SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 76. Tamu Malam


__ADS_3

...Yang pergi biarkan pergi. Yang kembali biarkan kembali. Karena hidup akan silih berganti antara datang dan pergi....


...🍁...


Mobil yang di kemudikan Loka telah sampai di tempat tujuannya, sebuah restoran yang memiliki nuansa ala-ala Jepang, tentu disana hanya menyediakan jenis makana. Japanese Food saja.


Sejujurnya Loka tidak begitu menyukai jenis makanan mentah yg di sediakan disana, hanya karena menghargai kedua orang tuanya saja, dia kerap ikut kesana.


Loka masih sangat paham jika disana merupakan tempat favorit Pak Adi dan Bu Sukma kedua orang tuanya, sudah jelas mereka telah menunggu Loka dan Luna.


Luna berjalan lebih dulu daripada Loka, selain Loka yang tidak tahu dimana meja pilihan orang tuanya, juga karena sejujurnya Loka sangat malas bersama Luna.


Melihat Loka yang seolah mengabaikannya, Luna berusaha untuk meraih tangan Loka. Namun yang tidak di sangka justru Loka mengibaskan tangannya.


"Jaga batasanmu !"


Loka tampak tidak suka dengan sikap Luna pada dirinya.


Melihat bagaiman Loka yang bereaksi keras dengan perlakuannya, agaknya Luna merasa semua yang telah dia siapkan akan sia-sia saja.


Ruang VIP.


Luna menghentikan langkahnya, begitu juga Loka yang ikut berhenti di depan sebuah ruang dengan nuansa Jepang. Mungkin saja kedua orang tuanya telah menunggu disana 'Batin Loka' .


Seorang pelayan telah membukakan pintu ruang tersebut, keduanya masuk dan pelayan sebelumnya kembali menutup pintu nya.


Jelas terlihat oleh pandangan mata Loka disana hanya tersedia dua peralatan makan saja dan seorang Chef yang tentu akan melayani, melihat itu saja amarah Loka seketika membara. Mendapati ternyata Luna telah membohonginya.


Tidak butuh waktu untuk berlama-lama, Loka bergegas meninggalkan Luna.


"Mas, Tunggu mas !!"


Mohon Luna pada Loka, Luna bahkan memegang erat tangan Loka, agar dia tidak pergi meninggalkannya.


"Kau sengaja membohongi ku ?"


Tajam mata Loka menatap Luna. Loka benar-benar tidak menyangka Luna sengaja memancing kemarahan nya.


"Mas, sampai kapan mas akan melakukan ini pada Luna ?"


Isak tangis tidak lagi Luna hindari, menatap sang suami dengan penuh harap, satu yang Luna selalu inginkan dari Loka, mendapatkan kesempatan yang sama seperti Asmara.


"Sampai kau menyerah !"


Deg.


Mendengar kalimat yang terasa menyakitkan , Luna hanya dapat terdiam dengan tatapan sedih, tak percaya jika Loka benar-benar tidak menginginkannya.


"Aku istrimu mas, Sadarlah"


Luna tetap memohon belas kasihan dari Loka. Namun bukan merasa kasihan justru Loka merasa sangat muak dengan sikap dan kelakuan Luna.


"Kau juga harus sadar bagaiman kau bisa mendapatkan posisi itu"


Gelengan kepala Luna menjadi tanda jika dia tidak menyangka Loka akan terbagi terangan mengatakannya , Loka selalu saja menganggap dirinya adalah sebab perceraian diri nya dan Asmara.


Sejujurnya Luna juga berperan di dalamnya, meski tidak secara langsung, namun Luna ikut andil dalam memisahkan ikatan cinta Loka dan Asmara, namun agaknya Luna masih selalu berusaha mendapatkan hati Loka.


***


Jam pulang kerja telah tiba, Seperti rencana semula Asmara akan kembali pulang bersama Bagas dan Rani.


Ketiganya telah berada dalam satu mobil, tidak lupa Rani bertanya pada Asmara, mungkin saja Asmara menginginkan sesuatu sebelum mereka tiba di rumah nya.

__ADS_1


Namun agaknya karena masih dalam masa kehamilan muda, Asmara tidak menginginkan apa-apa.


Tidak butuh waktu lama Asmara telah sampai di depan pagar rumahnya.


Sebelum benar-benar masuk, Asmara sempat menawarkan pada dua sahabatnya itu untuk sekedar mampir, namun Rani menolak ajakan Asmara dengan alasan bagus masih harus kembali lembur.


Dengan langkah pendek Asmara menyusuri jalan menuju rumah nya, segar udara Kertagiri menyapa, membuat hati Asmara yang sempat terluka kini mulai merasa biasa dan baik-baik saja.


"Ibuk..."


Asmara di kagetkan dengan putrinya Senja, gadis kecil tersebut berlari menghambur dalam pelukan Asmara


"Enja, Sama siapa nak ?"


"Sama Mbok Jum Buk, Tadi diantar kakek" Celoteh Senja dengan begitu manja nya.


Asmara mengendong gadis kecilnya untuk masuk, benar saja disana ada mbok Jum yang juga tengah sibuk menyiapkan makanan untuk Asmara.


"Masak apa Mbok "


Tidak seperti biasanya Asmara selalu menuju kamar terlebih dahulu, sekedar untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian dinas nya.


Namun kali ini sedikit berbeda karena Asmara langsung saja menghampiri mbok Jum yang tengah berada di dapur.


Aroma masakan terasa menggugah selera, Ingin sekali rasanya Asmara segera mencicipi nya.


Mbok Jum yang melihat tingkah Asmara hanya tersenyum saja. Mbok Jum sendiri juga bahagia jika pada akhirnya Majikannya bisa sepenuhnya melupakan mantan-mantan suaminya.


"Mbok nanti setelah selesai langsung di siapkan saja ya, Kita langsung makan sama-sama"


Anggukan kepala menjadi jawaban asisten rumah tangga Asmara . Sementara itu Asmara beranjak meninggalkan dapur untuk segera mengganti pakaian dinasnya.


Tidak butuh waktu lama asmara telah selesai pula dengan empat raka'at kewajibannya. Segera dia kembali ke dapur kalau saja mungkin masih ada yang bisa dia lakukan untuk membantu asisten nya.


"Sudah semua buk, tinggal panggil Senja saja"


Asmara tampak tersenyum bahagia, melihat beberapa hidangan di meja. Mbok Jum cukup terampil dalam hal memasak, jadi tidak butuh waktu lama, beberapa masakan siap di sajikan.


Ketiganya kini tengah makan bersama, Sayur bayam kunci, sambal terasi, Ayam goreng, Tempe goreng, menjadi sajian istimewa untuk Asmara, selain itu tidak lupa udang asam manis untuk Senja.


Ketiga nya terlihat khusyuk dengan piring di hadapannya, begitu juga Senja yang saat ini mulai mandiri dengan makan sendiri tanpa di suapi oleh mbok Jum.


"Ibuk enak" Celoteh Senja dengan menghisap jari-jarinya


Sisa saus di tangan kecilnya terasa nikmat, hingga senja tidak berhenti menjilati nya.


Satu persatu telah selesai dengan makanan nya, mbok Jum mulai membereskan meja makan dengan sisa makanan yang masih bisa di simpan.


Sementara Senja kini bersama Asmara, keduanya tengah bermain sambil belajar. Jika masih ada sisa waktu memang Asmara selalu menyempatkan waktu untuk mengajari putrinya.


Tahun ini juga Usia Senja genap 4 tahun, Asmara sudah harus mulai memikirkan tentang sekolahnya.


Asmara selalu bahagia tatkala melihat Senja tumbuh menjadi anak yang cerdas dan pintar, belum sekolah saja Senja sudah pandai mengeja, selain itu juga Senja sangat penurut dan tidak manja, itu lah salah satu kebahagiaan Asmara.


***


Senja mulai menyapa.


Asmara telah selesai dengan semua tugas profesi nya, beberapa pasien sebelumnya datang dengan keluhan batuk , pilek, diare, tidak jarang juga Mereka suntik KB.


Adzan magrib mulai menyapa telinga Asmara, plakat tanda 'tutup' untuk sementara Asmara buka, dan sudah seperti biasa dia akan kembali membuka nya saat selesai dengan semua ibadah wajibnya.


Asmara kembali ke kamar nya, tidak lupa sebelumnya dia membersihkan dirinya dengan terlebih dahulu mengambil wudhu.

__ADS_1


Di rumah Asmara hanya ada dua kamar mandi, Dimana satu berada di kamar pasien, satu lagi berada di dalam rumah yang menjadi toilet bersama dan di gunakan seluruh anggota keluarga.


Gelaran sajadah panjang membentang, Asmara menumpahkan segala rasa, dan keluh kesah yang menyelimuti hatinya.


Mungkin jika di luar sana orang memandang Asmara sangat tegar dan kuat, nyatanya diatas sajadahnya Asmara begitu kalut dengan semua rasa yang terasa menyesakkan dada.


Tubuhnya mulai bergetar tatkala Asmara mulai menganggukkan semua harap dan cita nya, Tidak lain tidak bukan hanya pengampunan dan kekuatan yang selalu dia pinta.


Selain kebahagiaan Senja, Asmara tidak lupa kini berdoa atas keselamatan janin dalam rahimnya.


Janin yang entah nantinya akan bertumbuh dengan bahagia atau akan sama seperti kakaknya Senja, yang harus ikut merasakan duka lara ibu nya.


Setelah cukup lama menumpahkan semua rasa, Asmara mengusap sisa-sisa air mata yang turut hadir membasahi pipi nya.


Tidak lupa Asmara melipat kembali mukena dan sajadah nya, serta tidak lupa dia kembali merapikan tempat ibadah nya.


"Ibuk... "


Asmara sedikit terkejut dengan kedatangan Senja yang tiba-tiba. Namun seketika senyum manis terlihat di wajah Asmara, tatkala gadis kecilnya itu memeluk dan mencium dirinya.


"Iya Enja, ada apa ?"


Senja masih saja bergelayut. Manja diatas pangkuan ibu nya. Terlihat wajah gadis kecilnya begitu bahagia.


"Ada ayah " Celoteh Senja dengan malu-malu di wajahnya.


Mungkin karena terlalu bahagia hingga Senja menjadi malu mengatakan jika di luar sana ada ayahnya. 'Namun ayah siapa ?' batin Asmara.


Asmara mulai menerka-nerka, siapa tamu yang datang ke rumahnya. Karena saat ini sudah termasuk kategori malam untuk orang-orang yang tinggal di desa seperti Asmara.


Belum sempat Asmara keluar dari kamarnya, mbok Jum telah menyusul Senja ke kamar Asmara.


"Ada pak Bima Bu"


Mendengar siapa tamu nya, seketika Asmara menautkan kedua alisnya. Tidak percaya jika Bima sudah datang lagi ke rumahnya.


Karena seingat Asmara baru beberapa hari yang lalu Bima datang, dan sekarang sudah kembali lagi. Agak aneh namun Asmara berusaha biasa saja, selama kedatangan Bima murni untuk Senja dan tidak ada niatan untuk mengganggu dirinya, rasa-rasanya Asmara tidak masalah saja.


"Baik mbok, suruh pak Bima tunggu, Asma nanti kesana"


Mbok Jum bersama Senja keluar dari kamar Asmara, sementara Asmara kembali merapikan peralatan sholatnya.


Setelah merapikan kembali pakaian dan rambut panjangnya, Asmara beranjak keluar menemui Bima.


Benar saja, dari jendela kaca rumahnya, Asmara dapat dengan jelas melihat disana ada sosok Bima tengah duduk di teras rumahnya.


Terlihat pula Bima tengah menikmati secangkir kopi yang sebelumnya telah tersaji. Mbok Jum cekatan menyiapkan Minuman untuk tamu sang majikan.


"Assalamualaikum Asma"


Bima bangkit dari duduknya, melihat Asmara keluar menemuinya, senyum cerah ceria terlihat menghiasi wajah Bima.


"Waalaikumsalam mas, Sudah lama ?"


Seperti biasa Asmara selalu ramah dalam menyambut para tamu nya, tidak terkecuali mantan suaminya Bima.


"Baru saja sampai" Jawab Bima.


Sejujurnya Asmara begitu penasaran dengan tujuan Bima datang, namun dia masih cukup enggan untuk sekedar mempertanyakan.


"Ibuk sehat?, kenapa tidak sama ibuk datangnya ?"


Itulah pertanyaan yang pada akhirnya keluar dari mulut Asmara.

__ADS_1


***


__ADS_2