
...***Jadilah kuat Untuk Segala hal yang membuatmu patah ***...
...🍁...
Berkat usaha Loka meyakinkan Asmara, meski sakit namun Asmara berusaha melupakan Semua kepedihan yang dia rasakan.
Sejujurnya Loka sangat ingin menemui Orang tuanya , Namun ternyata Asmara lebih peka terhadap perasaan orang tua dari suaminya.
Asmara justru melarang Loka untuk menemui orang tuanya saat ini, karena apa ?. Tentu hanya satu hal alasannya. Asmara tidak ingin kedua orang tua Loka semakin membenci dirinya.
Ketika Loka menemui orang tuanya saat ini, sudah tentu pertengkaran akan kembali terjadi. Dan hal itu sangat di hindari oleh Asmara.
Beruntung Loka bertemu sosok wanita seperti Asmara yang sangat lembut hatinya. Meski tengah kecewa namun Asmara mengesampingkan hatinya untuk kebaikan semua.
Hal itu tentu yang membuat Loka semakin ingin melindungi istrinya.
Hari ini Asmara sudah kembali bekerja dengan wajah yang telah kembali cerah ceria. Tidak seperti Asmara yang beberapa hari lalu sempat dilanda gundah gulana.
Sisa luka beberapa hari yang lalu mungkin saja memang masih ada, namun Asmara berusaha untuk mengesampingkan perasaannya, karena tugas negara baginya lebih utama.
"Asma"
"Em"
"Kamu beneran baik-baik aja?"
Melihat sahabatnya kembali ceria , hal itu justru membuat Rani merasa bingung.
Bukan apa-apa, hanya saja Rani mengkhawatirkan kondisi rumah tangan Loka dan Asmara.
"Kayaknya mendingan kalian segera urus deh tu surat nikah di KUA"
Mendengar ucapan sahabatnya, untuk sesaat Asmara hanya dapat menghela nafasnya.
Sejujurnya benar apa yang di katakan Rani, namun untuk saat ini Asmara tidak memiliki cukup nyali untuk meminta itu pada suaminya.
Area wisata yang baru akan selesai pengerjaanya bulan depan tentu sangat menguras tenaga dan pikiran Loka. Tidak etis rasanya jika Asmara juga harus memaksa Loka melakukan sesuatu yang sejujur nya bisa di tunda.
Belum lagi memikirkan bagaimana tempo hari Loka mengajak Asmara untuk pindah ke rumahnya, namun Asmara masih belum bisa mengiyakan ajakan Loka, lantaran di Kertagiri masih banyak warga yang mengharapkan dirinya untuk tetap berada di sana.
Mungkin pertimbangan itu akan Asmara setujui ketika sudah ada pengganti dirinya disana.
"Harus banget ya Ran ?"
"Nah iya lah Asma !!!... Musti segera di urus, apa lagi itu si Bima Udah mulai gangguin kamu"
Jelas Rani tahu karena sebelumnya Asmara telah menceritakan bagaimana Bima datang dan memintanya kembali membina rumah tangga.
Meski dengan tegas Asmara menolak tawaran Bima. Agaknya Rani sedikit tidak percaya jika Bima akan menyerah begitu saja.
Terlebih diantara mereka Ada Senja yang sah merupakan anak biologis keduanya.
Dan sebagai sahabat sudah menjadi kewajiban dan keharusan bagi Rani untuk mengingatkan Asmara perihal itu. Rani sendiri juga tidak ingin Asmara akan kembali sakit hati dan kecewa.
Asmara tampak mengangguk-anggukan kepala, berpikir mengenai kebenaran saran dari sahabatnya.
"Makasih Ran saran nya , aku akan coba bicara sama mas Loka"
Ucap Asmara pada Akhirnya, dan Rani pun terlihat lega mendengar ucapan sahabatnya.
***
Malam telah tiba, Rasa lelah kembali menyapa, hingga Asmara ingin sekali merebahkan tubuhnya. Namun nalurinya memaksa untuk tetap terjaga, menunggu Loka yang masih berada di tempat kerja nya.
Dering telepon seketika membuyarkan lamunan Asmara
'Mas Loka' Batin Asmara.
Segera Asmara menggeser ikon tanda hijau di layar ponselnya.
"Assalamualaikum Mas"
Sapa Asmara pada Loka yang berada di ujung telepon.
__ADS_1
"Waalaikumsalam Asma"
Suara teduh Loka yang semakin hari membuat Asmara semakin suka mendengar nya.
"Mungkin Aku akan menginap malam ini, kamu tidak usah menungguku, Segeralah beristirahat setelah tidak ada pasien" Pesan Loka pada Asmara
Asmara terdiam mendengar ucapan Sang suami yang memang akhir-akhir ini selalu sibuk dengan pekerjaan kantornya.
"Oh. Iya mas " Asmara hanya membalas dengan setengah hati, sejujurnya dia sangat ingin ditemani sang suami, melewati dinginnya malam di Kertagiri.
Setelah cukup berbincang, Asmara dan Loka sepakat untuk mengakhiri panggilan telepon nya.
Entah mengapa ucapan Loka sebelumnya sedikit membuat Asmara tidak suka. Asmara selalu ingin berada dekat dengan suaminya.
Lelah bergelut dengan pikirannya , Asmara pun pada akhirnya lelap dalam tidur nya.
Malam semakin larut, temaram lampu membuat Asmara semakin terlena dalam lelap tidurnya. Sampai dia merasakan sebuah tangan melayang diatas pipinya.
Usapan lembut dari tangan hangat yang beberapa hari terakhir selalu menyapanya, Jelas Asmara tahu siapa sosok yang ada di belakang tubuhnya.
"Mas Loka" Lirih Asmara dengan suara sumbangan nya.
Meski tidak percaya Loka akan datang menemuinya, namun benar adanya kini Loka telah berada tepat di belakang.
Cup.
Sebuah kecupan mendarat tepat di bibir Asmara.
"Mas"
Susah payah Asmara membuka matanya.
"Tidurlah. Aku hanya merindukanmu"
Asmara tersenyum mendengar ucapan Loka yang terdengar gombal di telinganya. Namun dia sendiri juga sangat menyukainya.
Sempat Asmara tidak suka dengan ucapan Loka yang tidak akan pulang malam ini, namun nyatanya Loka mengesampingkan semua pekerjaannya demi sang istri tercinta.
"Sudah makan ?"
"Tapi kayaknya belum kenyang , Soalnya belum dapat penutup" Ucap Loka dengan senyum smirk nya.
Jelas Asmara tahu maksud dari ucapan suaminya. Meski begitu lelah, sebagai istri dia akan tetap menjalankan kewajibannya melayani sang suami dengan sepenuh hati.
Menuruti semua permintaan laki-laki yang telah sah berstatus suami. Tidak hanya mendapatkan kenikmatan namun juga merupakan ibadah halal bagi kedua nya.
Senyum manis di wajah cantik Asmara menjadi pertanda jika dirinya siap melayani Loka.
Dan kesempatan tidak begitu saja di sia-siakan oleh seorang Loka Wiratmaja
Dua Buah kenyal di hadapannya langsung menjadi santapan malam yang sangat menggoda.
Malam yang sebelumnya sunyi kini telah di hiasi suara indah sepasang manusia yang tengah dimabuk cinta.
Peluh peluh bercucuran hingga membasahi pelipis, sedikit menyisakan bercak diatas kain putih pembungkus bantal.
Sampai pada penyatuan yang begitu menguras tenaga, keduanya merasa kan kebahagiaan dalam per gulatan yang baru saja dilakukan.
Cup.
Sebuah kecupan kembali mendarat di kening Asmara, sebagai tanda terimakasih Loka pada istrinya.
***
Hari baru.
Hari ini seperti biasa Loka kembali ke proyek pembangunan Temat wisata miliknya sementara Asmara akan kembali ke rutinitas pekerjaan yang selalu menguras tenaga pikiran dan jiwa.
Seperti dugaan Asmara, hari Senin merupakan hari yang sangat sibuk, terbukti hari ini begitu banyak pengunjung Puskesmas. Rata-rata diantara mereka datang dengan keluhan batuk dan pilek, dan keluhan ringan lainnya. sementara hanya beberapa pasien hamil yang akan melakukan ANC.
Meski pekerjaannya lebih dulu selesai daripada poli lain di Puskesmas , namun hal itu tidak membuat Asmara dan Rani bisa pulang lebih dahulu.
Tak jarang keduanya menghabiskan waktu dengan memeriksa laporan pasien sebelum nya, hingga waktu pulang kantor tiba.
__ADS_1
Setelah semua poli selesai dengan tugasnya, semua karyawan bergegas untuk pulang, hanya bagian UGD, Ponek dan Ranap saja yang terlihat masih banyak orang disana.
Tidak hanya Rani namun juga Asmara bersiap untuk pulang ke rumah nya.
Rani telah lebih dulu di jemput oleh suaminya. Sementara Asmara masih sibuk mengenakan sarung tangan, bersiap memacu kuda besinya.
Cuaca siang ini cukup terik, setelah dua hari lalu Kertagiri sempat diguyur hujan. Hal itu yang membuat Asmara ingin segera sampai di rumahnya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat akhirnya motor yang di kendarai Asmara telah sampai pada tujuannya.
Rumah tua yang masih sangat layak untuk di tinggali, rumah masa kecil Asmara bersama dengan kedua orang tuanya, menyimpan banyak kenangan yang tidak akan pernah biasa Asmara lupa.
Sungguh hanya rumah itu lah satu satunya peninggalan paling berharga dari mendiang kedua orang tuanya.
Meski berada di desa namun rumah tersebut pernah menjadi yang terbaik di masa nya. Sempat Loka menawarkan untuk melakukan beberapa renovasi, namun Asmara masih enggan menyetujuinya. Bukan apa-apa hanya saja, setiap sudut ruangan menyimpan banyak kenangan yang begitu berharga bagi Asmara.
Lagi pula rumah itu masih cukup layak untuk di tinggali, bahkan untuk beberapa tahun lagi.
Setelah Men standard kan Motor Scoopy miliknya, Asmara segera masuk kedalam rumah.
Belum sampai Asmara melangkahkan kaki masuk kedalam rumahnya, sebuah suara kembali menghentikan langkah Asmara.
"Bu bidan !!"
Panggilan tidak asing dari warga yang kerap meminta bantuannya.
Namun pemandangan lain terlihat oleh pasang mata Asmara.
Beberapa bapak-bapak dengan memapah seorang wanita yang tengah terluka, tidak terlihat parah namun sepertinya ada luka di bagian kaki dan tangannya.
Sudah menjadi makanan nya setiap hari , sehingga Asmara tidak lagi terkejut dengan pemandangan semacam ini.
"Langsung di bawa masuk ya pak" instruksi Asmara pada bapak-bapak yang tergopoh-gopoh di hadapannya.
"Bu bidan, Ibuk ini baru saja kecelakaan di bawah sana, Coba diperiksa"
Seorang warga memberikan penjelasan pada Asmara.
Benar saja, Asmara melihat raut wajah wanita tersebut yang terlihat pucat meski dengan riasan di wajahnya, Giginya mengerat meringis menahan sakit akibat luka gores yang mengenai kulitnya.
"Bu, Mohon maaf bisa saya lihat luka nya"
Lembut Asmara menyapa pasiennya, dan wanita di hadapan Asmara tersebut menjawab dengan anggukan kepala.
Namun sebelum melanjutkan tindakannya, Asmara meminta bapak-bapak di dalam ruangan ya untuk keluar, karena tentu saja pasien yang akan di tangani Asmara memerlukan kenyamanan dan tentu untuk menjaga privasinya.
Benar saja setelah membuka dress sepanjang betis yang di kenakan pasien ya, Asmara jelas melihat luka gores di sana.
Tidak begitu dalam hanya saja ukuranya cukup lebar, serta ada beberapa kerikil yang menempel di permukaan luka.
Luka basah dengan Darah segar dan kerikil yang menempel di permukaan luka menjadikan wanita itu semakin meringis kesakitan ketika Asmara mulai membersihkan lukanya menggunakan cairan NaCl.
"Tahan ya Bu, Ini memang sedikit sakit tapi harus di bersihkan, Agar luka nya tidak infeksi"
Sangat lembut dan begitu hati-hati Asmara mengobati luka pasiennya.
Selama melakukan tindakan Asmara sesekali melihat perawakan wanita di hadapannya, Cantik dan modis , Kesan pertama yang Asmara yakini jika wanita di hadapannya memiliki usia yang tidak jauh berbeda dengannya.
Dan lagi dari pakaian yang dia gunakan sepertinya buka merupakan orang yang tinggal di tempat ini.
Namun tidak heran jika banyak wanita-wanita berpenampilan modis dan glamor di sekitar daerahnya, karena memang di tempat Asmara tinggal merupakan daerah wisata.
Tidak jarang orang-orang dari luar kota datang sekedar untuk berwisata ke sana.
"Sudah selesai Bu " ucap Asmara dengan sopan pada wanita di hadapannya.
Senyuman manis tidak lupa Asmara sajikan untuk orang yang baru saja mendapatkan perawatan luka darinya.
"Terima kasih"
Suara pertama dari wanita di hadapannya, terdengar lembut dan juga manis di telinga Asmara.
Setelah cukup beramah tamah, Asmara meminta pasiennya untuk beristirahat, sementara Asmara sendiri juga harus membersihkan diri terlebih dahulu.
__ADS_1
***