
...Setiap detik dalam hidup adalah perjalanan, dan Setiap perjalanan adalah Pelajaran...
...🍁...
Sekeras apapun usaha Asmara untuk berkata namun hasilnya sia-sia saja, Asmara hanya terus diam saja menyadari betapa murka dan marah nya orang tua Loka pada dirinya.
Namun entah mengapa semua seolah menyudutkan Asmara, kenyataan berbanding terbalik dengan kondisi dan hubungan Asmara dan Bima.
"Maaf Bu, ini memang tidak seperti dugaan ibu"
"Sebaiknya kita bicarakan semua dengan kepala dingin"
Bima yang tidak tega melihat Asmara dengan kesedihannya, lantas berusaha membela Asmara yang sedari tadi hanya terus saja meneteskan air mata.
Bukan mendengarkan ucapan Bima, Bu Sukma terus saja mengeluarkan kata-kata kasarnya pada Asmara.
"Cih. Kalian memang sama saja !!!, sama-sama penghianat"
Bu Sukma kembali melontarkan kata-kata rasis nya.
Asmara hanya tertunduk dengan rasa tidak percaya, lemah tubuhnya hingga Asmara hanya bisa menatap dengan nanar wajah kedua mertua nya.
"Ma, Asma mohon dengarkan penjelasan Asma !"
Asmara kini telah berlutut, berharap agar mertuanya mau sedikit saja mendengarkan penjelasan darinya.
"Sudah ma, Ayo kita pergi saja" lagi-lagi pak Adi menimpali
Srakk
Bu Sukma menghempaskan kakinya, menarik paksa dari genggaman tangan Asmara. Hingga tubuh ringkih Asmara terpelanting kebelakang.
Menyaksikan bagaimana pak Adi dan Bu Sukma pergi meninggalkan rumahnya dengan membawa sejuta keburukan atas Asmara.
Sungguh Asmara sudah tidak tahan menahan setiap cobaan yang datang silih berganti. Entah apa lagi nanti yang harus Asmara hadapi.
Perlahan tangan Bima terulur untuk meraih bahu Asmara. Namun dengan sigap Asmara menangkis tangan Bima yang akan menyentuh tubuhnya.
Dengan kasar Asmara menyeka Air mata yang masih saja membanjiri pipi nya.
"Cukup !!"
Entah kekuatan dari mana , Asmara bangkit dan menunjuk wajah Bima yang seolah tanpa dosa.
Merah mata Asmara menatap dengan Murka pada Bima yang kini berdiri di hadapannya.
Kekecewaan yang sudah tidak lagi dapat di tutupi.
Jelas terlihat di wajah Asmara, bagaimana dia sangat ingin meluapkan kekesalan di hatinya.
__ADS_1
"Puas ??"
"Sudah Puas Mas Bima menghancurkan Semua ??"
"Asma hanya memiliki sedikit sisa hati, dari yang selalu mas Bima sakiti. Namun saat ini Habis sudah semua tanpa sisa"
"Apa mas Bima Puas melihatnya !!!"
"Sudah Puas !!!"
Asmara mengatakan semua isi hatinya dengan tatapan nanar pada mantan suaminya.
Kesal rasanya melihat bagaimana Bima hanya dia saja, dan seolah semua nasib buruk yang terjadi pada Asmara bukan karena sikap konyol Bima padanya.
Sungguh dia tidak percaya semua akan terjadi begitu saja, dan sangat cepat tempo nya, seolah semua sudah di rencana, namun inilah kenyataan adanya.
Asmara akan selalu mendapatkan luka dari duka lara yang entah kapan berakhirnya.
"Kenapa mas Bima harus datang dan menemui Asma ??"
"Kenapa Mas !!"
"Kenapa ??!!!"
Asmara hanya bisa meraung, kembali menangis meratapi nasibnya yang seolah selalu begitu-begitu saja.
Mendengar semua ucapan Asmara. Bima hanya bisa diam saja, melihat bagaimana kekecewaan di wajah Asmara, sudah tentu membuat hati Bima juga merasa iba.
Namun untuk saat ini memang Bima tidak bisa berbuat apa-apa, hati Asmara telah diselimuti kebencian pada Bima.
Benar adanya karena tentu kesedihan yang di rasakan Asmara juga atas andil dirinya yang dengan tega menduakan Asmara.
"Asma, Tenangkan dirimu, Aku juga tidak tahu jika semua akan jadi seperti ini"
Asmara hanya terus menangis dengan mengumpat pada Bima yang seolah tidak merasa bersalah.
Sesak di dadanya semakin menjadi, seolah tidak ada lagi harapan yang bisa Asmara dapatkan. Sudah cukup lelah Asmara untuk selalu mengalah.
Asmara merasa Semua menjadi kabur dalam penglihatannya, hingga hanya terasa gelap dan entah mengapa Asmara merasakan tubuhnya terhempas begitu saja.
***
Sinar terang yang seketika menusuk penglihatan Asmara memaksanya untuk membuka mata.
Beberapa kali dia mengerjap kan mata indahnya, menyadari dia tengah pingsan setelah perdebatan panjang nya bersama Bima.
"Kau baik-baik saja Asma?"
Entah ini mimpi atau khayalan semata, namun Asmara melihat Loka duduk di sampingnya.
__ADS_1
Tanpa aba-aba , Asmara langsung saja memeluk tubuh Suaminya, erat dan semakin erat Asmara memeluknya, Seolah tidak ingin lagi Loka meninggalkan dirinya.
"Tenanglah Asma, Semua akan baik-baik saja"
Loka tampak mengusap punggung Asmara, Jelas terasa sisa-sisa ketakutan di dalam tubuh istrinya.
Masih terasa bergetar tubuh Asmara dalam pelukan Loka.
Hening.
"Mas" Lirih Asmara memanggil Loka.
"Sudah. Sebaiknya kamu istirahat saja, aku sudah tahu semua"
Asmara lantas menautkan kedua alisnya. Mencari kebenaran dari ucapan suaminya.
"Semua akan baik-baik saja"
Loka terlihat mencium puncak kepala Asmara.
Masih jelas deru nafas Asmara yang menahan sesak di dada, sungguh hal itu semakin membuat Loka semakin kecewa pada kedua orang tuanya.
Dari semua rentetan kejadian yang menimpa istrinya belakangan di ketahui jika semua sudah Loka Lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Loka yang sebelumnya harus mendatangi sebuah tempat untuk di tinjau proyek pembangunannya, terpaksa harus dia tunda setelah melihat layar pipih nya.
Sebuah adegan yang cukup menohok antara Asmara, Bima dan selanjutnya berlanjut dengan Kedatangan kedua orang tuanya.
Pikiran Loka meradang seketika melihat bagaimana dengan beraninya Bima meminta Asmara untuk kembali padanya.
Belum sampai Loka menguasai hati dan pikirannya, Loka sudah harus kembali di kejutkan dengan kedatangan kedua orang tuanya yang mendadak menghebohkan Pikiran Loka.
Memojokkan Asmara dengan semua kalimat kasar dan kata-kata rasisnya.
Sungguh Sakit hati Loka melihat bagaimana tangan orang tua yang selalu menyayanginya tanggal di kedua pipi istrinya.
Secepat itu pula Loka meminta asistennya untuk menyiapkan penerbangan, Tujuannya hanya satu, yaitu segera menemui Asmara yang jelas saat ini sangat membutuhkan dirinya.
Benar saja, Asmara terlihat bahagia ketika melihat Loka berada di sampingnya.
Tidak sia-sia usaha Loka tempo hari saat Asmara bekerja di kantornya, Loka sempat memasang beberapa kamera pengintai di rumah nya. Sehingga kejadian ini tidak luput dari pengamatan seorang Loka Wiratmaja.
Asmara masih setia menikmati hangatnya pelukan Loka, Lelah hatinya seakan terobati.
Menikmati aroma maskulin dari sang suami yang selalu membuatnya terbuai.
Sungguh Pelukan Loka merupakan obat bagi Luka yang selama ini di derita Asmara.
***
__ADS_1