SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 70. Loka Kembali


__ADS_3

...Tidak Jarang Luka Tercipta dari Seseorang yang Kita Anggap Istimewa...


...🍁...


Dini hari di Kertagiri.


Setelah sebelumnya menempuh perjalanan lebih kurang 7 jam lamanya, Loka telah tiba tepat di depan rumah Asmara.


Perjalanan dari ibukota hingga Kertagiri yang terasa cukup lama membuat Luna lelap dalam tidurnya.


Masih terlalu pagi untuk sekedar mengetuk dan membangunkan Asmara yang mungkin saja juga masih lelap dalam tidurnya.


Namun sayup-sayup Loka mendengar lantunan merdu ayat suci dari bilik kamar sang istri.


Tentu tidak lain dan tidak bukan adalah Asmara yang tengah bersimpuh dihadapan sang Maha Kuasa.


Terdengar pilu Asmara dalam setiap kalimat merdu nya, hingga entah mengapa Loka kembali menitihkan Air mata.


Sungguh Loka begitu menyesali perbuatan nya, dan baginya mungkin saat ini adalah waktu yang paling tepat untuk menebus semua kesalahannya.


Merdunya suara Adzan kembali melintas dalam pendengaran, tidak terkecuali Loka yang larut dalam sejuknya pagi di Kertagiri.


Ceklek.


Asmara yang sebelumnya menyadari suara mobil Loka terparkir di depan rumahnya, tidak cukup tega mengabaikan Loka begitu saja, Semarah dan se kecewa apa pun Asmara pada Loka, nyatanya tidak merubah status Asmara yang juga masih sah menjadi istrinya.


Tatapan keduanya beradu, Asmara dapat menangkap wajah lelah dan mata susah dari sang suami.


Wibawa di wajahnya kini seolah surut begitu saja, semacam Loka telah kehilangan pijakan sebab Asmara sudah tidak lagi mempercayainya.


Tama berkata-kata Asmara membuka lebar-lebar pintu rumahnya.


Pagi yang mulai menghampiri, membuat Asmara tidak nyaman ketika harus berlama-lama membiarkan suaminya di depan pintu rumahnya.


Bukan apa-apa , hanya saja kebanyakan dari warga desa sudah memulai aktifitasnya sejak fajar mulai menampakan cahayanya.


Asmara masuk kedalam rumah disusul Loka yang mengekor di belakangnya.


Menyadari kehadiran Loka yang tidak hanya seorang diri, bergegas Asmara menyiapkan minuman untuk keduanya.


Dari sekelebat Kaca mobil Loka, Asmara dapat melihat jika kedatangan Loka juga bersama istri barunya yaitu Luna.


Kuat sekali hati Asmara, dua kali dia harus menerima madu dari mantan suami dan suaminya saat ini, namun madu yang ini terasa sangat pahit bagi Asmara.


"Asma. Maafkan aku"


Loka terus saja mengekor kemana langkah Asmara. Tidak sedikitpun Loka membiarkan Asmara mengabaikannya.


"Duduklah, aku tahu kalian lelah, Aku akan siapkan sarapan untuk kita"


Ucap Asmara dengan menahan sesak yang begitu menghimpit dada. Sungguh saat ini ingin rasanya Asmara, meraung dan menangisi semua, namun apalah daya dia merupakan wanita dewasa yang tidak hanya butuh air mata untuk menyelesaikan semua masalahnya.


"Kita harus bicara Asma!"


"Kita bisa bicara bersama-sama Aku, Mas Loka, dan dia"


Ucap Asmara pada Loka namun dengan tatapan tertuju pada Luna yang kini juga telah hadir diantara mereka.


Predikat wanita tersabar di dunia mungkin patut di sandang oleh Asmara, pasalnya dia begitu sabar menghadapi laki-laki yang selalu menanamkan duri dalam hati.

__ADS_1


Tidak ingin semakin terlibat perdebatan yang tentu akan melelahkan, Asmara bergegas menuju dapur nya dan menyiapkan sarapan.


Nasi Goreng telur ceplok, sederhana dan tidak mengada-ada, Sarpan kilat yang bisa di buat Asmara. Jangan tanya bagaiman rasanya, Ada rasa asin saja sepertinya sudah sangat baik untuk mereka. Karena Asmara merasa kehidupannya saat ini sangat hamar dan tidak begitu bermakna.


Selesai menyiapkan sarapan diatas meja, Asmara kembali lagi ke kamarnya, tidak lupa dia mengunci kembali pintu kamar milik ya.


Untuk sesaat ingin rasanya Asmara meluapkan tangisnya, melihat bagaimana sang suami yang begitu dia cinta bersama madu nya, dan seolah dia hanya sebagai penggembira saja.


Sungguh sesak di dada begitu tidak bisa Asmara kendalikan keberadaanya.


5 menit lamanya, waktu yang di butuhkan Asmara untuk kembali menguasai hati dan pikirannya.


Mata sembab pun tidak luput dari pandangan mata Loka dan Luna yang kini telah duduk manis di kursinya masing-masing.


"Asma. Apa kau baik-baik saja ?"


Dengan bodohnya Luna menanyakan pertanyaan konyol pada Asmara.


Mendengar hal itu, Senyum manis terlihat di wajah sayu Asmara.


"Seperti yang kamu lihat Luna, Apakah aku terlihat baik-baik saja ?"


Asmara kembali melemparkan pertanyaan pada istri muda suaminya.


"Asma maafkan aku" ujar Luna penuh sesal.


"Sudah lah, semua sudah berlalu"


Jengah rasanya Asmara selalu mendengar kata 'maaf' dari dua orang yang begitu dalam menanamkan luka di hatinya.


"Saat ini tinggal bagaimana kita menyelesaikan semua yang sudah terjadi diantara kita"


Asmara terdengar begitu tenang dalam berbicara, seolah sudah tidak lagi ada luka di hatinya, meski pada kenyataanya jangankan baik-baik saja, mungkin saja Asmara sudah tidak bisa lagi menata hatinya kembali.


Entah darimana pula seketika air mata menggenang di sudut matanya. Loka begitu rapuh tanpa kehadiran Asmara, sungguh belum benar-benar berpisah saja Loka begitu sangat tidak berdaya.


Tidak butuh waktu lama, ketiganya telah selesai dengan piring masing-masing.


Tidak lupa Asmara meneguk air putih di dalam gelasnya, hingga helaan nafas menjadi tanda jika dia telah siap untuk sekedar berdebat dengan suami dan istri barunya.


"Jadi bagaimana mas Loka?" Asmara memulai dengan pertanyaannya.


"Jawabanku tetap sama Asmara, Aku tidak bisa !!"


Mendengar ucapan suaminya, Asmara lantas hanya tersenyum saja.


Terlihat Loka mengeluarkan selembar kertas dari dalam handbag nya, Entah berisikan apa di dalamnya, namun yang jelas Asmara melihat itu sesuatu yang penting, karena terlihat pula sebuah stiker hologram bergambar materia 10.000.


"Bacalah"


Loka menyodorkan lembaran kertas sebelumnya pada Asmara.


Asmara pun bergegas menerima dan meraih kertas di tangan suaminya.


Inti dari isi tulisan dari kertas yang di berikan Loka adalah tentang dia yang 'berjanji tidak akan menggunakan hati dalam hubungan antara dirinya dan Luna'


Bukan bahagia setelah Asmara membaca keseluruhan dari isi nya.


Justru kini Asmara menertawakan sikap sang suami yang di nilai hanya berbelit-belit saja.

__ADS_1


"Memangnya mas Loka bisa menjamin semuanya akan tetap sama ?"


Tidak hanya Asmara yang seolah tidak percaya, nyatanya Luna yang juga baru melihatnya begitu tidak menyangka jika Loka bersedia menikahinya hanya karena Alasan orang tua.


"Saat ini saja Asma sudah mulai tidak yakin dengan perasaan Mas Loka"


Asmara yang sebelumnya sempat bisa tertawa dengan sikap Loka yang di nilai sangat konyol oleh Asmara , namun kini kembali merasakan sesak di dada, tatkala mengingat bagaimana dia pernah sangat mencintai suaminya.


"Aku pikir aku yang telah di madu. Nyatanya aku lah madunya"


Sudut mata Asmara mulai tergenang dengan Air mata.


"Bagaimana tidak ?, Mas Loka menikahinya tidak hanya sah secara agama namun juga secara negara. Sedangkan dengan Asma, aku hanya istri siri saja !!"


Bergetar suara Asmara mengingat status dirinya yang memang hanya terikat oleh kata Sah di bawah tangan wali hakim pilihan Orang tua angkatnya.


Semua itu benar adanya, karena nyatanya memang Loka tidak berlaku adil terhadap hubungan antara dirinya dengan Asmara.


Sesak begitu menghimpit jiwa, hingga untuk kembali berkata, beberapa kali Asmara harus menghela nafasnya.


"Mari kita berpisah saja"


Deg.


Untuk yang ke.sekian kalinya, kembali Loka mendengar kata itu langsung dari mulut Asmara.


Setelah semua usaha Loka membawa Luna dan mengatakan jika dia tidak akan bersama Luna dan akan menceraikannya, nyatanya tidak sedikitpun menggoyahkan hati Asmara.


Justru kini seolah tegas Asmara ingin berpisah dari seorang Loka Wiratmaja.


"Asma !!. Aku rela meninggalkan semua bahkan orang tuaku, jika itu bisa membuat mu kembali membuka hati untuk ku"


Mohon Loka pada Asmara, sosok wanita yang berstatus sah sebagai istri Siri nya.


"Tidak !"


Tatapan sendu Asmara tertuju pada manik mata Loka. Besar keyakinan Asmara jika berpisah merupakan pilihan terbaik bagi keduanya.


Tidak hanya suara, namun kini juga terasa tangan Asmara bergetar menahan pilu dan sesak di dada.


"Hubungan kita sebatas suami istri. Dan hanya terikat secara siri"


"Namun hubungan Mas Loka dengan keluarga Adalah Darah sebagai pengikat nya"


"Mana bisa Asmara mengabaikan itu semua"


"Perpisahan tidak akan membuat dosa diantara kita, Namun memisahkan diri dari Orang tua sudah jelas Durhaka Namanya !!"


"Dan Asmara tidak akan mungkin tega melakukanya !!"


"Jadi Masi kita berpisah saja"


Entah kekuatan dari mana Asmara begitu tegar mengatakan itu semua, hingga air mata seolah saat ini sudah habis tak bersisa.


Pada dasarnya Asmara hanya berusaha melindungi hubungan diantara mereka, melindungi hubungan Loka dengan kedua orang tuanya.


Meski bagi nya tersiksa dan terluka, setidaknya Asmara tidak menjadi sebab durhaka nya seorang anak pada orang tuanya.


Jika sampai hanya karena cinta Asmara buta dan membuat Loka berkorban untuk dirinya sungguh Asmara akan sangat menyesali nya.

__ADS_1


Bahkan mungkin dirinya tidak jauh berbeda dengan Diana dan Luna, memiliki kesamaan menyukai rumput tetangga.


***


__ADS_2