
...Tidak semua orang siap dengan Luka pada akhirnya. Itulah mengapa perlu Menyadari sebelum Akhirnya hanya kecewa. Karena sejatinya luka datang secara tiba-tiba, tanpa aba-aba, dan tanpa kata....
...🍁...
Hingga dini hari Asmara dan Loka baru menyelesaikan kegiatan mereka. Sangat menguras energi dan tenaga nyatanya, hingga Loka langsung tertidur begitu saja setelah selesai dengan semua keinginannya bersama Asmara.
Namun hal itu tidak berlaku bagi Asmara, justru dia tidak bisa memejamkan matanya setelah perkelahian panjang diatas ranjang.
Sungguh lelah tubuhnya, justru membuat Asmara semakin bertenaga bahkan sekalipun untuk begadang hingga pagi menjelang.
Pergulatan yang baru keduanya rasakan setelah sekian purnama berpuasa, nyata nya cukup membuat semua kerinduan tersalurkan.
Suara adzan subuh mulai menyapa merasuk hingga indra pendengaran Asmara.
Perlahan namun pasti Asmara mulai bangkit dari tidurnya, tidak ingin mengganggu Loka yang masih nyenyak dalam tidurnya, Perlahan Asmara menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya dan Loka.
"Mau kemana ?"
Erat tangan Loka menahan tubuh Asmara yang akan beranjak meninggalkannya.
"Sudah Adzan mas, Asma mandi dulu ya" ujar Asmara
"Kenapa tidak mengajak ku mandi bersama?"
Dengan santainya Loka bertanya, meski masih dengan matanya yang terpejam. Namun tidak disangka Loka dengan sigap menahan Tubuh istrinya.
Sungguh jantung Asmara bergemuruh seketika, mendengar ucapan Loka yang terdengar nyaring di telinga nya.
"Mas tapi sebaiknya kita mandi sendiri-sendiri saja" Tolak Asmara
Bukan mengindahkan titah istrinya, Loka justru semakin mengeratkan tangannya.
"Kita bisa melakukanya bersama Asma, lagi pula akan semakin cepat jika bersama-sama"
Sudah bukan merupakan hal yang biasa sejujurnya, jelas sebagai wanita dewasa dia tahu apa yang kini berada dalam otak suaminya.
Tidak mungkin hanya sekedar mandi saja, karena Asmara jelas tahu jika Loka juga ingin menjajal dirinya di dalam kamar mandi sana.
Helaan nafas Asmara menjadi jawaban atas jengah nya dia memaksa Loka untuk mandi sendiri-sendiri saja.
"Mas. Jika masih menginginkan Asma, kita bisa melakukanya nanti setelah sholat, Sekarnag sebaiknya kita sholat dulu"
Asmara jelas menolak keinginan suaminya, karena waktu subuh jelas terbatas saatnya, karena tentu tidak bisa di tunda. Karena lewat sedikit saja sudah waktunya untuk Duha.
Meski dengan berat hati Pada akhirnya Loka melepaskan tubuh ramping Asmara untuk beranjak meninggalkan nya. Semakin dilihat semakin menghilang Asmara dibalik kamar mandi kamarnya.
Setelah kepergian Asmara, mata Loka terbuka sempurna, senyum bahagia jelas terlihat merekah di wajah tampannya. Mengingat bagaimana semalam dia bersama Asmara.
Pertempuran yang bahkan tidak ingin Loka lupakan, ingin rasanya dia mengulang dan mengulang.
Entah mengapa Asmara seolah menjadi obat dari kegalauan dan kegersangan hatinya, mengingat bagaimana singkat dia dan Asmara mengenal, bahkan sempat mengalami penolakan orang tuanya.
Namun saat ini dia telah tidur bersama Wanita yang dia cinta, sungguh masih tidak bisa begitu saja Loka percaya. Dan inilah kenyataanya, Asmara telah menjadi milik Loka seutuhnya.
Tidak hanya sekali bahkan berkali kali Loka meminta Asmara untuk melayaninya, tidak sekalipun Asmara menolak dan marah padanya.
__ADS_1
Padahal sebelumnya jelas Loka melihat bagaimana wajah lelah istrinya setelah pernikahan masih harus melayani beberapa pasien dadakan.
Hal itu semakin membuat Loka merasa beruntung mendapatkan Asmara.
Dari pernikahan sebelumnya Loka dapat membedakan bagaimana kenikmatan aktifitas ranjang dari keduanya.
Bersama dengan Asmara, Loka baru bisa menikmati bagaimana indahnya malam panjang dengan sejuta sentuhan yang membuatnya melayang.
"Mas. Mandi dulu gih, Asma tunggu di mushola"
Loka mengangguk sebagai jawaban atas perintah Asmara.
Asmara beranjak dari kamarnya , membawa sajadah dan mukenanya menuju musholla di ruangan samping kamarnya, ruangan yang khusus di peruntukan sebagai tempat aktifitas ibadah.
Loka hanya menurut saja, bangkit dari tempat tidur dengan tubuh polosnya, bergegas mandi dan membersihkan diri dari sisa sisa keganasannya semalam.
Tidak butuh waktu lama Loka telah kembali dengan wajah yang jauh lebih segar dari sebelumnya, Asmara ternyata telah menyiapkan baju untuk suaminya sebelum dia meninggalkan kamar menuju mushola.
Keduanya Lantas melaksanakan ibadah subuhnya dengan begitu nikmat, bersyukur atas segala kesempatan bahagia dan sehat yang masih bersarang dalam jiwa.
Hingga Loka mengucap salam tanda berakhir nya ibadah dua raka'at pagi ini.
Asmara lantas mencium punggung tangan sang suami untuk ke dua kalinya, jika yang pertama saat ijab qobul selesai, dan ini merupakan kedua kalinya.
Begitu juga Loka yang seketika mendaratkan ciuman mesra di puncak kepala istrinya. Hingga Asmara merasa sesuatu yang berbeda dari sentuhan tangan suaminya.
"Apa mas Loka tidak lapar?"
Asmara memberanikan diri untuk menyela dengan ucapannya.
Loka terkekeh mendengar ucapan Asmara, sejujurnya itu merupakan penolakan dari istrinya meski dengan bahasa lain.
"Lapar " Jawab Loka dengan singkatnya.
"Ya sudah, Asma masak dulu untuk kita berdua"
Belum juga Asmara melepaskan mukenah bagian atasnya, Loka lebih dulu memboyong tubuh istrinya untuk masuk kembali kedalam kamar.
"Kita sarapannya di sini saja, Aku ingin makan Yang ini"
Asmara hanya geleng-geleng kepala saja, melihat bagaimana tingkah suaminya yang mulai memperlihatkan sisi agresif dan kepemilikan nya.
Hingga Sesuatu yang begitu indah kembali keduanya rasakan pagi itu.
***
Suasana meja makan terasa sepi, karena hanya ada Asmara dan Loka saja yang berada di sana.
Celoteh dan manja nya Senja belum dapat di dengarkan karena Loka masih mengungsi kan nya di rumah pak Basuki.
Senja dan mbok Jum sepertinya masih betah berada di rumah pak Basuki, bahkan tidak sekalipun pak Basuki menghubungi Asmara sejak malam tadi.
"Mas mau tambah nasi nya ?"
Gelengan kepala menjadi jawaban Loka pada Asmara.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama keduanya telah selesai dengan acara sarapan paginya.
Loka terlihat menerima sebuah panggilan telepon dari seseorang yang mungkin saja penting, Batin Asmara. Sementara Asmara sendiri kini sibuk dengan peralatan makan yang sebelumnya digunakan untuk sarapan bersama Loka.
Cekatan Asmara membersihkan semua peralatan kotor di dapur rumahnya, hingga semua telah bersih sebelum Loka selesai dengan panggilan teleponnya.
Hari ini hingga 3 hari kedepan merupakan Cuti bagi Asmara yang diberikan oleh kepala Puskesmas nya. Tentu hal itu karena selama bekerja tidak sekalipun Asmara Libur atau meliburkan diri kecuali hari Libur nasional.
Sehingga hari ini Asmara cukup santai menikmati hari hari bersama suami barunya.
Asmara masih sibuk membereskan kamarnya, sampai pada saat Loka masuk kedalam kamarnya.
"Ibuk" celoteh Senja
"Enja sayang"
Asmara sedikit kaget dengan kedatangan Senja yang bersama Loka.
"Tadi diantar Bapak sekalian berangkat ke kelurahan" Loka memberikan penjelasan.
Asmara tampak menganggukkan kepala sebagai jawab.
"Enja sudah sarapan Sayang ?"
Dengan mantap Senja menganggukkan kepala, senja memang selalu bahagia ketika bersama kakek dan nenek nya, karena Senja mendapatkan perhatian lebih ketika disana, semua keinginannya akan langsung di turuti oleh kakek dan nenek nya, beda dengan ketika Senja bersama Asmara, bahkan kerap kali Asmara meninggalkan Senja hanya bersama mbok Jum saja.
Bukan tanpa alasan , Hal itu tentu karena Asmara yang harus banting tulang demi untuk memenuhi kebutuhan dirinya juga Senja.
Senja tampak asyik bermain bersama Loka diatas kasur yang sedari tadi sibuk di bereskan oleh Asmara.
Suasana begitu terasa berbeda sejak kedatangan Loka didalam keluarga kecil Asmara.
"Ayah janji jangan buat ibuk nangis lagi"
Senja terdengar memperingati Loka dengan gaya cadel nya.
Bukan marah justru Loka gemas melihat tingkah putri barunya.
"Siapp Sayang, Ayah akan selalu membuat ibu bahagia" Janji Loka pada gadis kecil di pangkuannya.
Senja terlihat begitu bahagia mendengar ucapan Ayah angkatnya, perhatian dan sosoknya selalu di nantikan oleh Senja sejak lama.
Meski bukan Bima ayah kandungnya, setidaknya Senja dapat merasakan kasih sayang seorang Ayah, meski hanya berstatus sebagai ayah sambung saja.
***
Seakan tidak ingin melewatkan kebahagiaan begitu saja, Loka membawa Asmara dan Senja berbelanja ke kota, karena hanya di sana lah Mereka bisa mendapatkan semua barang dengan mudah nya.
Seperti ayah dan anak pada umumnya, Loka begitu memanjakan Senja dengan banyak mainan yang baru mereka beli.
Ketiganya menghabiskan waktu untuk berbelanja semua kebutuhan Asmara dan juga Senja.
Meski sejujurnya Asmara menolak, namun Loka sangat memaksa Asmara untuk membeli semua barang yang selama ini selalu di inginkan sang istri namun belum sempat dia wujudkan karena kebutuhan ekonomi lebih penting dari sekedar membahagiakan hati.
Loka paham betul, mungkin saja sejujurnya Asmara juga menginginkan seperti kebanyakan wanita pada umumnya, berbelanja, memanjakan diri dan masih banyak kegiatan lain yang ingin di lakukan.
__ADS_1
Namun karena tuntutan ekonomi , Asmara menekan semua keinginan dan hatinya untuk bahagia ' begitu pikir Loka'.
***