
...Jangan pernah Libatkan Hati, Untuk Hubungan yang belum Pasti. ...
...🍁...
Malam semakin larut Cahaya rembulan mulai menyapa, menelusup melalui celah jendela kamar Asmara.
Dering telepon kembali memekakkan telinga Asmara yang kini diam dalam lamunannya.
'Mas Loka'
Senyum Asmara kembali cerah ceria setelah melihat satu nama yang kembali menghubunginya. Seingat Asmara belum juga satu jam Loka menelpon nya dan mengatakan jika dia akan menginap di kantor, namun kini dia telah kembali menghubunginya
"Assalamualaikum Mas"
Bahagia Asmara menyambut telepon dari suaminya.
"Waalaikumsalam sayang. Sedang apa ?"
Asmara tersenyum mendengar suara suaminya yang terdengar manis di telinganya.
"Asma baru saja masuk kamar mas, Senja juga baru saja tidur. Mas sendiri sedang apa ? "
Keduanya terdengar larut dalam perbincangan. Usia pernikahan yang baru berjalan kurang lebih dua bulan membuat Loka dan Asmara masih begitu hangat dengan hubungannya.
Tak jarang keduanya saling ber manja manja ketika hanya berdua saja.
Hingga cukup lama Asmara berbincang dengan suaminya, keduanya sepakat untuk menutup panggilan teleponnya.
Klontang !!!
Terdengar benda jatuh dan seketika mengagetkan Asmara.
Setelah meletakkan ponselnya, Asmara segera keluar kamar dan mencari sumber suara.
Benar saja, dari kejauhan Asmara dapat melihat seseorang tengah berada di dapur rumahnya.
"Luna ?. Kau sedang apa ?"
Asmara tampak menautkan kedua alisnya, melihat pasien sekaligus tamunya terlihat berada di dapur yang entah sedang apa.
"Haus..."
Terlihat Luna dengan senyum pias nya, sungguh memalukan mungkin bagi Luna yang selalu hidup serba mewah dan tidak pernah melakukan apa pun sendiri, bahkan sekedar mengambil air minum saja dia selalu di layani.
Namun saat ini dia tidak mungkin meminta Asisten Asmara apa lagi Asmara sendiri untuk melayaninya. Luna masih cukup sadar diri dengan statusnya sebagai tamu yang tetap harus menghormati tuan rumah yang telah berbaik hati menampung nya.
Bukan marah Justru Asmara segera meraih pergelangan tangan Luna, memapahnya agar duduk di ruang tamu.
"Tunggulah disini, aku akan ambilkan minuman untukmu" ujar Asmara
Luna hanya mengangguk dengan senyum di wajah cantiknya, sejujurnya dia juga tidak enak hati telah mengganggu Asmara, namun insiden jatuhnya gelas sebelumnya memang cukup mengagetkan Mungkin bagi Asmara sehingga dia sampai harus keluar kamar untuk mencarinya.
Tidak butuh waktu lama Asmara telah kembali dengan dua gelas Susu di tangannya, susu yang di tambah sedikit es batu didalamnya. Terlihat segar dan pastinya sangat nikmat.
"Terima kasih" Ucap Luna dengan menerima 1 gelas Susu milik nya.
Asmara menjawab dengan senyuman manis di wajahnya. Keduanya lantas menikmati minuman masing-masing yang terasa nikmat dan sangat menyegarkan.
"Omong-omong kalian hanya bertiga saja ?" Luna tampak mengajukan pertanyaan pada Asmara
Mendengar pertanyaan sosok teman yang baru saja dia kenal beberapa jam lalu membuat Asmara lantas kembali mengulas senyum nya.
"Tidak, aku tinggal dengan suamiku juga. Hanya saja hari ini dia menginap di kantor" Jawab Asmara
Luna tampak mengangguk anggukkan kepala. Paham dengan ucapan Asmara sebelumnya.
"Kalau kamu sendiri ?, Kamu ada keperluan apa datang ke desa ini ?"
__ADS_1
Asmara yang juga begitu penasaran akhirnya menanyakan hal itu pada Luna.
Namun seperti sebelumnya, Luna selalu terdiam setiap kali Asmara mengajukan pertanyaan yang sifatnya pribadi.
Bahkan Asmara dapat dengan jelas mendengar helaan nafas dari sosok wanita yang kini tengah duduk di hadapannya.
"Aku mencari seseorang"
Jawaban Luna yang terlihat pula perubahan di wajah cantiknya. Menyadari hal itu Asmara pun memilih untuk tidak kembali bertanya sesuatu yang mungkin tidak di sukai oleh Luna.
Meski sejujurnya Asmara masih ingin bertanya perihal siapa dan kenapa Luna mencari orang tersebut, namun pada Akhirnya Asmara urung untuk kembali bertanya.
Malam semakin larut, Asmara pun beranjak dari duduknya, selain karena sudah malam, juga karena sudah tidak ada lagi obrolan yang ingin keduanya bahas.
Keduanya memutuskan untuk masuk ke kamar masing masing, menikmati semilir angin malam yang mulai terasa dingin.
Sebelum kembali ke kamar, Asmara lebih dulu membantu Luna dan tidak lupa memastikan semua pintu dan jendela telah terkunci.
***
Pagi hari
Asmara menjadi yang pertama terjaga setiap pagi nya.
Setelah melaksanakan dua raka'at kewajibannya, tidak lupa Asmara menghubungi sang suami , seperti kebiasaan nya akan selalu mengingatkan Loka untuk beribadah meski keduanya tidak sedang bersama.
Barulah setelah ritualnya selesai Asmara akan langsung ke dapur, karena memang hari ini merupakan hari libur. Sehingga Asmara bebas dengan waktunya di rumah.
Seperti yang sempat di katakan Loka jika dia akan pulang pagi-pagi, maka Asmara memilih untuk dia sendiri yang akan menyiapkan sarapan pagi untuk semuanya.
Terlebih Loka juga sangat menyukai masakan Asmara. Sementara mbok Jum mengerjakan pekerjaan rumah lainya.
Waktu menunjukan pukul 05.37
Matahari telah menampakkan pesonanya, sinar hangat mulai menembus kabut yang sebelumnya turun di Kertagiri.
"Emmm... Harum banget sih, Masak apa Asma?"
"Emmm...Enak banget nih kayaknya, gak sabar pengen sarapan"
Hidung Luna mulai mengendus bau harum yang muncul dari masakan Asmara.
Luna dengan kakinya yang masih sedikit pincang berjalan mendekati Asmara.
Mendengar pujian Luna, Asmara pun terkekeh dibuatnya.
"Cuma masakan sederhana Aja Na, ya ala kadarnya, Menu-menu di daerah" jawab Asmara sembari sibuk dengan penggorengannya.
Sementara itu Luna terlihat kagum dengan bagaimana Asmara dengan peran nya, tidak hanya cantik dan baik nyatanya Asmara juga pandai memasak.
Tidak hanya sampai di situ kekaguman Luna pada Asmara selain ibu rumah tangga Asmara juga merupakan wanita karir yang terikat dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pegawai pemerintahan.
Sepengetahuan Luna orang-orang yang terikat dengan tugas pemerintah akan sangat sibuk dengan segudang pekerjaan.
"Kamu kenapa Na ?. Kok senyum-senyum sendiri?" Asmara sedikit aneh dengan Luna yang sibuk memandang dirinya.
"Nggak Ma, Aku seneng aja liat kamu"
Asmara hanya terkekeh mendengar ucapan Luna. Keduanya memang semakin akrab meski baru saja saling mengenal.
Setelah cukup berbincang dengan Asmara , Luna setelahnya beranjak meninggalkan dapur untuk mengistirahatkan kakinya.
Mungkin karena Kakinya mulai terasa ngilu jika digunakan untuk berdiri cukup lama.
Tok tok tok
Terdengar ketukan dari balik pintu rumah Asmara.
__ADS_1
Terlihat mbok Jum yang berlari menuju pintu depan. Sementara Luna hanya abai saja. Karena memang itu bukan urusannya.
Benar saja, Loka ternyata sudah berdiri di ambang pintu rumah yang masih terkunci dari dalam.
"Pak Loka" Sapa mbok Jum
"Ibu ada mbok ?" tanya Loka
"Ada pak, Ibuk di dalam" jawab mbok Jum
Tanpa permisi lagi, Loka langsung saja masuk kedalam rumah, mencari Asmara yang sudah sangat dia rindukan dari semalam.
Sebentar saja dia terpisah dari istrinya, Loka sudah merasa hidupnya terasa hampa. Ya mungkin begitulah kehidupan pengantin baru, meski keduanya sudah tidak lagi muda.
Binar bahagia terlihat jelas di wajah tampan Loka, tatkala melihat Rambut Asmara yang tergerai indah di depan matanya.
Dalam pandangan Loka, Asmara istrinya tengah duduk menanti kedatanganya.
Baju rumahan yang selalu membaut Loka suka melihatnya, membuat Loka tidak sabar untuk segera menghujani Asmara dengan ciuman maut nya.
Pelan namun pasti Loka berjalan mendekati sosok yang kini tengah duduk di ruang tamu. Berharap Asmara akan kaget dan memeluknya tiba-tiba.
Pun Loka tidak sabar untuk segera memeluk istrinya, hingga tangan kekar itu terulur dan mulai menyentuh bahu nya.
"Mas"
Loka sedikit terkejut dengan kemunculan Asmar dari arah dapur, sementara kini tangannya berada di bahu siapa ?. 'Batin Loka'
Begitu terkejut, hingga Loka secepat itu pula melepaskan tangannya dari bahu wanita yang dia yakini sangat mirip dengan Asmara.
Tatapan Loka seketika menatap wanita yang tengah duduk di hadapannya. Benar saja ternyata bukan Asmara, namun hanya wanita yang kebetulan memiliki postur tubuh sama dengan istrinya, sementara wajahnya jelas sangat berbeda.
"Kamu siapa !!!"
Tatapan tajam Loka menghujam pada Luna yang kini juga sama terkejutnya dengan Loka.
Menyadari suasana yang mungkin saja tidak nyaman antara Luna dan Suaminya, Asmara buru-buru mendekati Loka.
"Dia Luna mas, Pasien sekaligus tamu Asma"
Asmara memberi penjelasan pada Suaminya, karena memang sebelumnya Asmara tidak mengatakan pada Loka jika saat ini sedang ada yang menginap di rumahnya.
Mendengar penuturan dari Asmara, Loka tampak hanya mengangguk kan kepala saja, melihat luka yang ada di kaki Luna sudah cukup menjelaskan jika memang wanita di hadapannya telah mendapatkan perawatan dari Asmara sebelumnya.
"Maafin Asma ya mas" Sesal Asmara tidak mengatakan sebelumnya.
Bukan menjawab, Loka justru menghujani Asmara dengan ciuman maut nya, meski keduanya kini berada di depan Luna, Loka seolah abai dan menganggap hanya ada mereka berdua saja.
Sampai pada saat Asmara mencubit pinggang suaminya, baru lah Loka menghentikan aktifitasnya.
Sementara Loka terlihat biasa saja , Justru Luna begitu tidak percaya menatap sosok suami dari Asmara yang baru kemarin berstatus sebagai temannya.
Hingga untuk sesaat Luna terdiam dalam lamunannya, melihat bagaimana Loka dan Asmara.
"Mas sudah mandi ?"
Gelengan kepala menjadi jawaban Loka atas pertanyaan Asmara.
"Ya udah, Asma siapin dulu ya air dan bajunya" ujar Asmara. Sementara itu Loka menganggukkan kepala
"Lun kamu tunggu sebentar ya"
Tidak begitu saja melupakan Tamu sekaligus pasiennya, Asmara pun mengatakan akan meninggalkan Luna meski untuk menemani suaminya.
Sementara itu Luna hanya menganggukkan kepala, menatap Loka yang semakin berjalan menjauh bersama Asmara.
'Loka Wiratmaja !'
__ADS_1
Gumam Luna dengan kebingungan di wajah nya.
***