menantunya, jika dia ingin bercerai dari putranya.


'Luna'


Benar saja, baru saja dia menemui Bu Sukma dan menyampaikan semua keinginan nya berpisah dengan Loka.


Bahkan kesepakatan diantara keduanya juga telah mereka setujui bersama.


Mengenai perceraian telah mereka serahkan semua pada pengacara masing-masing.


Mendengar semua langsung dari mulut menantunya. Bu Sukma tidak bisa mempercayainya, pernikahan yang belum juga genap dua bulan lamanya harus kandas juga pada akhirnya.


"Lalu bagaimana dengan kerjasama Perusahaan papa dengan papa mu Luna ?"


Bergetar suara Bu Sukma, menyadari apa yang akan terjadi jika Loka dan Luna berpisah begitu saja.


Keringat dingin mulai membasahi kening wanita paruh baya di hadapan Luna, namun meski begitu Luna pun hanya tampak biasa saja.


Mendengar pertanyaan dari wanita yang masih berstatus ibu mertuanya, cukup membuat Luna geleng kepala. Sifat aslinya ternyata muncul juga.


Ingin rasanya Luna menertawakan sikap mertuanya, namun dia juga masih takut akan dosa, menjadi mantu durhaka.


Luna hanya ingin kesan baik di sisa-sisa dia menjadi menantu keluarga Wiratmaja.


"Maaf ma, mengenai itu mama bicarakan saja dengan Papa Luna"


"Setelah semua perceraian Luna, Luna akan kembali ke Jerman saja"


Setelah mengatakan semua hal yang perlu mereka bicarakan, Luna beranjak meninggalkan kediaman orang tua Loka, rumah yang sejak beberapa bulan lalu menjadi tempat tinggalnya, hingga dia menjadi sah berstatus sebagai istri dari Loka Wiratmaja, meski hanya untuk sementara setidaknya dia cukup bahagia.


Kenangan tentang Loka mungkin tidak akan pernah Luna lupa, meski semua tentang hal buruk saja.


***

__ADS_1


__ADS_2