
...Cinta tidak pernah salah dalam pilihannya, yang salah hanya Kondisi dan waktunya saja. Mungkin akan bahagia jika bukan di dunia Mungkin Saja diakhirat nantinya....
...🍁...
Menangis sudah tidak lagi memiliki arti jika semua kejahatan dan kebencian telah terjadi. Begitu juga Pak Adi dan Bu Sukma yang hanya bisa tertunduk lemas dengan semua penyesalan dan rasa bersalahnya pada Asmara.
Entah bagaimana jadinya ketika mereka bertemu dengan sosok menantu yang begitu sangat mereka tidak suka dan nyaris mereka celakakan untuk memisahkan dari putra mereka.
Masihkah punya nyali dan muka untuk sekedar berhadapan bahkan dengan jiwa Asmara yang saat ini tengah terbujur lemah tak berdaya, bertarung nyawa dengan semua kejadian yang telah menimpanya.
Penyesalan memang selalu datang di akhir, begitulah setan selalu bisa membuat manusia terlena dengan semua sikap dan sifat sombong nya.
Nyatanya kehidupan Bu Sukma yang masih bisa dia rasakan sampai detik ini merupakan belas kasihan dari orang tua Asmara, menantu yang sangat dia tidak suka.
Andai saja saat itu Halimah tidak mendonorkan ginjalnya, mungkin saja Sukma juga tidak akan bertahan lama.
Andai saja saat itu Baskara tidak membantu Adi meyakinkan orang tua Sukma, maka saat ini tidak akan ada sosok Loka Wiratmaja diantara Adi dan Sukma. Putra kebanggaan mereka yang dulu sempat sangat ingin mereka jodohkan dengan Asmara, namun nyatanya saat ini justru sangat ingin mereka pisahkan faktanya.
Kebaikan Baskara dan Halimah nyatanya mendarah daging pada putri semata wayangnya Asmara, tidak hanya cantik namun Asmara juga sangat lembut, pengertian, baik hati, dan selalu sabar dalam segala hal.
Jika di gambarkan, mungkin saja Asmara merupakan bidadari dalam perwujudan nyata di dunia.
"Bagaiman ?. Sudah puas kalian ?"
Oma begitu murka, terlihat dari kalimat nya yang terdengar dingin dalam pendengaran Pak Adi dan Bu Sukma.
"Ibu Tidak menyangka Sukma !!"
Gelengan kepala menjadi pertanda jika wanita tua disana sangat kecewa pada Anak dan menantunya.
"Kau juga Adi !!!, seharusnya sebagai suami, kamu mencegah Sukma dari perbuatan jahatnya, tapi kenapa kamu justru mendukung nya !!!"
"Iblis apa yang telah merasuki hati kalian sebenarnya !!!"
Bergetar suara Oma menahan tangis dalam dada, menyadari entah bagaimana kondisi Asmara dengan semua luka yang sudah dia derita.
Batin dan jiwanya terluka namun Asmara masih sanggup untuk menahannya, namun saat ini Asmara bertarung dengan nyawanya, mampukan dia bertahan dengan semua sakit yang ada ?.
Mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut Oma Ima, jujur ini merupakan teguran, peringatan , dan sudah pasti hukuman dari yang Maha Kuasa untuk pak Adi dan Bu Sukma.
Tidak hanya penyesalan, sudah pasti putranya Loka juga akan begitu murka dan menyalahkan mereka, kemungkinan terburuknya adalah hilangnya kepercayaan Loka pada kedua orang tuanya.
Namun itu sudah menjadi resiko dan tentu hukuman bagi mereka yang telah berbuat dosa.
Sementara pak Adi dan Bu Sukma hanya tetap diam saja, mendengar semua makian dan umpatan Oma Ima.
Mereka sadar jika semua yang telah di lakukan sangat tidak pantas untuk di maafkan.
__ADS_1
***
Tergopoh-gopoh Oma Ima dengan tongkat di sebelah tangan kanannya, menyusuri lorong dingin rumah sakit tempat dimana Asmara berada.
Dibelakang Oma Ima ada pula sosok Pak Adi dan Bu Sukma. Wajah sedih dan penyesalan terlihat mendominasi keduanya.
Mungkin saja juga dengan rasa malu yang mereka bawa atas semua perbuatan mereka sebelumnya pada Asmara.
"Oma?"
Pak Basuki sempat tidak percaya jika Oma telah tiba, datang jauh-jauh dari desa untuk menemui putrinya Asmara.
"Basuki. Maafkan Oma !"
Lirih Oma Ima penuh sesalnya. Cukup malu rasanya meski hanya sekedar untuk meminta maaf saja.
"Oma. Ini bukan salah Oma, takdir telah memilih Asma"
Pak Basuki bijak dalam berbicara, karena tentu semua bukan salah siapa-siapa hanya takdir yang memang tengah menguji keimanan dan kesabaran Asmara.
Meski semua tahu jika asap tidak akan pernah ada jika tidak ada api yang mendahuluinya, dan semua rentetan kejadian ini rasa-rasanya berawal dari sikap penolakan Pak Adi dan Bu Sukma pada Asmara.
Sementara Oma tengah berbincang dengan Pak Basuki. Terlihat Pak Adi dan Bu Sukma mendekati putranya. Sadar jika Loka terus saja mendiamkan keduanya. Tentu berusaha mendekati putranya.
Pelan namun pasti Bu Sukma menyentuh lengan putranya, namun dengan gerakan cepat pula Loka berhasil menangkis tangan ibu kandungnya.
Mengibaskan tangan Bu Sukma begitu saja, tentu membuat wanita paruh baya itu merasakan kesedihan di hatinya. Sejujurnya bukan dendam, Loka hanya marah dan kecewa atas semua sikap kedua orang tuanya.
Ketika kata tidak bisa mewakili rasa, dan tangan tidak bisa berbicara, maka diam lah yang menjadi jawaban Loka atas semua ke egois an orang tuanya.
"Bagaimana kondisi Asma ?"
Bergetar tubuh Loka menahan sesak di dada, mendengar pertanyaan ibunya 'sungguh Kenapa baru sekarang mereka sadar dengan perbuatanya' Batin Loka.
Ingin rasanya Loka mengumpat dan berkata kasar pada dua orang di hadapannya, namun nalurinya masih sadar untuk tetap hormat pada kedua orang tua yang telah berjasa melahirkan dan membesarkannya.
"Mama harusnya sudah bisa menebak bagaimana, tidak perlu bertanya pada Loka !!!"
Bu Sukma terdiam mendengar suara Loka yang irit namun begitu menusuk pendengaran nya. Kecewa dan sakit hati tentunya, jelas terlihat di wajah putra kebanggaan nya.
"Maaf kan mama nak"
Terdengar begitu tulus dalam ucapan Bu Sukma menyesali semua perbuatannya, namun saat ini tentu semua sia-sia saja.
"Sudah lah Ma. Semua sudah terjadi. Loka harap ini menjadi pelajaran berharga untuk mama dan papa !"
Sesenggukan Bu Sukma mendengar ucapan putranya, Loka bisa saja marah dan mengumpat pada nya, namun nyatanya dia berusaha sabar dan meredam emosinya.
__ADS_1
"Tidak perlu banyak bertanya, cukup mama doakan saja, Semoga wanita yang sangat Loka cinta, namun sangat Mama benci keberadaanya, akan baik-baik saja didalam sana !!"
Lirih namun terdengar getaran dalam setiap kata yang diucapkan putranya. Itu cukup meyakinkan Bu Sukma jika Loka begitu sangat mencintai Asmara.
Semua orang tampak diam mendengar perdebatan antara orang tua dan anak disana.
Tentu mereka mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut Loka maupun Bu Sukma.
Dengungan suara tembok yang menggema sudah cukup menjelaskan pada semua pasang telinga disana, atas semua ketegangan yang sebelumnya menimpa Asmara akibat semua sikap dan perbuatan Bu Sukma dan suaminya.
Semua tampak diam dalam lamunan, rapal An doa tentu saja tidak pernah surut dari semua orang yang berada di sana.
Ada yang duduk ada pula yang berdiri tegap menanti. Berharap operasi akan berjalan lancar dan Asmara baik-baik saja.
Sudah 10 jam sudah, waktu yang di habiskan dokter dan team medis lainya bergelut dengan semua tindakan dan prosedur medis dalam menangani Asmara.
Namun agaknya ini masih akan cukup lama. Karena keluar masuk dokter ke ruang operasi mereka hanya setia dengan diamnya.
Mengacuhkan semua pertanyaan dari keluarga Asmara yang antusias bertanya. Hingga hanya senyuman dari mereka yang selalu terlihat menjadi jawaban atas semua pertanyaan.
Waktu menunjukan pukul 23.05
Sudah hampir tengah malam, beberapa jam lagi mungkin fajar akan menampakkan cahaya nya. Namun Asmara masih saja setia berada di dalam sana.
Luna menjadi orang pertama yang kembali ke rumahnya. Setelah itu Bima dan Ibunya pun juga telah kembali ke kamar nya, sementara Senja bersama pak Basuki telah ke hotel, tempat dimana sebelumnya Loka siapkan untuk mereka. Oma Ima juga telah kembali ke rumah bersama pak Adi dan Bu Sukma. Kini hanya tersisa Loka yang akan selalu setia menemani Asmara.
Lampu ruang operasi telah padam. Itu menandakan jika semua dokter dan team medis lainya telah selesai dengan semua prosedur medis penanganan pada Asmara.
Namun kekhawatiran tentunya tidak berhenti sampai di situ saja.
"Keluarga Bu Asmara ?" Sopan suara petugas medis menyapa Loka.
"Iya sus ?" Jawab Loka.
Senyum terlihat diwajah lawan bicara Loka, namun itu juga tidak berarti apa-apa.
"Bagaimana kondisi Istri saya ?"
"Apa dia baik-baik saja ?"
"Kapan saya boleh menemui nya ?"
Loka memberondong sosok di hadapannya dengan semua pertanyaan yang telah dia simpan dalam kepalanya.
"Pak. Terkait kondisi ibu Asmara hanya dokter yang memiliki kewenangan untuk menjelaskan nya"
"Mari ikut saya, Dokter Indra akan menjelaskan semua di ruangannya. Saat ini beliau telah menunggu anda"
__ADS_1
Sopan dan lembut suara petugas tersebut menjelaskan pada Loka, namun sekali lagi itu tidak berarti apa-apa untuk nya, karena bagi Loka hanyalah bagaimana kondisi istrinya saja.
***