SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 38. Bersama


__ADS_3

...Sejujurnya Pengalaman lah yang mendewasakan kita, Bukan Usia...


...🍁...


Panjang lebar pembicaraan yang keduanya utarakan, mungkin karena sejak keduanya saling mengenal, baru kali ini Asmara dan Loka sempat duduk bersama dan saling bertanya bagaimana diri masing-masing.


Tentu tidak mudah bagi keduanya untuk memulai, terlebih belum adanya cinta yang mendukung kegiatan intim bersama. Tentu akan menyulitkan keduanya.


Namun tidak bagi dua manusia dewasa itu , keduanya telah sama-sama merasakan bagaimana sakitnya di tinggalkan oleh pasangan, sehingga bukan cinta yang menjadi tujuan utama keduanya dalam membina rumah tangga.


Mungkin karena merasa sudah sama-sama menemukan pilihan hati nya dan karena sudah saatnya, itulah yang membuat keduanya mantap untuk melangkah ke jenjang selanjutnya.


Bagi Loka sendiri mungkin selain karena alasan yang sudah dia sampaikan pada Asmara, juga karena ada alasan lain yang mendasari nya.


Diantaranya yaitu orang tuanya yang selalu memaksa untuk Loka segera memiliki pasangan, juga Loka yang tidak suka jika dirinya diatur dengan perjodohan.


Namun hal itu tidak mungkin Loka sampaikan pada Asmara, Bagi Loka, Asmara hanya perlu mendengarkan dan mengetahui baik-baik nya saja. Tidak dengan cela dan cacat yang tampak di mata Asmara.


Mengingat bagaimana kerasnya hidup Asmara selama ini, membuat Loka tidak sampai hati untuk mengatakan jika hubungan yang dia suguhkan dimulai dari tekanan orang tuanya, meski begitu tentu Asmara akan memahaminya, karena keduanya memulai sama-sama belum tanpa cinta.


Sungguh Loka memang pandai memainkan kata-kata, namun hal itu tidak berarti dia hanya main main saja, Loka serius dengan niatan baik ya meminang Asmara.


Meski terbilang baru saja, namun Loka tidak segan untuk membuka hatinya, mendekatkan diri pada Asmara yang masih tampak menutup pintu hatinya rapat-rapat.


Keduanya tampak tertawa dan bercanda bersama, hingga dua orang pelayan masuk dan meletakkan makanan dan minuman yang sebelumnya telah dipesan Loka


"Silahkan Bapak, Ibu" dengan sopan pelayan mempersilahkan.


Asmara menganggukkan kepala sebagai jawaban dan rasa terima kasih nya.


Setelah dua pelayang sebelumnya pergi, kini giliran Loka dan Asmara menyantap hidangan yang telah tersaji di atas meja.


Tidak hanya Loka tampak Asmara juga begitu menikmati makanannya, hingga untuk beberapa saat keduanya diam dan fokus pada makanan nya.


Tidak butuh waktu lama , Loka dan Asmara telah selesai dengan makan siangnya, keduanya sepakat untuk langsung pulang ke rumah Asmara.


Karena pertemuan yang belum direncana sebelumnya pasti akan membuat Asmara kembali telat pulang kerumahnya.


Tidak lupa Loka membawakan buah tangan untuk pak Basuki dan Senja serta mbok Jum yang tentu sedang menunggu keduanya di rumah.


Dua buah ingkung ayam Jawa, beserta lalapannya telah siap Loka bawa.


"Maaf ya mas jadi repot" Asmara tampak menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Tidak masalah, Aku yang menginginkannya Asma"


Loka mencoba mencairkan suasana di hati Asmara, lantas tanpa aba-aba Loka pun menggandeng tangan Asmara keluar dari restoran, Bersama dua buah paper bag di tangannya. Sontak hal itu cukup mengundang beberapa pasang mata untuk setia menatap keduanya.


Mesra dan sangat cocok begitu batin banyak orang disana.


Keduanya telah berada di dalam mobil, Loka tampak sigap memasangkan seatbelt pada Asmara, lagi-lagi tanpa aba-aba, karena Loka melakukanya begitu saja, hal itu tentu membuat Asmara sedikit kaget dibuatnya.


Bukan tidak suka, hanya saja berada dalam jarak yang terlalu dekat dengan Loka, cukup membuat kesehatan jantungnya Asmara tidak baik-baik saja. Entah karena sebab apa namun Asmara selalu merasakan nya, setiap kali dia berdekatan dengan Loka.


Namun Asmara memilih tersenyum pada Loka, selain untuk menguasai hatinya juga untuk mengucapkan 'terima kasih' yang tidak bisa dia sampaikan dengan kata-kata.


"Kita pulang sekarang". Ajak Loka, dan Asmara menjawab dengan anggukan kepala.


Keduanya kembali menyusuri ramainya jalanan yang mulai banyak kendaraan dari luar kota. Tidak heran jika menjelang akhir pekan akan banyak lalu lalang kendaraan yang memiliki plat nomor luar kota.


Lagi lagi Loka menunjukan ketertarikannya pada Asmara, tanpa malu-malu dan tanpa ragu Loka menarik bahu Asmara untuk menyandarkan kepala Asmara di bahu Loka.


Sulit untuk di lakukan, karena di dalam mobil ada pembatas antara tempat duduk Loka dan Asmara, namun Loka mengabaikannya, tetap memaksa Kepala Asmara untuk bersandar di bahunya.


"Mas harus ya kaya gini ?"


Pada akhirnya Asmara memberanikan diri untuk bertanya.


"Bukan. Bukan begitu mas, hanya saja leher Asma sakit" lirih Asmara dengan menutup mulutnya menggunakan sebelah tangan, Sejujurnya dia sangat malu untuk mengatakan itu.


Mendengar penuturan Asmara seketika membuat Loka tidak berhenti tertawa. Sejujurnya Loka juga tahu jika Asmara tidak nyaman, kepalang tanggung ingin menunjukan sisi romantisnya, ternyata justru menyakiti calon tambatan hatinya.


"Oke oke, sebaiknya memang begitu" ucap Loka pada akhirnya, masih dengan berusaha menahan tawa nya.


Tidak butuh waktu lama, mobil yang di kemudikan Loka telah terparkir di depan rumah Asmara.


Tidak seperti sebelumnya, Kedatanganya akan di sambut ramainya Senja yang melompat gembira, namun tampaknya rumah sangat sepi, Asmara tidak melihat keberadaan mbok Jum ataupun senja menyambut kedatangannya.


Asmara bergegas meraih pintu mobil untuk membuka nya, namun gerakan cepat Loka menarik tangan Asmara membuatnya kembali terduduk di kursinya.


Entah mengapa perasaan dan jantung Asmara berdebar kencang begitu saja, Loka semakin mendekatkan wajahnya, Menatap Asmara dengan tajam nya, semakin lama semakin dekat, bahkan Asmara pun bisa merasakan hembusan Nafas Loka yang terasa menyentuh kulit pipinya.


Tanpa terasa bahkan kini tangan Loka telah menyelinap di balik rambut panjang Asmara, menarik tengkuknya. Hampir saja Loka meraih bibir Asmara, namun secepat itu pula Asmara menahannya.


"Sabar mas, Belum waktunya"


Asmara tampak menahan bibir Loka dengan satu tangan yang dia letakkan disana.

__ADS_1


Melihat respon Asmara Loka justru terkekeh dibuatnya, hingga dia hanya menundukkan kepala untuk sesaat, meski masih dengan posisi yang sama dan masih sangat dekat seperti sebelumnya.


Namun bukan Loka namanya jika tidak memaksa.


Cup.


Sebuah kecupan pada akhirnya mendarat sempurna di pipi kanan Asmara.


"Mas... !!"


Asmara tampak mengusap lembut pipi yang barusaja mendapatkan ciuman dari Loka.


"Cuma sedikit Asma, Ya sudah sini aku balikin"


Loka justru memanyunkan bibirnya, berusaha kembali mencium Asmara, dengan dalih mengembalikan ciuman sebelumnya.


Hal itu sontak di tolak oleh Asmara, dan justru membuat keduanya tertawa bersama.


Tingkah konyol Loka selalu mengingatkan Asmara dengan sahabatnya, mungkin karena hal hal konyol seperti ini lah Asmara mudah beradaptasi dengan Loka yang terhitung baru saja di kenalnya.


Sejujurnya kehidupan Asmara sangatlah monoton, kaku, dan tak jarang penuh tantangan dan cobaan, namun adanya guyonan dari sahabatnya Rani, mampu sedikit melonggarkan hati Asmara. Dan kini dia juga mendapatkannya dari sosok calon suami.


"Ya udah. Turun yuk" Ajak Loka pada akhirnya. Asmara hanya mengangguk saja. Sejujurnya ini kan rumah nya, tapi kenapa malah jadi Loka yang mengajaknya turun.


Benar saja rumah tampak sepi tak berpenghuni, Entah kemana Mbok Jum dan Senja pergi.


Asmara lebih dulu meraih ponsel nya, memastikan mungkin saja ada pesan yang terlewat dari mbok Jum atau pak Basuki.


Benar saja ternyata beberapa kali pak Basuki menghubunginya, mengatakan jika saat ini sedang ke kota, tidak lupa Senja dan mbok Jum ikut bersama mereka.


Asmara tampak lega melihat pesan yang di kirim oleh pamannya.


Asmara pun bergegas mencari kunci pintu rumah yang entah dia letakkan dimana, namun betapa kagetnya Asmara mendapati Loka tengah membawa kunci rumahnya.


"Mas kok punya kunci rumah Asma ?"


Asmara tampak menautkan kedua alisnya, menatap tidak percaya pada Loka yang kini tengah sibuk membuka pintu rumah nya.


Namun bukan jawaban yang dia dapatkan, justru Loka tersenyum manis tanpa dosa. Sungguh aneh hal itu bagi Asmara, namun dia memilih abai saja, toh sebanyak apapun dia bertanya Loka tetap saja tidak menjawabnya.


Sempat muncul pikiran buruk di hati Asmara, mungkin saja kepergian Mbok Jum dan Senja serta pak Basuki merupakan ulah dari Loka yang mengaturnya, Namun kembali rasional Asmara meyakini jika tidak mungkin seperti itu kenyataannya.


***

__ADS_1


__ADS_2