SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 56. Tawaran Asmara


__ADS_3

...Prosesnya mungkin bikin Lelah, Namun dengan Bismillah, InshaAllah endingnya Akan Alhamdulillah....


...🍁...


Surya semakin menghilang di tempatnya, meninggalkan cahaya yang masih terang di sudut sana.


Sangat indah dalam pandangan mata, namun mungkin saja meninggalkan luka yang membekas di dalam dada.


Meski demikian tetap saja setiap luka akan memiliki sejuta alasan untuk kesembuhan, seperti pesona cakrawala yang akan tergantikan dengan rembulan malam, setelah gelap menyapa.


Seperti halnya Asmara yang akan tetap memiliki cara untuk bahagia meski sejuta kali hatinya terluka.


Senyum manis di bibir nya terlihat begitu mempesona, mungkin jiwa dan raga Asmara pun lelah dengan banyaknya tugas dan tanggung jawab yang harus dia kerjakan, Namun itu bukan menjadi alasan Asmara menolak pasien yang datang pada nya.


Setelah memastikan kondisi pasiennya baik baik saja, dan sudah bisa untuk Asmara tinggalkan, Asmara pun bergegas keluar dari ruang praktiknya.


Sempat Asmara melihat bapak-bapak yang sebelumnya Asmara minta untuk menunggu di luar, namun ternyata juga sudah tidak ada di sana, mungkin saja mereka sudah kembali ke rumah masing-masing, mengingat hari semakin sore.


Tidak lupa Asmara meminta pada Mbok Jum asistennya untuk menyiapkan minuman hangat dan makanan untuk pasiennya.


Sementara Asmara sendiri juga harus segera membersihkan diri.


Setelah beberapa saat Asmara telah selesai dengan semua ritual sore hari nya, tidak lupa dia juga menjalankan kewajiban 4 raka'at sore nya.


"Mbok, Sudah diantar makanan dan minuman nya ?"


Terlihat mbok Jum menggelengkan kepalanya, Asmara jelas tahu alasannya. Mbok Jum terlihat masih sibuk dengan peralatan memasaknya. Tidak heran dia belum melakukan perintahnya.


"Minumannya sudah saya buat Bu, ini tinggal tunggu makanan nya saja"


Asmara tampak menganggukkan kepala mendengar ucapan asisten pribadinya.


"Ini biar Asma antar dulu mbok, nanti setelah makanan siap mbok Jum antar makanan nya saja"


"Baik buk"


Lega mbok Jum mendengar ucapan Asmara, sejujurnya memang Asmara tidak pernah memarahi atau berkata kasar pada mbok Jum atas sebab apapun.


Hanya saja mungkin mbok Jum merasa tidak enak hati belum melakukan permintaan Asmara sebelumnya, meski Asmara sendiri tidak mempermasalahkannya.


Sementara mbok Jum kembali sibuk dengan masakannya, Asmara yang telah segar dengan pakaian barunya masuk kedalam kamar periksa. Dengan secangkir teh madu di tangannya dia menyapa pasiennya.


"Selamat sore Bu"


Asmara meletakkan minuman nya di nakas samping Temat tidur pasien.


"Sore"


Tidak kalah sopan wanita di hadapan Asmara menjawab panggilannya.


"Apa masih ada yang sakit buk?"


Asmara memastikan jika tidak ada cedera lainnya, yang mungkin luput dari pemeriksaanya. Namun ternyata gelengan kepala menjadi jawaban dari wanita di hadapannya.


"Tidak usah terlalu formal, sepertinya kita seumuran" ucap wanita di hadapan Asmara.


Mendengar hal itu Asmara terlihat mengulas senyum di wajahnya.


"Kenalin Aku Luna"


Deg.

__ADS_1


Sebuah tangan terulur begitu saja di hadapan Asmara, namun di detik itu pula Senyum Asmara hilang seketika.


'Luna' batin Asmara.


"Hei !!"


Luna tampak mengagetkan Asmara yang hanya diam dalam lamunannya.


"Oh. Maaf, Asmara"


Asmara menyambut tangan wanita di hadapannya, meski sedikit terkejut dengan nama pasiennya, namun Asmara meyakini jika nama Luna tidak hanya satu saja, terbukti Artis ibu kota saja juga ada yang bernama Luna.


"Kamu kenapa Asma kok bengong ?"


Luna tampak begitu ramah setelah memperkenalkan dirinya, terlebih dia yang lebih suka dan nyaman dengan di panggil nama saja.


Sejujurnya Asmara ingin memanggilnya Mba, namun Luna menolaknya karena merasa tidak nyaman dengan sebutan itu.


Mau tidak mau Asmara pun menyetujui usulan Luna untuk saling memanggil nama diantara mereka, terlebih nyatanya usia keduanya memang tidak lah jauh berbeda. Hanya selisih 3 tahun dan itu tidak terlalu jauh bagi Asmara.


Keduanya tidak butuh waktu lama untuk saling mengakrabkan diri, terbukti baru beberapa menit keduanya berbincang, terdengar gelak tawa memenuhi ruangan periksa Milik Asmara.


Sampai suara keduanya membangunkan Senja yang sebelumnya lelap dalam tidurnya.


"Ibuk"


Panggil senja dengan suara seraknya.


Gadis kecil yang kini hanya berani mengintip dari balik celah pintu, membuat Asmara semakin gemas melihatnya.


"Sayang, Sini nak"


Panggil Asmara dengan lambaian tangan pada Senja.


"Halo cantik"


Luna lebih dulu menyapa Senja dengan senyuman ramah nya.


"Halo Tante" Jawab Senja dengan gaya malu-malu nya.


Senja duduk di pangkuan Asmara, melihat luka di kaki Luna membuat Senja sedikit ketakutan pasalnya luka tersebut dibiarkan terbuka begitu saja, dan Cairan merah yang tersisa di atasnya membuat Senja merinding melihatnya.


"Apa Tante sakit ?"


Luna menganggukkan kepala, dengan mata puppy Eyes nya terlihat mendramatisir suasana.


"Tapi Ibu Senja sudah mengobati Tante, Jadi Tante sudah tidak sakit lagi Sayang"


Luna tampak berbicara dengan canda tawanya, melihat bagaimana wajah Senja yang memelas melihat Luna, tentu membuat Luna merasa gemas dengan gadis kecil dipangkuan Asmara.


"Cepat sembuh ya Tante" celoteh Senja dengan gaya lugu nya.


Luna kembali menganggukkan kepala sebagai jawaban atas doa dan harapan Senja.


Ketiganya kembali berbincang akrab, sampai pada saat mbok Jum masuk dan menyapa ketiganya.


"Makanan sudah siap buk"


"Oh. Iya mbok, Kita makan nya sama-sama saja mbok, Mbok Jum bantu Bu Luna ya ke meja makan" titah Asmara pada asisten nya.


Pada akhirnya Asmara mengajak Luna untuk ikut makan bersama dirinya dan Senja , Selain karena kasihan sebab Luna tidak ada sanak saudara, juga karena diantara keduanya kini telah akrab.

__ADS_1


"Baik Buk"


Mbok Jum bergegas membantu pasien dari majikanya, dia papah Luna yang masih pincang karena menahan luka di kakinya.


"Pelan-pelan saja Mbok"


Asmara tampak mengingatkan mbok Jum sembari dirinya menggendong Senja menuju meja makan.


Hari belum begitu gelap, namun hal ini sudah menjadi kebiasaan Asmara dan keluarga kecilnya akan makan malam saat hari masih terang.


Tentu alasannya karena Senja yang memang terbiasa tidur lebih awal.


Tidak hanya Senja, Asmara, dan Luna saja yang makan di meja makan, namun mbok Jum juga nyatanya berada disana bersama mereka.


Ketika ada Loka mungkin mbok Jum tidak nyaman untuk bergabung bersama, namun ketika Loka bekerja hingga larut atau ketika dia tidak pulang maka mbok Jum akan menemani Asmara dan Senja untuk makan bersama, seperti saat ini mereka bersama-sama makan malam dalam satu meja.


Suasana tampak menyenangkan dengan Luna yang mudah akrab dengan semua orang, tak jarang Luna menggoda Senja dengan kelucuannya. Hingga Senja tertawa melihat nya.


"Ohya Lun, Kamu sudah memberi kabar keluarga kalau kamu kecelakaan?"


Asmara dengan hati-hati bertanya pada tamu sekaligus pasiennya.


Mendengar pertanyaan Asmara, Terlihat Luna menyimpan sendok dan garpu nya.


"Orang tua ku di Jerman, Aku sendiri di Indonesia"


Asmara tampak menganggukkan kepala, mendengar jawaban dari Luna, sejujurnya dia cukup prihatin dengan Luna, pasalnya Luna terlihat sedih setelah Asmara menanyakan tentang keluarganya.


"Tenang saja, kau bisa tinggal di sini sampai kondisimu benar-benar pulih"


Asmara mencoba menenangkan Luna dengan tawarannya, dia tahu betul bagaimana perasaan Luna saat ini. Sedang terluka dan tidak ada satupun keluarga yang menemani nya.


Luna tersenyum dengan tawaran Asmara, merasa beruntung di desa yang baru saja dia singgahi, Luna bertemu Asmara yang memang sangat baik dan ramah.


"Terima kasih Asmara"


Asmara menganggukkan kepala dengan senyuman manis menghiasi wajah cantiknya.


Makan malam kembali berlangsung dengan hangat, obrolan ringan tidak jarang saling mereka tanyakan.


Sampai semua makanan diatas piring telah berpindah kelambung masing-masing.


Satu persatu meninggalkan Meja makan, mbok Jum lebih dulu membereskan sisa makanan di atas meja, Sementara Asmara bersama Senja mengantarkan Luna untuk istirahat di kamarnya.


Ceklek.


Sebuah kamar tamu yang biasa Asmara gunakan untuk menyambut tamu-tamunya yang menginap di rumahnya.


"Maaf jika tidak nyaman" ucap Asmara


Namun ternyata senyuman menjadi jawaban dari Luna atas pernyataan Asmara


"Ini lebih baik Asma, daripada aku harus tidur di kamar pasien itu"


Luna terkekeh dengan ucapanya, begitu juga Asmara yang seketika tertawa mendengarnya.


"Istirahatlah, aku akan siapkan Beberapa pakaian ganti untukmu" ucap Asmara


"Terima kasih Asma"


Luna cukup beruntung dengan dirinya yang kini bersama Asmara , setidaknya dia berada di sini akan cukup aman bagi Luna, entah bagaimana jadinya jika dia tidak bertemu dengan Asmara.

__ADS_1


Sementara Luna beristirahat diatas kasurnya, Asmara bersama Senja beranjak keluar dari kamar tersebut. Seperti yang sudah dia katakan sebelumnya Asmara akan menyiapkan pakaian untuk tamunya. Dan urusan Senja, Asmara kembalikan pada Mbok Jum asistennya.


***


__ADS_2