SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 93. Masih Mencari


__ADS_3

...Bercerita dengan aksara dan pena bertinta mungkin lebih baik, daripada bercerita pada mereka yang bernyawa....


...🍁...


Hari berganti.


Mentari kembali menyinari bumi. Selalu Sama dan akan selamanya sama. Setia untuk selalu menyapa.


Sama hal nya Loka yang masih setia mencari keberadaan Asmara. Namun agaknya Asmara masih setia dalam tempat persembunyiannya.


Sudah satu bulan lamanya, Loka bertahan dengan kebingungannya, namun dia tidak pernah berhenti dan menyerah mencari sang istri.


Meski batin meronta Kemana lagi Loka harus mencari, sementara sudah sekian hari Asmara tidak terdengar lagi kabarnya.


Asmara pergi tanpa permisi, membawa pula kandungan yang tentu saja semakin besar setiap hari. Segar di ingatan Loka bagaimana senyuman pertama yang dia lihat tatkala Asmara bangun dari tidur panjangnya.


Senyum yang selalu indah, dan teduh membuat Loka selalu ingin bersama Asmara.


Loka dan yang lainya memilih untuk mencari sendiri keberadaan Asmara dari pada melibatkan Polisi, selain akan semakin merepotkan juga tentu membuat nama keluarga Loka semakin tidak di percaya.


Selama tinggal di desa Loka memilih untuk bersama Oma nya. Selain karena lebih tenang juga karena jarak rumah Oma dan Asmara tidaklah terlalu jauh, sehingga setiap saat Loka bisa mengecek kalau-kalau Asmara kembali ke rumahnya.


Masih sama dan semakin besar harapan Loka untuk menemukan istrinya. Meski belum ada kabar dari orang-orang suruhannya, namun Loka percaya jika pasti Asmara bisa segera Loka kembali dapatkan.


Perpisahan ini membuat Loka semakin yakin jika dia tidak akan pernah lagi mempermainkan cinta Asmara, terlebih menduakan cinta nya. Seperti yang pernah sebelumnya Loka lakukan dengan Luna.


Tidak hanya Loka yang bersedih karena Asmara, Namun tampaknya Bu Sukma juga begitu menyesali semua perbuatan nya pada Asmara, hingga dia bersama suaminya kini pindah ke desa demi untuk menemukan keberadaan Asmara.


Sudah sejak satu Minggu yang lalu Bu Sukma bersama suaminya, tinggal di kediaman Oma bersama Loka yang tentunya lebih dahulu berada di sana.


Hanya Zahra saja yang tidak terlihat batang hidungnya, karena Zahrah tentu saja harus mengurus perusahan papa nya.


Mungkin ini merupakan kali pertama setelah sekian lama Bu Sukma tinggal dalam waktu cukup lama di desa. Sejak hijrah ke ibu kota, Bu Sukma hanya datang untuk sekedar berkunjung, tidak jarang bahkan dia tidak menginap.


Mungkin lebih tepatnya hanya untuk memastikan kondisi Oma baik-baik saja.


Meski Oma selalu meminta Bu Sukma menemaninya, namun agaknya gaya hidup glamor Bu Sukma telah melupakan jati dirinya. Silau nya ibukota membuat Bu Sukma betah untuk berlama-lama.


Namun kali ini demi Asmara dia rela tinggal dan menetap dalam waktu yang terbilang cukup lama. Masih entah sampai kapan, karena mereka tentu tidak bisa tahu kapan Asmara akan di temukan.


Secangkir teh menemani Loka dan Bu Sukma pagi ini, ini mungkin juga merupakan pertama kalinya bagi mereka setelah sekian lama.


Sejuknya Kertagiri membuat Loka bisa sedikit lega meski dia belum menemukan keberadaan istrinya, setidaknya dengan dia yang selalu berada disana, Loka bisa mengingat semua kenangan indah bersama Asmara.


"Ka. Selain desa ini, Asmara pernah cerita kemana dia biasa pergi ?"

__ADS_1


Loka terdiam dengan pertanyaan mama nya, jujur tidak banyak saat itu yang sempat Loka tanyakan pada Asmara. Namun untuk tempat Loka hanya tahu di sudut desa sana ada sebuah danau yang indah.


Asmara kerap berkunjung kesana jika sedang memiliki waktu luang, bersama senja tentunya. Namun tempo hari Loka juga sudah kesana dan bertanya pada beberapa pedagang yang tentu mengenal istrinya. Mereka semua sama, mengatakan jika tidak lagi melihat Asmara datang kesana.


"Tidak ma"


Lirih Loka dengan menyesap kembali teh di tangannya.


Bu Sukma tampak menganggukkan kepalanya, menyadari masih akan butuh waktu cukup lama untuk menemukan Asmara.


"Mama kalau mau pulang ke Jakarta tidak papa"


Menyadari mungkin saja kedua orang tuanya bosan berlama-lama di desa, Loka memilih menawarkan hal itu pada Bu Sukma.


Senyuman terlihat jelas di wajah wanita paruh baya di hadapan Loka.


"Mama akan menemanimu sampai kita menemukan Asmara"


Terdengar cukup meyakinkan Bu Suma dengan ucapanya.


Loka dan Bu Sukma tampak menerawang jauh, menatap hamparan kebun teh sejauh mata memandang. Sebagian besar kebun teh di sana merupakan milik keluarga Wiratmaja, dan sebagian kecil lainya saja yang di kelola oleh masyarakat di desanya.


Sejuknya udara nyatanya tidak cukup mampu mengaburkan kesedihan Bu Sukma, Kesedihan jelas terlihat di wajah wanita paruh baya di hadapan Loka.


Bu Sukma tampak kembali mengingat memori kebersamaan dirinya dan juga orang tua menantunya. Sementara Loka hanya menatap sang mama dengan senyum kecil di wajahnya.


"Mama menyesal Ka. Kenapa tidak sejak dulu mama tahu jika Asmara merupakan putri Baskara"


Lelehan bening seketika meluncur dari sudut mata indah Bu Sukma.


Bu Sukma Tampak menyeka air mata yang jatuh begitu saja.


"Jika bukan karena Baskara dan Halimah, mungkin dulu papa dan mama tidak pernah bersama" tukas Bu Sukma.


Loka memilih diam dan mendengarkan semua cerita masa lalu ibunya. Tidak butuh tanggapan, karena mungkin saja Bu Sukma hanya butuh untuk di dengarkan.


"Mereka orang baik ka. Tidak heran jika Asmara mewarisi semua kebaikan dari mereka"


"Mama menyesal telah menyakiti hati Asma"


Isak tangis jelas terdengar keluar dari mulut Bu Sukma, Loka yang berada di sampingnya merasa cukup bangga dengan kejujuran mama nya.


Usapan lembut di punggung, Loka berikan pada wanita paruh baya yang selalu dia panggil 'mama'.


"Loka yakin tidak lama lagi kita akan menemukan Asmara"

__ADS_1


"Mama yang sabar ya"


Loka tampak menenangkan Bu Sukma, dia tahu betapa rasa bersalah itu selalu mengganggu dan menghantui mama nya.


Anggukan kepala menjadi jawaban Bu Sukma atas pernyataan dari putranya.


Keduanya tampak kembali menikmati sisa teh dalam cangkirnya. Terasa nikmat dan tentu hangat. Tidak hanya karena faktor teh saja, nyatanya duduk bersama dan bercerita seperti saat ini sudah sejak lama Loka dan Bu Sukma tidak lakukan.


"Kalian sedang apa ?"


Suara Serak wanita tua yang tidak lain adalah Oma Ima.


"Oma"


"Ibu"


Loka dan Bu Sukma keduanya saling menyapa.


Oma dengan langkah ringkih nya, dibantu Loka untuk duduk di antara mereka.


"Bagaimana. Sudah ada kabar soal Asma ?"


Oma tampak lirih bertanya, selain Loka dan mama nya, Oma juga selalu bertanya tentang kabar dan keberadaan Asmara.


"Belum Oma"


Mendengar jawaban cucunya, Oma hanya mengangguk kan kepala nya saja.


"Semoga tidak lama lagi Asma kembali"


Oma kembali bermonolog pada anak dan cucunya, dan Loka pun mengaminkan harapan Oma.


***


Kediaman Pak Basuki.


Sejak tidak adanya kabar dari Asmara, tentu membuat Senja begitu merindukan ibunya, namun agaknya Pak Basuki selalu bisa menghibur cucunya.


Dan meski merindukan, namun Senja tidak lantas tantrum dan rewel. Ketika menanyakan ibunya.


Tidak hanya Senja, tapi mbok Jum juga saat ini tinggal bersama orang tua Asmara. Menyadari jika tetap di rumah Asmara maka mbok Jum juga akan kesepian sepertinya.


Keputusan untuk membawa mbok Jum juga karena Alasan Senja yang tinggal bersama mereka, sehingga Pak Basuki butuh bantuan mbok Jum juga untuk menjaga cucunya ketika mereka bekerja.


***

__ADS_1


__ADS_2