SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 72. Tidak !


__ADS_3

...Lebih baik terluka sekalian karena melepaskan. Daripada Bertahan Namun Tergores Pelan-pelan....


...🍁...


Takdir.


Kembali sudah mulai terbiasa hidup berdampingan dengan Luka hati yang telah menganga. Meski sempat terluka, namun setelah melepaskan Loka agaknya Asmara mulai terbiasa dengan kesendiriannya.


Hanya pada Senja putrinya saja yang Asmara belum siap untuk mengatakan kenyataan sebenarnya, meski kalaupun Asmara jujur, Senja juga telah siap menerima semua.


Berjalan dengan langkah gontai, Asmara menyusuri satu persatu Jalan menuju rumahnya.


"Asma"


Serak suara Bima masih begitu jelas di telinga Asmara. Hingga Asmara menajamkan penglihatannya, benar dugaan Asmara, jika laki-laki yang tengah berdiri di teras rumah nya tidak lain adalah Bima.


"Sudah lama ?"


Asmara jelas tahu jika mungkin saja sudah sejak beberapa saat lalu, Bima menunggu dirinya. Tentu tidak akan ada yang membukakan pintu untuk Bima, karena Mbok Jum dan Senja juga tengah berada di rumah Bapaknya.


"Cukup lama"


Terdengar gagap Bima tatkala menjawab pertanyaan Asmara. Namun Asmara dapat melihat senyum ramah di wajah mantan suaminya.


Asmara lantas tersenyum kecil mendengar jawaban Bima, sekedar untuk membalas senyum Mantan suaminya.


"Silahkan duduk, aku akan siapkan minuman untuk mas Bima".


Sudah biasa Asmara hanya akan menyambut para tamu yang datang ke rumahnya, hanya sampai sebatas teras rumahnya saja, tidak terkecuali itu Bima.


Asmara yang masih lengkap mengenakan seragam dinas nya lantas membuka pintu, bergegas masuk dan berniat membuatkan minuman untuk tamunya.


"Asma. Aku turut prihatin dengan apa yang terjadi pada dirimu"


Belum sempat Asmara masuk kedalam rumahnya, Bima lebih dulu menghentikan kakinya dengan kata-kata yang begitu sangat menohok jiwa Asmara.


Mendengar nya saja, Asmara lantas tersenyum dengan tawa renyah di mulutnya.


"Jadi hanya untuk itu mas Bima datang jauh-jauh dari ibu kota ?"


Sungguh Asmara sudah tidak lagi dapat berkata-kata hingga gelengan kepala dan tawa di bibirnya lah yang bisa mewakili rasa di dalam dada Asmara.


Sebelumnya Asmara sempat berfikir jika kedatangan Bima karena Senja. Minimal Merindukan atau mengkhawatirkan setidaknya. Namun nyatanya tidak seperti dugaan Asmara.


Bima masih sama saja, hanya memikirkan dirinya sendiri, tanpa sedikitpun berfikir tentang bagaimana kondisi dan mental putrinya.


Semua kejadian dan Luka yang silih berganti menghampiri Asmara, sudah barang pasti akan mengganggu mental dan psikologis Senja, Namun bukan khawatir dengan kondisi putrinya justru Bima bertingkah dengan begitu konyol nya.


"Simpan saja prihatin dan belas kasihan Mas Bima untuk Senja, Putri kita jauh lebih membutuhkan nya dibanding Asma!"


Tegas Asmara katakan jika dirinya tidak membutuhkan belas kasihan dari siapa pun termasuk itu dari Bima mantan suaminya.


Agaknya berita tentang perpisahan dirinya dengan Loka telah merebak tidak hanya di lingkungan Kertagiri namun nyatanya juga telah sampai ke telinga Bima.


Tidak ingin terlibat perdebatan cukup lama dengan Bima, Asmara memilih untuk segera saja mempercepat langkahnya.


Hingga tidak butuh waktu lama Asmara telah kembali menghampiri Bima yang masih setia duduk di teras rumahnya.


Satu cangkir berisi Kopi hitam, dan satu cangkir lainya berisi Jahe hangat tentu untuk Asmara.


Kedua minuman tersebut sangat tepat dan cocok di nikmati dengan syahdunya udara di Kertagiri.


"Silahkan di minum"


Asmara meletakkan secangkir kopi di hadapan mantan suami nya. Bima pun lantas tersenyum dan menerima Kopi buatan Asmara.


Terlihat keduanya menikmati minuman masing-masing. Tidak lupa Bima menghirup kopi hitam buatan Asmara

__ADS_1


"Rasanya masih sama"


"Pas !!"


Kalimat yang dulu kerap Asmara dengan dari Bima ketika keduanya masih tinggal bersama. Dan kali ini agaknya Bima mulai mengingat kembali setiap kenangan dirinya dengan Asmara.


Namun meski Bima mencoba memuji nya, agaknya Asmara hanya biasa saja, tidak sedikitpun dia merasa besar kepala dengan pencapaian yang masih sama.


"Ohya. Baguslah jika aku tidak salah meraciknya"


Ucap Asmara santai dengan kembali menikmati secangkir jahe hangat di tangannya.


"Kamu juga masih begitu mengingatnya" sindir Bima pada Asmara.


"Bukan begitu, aku Asma rasa hanya kebetulan saja"


Asmara sungguh enggan melayani obrolan yang tidak bermanfaat dengan mantan suaminya.


Jika tidak ingat Bima jauh-jauh datang dari ibu kota, mungkin saja Asmara sudah mengabaikan nya begitu saja.


"Aku sudah resmi bercerai dengan Diana "


Lirih Bima katakan berita itu pada Asmara, namun masih sama, Asmara hanya menanggapinya biasa saja, karena jujur memang hal itu bukan urusannya.


"Lalu ?" ucap Asmara.


Tidak ada kalimat yang tepat untuk menanggapi penuturan mantan suaminya.


"Tidak bisakah kita kembali Ber---"


"Tidak !!"


Belum sempat bima selesai dengan ucapanya, Asmara lebih dulu menyabotase dengan kalimatnya.


"Berapa kali pun mas Bima mengatakan nya. Jawaban Asma akan tetap sama"


Cukup singkat dan begitu jelas seharusnya masuk ke telinga Bima, kecuali saat Asmara berbicara penyakit budeg mantan suaminya kambuh.


Dan seharusnya dengan hal itu saja Bima sudah paham apa maksud Asmara.


Namun agaknya sejak perceraian Bima dengan Asmara. Bima tidak hanya budeg saja namun sepertinya Bodoh juga.


Berulang kali Bima mencoba berbaikan dengan Asmara, namun dari dirinya sendiri saja tidak ada itikad baik untuk meyakinkan Asmara jika Bima bersungguh-sungguh untuk kembali pada Asmara.


Berpikir tentang Senja saja rasa-rasanya Asmara tidak pernah melihatnya, lalu bagaimana Asmara bisa kembali menerima Bima, dengan segala sifat dan sikapnya yang masih sama saja.


"Asma tidak bisa. Dan tidak akan pernah Bisa kembali bersama Mas Bima !"


Cukup jelas kembali Asmara tekankan kalimatnya.


Mendengar ucapan Asmara Agaknya Bima terlihat tertunduk dengan segala penyesalan dan rasa bersalahnya.


Kebodohan nyatanya telah membawanya kedalam jurang keburukan. Setelah dia membuang permata seperti Asmara nyatanya Bima hanya mendapatkan batu akik yang bahkan tidak ada harganya.


"Tidak bisakah kita mencoba. Demi senja "


Bima lagi-lagi mencoba menggoyahkan keyakinannya, memanfaatkan kelemahan dirinya, Menggunakan nama senja sebagai senjatanya.


"Demi senja Yaa ?"


Asmara seolah tengah berfikir dengan apa yang di katakan Bima. Terlihat pula anggukan kepala dari mantan suaminya.


"Jika demi Senja. Kenapa baru sekarang mas ?, Kemana saja Mas Bima?"


"Hampir 5 tahun kita hidup bersama, sedikitpun mas Bima tidak memikirkan Senja. Lalu kenapa baru sekarang Mas mengatakan Demi Senja"


"Apa mas Bima sudah Lupa kemana saja 5 tahun waktu kita bersama ?" .

__ADS_1


"Jika memang lupa, Asma akan dengan senang hati mengingatkannya"


Asmara tampak menjeda ucapanya, mengurai kepenatan dalam dada, kembali menggali kesakitan dalam hati demi untuk menyadarkan mantan suami, yang agaknya mulai lupa dengan keegoisannya di masa lalu.


"Selama 5 tahun kita bersama, mas Bima hanya sibuk mencari informasi mengenai mantan terindah mas itu. Setelah mas Bima mendapatkan kembali Mba Diana, lalu Mas Bima Bawa Pulang, dan kemudian Mas Bima mencampakkan Aku serta Senja Putri kita, Mas Bima mengabaikan keberadaan kita begitu saja"


"Apa itu namanya Demi Senja?"


Asmara menghentikan ucapanya, helaan nafas menjadi tanda jika dia begitu merasakan sesak di dada.


Ucap panas yang sebelumnya mengepul diatas cangkir Asmara, kini hanya terasa dingin saja, sebab udara telah serta membawa luka di dada.


Asmara kembali meneguk jahe di dalam cangkir yang selalu dia pegang sedari tadi.


"Tidak perlu menjatuhkan harga diri mas Bima di depan Asma"


"Karena sekeras apa pun mas Bima berusaha Asma tidak akan pernah lagi bisa kembali"


"Jika maksud mas Bima 'Demi Senja' , Maka kita masih tetap bisa membesarkan nya, meski tanpa status diantara kita"


"Ada banyak cara yang mas Bima bisa lakukan untuk putri kita"


Asmara begitu tenang memberi penjelasan pada Mantan suaminya.


Tidak ada sedikitpun kemarahan atau kekecewaan dalam diri Asmara, meski sempat menggunakan nada tinggi, namun bagi Asmara semua yang telah terjadi akan tetap terjadi.


Bima hanya tertunduk dalam lamunannya, nyatanya usahanya untuk bisa kembali dengan Asmara hanya sia-sia belaka.


Asmara kekeh dengan keputusannya, dan mungkin saja rasa sakit hatinya juga telah mendarah daging dalam jiwanya.


Bima sendiri sadar jika dia telah begitu menyakiti, dan agaknya dia juga tidak tahu diri. Mengharapkan sesuatu yang jelas terasa sudah begitu jauh, Asmara tidak mungkin lagi akan kembali.


"Aa perlu Asma panggilkan Senja ?"


Keheningan menciptakan rasa tidak nyaman di hati Asmara, hingga pilihan memanggil putrinya menjadi alasan.


"Tidak usah, aku akan menemui Senja di rumah bapak"


Anggukan kepala menjadi jawaban Atas ucapan mantan suaminya.


Sejujurnya Asmara tidak bermaksud mengusir Bima, hanya saja, dia sudah tidak tahan berlama-lama dengan mantan suaminya jika pada kenyataan nya Bima hanya mengajak Asmara untuk bernostalgia.


Setelah menghabiskan sisa kopi miliknya, Bima beranjak dari duduknya dan mengatakan pada Asmara jika dia akan menemui Senja.


Mungkin masih karena penyesalan yang dirasakan Bima, terlihat bagaimana wajahnya saat ini sangat berbeda dari sebelumnya.


Langkah gontai nya mengantarkan Bima pada mobil yang terparkir di depan rumah Asmara.


Asmara sendiri sejujurnya juga tidak bisa melihat wajah Bima yang begitu menyedihkan terlebih itu akibat ulahnya.


Namun Asmara sendiri tidak ingin mengambil resiko untuk ketiga kali.


"Mas !"


Panggil Asmara ketika Bima baru sempat membuka pintu mobilnya.


Sorot bahagia jelas terlihat di wajah tampan Bima, mungkin saja Bima berfikir Asmara akan merubah keputusannya 'Begitu pikir Bima'


"Kau boleh membawa Senja, jika memang kau menginginkannya, Satu atau dua Minggu"


Asmara serius dengan ucapanya. Karena pada kenyataanya Senja bukan hanya miliknya saja namun juga Bima juga memiliki hak atas Senja putri mereka.


"Oh baiklah, terima kasih. Mungkin jika Senja mau, aku akan membawanya"


Jawab Bima kembali dengan mimik wajahnya yang terlihat berbeda.


Bima kembali melanjutkan langkahnya, beranjak meninggalkan Asmara yang kini berdiri mengantarkan kepergiannya hingga sebatas teras rumah saja.

__ADS_1


***


__ADS_2