
...Cinta Bukan Siapa Cepat dia Dapat, Namun cinta merupakan dia yang datang di waktu yang tepat....
...🍁...
Ini cukup menakutkan, Asmara hanya berfikir semoga saja ini benar hanya setan. 'Batin nya'
Karena jika benar ini setan yang datang mungkin Asmara akan biasa tenang. Namun jika penjahat atau orang yang berniat buruk datang, bisa apa Asmara, sementara dia hanya sendiri saja.
Jujur Asmara tidak berniat untuk membuka pintu rumahnya, namun ketukan di luar sana semakin membuat telinganya berdengung saja.
Jangankan untuk memejamkan mata, Merasa tenang saja mungkin saat ini Asmara sudah tidak bisa.
Malam semakin dingin. Suara suara hewan terasa semakin dekat di telinga.
Entah mengapa malam ini lebih suram dari malam-malam sebelumnya. Mungkin merupakan malam pertama pula Asmara merasakan ketakutan di hatinya.
Sudah sejak 15 menit yang lalu Asmara tidak lagi mendengar suara ketukan di pintu. Hal itu cukup membuat Asmara menjadi sedikit lega.
Susah payah Asmara mencoba memejamkan mata nya. Namun ternyata tidak mudah baginya.
Cukup lama Asmara menenangkan pikirannya, hingga terasa matanya terasa pedih begitu Saja.
Baru saja Asmara memejamkan matanya, kembali dia harus terjaga, untuk yang kedua kali dia mendengar ketukan pintu diluar rumahnya.
Namun ada yang berbeda, kali ini selain ketukan pintu ada juga suara tetangga yang sangat dikenali oleh Asmara.
"Bu bidan. Tolong Bu !!"
Bergegas Asmara bangkit dari tidurnya, menuju pintu utama, dan benar saja setelah dia membuka pintu rumahnya, Asmara mendapati sosok Bu Seno datang dengan raut wajah panik nya.
"Ada apa Bu ?"
Segera Asmara bertanya pada tetangganya, dan Bu Seno tampaknya mencoba ngatur nafasnya setelah berlari menuju rumah Asmara.
"Bu Asma, suami saya"
Asmara menautkan kedua alisnya, menunggu kalimat selanjutnya yang ingin Bu Seno katakan pada dirinya.
"Pak Seno kenapa Bu ?"
Asmara mencoba menenangkan tetangganya, dan mulai bertanya tentang apa masalahnya.
__ADS_1
"Suami saya badanya panas bu, menggigil dan mengigau terus"
"Saya bingung harus bagaimana"
Isak tangis mewarnai sisa malam Asmara, tidak mungkin Asmara mengabaikan permohonan dari tetangganya, sementara ketidak susah dia juga sudah pasti akan membutuhkan mereka.
Tanpa ba bi bu Asmara meraih tas Medical Kid nya, dan bergegas menyusul Bu Seno menuju rumahnya.
Rumah Bu Seno dengan Asmara hanya berjarak sekitar 20 meter saja, sehingga tidak butuh waktu lama, mereka telah sampai pada tujuannya.
Benar saja, setelah serangkaian pemeriksaan yang di lakukan Asmara , Dia mendapati luka infeksi pada kaki Pak Seno, terlihat sudah cukup lama, dan melalui penuturan Bu Seno, beberapa hari yang lalu pak Seno tanpa sengaja menginjak tunggak (sisa batang kayu yang telah di tebas).
Luka nya terlihat cukup dalam, dan Asmara merasa tidak mampu untuk melakukan tindakan, selain karena minimnya fasilitas juga karena kompetensi Asmara yang hanya seorang bidan saja.
"Bu. Sepertinya pak Seno butuh di bawa ke Puskesmas, untuk melakukan tindakan pada Luka nya"
Melihat kebingungan di wajah Bu Seno. Asmara mencoba memberikan alternatif lainya.
"Namun untuk sementara saya akan berikan Antibiotik dan penurun panas, semoga besok kondisi ak Seno jauh lebih baik, dan bisa di bawa ke Puskesmas segera." ujar Asmara.
Meski besok pak Seno sudah membaik, tentu Asmara tetap meminta dia dibawa ke puskesmas saja, selain Luka yang terbilang cukup dalam, dari luka tersebut juga berpotensi menyebabkan infeksi yang justru akan menyebabkan komplikasi. Takutnya gula darah pak Seno tinggi malah akan berakibat fatal nantinya.
Panjang lebar Asmara memberikan penjelasan.
Setelah cukup memberi penjelasan dan melakukan pemeriksaan, Asmara bergegas kembali ke rumahnya.
Sudah tengah malam saat Asmara melangkah kan kaki masuk kedalam rumahnya, Asmara baru menyadari jika ternyata tadi dia tidak mengunci pintu rumah nya.
Dengan badan yang sudah terasa lelah, Asmara tidak lagi memikirkan masalah kunci, dia langsung saja menuju kamarnya, tujuannya hanya satu, tentu untuk merebahkan tubuhnya dari rasa lelah dan gelisah.
Sebelum Asmara masuk ke dalam kamarnya, dia baru menyadari jika lampu di dapurnya masih menyala, seingat Asmara dia telah mematikannya sebelum dia pergi ke kamar sebelumnya.
'Aneh sekali' batin Asmara
Namun tidak lagi berpikir tentang lampu di rumahnya, Asmara memilih untuk bergegas menuju kamarnya, lelah tubuhnya membuat dia sudah tidak lagi ingin bergelut dengan pikiran buruknya.
Istirahat menjadi keinginan terbesar Asmara.
Bergegas Asmara menuju kamarnya, namun baru saja beberapa langkah dia masuk ke dalam, Langkahnya sudah harus terhenti, tatkala sebuah tangan tengah mencekal bahu nya.
'Merinding ?. Takut ?.' Tentu saja.
__ADS_1
Tidak hanya Asmara mungkin banyak wanita di luar sana akan merasa takut pula, jika di hadapkan dengan kondisi yang sama.
Mungkin sudah lari terbirit-birit ketika kondisi yang sama terjadi ada mereka. Begitu pula dengan Asmara.
Ingin rasanya Asmara berteriak se keras-kerasnya, namun lidahnya terasa kelu, jangankan untuk berteriak, menggeser tubuhnya saja dia tidak mampu.
Keringat dingin mulai membasahi kening, bergetar tubuh Asmara tatkala sosok di belakangnya semakin mendekat pada dirinya.
Asmara hanya bisa meremas kuat ujung bajunya, berharap ini hanya mimpi saja. Namun rasanya terlalu tinggi harapannya, hingga dia merasa tangan itu nyata telah menyentuh nya.
Sebuah tangan yang di yakini Asmara hanya milik seorang lelaki, karena tangan tersebut terasa besar dan kekar.
Segala doa dia rapal kan, berharap jika ini setan maka segeralah menghilang, namun jika ini manusia, Asmara hanya berharap jika semoga dia bisa pingsan saja.
Bergetar tubuh Asmara menahan Nafas yang mulai menyentuh tengkuk lehernya. Benar saja, semakin dekat jaraknya dengan sosok di belakangnya, Asmara merasakan hembusan nafasnya mulai menyapa leher jenjangnya.
'Merinding' tentu saja
'Ya Allah. Bantu Hamba' batin Asmara dalam dada.
Suasana terasa hening dan begitu dingin. Hingga Asmara hanya bisa diam dalam ketakutannya.
"Kenapa kamu tidak membuka pintu untuk ku"
Suara berat dari sosok lelaki yang jelas Asmara tahu milik siapa itu.
'Mungkinkah dia' batin Asmara
Sekuat tenaga Asmara meyakinkan hati dan pikirannya. Jika tidak mungkin dugaan nya benar adanya, namun rasa rasanya tanda-tanda nya sama, 'batin Asmara'
"Tidak kah kau tahu aku kedinginan menanti mu"
Suara yang terasa semakin berat, dengan tubuh yang semakin mendekat.
Panas tubuhnya bisa Asmara rasa, dan Asmara masih setia dengan diamnya, jujur saja takut rasanya.
Ingin Asmara menjawab, namun sial lagi-lagi lidahnya terasa kelu meski hanya untuk sekedar mengeluarkan satu kata saja.
"Aku merindukanmu "
Suara itu semakin jelas menyapa telinga Asmara, Sampai pada saat Asmara memberanikan diri untuk membalik tubuhnya.
__ADS_1
Dan benar saja, sosok di belakang tubuhnya adalah sosok yang begitu mengenal Asmara.
***