SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 80. Kebingungan


__ADS_3

...Kukira Lagu. Ternyata Kisahku...


...🍁...


Ruang UGD.


Asmara yang sebelumnya tidak sadarkan diri, kini tengah mendapatkan perawatan di unit gawat darurat rumah sakit Ciptomangunkusumo.


Beberapa petugas medis sigap melakukan penanganan pertama terhadap Asmara.


Tidak hanya Bima, nyatanya Loka juga masih setia berjaga untuk memantau kondisi Asmara.


Setelah mendapatkan infus dan obat melalui intravena, agaknya Asmara mulai merasakan tubuhnya semakin membaik.


Hingga kesadarannya kembali sempurna, sosok Bima dan Loka masih terlihat berdiri di sampingnya.


Sejujurnya Asmara merasa lega, setidaknya masih ada yang memperhatikan kondisi kesehatannya, namun yang di sayangkan Asmara kenapa harus mantan-mantan suaminya.


Mau bahagia, namun pada kenyataanya dia hanya sedih saja rasanya.


Senyum tipis terlihat menghiasi wajah Asmara, sebagai tanda ucapan terima kasih pada kedua mantan suaminya.


"Lihat !. Karena ulahmu Asmara jadi pingsan !!"


Bima menyalahkan kejadian yang menimpa Asmara pada Loka.


Terdengar pula Bima meninggikan suaranya, mendominasi suasana UGD yang sebelumnya tenang menjadi sedikit gaduh karena ulah Bima.


Sementara Loka sendiri hanya diam saja, Mengacuhkan begitu saja semua yang keluar dari mulut Bima. Selain untuk menghindari perdebatan dengan lawan bicaranya, juga untuk menjaga perasaan Asmara.


Melihat bagaimana ekspresi wajah Asmara saja sudah membuat Loka merasa sangat bersalah jadinya.


Loka sadar jika saat ini Asmara tidak hanya butuh istirahat, juga tentu saja dia membutuhkan ketenangan untuk hatinya.


Wajah pucat dan lemas nya Asmara, sudah cukup membuat Loka merasa panik dengan kondisinya. Loka hanya berharap tidak akan terjadi sesuatu yang membahayakan Asmara dan janin dalam kandungannya.


Tidak mendapatkan Respon dari Loka, pada akhirnya Bima diam dengan sendirinya.


"Bisa saya bicara dengan keluarga ibu Asmara"


Seorang dokter yang tiba-tiba saja menghampiri tempat Asmara istirahat.


"Saya !!"


"Saya !!"


Bima dan Loka menjawab secara bersama.


Dokter yang sebelumnya bertanya lantas melihat kearah dua laki-laki di hadapannya. Dengan kebingungan dokter tersebut kembali bertanya.


"Saya butuh suami Bu Asmara saja" ucap sang dokter dengan mengulas senyum di wajahnya.


"Saya !!"


"Saya !!"


Bima dan Loka menjawab secara bersama-sama untuk yang kedua kalinya.


Respon Bima dan Loka seketika mengundang rasa tidak percaya dari dokter yang ada di sana, hingga helaan nafas terdengar keluar dari hidung besar nya.


Untuk sesaat dokter tersebut terlihat memandang kearah Loka dan Bima secara bergantian, kemudian mengarahkan pandanganya pada Asmara.


Sementara Asmara hanya bisa memalingkan wajahnya saja. Jujur Asmara merasa sangat tidak nyaman dengan tatapan dokter di hadapannya. Meski terlihat ramah namun Asmara yakin jika dalam hatinya tengah bertanya-tanya, siapa suami Asmara sesungguhnya 'Batin Asmara'

__ADS_1


"Dokter bisa katakan langsung saja pada saya, tentang kondisi saya"


Asmara yang mulai jengah dengan tingkah Bima dan Loka , pada akhirnya berbicara pada dokter di hadapannya.


Sementara Asmara berusaha menahan rasa malu nya. Dokter di hadapan Asmara hanya tampak menghela nafas saja dan tersenyum ramah saja.


"Saya Bidan dok, InshaAllah saya paham"


Asmara berusaha meyakinkan dokter yang telah memeriksa diri nya.


Mendengar penuturan dari Asmara, dokter tersebut tampak menganggukkan kepala dengan senyuman di wajah nya.


"Baiklah, saya akan sampaikan di sini saja berkaitan kondisi Bu Asmara"


Dokter tersebut tampak teliti dan hati-hati ketika memberi penjelasan berkaitan kondisi kesehatan Asmara.


"Berdasarkan hasil pemeriksaan dan hasil lab, kondisi umum Bu Asmara baik-baik saja, hanya kelelahan dan kurang istirahat saja"


"Untuk masalah lainya timbul karena Kurangnya kadar Hb Bu Asmara, namun hal ini kerap terjadi pada wanita yang mengalami hyperemesis , sementara untuk pemeriksaan HCG Bu Asmara tidak di lakukan"


Asmara cukup lega mendengar penuturan dari dokter di hadapannya. Dan lagi Asmara cukup beruntung dengan penjelasan dokter yang menggunakan istilah kedokteran, sehingga kehamilan yang masih Asmara rahasiakan tetap Aman 'Batin Asmara'.


Melihat Asmara terus saja menganggukkan kepala, membuat dua laki-laki di hadapannya tampak lega, karena tentu kondisi Asmara baik-baik saja.


"Sebaiknya Bu Asmara istirahat untuk sementara waktu, serta kurangi aktifitas, dan perbanyak makan makanan sehat, Hal ini tentu untuk menjaga kondisi kesehatan ibu dan--"


"Baik dok, terima kasih atas penjelasanya"


Asmara dengan segera memotong pembicaraan dokter di hadapannya. Hal itu tentu untuk tetap menjaga rahasia kehamilannya.


Dokter juga sempat menjelaskan jika Asmara tidak perlu rawat inap, hanya perlu untuk cukup istirahat saja. Dan setelah infusnya habis bisa langsung pulang.


Sejujurnya dalam hati, Asmara begitu mengkhawatirkan kondisi janin dalam kandungannya, benar apa yang di jelaskan dokter sebelumnya.


Asmara sadar jika dirinya sudah membahayakan kesehatan janin dalam kandungannya.


Sejujurnya Asmara sempat berkata pada dirinya sendiri jika kemungkinan dia akan menemani ibunda Bima hingga kondisinya kembali baik dan pulih, namun melihat bagaimana kondisi kesehatannya sendiri membuat Asmara ragu untuk berjaga hingga kondisi ibu Bima pulih seperti sedia kala.


Belum lagi setelahnya, Asmara harus kembali bekerja tanpa ada jeda dan bahkan tanpa libur sehari saja.


Asmara bukan mengajukan cuti , dia hanya menukar jadwal jaga dengan rekan sesama bidan lainya, hal itu Asmara lakukan karena untuk tetap menjaga performa dalam bekerja. Karena di hari-hari sebelumnya Asmara sudah mengajukan cuti kerja nya.


Membayangkan beratnya hari-hari kedepan, membuat Asmara agaknya perlu mempertimbangkan kembali niatnya.


Namun tidak mungkin juga Asmara meninggalkan Senja begitu saja. Sementara pekerjaan kantor nya juga tidak bisa begitu saja dia abaikan.


Asmara terdiam dalam lamunannya, hingga Bima menyadarkan Asmara dengan sentuhan lembut di puncak kepala nya.


"Kau baik-baik saja ?"


Melihat Bima yang begitu memperhatikan Asmara, hal itu cukup membuat hati Loka meradang jadinya, namun sebisa mungkin Loka menahan amarahnya dan menghindari pertengkaran dengan Bima.


Anggukan kepala menjadi jawaban Asmara atas pertanyaan Bima sebelumnya.


"Mas Bima" panggil Asmara


"Ya Asma?"


Loka kembali meradang tatkala mendengar nama Bima keluar dari mulut Asmara. 'Cemburu ?' mungkin saja.


"Sebaiknya mas Bima kembali saja ke kamar ibuk, takutnya Senja rewel, Asma akan di sini hingga infusnya habis"


Mendengar ucapan Asmara, Bima hanya terlihat menautkan kedua alisnya, menyadari hal ini akan merugikannya, sebab mungkin saja Loka akan mencuri kesempatan darinya, membuat Bima ingin menolak saran Asmara, namun apa yang di katakan Asmara ada benarnya juga, entah bagaimana jadinya jika Senja rewel atau merepotkan neneknya. 'Batin Bima'

__ADS_1


Setelah bergulat dengan pikirnya, akhirnya Bima setuju dengan saran Asmara, dan meninggalkan Asmara bersama Loka di sana.


"Kamu tanggung jawabku, keberadaan mu disini karena ajakan ku, jadi jika terjadi sesuatu jangan sungkan menghubungiku"


Bima tampak mewanti-wanti Asmara dengan kalimat panjang lebar nya, tentu tujuannya untuk membuat Loka tidak mencuri kesempatan dari nya. Dan tidak lain alasan lainya untuk mencuri perhatian dari Asmara.


Namun agaknya Loka biasa saja. Tidak sedikitpun terlihat kemarahan di wajah tampan Loka Wiratmaja, dan justru Bima yang terlihat kebakaran jenggot jadinya. Melihat Loka yang tidak bereaksi dengan semua ucapnya.


"Terima kasih mas Bima, sebaiknya mas Bima segera ke kamar ibu saja"


Asmara mengingatkan kembali Bima pada ucapan sebelumnya.


Anggukan kepala menjadi tanda jika Bima menyetujui ucapan Asmara. Hingga Bima beranjak meninggalkan keduanya.


Suasana tampak canggung tatkala Bima telah pergi dari ruangan Asmara, disana hanya ada Loka dan Asmara saja.


Untuk menghindari canggung diantara mereka, Asmara memilih untuk memejamkan matanya. Bukan tanpa alasan hal itu dia lakukan, tentu hanya untuk membuat Loka tidak terus menatap wajahnya.


Sementara itu Loka yang juga melihat Asmara terus saja mengabaikan dirinya, lantas beranjak dari duduknya.


Ada sedikit rasa heran di wajah Asmara karena cepatnya perubahan sikap dari mantan suaminya, dari yang sebelumnya begitu mencemaskan dan mengkhawatirkannya kini berubah menjadi acuh dan terlihat biasa saja. Bahkan Asmara bisa melihat Loka yang meninggalkan dirinya sendiri di sana.


Meski ada rasa kecewa dengan sikap Loka, setidaknya Asmara cukup diuntungkan dengan kepergian Loka, dia tidak lagi harus berpura-pura untuk tidur di hadapannya.


Menyadari dirinya hanya tinggal sendiri, Asmara lantas berusaha untuk benar-benar memejamkan matanya, berharap dia bisa beristirahat dengan baik meski hanya untuk sebentar saja.


Belum lama Asmara memejamkan mata nya, bahkan Asmara masih mendapati sedikit kesadarannya, diluar sana terdengar Loka tenaga berbicara dengan seorang dokter, meski terdengar samar, namun jelas itu merupakan suara mantan suaminya. Hingga suara-suara di luar sana benar-benar membuat matanya terbuka sempurna.


Setelah perbincangan yang Asmara dengar sebelumnya, Loka terlihat masuk kembali ke ruang dimana Asmara berada, namun kali ini tampaknya sedikit berbeda, karena Loka bersama dua orang perawat di belakangnya.


"Selamat pagi Bu Asmara"


Seperti biasa perawat dan petugas kesehatan akan selalu ramah terhadap semua pasien nya, begitu juga dengan rumah sakit dimana Asmara berada, tentu sekelas rumah sakit besar seperti ini akan dengan ramah menyapa setiap pasien-pasiennya.


"Pagi sus"


Asmara terlihat mengulas senyum di wajahnya. tidak lupa Asmara menyiapkan dirinya, supaya petugas kesehatan lebih mudah memeriksanya, namun nyatanya dia tidak lagi di periksa.


"Kami lepas selang infusnya ya Bu Asmara" ucap salah satu petugas kesehatan di hadapan Asmara.


Bukan memberikan jawaban Asmara lantas menautkan kedua alisnya, sedikit ada rasa heran karena seingatnya dia bisa pulang setelah cairan infus habis, namun saat ini jangankan habis, bahkan setengahnya saja rasanya belum ada.


"Oh. Memangnya sudah boleh di lepas sus ?"


Anggukan kepala menjadi jawaban petugas kesehatan di hadapan Asmara. Sementara Loka yang juga berada disana hanya terlihat diam saja.


"Bu Asmara sudah di perbolehkan untuk pulang, dan akan lebih baik jika beristirahat di rumah saja" jawab salah satu petugas lainya.


Asmara lantas hanya menganggukkan kepala saja, meski sejujurnya dia masih ingin menumpang beristirahat di sana, namun agaknya dokter telah mengusirnya, atau ini merupakan ulah Loka 'Batin Asmara'


Hingga lelah bergulat dengan pikirannya, pada akhirnya Asmara menurut saja, setelah tangan yang sebelumnya terhubung dengan selang infus di lepas, Asmara mulai bangkit dari tidurnya.


Sigap Loka membantu Asmara yang terlihat menopang tubuhnya menggunakan tangan yang sebelumnya di pasangkan selang infus disana.


"Asma bisa mas"


Asmara berusaha menahan tangan Loka yang akan menyentuhnya.


Namun bukan mengindahkan permintaan Asmara, justru Loka langsung saja mengangkat tubuh Asmara dan menduduk kan nya diatas kursi roda.


"Mas !!"


Suara pekikan Asmara yang mendadak kaget dengan sikap agresif Loka pada dirinya. Namun entah mengapa Asmara justru menangkap kemarahan diwajah mantan suaminya.

__ADS_1


Karena nyatanya sedari perdebatan dengan Bima sebelumnya, Loka memang tidak lagi terdengar mengeluarkan suaranya.


***


__ADS_2