
...Pelangi yang indah hanya Ada setelah Badai Menyapa...
...🍁...
Suasana hati sangat ingin di mengerti, Kabut yang menyelimuti butuh untuk segera di bawa pergi.
Kedatangan Asmara di ibu kota, sejujurnya menyimpan banyak luka, Jika saja bukan karena mantan ibu mertuanya, mungkin saja Asmara tidak akan pernah lagi menginjakkan kakinya di sana.
Sungguh setiap kali dia datang dan menginjakkan kaki di jantung negara Indonesia, Asmara merasa hatinya sangat tersiksa.
Ibukota menjadi saksi bagaimana Asmara begitu sangat terluka, di sana pula banyak kenangan yang sangat ingin Asmara lupa, namun juga sangat sulit untuk di lakukan nya.
Waktu menunjukan pukul 11.45
Sesuai prediksi Asmara, ketiganya tiba di bandara tepat setelah 45 menit mengudara.
Beruntung tidak ada kendala dan masalah dalam perjalanan mereka, hingga ketiganya Samapi dengan selamat.
Bima langsung saja membawa koper milik Asmara dan Senja menuju mobilnya, Senja masih terlihat lelap dalam tidurnya berada dalam gendongan ibunya, membuat gadis kecil itu selalu nyaman meski tengah berkendara.
Sudah begitu larut rupanya, namun ibukota selalu cerah dengan gemerlap lampu-lampunya.
Beruntung Bima sempat menghubungi supir pribadi Ayah dan ibu nya , sehingga mereka tidak harus menunggu lama untuk segera sampai tujuannya.
'Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo'
Tengah malam jalanan lumayan lengang sehingga mereka lebih cepat sampai di tempat tujuannya.
Tepat pukul 00.55, Bima bersama Asmara telah tiba di rumah sakit, tempat mantan ibu mertua Asmara saat ini berada.
Bima meraih tubuh mungil putrinya, dan menggendong dalam pelukan, karena sadar jika Asmara terlihat pucat, mungkin karena dia juga kelelahan dan kurnag tidur sebelumnya.
Sementara koper dan barang-barang lain milik Asmara dan Senja, telah dibawa oleh supir sebelumnya.
"Mas ?. Memang tidak papa, Sepertinya ibuk sedang istirahat, Asma takut mengganggu"
Asmara mulai ragu tatkala memandang wajah pucat mantan ibu mertuanya dari balik pintu dengan sedikit kaca di sana.
Jujur dia sangat tidak ingin mengganggu orang-orang di dalam sana.
Selain akan mengganggu ibu Bima juga tentu akan mengganggu istirahat mantan Ayah mertuanya.
"Tidak papa, ibu sudah sangat menunggu kedatangan kalian"
Bima tampak meyakinkan jika memang mereka telah sejak lama merindukan Asmara juga Senja.
Meski agak ragu rasanya, namun pada akhirnya Asmara menyetujui usulan Bima untuk segera menemui ibu mertuanya.
Ceklek.
__ADS_1
Benar dugaan Asmara ketika pintu terbuka sosok wanita paruh baya disana juga seketika membuka matanya.
Bergegas Bima membawa Senja masuk kedalam, disana selain ada tempat perawatan sang ibu, juga disediakan satu kasur lainya untuk berjaga.
"Ibuk"
Sapa Asmara yang sadar jika kini tatapan keduanya bertemu. Lembut suara Asmara seketika membuat binar bahagia di wajah tua ibunda Bima.
Bukan menjawab sapaan Asmara, justru ibu Bima terisak dalam tangisnya. Mungkin saja dia merasa terharu dengan kedatangan Asmara dan juga Senja.
"Ibuk kangen sekali sama kamu Asma"
Lirih ibu Bima katakan itu pada Asmara, jujur Asmara juga begitu tidak kuat menahan air mata nya, hingga pada akhirnya tumpah juga, keduanya berpelukan dengan air mata saling membasahi pipi mereka.
Pemandangan itu tidak luput dari pasang mata Bima yang juga menyaksikan bagaimana ibu dan mantan istrinya begitu sangat dekat sebelumnya. Bahkan hingga saat ini masih terlihat sama.
Pemandangan itu saja membuat hati Bima rasanya tidak kuat untuk melihatnya.
Sementara Asmara dan ibunya melepaskan kerinduan mereka, justru Bima merasakan sebuah penyesalan yang teramat dalam nya.
Kebodohan yang dengan sengaja dia lakukan, menduakan wanita yang nyatanya berhati mulia, dan mencampakkan darah dagingnya, hanya karena sebuah cinta yang nyatanya hanya semu belaka.
Hingga membuat Senja kehilangan Figur ayah dari Bima, bahkan hidup anak dan mantan istrinya sempat terlunta-lunta akibat ulahnya.
Bima baru menyadari jika Diana telah benar-benar merubah jati diri nya, hingga Bima dengan sadar, tega meninggalkan Asmara dan putri mereka.
Melihat ibu dan mantan istrinya berbincang bahagia, saling bertukar kabar, agaknya membuat Bima juga merasa lega.
Meski tidak lagi bersama, namun nyatanya perlakuan Asmara pada mantan ibu mertuanya tetap sama.
Bima hanya berharap semoga kehadiran Asmara dan Senja akan semakin mempercepat kesembuhan ibunya.
Cukup lama berbincang, Asmara menyusul Senja yang telah begitu lelap dalam tidurnya.
Waktu menunjukan pukul 03. 45
Beberapa saat lagi sepertinya suara adzan akan diperdengarkan, namun lelah jiwa dan raga Asmara membuatnya ingin beristirahat meski hanya sebentar saja.
Bima dan ayahnya setia berjaga, dengan duduk di sofa, sementara ibunda Bima juga kembali lelap dalam tidurnya, setelah beberapa kali sebelum nya Asmara sempat menyuapinya dengan pisang raja yang sempat dia beli sebelum tiba di rumah sakit.
***
"Aku tidak bisa ma !!, Aku tetap akan menceraikan Luna !!"
"Loka !!, Jangan kurang ajar kamu ya !!"
Segar di ingatan sosok Loka Wiratmaja, bagaimana pertengkaran antara dirinya dan Bu Sukma sebelumnya.
Sementara Luna hanya menjadi penonton pertengkaran antara Loka dan mama nya.
__ADS_1
Ditempat berbeda.
Loka berusaha meredam amarah dalam hatinya, namun nyatanya hal itu sia-sia saja. Bu Sukma selalu memaksa Loka untuk terus bersama Luna. Sementara Loka tidak bisa melakukannya.
Keterpaksaan dan kepura-puraan yang Loka lakukan demi untuk kedua orang tuanya, nyatanya percuma dan hanya sia-sia saja.
Setelah semua pengorbanan Loka, bahkan berpisah dari wanita yang dia cinta, agaknya kedua orang tuanya belum puas dengan semuanya. Hingga Loka merasa begitu marah dan kecewa.
Namun sejujurnya tidak hanya karena alasan Luna saja kemarahan Loka begitu dahsyatnya, ada satu hal yang paling Loka tidak bisa terima dari semua perbuatan orang tuanya.
Dimana mereka dengan sengaja ingin mencelakakan Asmara, demi untuk memisahkan keduanya.
Bahkan Bu Sukma sengaja mensabotase Asmara dari tempat kerja nya, beruntung Loka segera mengetahui niat buruk orang tuanya, hingga dia bisa menggagalkan semua rencana mereka.
Bahkan Sepertinya tidak hanya sampai di situ saja, Bu Sukma ternyata juga telah menyewa seseorang untuk mencelakai Asmara hingga dia meminta orang bayarnya untuk memutus rem sepeda motor dan mobil milik Asmara.
Beruntung semua dapat dengan cepat di ketahui Loka, hingga sesuatu yang tidak di inginkan, bisa segera dia gagalkan.
Loka tengah begitu murka menahan amarah nya, setelah sebelumnya dia berdebat dengan kedua orang tuanya.Perdebatan panjang yang berujung dengan niat Loka menceraikan Luna.
Hingga dini hari Loka masih saja menyimpan amarah dalam dada.
Jangankan untuk beristirahat, sekedar memejamkan mata saja Loka selalu tidak bisa melakukanya.
Bayangan wajah cantik Asrama selalu saja membuatnya tersiksa ingin rasanya dia menemui Asmara dan memohon maaf pada wanita yang begitu sangat dia cinta, Loka tidak bisa terus diam dan mengikuti kemauan orang tuanya.
Satu hal yang selalu membuat Loka teralihkan dari kerinduannya terhadap Asmara, Melihat wanita yang begitu dia cinta dalam layar pipih miliknya.
Entah mengapa Membuka rekaman CCTV di rumah Asmara membuat Loka merasa cukup lega. Namun tidak lama binar bahagia di wajah tampan Loka hilang begitu saja, tatkala melihat wanita yang begitu dia cinta tengah bersama mantan suami yang lainya.
Loka menajamkan penglihatannya, mengamati waktu dalam rekaman CCTV, nyatanya baru sore tadi Asmara dibawa pergi oleh mantan suaminya Bima.
Namun untuk saat ini Loka belum bisa mengetahuinya. Meski begitu tidak ada yang tidak mungkin bagi seorang Loka Wiratmaja.
Segera dia memerintahkan Asistennya untuk melacak keberadaan Asmara saat itu juga.
Berbekal nomor ponsel Asmara saja, orang suruhan Loka bisa dengan mudah melacak keberadaan nya.
'RS Ciptomangunkusumo'
Informasi yang baru saja Loka dapatkan dari asistennya, lengkap dengan semua kegiatan dan alasan Asmara datang kesana.
Loka hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja, tidak sia-sia dia membayar mahal asisten pribadinya.
Sejujurnya amarah Loka kembali membara menyadari Asmara telah dibawa pergi oleh Bima begitu Saja.
Batin Loka bergemuruh, terlebih menyadari alasan Asmara datang kesana.
***
__ADS_1