SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 36. Jemputan di Pagi Hari


__ADS_3

...Dewasa bukan hanya tentang usia, Tidak jarang Orang tua yang tidak bersikap dewasa....


...🍁...


Waktu menunjukan pukul 19.45


Kegiatan makan malam telah selesai, Senja juga telah masuk ke kamarnya tentu dengan ditemani mbok Jum.


Asmara memang merasakan tubuhnya sangat lelah, namun entah mengapa dia tidak ingin cepat-cepat memejamkan mata. Banyak pertanyaan pertanyaan yang tiba-tiba menghantui pikirannya.


Entah karena apa dia sangat enggan meski untuk sekedar merebahkan tubuhnya saja.


Asmara memilih menyibukkan diri dengan sisa pekerjaan kantor yang dia bawa pulang, hal itu tentu untuk mengalihkan perhatiannya pada sosok Loka, yang begitu menyita pikiran dan hati nya.


Bukan karena cinta mungkin , atau sejujur ya memang belum tumbuh rasa itu hati nya, atau belum yakin terhadap sosok Loka yang ingin serius dengan dirinya


Asmara memikirkan bagaimana bisa Dia yang Loka pilih untuk menjadi pendamping hidupnya.


Sementara tentu sosok seperti Loka tidak akan kesulitan jika hanya untuk mencari pasangan.


Mengingat bagaimana sebelumnya pak Basuki berkata jika Loka merupakan keturunan Ningrat, dari harta saja tentu sadah sangat mudah jika digunakan untuk memikat wanita.


Belum lagi look dari Loka sendiri yang bahkan lebih cocok menjadi seorang model dibandingkan pengusaha, tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum Hawa.


Lantas apa alasannya, Mengapa Asmara yang menjadi pilihannya, yang jelas bukan siapa-siapa jika di bandingkan dengan Loka, begitu pikir Asmara.


Rentetan pertanyaan terus saja melayang di pikiran Asmara.


Hingga dering telepon terdengar memenuhi ruangan yang kini terasa sepi dan sunyi.


'Mas Bima' Batin Asmara


Asmara menajamkan penglihatannya, meyakinkan dirinya jika sosok yang menghubungi nya benar-benar mantan suaminya.


Dan benar saja, masih tertera nama Bima di dalam layar ponselnya. Segera Asmara menggeser ikon tanda hijau di layar ponselnya.


"Assalamualaikum Mas Bima "


Begitu sapaan Asmara pada lawan bicara yang berada di ujung telepon


"Waalaikumsalam Asma. Apa kabar ?"


Terdengar suara lirih dan serak khas orang sakit, mungkin memang Bima sedang sakit, batin Asmara. Tapi Asmara memilih abai saja.


"Oh. Alhamdulillah mas baik, Senja juga baik, tapi sayang saat ini dia sudah tidur, mungkin kamu bisa menghubungi lagi besok"


Jelas dan tegas Asmara sampaikan pada mantan suaminya. Tentu hal itu karena tidak ingin membuat keributan dan kegaduhan antara Bima dan istrinya Diana.


Sudah merupakan kebiasaan , Asmara akan mendapatkan labrakan dari Diana, ketika Asmara dan Bima saling berkomunikasi meski hanya via telepon dan itu tentu hanya untuk urusan Senja sejujurnya.


"Em. Oh iya, tapi aku ingin berbicara denganmu" Ucap Bima dari seberang sana.


Asmara tampak menautkan kedua alisnya, tidak biasa Bima melakukan hal itu, terlebih dia juga tentu tahu bagaimana kecemburuan Diana terhadap dirinya.


"Begitu ya, katakan saja, Apa yang ingin mas Bima Tanyakan, Maaf Asma juga sudah ngantuk soalnya"


Meski sejujurnya Asmara hanya berbohong, namun lebih baik dia mengatakan itu daripada harus kembali mendengar perdebatan antara Diana dan Bima.


"Oh Em -- "


Bima terdengar menjeda ucapannya.


"Apa benar kau akan menikah dengan laki-laki itu ?"


Deg.


Asmara tampak menahan nafasnya, hingga sepersekian detik dia menghembuskan kembali nafasnya. Mendengar pertanyaan Bima yang sungguh bukan merupakan urusannya jujur membuat Asmara sedikit tidak suka.


"Mas Bima tidak perlu mengurus urusan Asmara, lagi pula itu tidak ada hubungannya dengan mas Bima juga"


"Bukan begitu Asma, Hanya saja --"


"Sudah lah mas, tidak usah berbelit-belit, Urus saja urusan Mas Bima dengan Mba Diana, Soal Senja dan Mas Loka itu urusan Asmara!!"

__ADS_1


Tidak ingin terlibat perdebatan seperti sebelumnya, Asmara memilih membungkam mulut Bima dengan ucapanya.


"Jika masih ada yang ingin mas bicarakan lagi silahkan katakan, namun jika yang ingin mas Bima tahu soal masalah pribadi Asma. Maaf, Tapi Asma rasa itu tidak penting, Dan perlu mas Bima tahu, jika Asma sangat tidak suka mas Bima mengorek urusan Asmara !!"


Terdengar helaan nafas dalam, dari sambungan telepon yang masih Asmara dengarkan.


"Baiklah, aku rasa sudah cukup, besok aku akan menghubungi lagi jika Senja sudah bangun" ucap Bima


"Em. Assalamualaikum " Ucap Asmara memutus sambungan telepon nya.


Sedikit kencang Asmara meletakkan ponselnya, hingga menimbulkan bunyi nyaring di atas meja.


Belum juga Asmara mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan di otaknya mengenai Loka, sudah harus di tambah dengan Bima yang semakin menambah beban pikirannya.


Tanpa terasa waktu menunjukan pukul 01.55 Sudah lewat tengah malam rupanya, dan Asmara merasa matanya masih enggan terpejam, sementara semua pekerjaan telah dia selesaikan.


Hingga pada akhirnya Asmara memilih untuk masuk ke kamarnya, meski sekedar untuk merebahkan tubuh saja, berharap dia akan lekas menuju alam bawah sadarnya.


***


Pagi hari.


Tidak seperti biasanya Asmara akan bersemangat untuk ke kantor, hari ini Asmara merasakan ingin beristirahat di rumah saja.


Mungkin tidak hanya karena pikiran , namun juga Asmara merasakan fisiknya yang begitu kelelahan, terlebih semalam Asmara baru dapat memejamkan mata setelah jam 2 lewat.


"Bu Asma sakit ?" Mbok Jum tampak mencemaskan Kondisi Asmara dengan wajahnya yang terlihat pucat.


"Nggak mbok, kecapekan aja"


Jawab Asmara sekenanya, sembari mengunyah makanan dalam mulutnya, Asmara tak lupa mengecek Ponselnya, memastikan tidak ada informasi penting dari kepala nya di kantor.


"Mbok Asma berangkat dulu ya, Nitip Senja" Asmara beranjak dari duduknya, meraih tas dan bersiap berangkat ke kantor.


"Baik buk" Jawab mbok Jum dengan anggukan kepala.


Belum juga sempat Asmara membuka pintu rumah, Suara mobil terdengar tengah parkir di halaman rumah Asmara.


Ceklek.


'Mas Loka' Gumam Asmara


Tidak menunggu lama sosok Loka keluar dengan begitu gagah dan tampan dari mobilnya.


"Kamu Sudah siap ?"


Loka tampak tersenyum dengan pandangan mengarah ada Asmara.


"Iya mas" Jawab Asmara singkat dengan anggukan kepala.


"Aku akan mengantarmu"


"Tidak perlu mas, Asma bisa sendiri" tolaknya secara halus.


Asmara hanya merasa tidak enak hati, tidak ingin dianggap memanfaatkan kebaikan dari calon suaminya, karena sejatinya calon hanyalah calon, yang bisa berakhir di pelaminan, namun tak jarang juga kandas di tengah jalan.


"Tidak perlu sungkan, anggap saja ini merupakan kewajiban calon suami"


"Tapi mas Loka belum memiliki kewajiban apa pun pada Asma"


Lagi-lagi Asmara berusaha menolak ajakan Loka. Namun bukan mengindahkan ucapan Asmara justru Loka dengan gerakan cepatnya menarik pergelangan tangan Asmara dan menariknya masuk kedalam mobil.


Mau tidak mau pada akhirnya Asmara hanya menurut saja.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, masih cukup pagi sejujurnya bagi Asmara, sementara jam kantornya dimulai pukul 07.30.


"Maafkan aku, beberapa hari yang lalu aku cukup sibuk dengan urusan kantor, aku tidak bisa sering-sering menemui mu"


Loka menyadari sebagai pasangan yang baru mengenal, dan berencana menuju jenjang yang lebih serius, sudah seharusnya mereka kerap bertemu, untuk saling mengenal dan memahami karakter dan kepribadian masing-masing.


Namun karena kesibukan Loka hal itu justru harus di tunda. Meski sejujurnya Asmara tidak masalah.


"Iya mas, Asma tahu, Orang seperti mas Loka tentu tidak memiliki cukup waktu untuk sekedar bermain-main"

__ADS_1


Entah mengapa respon Asmara kali ini sedikit menyindir Loka, dan Loka pun menangkap perbedaan gaya bicara Asmara.


"Kamu kenapa ?, Ada masalah ?"


Asmara pun menatap sekilas wajah Loka, yang tampak selalu tampan dan mempesona.


"Tidak mas, hanya ada sesuatu yang mengganjal di hati Asma"


Jujur Asmara katakan pada Loka, tentu sebagai wanita dewasa seperti dirinya, tidak ingin di ombang ambingkan oleh perasaan yang tidak kunjung mendapatkan jawaban.


"Katakan saja" Ucap Loka


Mendengar hal itu lantas sudut bibir Asmara terangkat keatas, menampilkan deretan gigi putihnya.


"Jika mas Loka ada waktu, Asmara ingin berbicara berdua saja, tapi mungkin nanti saja setelah Asmara pulang kerja. Bagaimana?"


Loka tampak menganggukkan kepalanya, setuju dengan ajakan Asmara


"Aku akan menjemputmu nanti" ucap Loka, dan Asmara mengangguk saja.


Tanpa terasa perbincangan singkat keduanya telah membawa Loka dan Asmara sampai ke tempat kerja.


"Terima kasih mas" ucap Asmara, dan loka menjawab dengan senyum terbaiknya.


Asmara pun menutup kembali pintu mobil, dan mengambil jarak mundur, menatap kepergian Loka dengan mobilnya yang semakin menjauh dari hadapannya.


"Dorrrr... !! Ngelamun aja !"


Dengan tepukan di pundak Asmara, Rani mengagetkan sahabatnya.


"Astaga Rani !!, untung aku nggak jantungan !"


"Nggak jantungan ?. Mati dong" Seloroh Rani dengan tatapan tanpa dosa.


"Apan sih Ran !!"


Sontak ucapan Rani sebelumnya mengundang gelak tawa diantara keduanya.


Rani dan Asmara melangkah bersama, masuk dan tidak lupa melakukan absen finger print baru setelahnya masuk keruang kerja KIA.


Setibanya di ruang KIA, keduanya merapikan kembali meja kerja nya, meski sebelumnya juga sudah ada petugas kebersihan yang membersihkan ruangan nya, namun hal itu juga tidak lupa Asmara lakukan, meski hanya sekedar mengelap meja kerjanya.


"Kamu kenapa tadi ngelamun, habis di anter ayang kok Bengong"


"Ayang ayang, udah nggak jamannya Rani"


Sudah tidak lagi muda sehingga Asmara merasa panggilan ayang terlalu berlebihan.


"Iya deh Calon Suami !!"


Mendengar hal itu Asmara hanya mendengus saja, enggan untuk menanggapi ucapan sahabatnya.


Fokus Asmara kini justru bukan pada Loka, namun malah pada Bima yang semalam menghubunginya.


"Semalam Bima hubungin aku Ran"


Rani tampak kaget mendengar ucapan sahabatnya, bukan apa-apa hanya saja hal ini termasuk langka, karena sebelumnya selalu Asmara yang menghubungi Bima, ketika senja menanyakan ayahnya.


Namun kali ini Rani agak kurang percaya jika Bima menghubungi Asmara.


"Beneran ?"


Asmara hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan sahabatnya.


"Aneh sih. Ya tapi selama dia nggak macem-macem sih nggak papa deh kayaknya"


Rani tampak mengetuk-ngetuk jarinya di meja kerja miliknya.


"Bukan itu masalahnya, aku cuma tidak ingin Bima kembali berdebat dengan istrinya" ujar Asmara


"Persetan urusan itu Asma, Senja itu juga butuh figur Ayahnya, bukan cuma istrinya mantan suamimu saja !!"


Asmara membenarkan ucapan sahabatnya, sejujurnya mungkin memang baik bagi Senja jika Bima mulai membuka hatinya.

__ADS_1


Pada akhirnya Asmara memilih untuk kembali fokus pada pekerjaan nya. Persoalan Bima sudah dia anggap selesai begitu saja.


***


__ADS_2