
...Kalau memang kenyataan sudah tidak sesuai harapan, Lalu untuk apa di teruskan...
...🍁...
Malam pun tiba.
Asmara kembali sendiri merasakan sunyi dan sepi. Gemerlap bintang malam nyatanya tetap indah dengan segala pesona nya. Meski Asmara tengah kecewa namun Malam seolah mengaburkan semua.
Dari semua rentetan kejadian yang menimpa Asmara agaknya justru membuat Asmara semakin tangguh dan kuat menghadapinya.
Meski sempat begitu terluka, namun dengan Senja saja nyatanya dia sudah bisa begitu bahagia. Asmara tidak lagi begitu memikirkan masalahnya. Yang menjadi prioritasnya saat ini hanyalah Senja sang putri.
Apa lagi setelah senja mengetahui semuanya, tidak sedikitpun senja menanyakan Ayahnya, Asmara menjadi semakin yakin jika memang keputusan untuk berdua saja sangat tepat adanya.
Senja seolah begitu memahami situasi dan kondisi ibunya, bahkan saat ini dia lebih suka tinggal di rumah kakeknya. Asmara juga merasa lega ketika putrinya bersama bapaknya, setidaknya Senja bisa merasakan kasih sayang seorang ayah.
***
Diwaktu yang sama.
Siang di ibukota dengan hiruk pikuk kemacetan disana, tentu akan membuat banyak orang merasa jenuh rasanya.
Bu Sukma tengah bersama menantu barunya menikmati segelas cocktail yang terasa begitu nikmat.
Suasana ibu kota yang terasa panas meski malam telah tiba membuat minuman tersebut terasa semakin menyegarkan jiwa dan raga keduanya.
"Ehem..."
Keheningan yang sebelumnya mendominasi Bu Sukma dan Luna kini mulai mencair dengan Bu Sukma yang memulai pembicaraan diantara mereka.
"Luna" Tanya Bu Sukma
"Iya ma ?" Jawab Luna sekenanya.
"Gimana ? "
Kerlingan mata Bu Sukma membuat Luna sedikit merasa curiga.
Bu Sukma tampak mendekat kan badanya condong kearah Luna. Pasalnya apa yang ingin dia bicarakan dengan menantu nya terasa sensitif bagi pengantin baru seperti Luna dan Loka.
"Maksud mama ?"
Luna yang memang tidak paham apa maksud mertuanya pun kembali bertanya.
"Kamu sudah coba tes kehamilan ?"
Bu Sukma begitu hati-hati tatkala menanyakan hal itu pada menantunya.
Kedua mata Luna membulat sempurna dan seketika alisnya saling bertautan. Sungguh mendengar pertanyaan Mertuanya sedikit membuat Mood Luna menjadi tidak baik-baik saja.
Karena sejujurnya dia juga tidak memiliki jawaban atas pertanyaan mertuanya. Untuk sesaat Luna memilih untuk diam saja.
Bagaimana Luna bisa hamil jika di sentuh saja dia tidak pernah merasakannya.
__ADS_1
Sejak pernikahan dan malam pertama Loka telah memilih untuk tinggal di apartemen nya, sementara Luna tinggal di rumah orang tua Loka.
Loka selalu diam-diam menyelinap keluar dari rumah orang tuanya tatkala Keduanya telah lelap dalam tidurnya.
Menyadari sikap dan tindakan Loka, Luna juga hanya bisa diam saja.
Sempat ingin mengadukan hal itu pada mertuanya, namun agaknya jika itu dia lakukan maka Asmara yang berada jauh di sana akan menerima getahnya. Karena tentu kedua mertua Luna akan menganggap jika Asmara masih menghubungi Loka.
Melihat Luna yang hanya terdiam dalam lamunannya, Bu Sukma merasa jika mungkin saja hasilnya belum sesuai harapan semua keluarga.
"Ya sudah tidak papa, kalian masih punya banyak waktu untuk mencoba. Lagi pula usia pernikahan kalian baru berjalan satu bulan"
Tawa riang terlihat di bibir Bu Sukma , sementara Luna hanya tertawa getir saja.
Usia pernikahan 10 tahun juga , jika Loka sama sekali tidak menyentuh Luna, dari mana dia bisa mendapatkan kehamilannya 'Batin Luna' . Kecuali jika Luna tidur dengan pria hidung belang diluar sana.
***
Pagi hari di Kertagiri.
Hoek ..
Hoek...
Tidak seperti biasanya Asmara merasa tubuhnya terasa begitu lemah, bahkan kepalanya terasa begitu berat.
Sedari subuh tadi Asmara terus saja berusaha mengeluarkan isi perutnya, namun hasilnya sama saja, tidak ada yang keluar dari sana selain lendir putih saja.
Sebagai seorang bidan tentu hal seperti ini sudah tidak asing lagi bagi Asmara.
Asmara mencoba mengingat-ingat kembali kapan dia menstruasi. Beberapa kali terlihat dia mengusap kasar wajahnya. Mencoba membuka kembali ingatan lama nya.
Hingga dia benar-benar mengingat kapan terakhir kali dia mendapatkan menstruasi.
Tepat satu setengah bulan sebelumnya , Sebelum Loka meninggalkan Asmara dalam waktu yang cukup lama, saat itu malamnya Loka dan Asmara tengah memadu cinta, Beberapa kali bahkan Loka mengulangi kegiatan itu lagi dan lagi.
Asmara sangat ingat sekali jika satu Minggu sebelumnya dia baru saja selesai menstruasi, itu berarti saat Asmara tengah bercinta dengan Loka, saat itu dia tengah mendapati masa suburnya.
Menyadari kenyataan yang mungkin saja benar adanya, hal ini cukup membuat Asmara mengusap kasar wajahnya.
Entah bagaimana jadinya jika dia benar-benar telah berbadan dua. Sementara dirinya kini berstatus Janda.
Dan Itu berarti akan ada dua anaknya yang besar tanpa kasih sayang dari seorang Ayah.
Sampai di titik ini Asmara kembali merasakan hatinya kembali terluka, kekhawatiran jika semua perasaan itu nyata, lalu bagaimana dia bisa menghadapi semua nya.
Sesak di dada kembali Asmara rasa menusuk hatinya. Memori dan kenangan silih ganti berdatangan, dan semua seolah seperti kaset usang yang coba Asmara hidupkan.
Tidak bisa terus seperti ini, Asmara bergegas beranjak dari duduknya. Berjalan menuju ruang periksa, dimana disana terdapat banyak alat tes kehamilan yang khusus dia pergunakan untuk mengecek para pasiennya.
Sebelum ke sana, Asmara telah membawa urine miliknya yang telah dia tampung di dalam wadah.
Helaan nafas dalam dari Asmara menjadi tanda jika dia saat ini juga tengah sangat gugup rasanya.
__ADS_1
Pelan namun pasti Asmara memasukan alat tes kehamilan yang tengah dia pegang.
Cukup lama Asmara meyakinkan dirinya jika mungkin saja dia hanya sedang masuk angin saja. Namun kenyataan berkata lain. Ketika Asmara mengangkat lempengan kecil hasil tes urin nya, disana sangat jelas tertera 'garis dua'.
Sudah tidak bisa lagi Asmara berkata-kata, hingga dia kembali tertunduk lemas diatas lantai dingin rumahnya.
Sesenggukan Asmara memikirkan nasib dirinya dan janin yang ada dalam kandungannya, belum lagi dia juga harus memikirkan Senja.
Tidak hanya itu saja, gunjingan tetangga tentu akan menjadi yang terberat dari semua kepedihan di hatinya.
Kehidupan berat kembali harus dia jalani. Belum sempat Asmara selesai meratapi nasibnya, Asmara sudah kembali harus merasakan mual dan begitu ingin muntah rasnaya.
Hoekk
Hoekk
Asmara keluar dari kamar mandi yang berada di luar an kamarnya, berat langkah Asmara karena kepala yang begitu terasa sakit menekan di bagian puncak kepala nya.
Hingga untuk berjalan saja dia harus berpegangan dengan tembok rumahnya. Sungguh hal ini sangat menyiksa.
Susah payah Asmara kembali duduk di ruang tamu rumahnya, memandangi sebuah alat yang begitu jelas menampakkan garis dua disana.
Lelehan air mata kembali jatuh di pipi Asmara, bukan tidak bahagia, justru saat ini Asmara tengah mengusap lembut perut rata nya. Hanya saja Asmara merasa sakit ketika nantinya janin dalam kandungannya akan lahir tanpa sosok Ayah di sampingnya.
Sejujurnya Asmara sangat bahagia dengan kehadiran janin dalam rahim nya. Namun entah mengapa tatapan Asmara menerawang jauh mengingat tatkala dirinya tengah hamil Senja.
Saat itu juga hal yang sama terjadi pada Asmara , Keluhan pada awal kehamilan sangat menyiksa dirinya, namun dulu Asmara masih merasa cukup beruntung karena meski Bima tidak memikirkan dirinya, setidaknya saat itu ada ibu mertua dan ayah mertua yang sangat baik mengurus Asmara dan menemani dia hingga semua keluhan kehamilan yang dia rasakan berangsur menghilang di trimester dua.
Asmara masih terduduk lemas tak berdaya, hingga fajar mulai menyapa bahkan dia masih setia duduk di bangku ruang tamu nya.
Untuk mengambil air hangat saja rara-rasanya Asmara tidak sanggup. Jangankan untuk bekerja. Sungguh sial nasib yang harus di jalani nya.
Susah payah Asmara berjalan kembali ke kamarnya, hingga butuh waktu cukup lama dia sampai di sana, jujur ingin sekali Asmara merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk miliknya.
Tanpa di sadari oleh Asmara, sepasang mata tengah menatapnya penuh iba. Meski ada binar bahagia di wajah nya, namun tidak di pungkiri dia merasakan sedih melihat Asmara yang tidak berdaya.
Ya.
Benar saja sosok dibalik layar pipih miliknya tidak lain adalah Loka Wiratmaja.
Merupakan suatu keuntungan untuk Loka, dimana saat itu dia sempat memasang CCTV di beberapa titik rumah Asmara.
Sehingga meskipun keduanya telah jauh namun Loka masih tetap dapat memantau keberadaan Asmara, dan nyatanya dia merasakan apa yang juga tengah Asmara rasakan, Sedih dan merasa sangat kecewa.
Loka sangat sadar jika Asmara tengah mengandung buah cinta mereka, namun kenyataanya justru Loka telah jauh dari Asmara.
Ingin rasanya Loka menemani Asmara di saat-saat sulitnya, menjadi suami siaga yang akan selalu berada di samping Asmara, namun nyatanya saat ini justru Loka telah berpisah dengan Asmara.
Sakit dan sedih rasanya melihat Asmara yang begitu tidak berdaya, seharusnya Loka menemani dan menguatkan Asmara namun justru dia hanya bisa menatap saja dari layar pipih di tangannya.
Senyum di wajah Loka seketika terkembang sempurna, tatkala memikirkan sebuah rencana yang mungkin saja akan meringankan beban Asmara.
***
__ADS_1