SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 39. Ujian


__ADS_3

...Bersyukur atau Sabar. Karena pilihan hanya ada dua...


...🍁...


Setelah sekian lama drama antara Asmara dan Loka kini keduanya masuk ke dalam rumah, Sejujurnya Asmara sedikit tidak nyaman dengan Loka yang berada di rumahnya, terlebih kondisi rumah sangat sepi seperti ini.


Namun tidak mungkin juga Asmara mengusir Loka.


"Mas Mau minum Kopi ?"


"Boleh"


Asmara bergegas menuju dapur, menyalakan kompor dan menyiapkan Air untuk di rebus, Sementara menunggu air mendidih, Asmara memilih untuk membersihkan dirinya.


Seperti rutinitas kebiasaanya, dia tidak merasa nyaman ketika dirumah belum dalam keadaan bersih.


Tidak butuh waktu lama, Asmara telah mengganti pakaiannya dengan baju rumahan namun tetap terkesan sopan.



Setelah selesai dengan semua urusannya, Asmara bergegas membuat kopi untuk tamu nya.


Benar saja setelah masuk ke dapur, Air rebusan telah mendidih, tidak menunggu lama, Asmara dengan cekatan menyiapkan kopi dan gula dalam gelas.


Asmara merasa begitu terkejut mendapati Loka telah berdiri tepat di belakang nya, berdiri dengan tangan yang dia letakkan di pundak Asmara.


"Wangi sekali ?"


Mendengar ucapan Loka, Asmara sampai merasa merinding jadinya, dia yang lama tidak sedekat ini dengan laki-laki, agaknya merasa kaki kaki nya bergetar begitu saja.


"Kopinya Asma"


Asmara tampak lega mendengar ucapan Loka selanjutnya, meski kenyataanya Loka hanya menggoda dirinya saja, namun cukup membuat jantung Asmara ingin lepas dari tempatnya.


Terlebih siang ini Loka terlihat lebih mempesona jika dibandingkan dengan pagi tadi ketika menjemput Asmara. Asmara harus tetap menahan jiwa dan raganya agak tidak lepas dari kendali nya.



"Mas Loka Tunggu disana saja, Sebentar lagi kopinya Asma bawa kesana"


Asmara tampak menghindari Loka yang semakin mendekatinya, mengikis jarak diantara keduanya, tentu hal itu sedikit membuat Asmara tidak nyaman, belum lagi kondisi rumah yang sepi, membuat Asmara harus pikir dua kali untuk berdekatan dengan Loka, sungguh ujian iman yang di berikan Tuhan sangat berat Asmara rasakan.


Bagaimana tidak ujian, Loka selalu datang dengan sejuta kejutan dan membuatnya mabuk kepalang, untung saja Asmara tahan godaan, dan selalu berusaha menjaga iman, meski sadar Asmara sendiri belum sepenuhnya menjalankan kewajiban sebagai wanita Shalihah pada umumnya, yang tentu menutup aurat dan lain sebagainya.


Asmara mungkin memang belum bisa, namun untuk hati selalu dia berusaha untuk menjaga agar tidak kebablasan.


"Tapi aku maunya disini, Menemani calon istriku"


Semakin berdesir hati Asmara mendengar ucapan Loka yang terasa sangat dekat dengan telinga.


"Please mas !!, Asma Mohon !!"


Sungguh Asmara tidak lagi bisa menahan godaan yang terus menerus Loka perlihatkan, terlebih Asmara sadar jika dirinya sendiri haus akan kasih sayang.


Melihat bagaimana tangan Asmara bergetar karena ulahnya, sontak hal itu membuat Loka sangat ingin tertawa, namun sebisa mungkin dia berusaha menahannya.


"Oke, aku tunggu di teras saja ya"


Ucap Loka sebelum dirinya benar-benar meninggalkan Asmara, sementara itu Asmara hanya menjawab dengan anggukan kepala.

__ADS_1


Susah payah Asmara mengatur kembali nafasnya, terasa sedikit sesak di dada, bagaikan tengah mengikuti kontes marathon 100 meter, Begitu kira-kira yang Asmara rasakan.


Setelah berhasil menguasai diri dan hatinya, Cepat-cepat Asmara menuangkan air panas kedalam gelasnya, Asmara tentu tidak mau jika Loka kembali mendatanginya hanya karena kopi yang belum juga dia bawa kesana.


Setelah kopi siap, segera Asmara menghampiri dimana Loka berada, benar saja seperti ucapan Loka sebelumnya, dia menunggu Asmara dan kopinya di teras luar rumah.


"Diminum mas"


Asmara masih tampak malu-malu dengan wajah bersemu, menandakan jika dia masih sangat gugup berhadapan dengan Loka, yang saat ini keduanya hanya berdua saja.


Tapi lebih baik dari sebelumnya, karena loka memilih teras sebagai tempat keduanya menikmati secangkir kopi.


Begitu juga Loka yang terlihat tidak sekalipun mengalihkan pandanganya dari Asmara, Melihat bagaimana Asmara melayani dirinya sungguh membuat Loka terlena.


Asmara terlihat sangat manis dalam benak Loka, mengenakan pakaian hitam yang sangat kontras dengan kulitnya, serta rambut yang diikat kucir kuda, sungguh membuat Loka tidak tahan berlama-lama untuk berumah tangga.


Ah tapi apalah daya, restu dari orang tuanya saja belum Loka dapatkan, keduanya masih harus cukup bersabar menghadapi keadaan.


"Asmara?"


"Em?"


Loka tampak menghela panjang nafasnya, bersiap mengatakan sesuatu yang sudah dia siapkan dari sebelumnya.


Begitu juga Asmara yang terlihat menautkan kedua alisnya, menunggu ucapan apa yang akan di katakan oleh calon suaminya.


"Besok pagi aku akan menjemputmu, Bersiaplah. Kita akan ke Jakarta menemui orang tuaku"


Deg.


Entah mengapa ucapan Loka cukup membuat debaran kencang di hati Asmara, sejujurnya dia bahagia namun ada juga rasa gugup yang melanda.


Loka tampak menenangkan Asmara, terlihat jelas ketika wajah Asmara berubah pucat seketika.


Tidak heran jika Asmara akan selalu merasa gemetar ketika dihadapkan dengan situasi pertemuan antar orang tua, sementara dirinya hanya sendiri saja.


Sejujurnya Pak Basuki dan Bu Retno tidak pernah menganggap Asmara bukan anaknya, meski sejatinya tidak ada hubungan darah diantara mereka, namun tetap saja bagi Asmara kehadiran orang tua kandung dalam hidupnya sangatlah bermakna.


Namun saat ini dia hanya sendiri, bersiap menjalani ujian dan rintangan hidup pun juga sendiri.


Tidak jarang Asmara mengabaikan perasaanya, karena tentu ada Senja yang harus lebih dia prioritaskan dari sekedar kebahagiaan nya saja.


"Iya mas, InshaAllah, Semoga Allah memudahkan urusan kita"


"Aamiin "


Loka dan Asmara tampak menikmati kembali secangkir kopi yang aromanya terasa menguar menusuk indra penciuma keduanya.


***


Malam pun tiba, Asmara tengah merasakan gundah karena esok dia akan menemui calon mertuanya.


Doa tidak lupa dia panjatkan berharap jika hubungannya dengan Loka tidak akan mendapatkan hambatan.


Namun meski sudah berusaha menenangkan pikiran tetap saja, Asmara tidak bisa mengendalikan dirinya.


Hingga prepare baju telah selesai, Asmara masih saja belgelut dengan perasaanya.


Tanpa terasa waktu menunjukan pukul 20.45 , suara mobil terdengar berhenti di depan rumahnya.

__ADS_1


Asmara bergegas untuk keluar, dan ternyata Senja beserta yang lainya baru saja tiba dari kota. Segera Asmara membukakan pintu.


Terlihat saat ini Senja telah lelap dalam tidurnya, sementara pak Basuki dan Bu Retno terlihat sangat kelelahan, namun guratan kebahagiaan jelas terpancar dari wajah keduanya.


Mbok Jum sendiri langsung masuk ke dalam dan membaringkan senja di dalam kamarnya.


"Bapak sama ibuk mau Asma buatkan teh ?" ujar Asmara


"Tidak usah Nduk, tadi bapak sama ibuk sudah makan dan minum sebelum pulang"


Pak Basuki menolak tawaran Asmara, karena memang sebelum mereka pulang pak Basuki telah lebih dulu mengajak semuanya mampir di warung pecel lele langganan nya.


"Nduk, ada yang mau bapak bicarakan sama kamu"


Pak Basuki kembali berucap, kini beliau telah mengambil posisi duduk di ujung Sofa ruang tamu.


"Enjih pak, Ada apa ?"


Asmara sejujurnya sedikit menangkap apa yang ingin pak Basuki katakan pada dirinya. Namun Asmara memilih menunggu saja sampai pak Basuki menjelaskan apa yang ingin beliau katakan.


Begitu juga Bu Retno yang langsung mengambil posisi duduk di samping Asmara.


"Mas Loka Sore tadi minta izin sama bapak, katanya kalian mau ke Jakarta. Betul ?"


Asmara hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Ya, menurut bapak memang sebaiknya jangan di tunda, lebih cepat lebih baik"


Pak Basuki kembali memberikan wejangan


"Iya pak, Asma minta doa dari bapak dan ibuk, supaya besok semua urusan Asmara dan Mas Loka lancar semuanya"


Pak Basuki dan Bu Retno tampak menganggukkan kepala.


"Pasti Nduk, ibuk dan bapak mu , Selalu mendoakan yang terbaik buat kamu Asma, Sudah waktunya kamu bahagia"


Kini giliran Bu Retno yang berbicara.


"Iya buk, terima kasih" Asmara menunduk hormat


"Ohya buk, pak, Asma bisa Titip Senja ?.


Asmara tampak hati-hati mengatakannya, sejujurnya bukan karena dia tidak ingin membawa Senja namun ada banyak hal yang harus dia pikirkan dan pertimbangkan.


"Justru sebaiknya memang di tinggal saja Nduk Senja, Biar dia dirumah sama Bapak dan ibuk mu, Mungkin kalian memang tidak lama, tapi Bapak tidak yakin kamu membawa senja, takutnya nanti kelelahan di jalan, malah kasihan"


Panjang lebar pak Basuki memberi penjelasan, begitu juga Bu Retno yang menyetujui usulan suaminya.


"Terima kasih pak ,Buk"


Asmara tersenyum lega , pasalnya dia akan lebih tenang selama perjalanan ketika Senja bersama orang orang yang Asmara percaya.


Malam semakin larut, pak Basuki dan Bu Retno telah pulang ke rumah nya, sementara Asmara masih saja betah duduk di ruang tamu.


Membayangkan bagaimana pertemuan dirinya besok dengan orang tua Loka, cukup menyita perhatian Asmara.


Harapan dan doa selalu yang terbaik pada akhirnya, namun jika hasilnya justru sebaliknya entah bagai mana. Meski telah siap menerima nya, namun tentu rasa kecewa akan selalu ada.


***

__ADS_1


__ADS_2