SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 43. Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

...Kisah cinta yang belum sempat di mulai, Kini harus berakhir tanpa kata selesai. ...


...🍁...


Asmara tak kuasa menahan kesedihannya, Sesak di dada membuatnya terus saja mengeluarkan Air mata. Susah payah dia coba untuk menahannya, namun hasilnya sia-sia saja Lelehan itu terus saja mengalir di sudut mata indah Asmara


Bahkan Asmara baru mengingat jika dia melupakan Kopernya di mobil Loka, Asmara pun tidak sempat berpamitan.


Kini hanya tas yang berisikan identitas diri serta ponsel dan dompet saja yang sempat Asmara bawa. Namun hal itu tidak masalah bagi Asmara, karena tujuannya meninggalkan kediaman orang tua Loka tentu karen tidak ingin membuat hatinya semakin tersiksa.


Sungguh sesak di dadanya membuat Asmara sulit mengendalikan air matanya.


Untuk sesaat Asmara terdiam dalam lamunannya. Menatap lurus ke depan. Jalanan ibu kota yang selalu saja ramai cukup mengaburkan Isak tangis yang sedari tadi coba dia tahan.


Hingga Asmara benar-benar dapat menguasai hati dan pikirannya, Asmara pun meraih ponsel yang ada di dalam tas nya.


Waktu menunjukan pukul 21.55


Hampir tengah malam rupanya, sementara Asmara masih setia terduduk di trotoar jalanan kota Jakarta.


Jalanan yang dulu akrab di kaki Asmara namun kini terasa asing setelah dia memutuskan untuk meninggalkan ibu kota.


Asmara memilih kembali berjalan saja, entah kemana tujuannya, yang jelas Asmara ingin segera menjauh dari kediaman orang tua Loka.


"Asmara !!"


Sebuah suara yang seketika mengagetkan Asmara, Asmara cukup familiar dengan suara di belakangnya.


"Mas Bima" Lirih Asmara dengan kembali menyeka air mata nya.


Bima berlari menghampiri Asmara, tidak percaya jika yang kini berdiri di hadapannya benar-benar Asmara mantan istrinya.


"Kamu sedang apa di Jakarta?"


Bukan jawaban yang Bima dapatkan, namun gelengan kepala Asmara menjadi jawaban atas pertanyaan Bima sebelumnya.


"Kamu kenapa ?"


Bima menangkap Mata Asmara yang bengkak karena air mata.


Lagi-lagi gelengan kepala menjadi jawaban Asmara. Sejujurnya Asmara hanya ingin sendiri saja, namun takdir memaksa nya bertemu kembali dengan mantan suami yang selalu ingin dia hindari.


Menyadari mungkin saja Asmara tidak baik-baik saja, Bima pun memapah Asmara masuk kedalam mobilnya. Begitu juga Asmara yang hanya menurut saja


Tidak menunggu persetujuan Asmara, Bima mengemudikan mobilnya entah kemana arahnya tujuannya.

__ADS_1


Suasana hening tampak mendominasi Asmara dan Bima. Terasa canggung sehingga baik Asmara maupun Bima memilih untuk diam saja.


"Kamu mau aku antar kemana ?"


Tanya Bima pada akhirnya, karena tidak mungkin bagi Bima membawa Asmara pulang ke rumahnya.


"Setasiun saja Mas"


Jawab Asmara singkat tanpa menatap Bima di sampingnya.


Melihat bagaimana kacau nya mantan istrinya, sejujur nya Bima merasa iba , namun tidak banyak yang dapat Bima lakukan karena Asmara sendiri tidak mengatakan apa-apa pada nya.


"Baiklah. Apa kau sudah makan ?"


Asmara menganggukkan kepala sebagai jawaban. Sementara itu Bima kembali mengemudikan mobilnya memecah ramainya jalanan kota Jakarta.


"Sebenarnya kamu kenapa ?, Kamu bisa cerita Asmara" Bima berbicara seolah dia mengerti segalanya.


Mendengar ucapan Bima, Asmara hanya menatap tidak percaya.


Bagaimana bisa Bima dengan entengnya menyuruh Asmara bercerita tentang masalahnya pada dia. Hal ini terasa sangat menjengkelkan bagi Asmara.


Asmara hanya merasa rentetan kepedihan yang dia rasakan juga berawal dari Bima yang telah lebih dahulu menusuk hatinya.


Hingga saat ini Asmara kembali merasakan Luka, bahkan untuk berbicara saja rasanya dia sudah tidak kuasa.


"Kita bukan siapa-siapa, sehingga aku tidak perlu menjelaskan masalahku pada mu"


Ucapan yang pada akhirnya keluar dari mulut Asmara.


Mendengar jawaban Asmara, Bima pun memilih untuk kembali diam saja.


Asmara yang saat ini memang telah berbeda jika dibandingkan dengan Asmara yang dulu menjadi istrinya. Asmara yang Bima lihat saat ini adalah dia yang begitu berani, kuat menahan arus meski hati dan jiwanya terluka.


Sedikit banyak sikap Asmara cukup membuat Bima menyesali perbuatannya.


"Maafkan aku Asmara" Lirih Bima , Sangat pelan Bima katakan, namun masih jelas Asmara dapat mendengar kan.


"CK. Apa itu penting?, Bahkan 1000 kali pun mas Bima katakan, tetap tidak akan merubah kenyataan"


Tegas dan lugas Asmara katakan. Sungguh hatinya sangat terluka, mengingat bagaimana sakit hatinya atas perlakuan Bima yang saat ini bahkan belum sembuh sempurna, kini Asmara harus kembali merasakan hati itu kembali tersakiti.


Sungguh jika Saat itu Bima tidak dengan bodohnya menduakan Asmara, mungkin semua kejadian yang dialami Asmara saat ini tidak akan terjadi.


Namun kenyataan berkata lain, Takdir seolah kembali mempermainkan dirinya, Hati yang sudah sejak lama coba dia tata, kini harus kembali porak poranda.

__ADS_1


Perbincangan dirinya dengan Bima agaknya semakin membuat Asmara kembali mengingat luka lama nya.


"Stop !!" Ucap Asmara


"Apa ?"


Bima tampak menajamkan pendengarannya, tidak percaya dengan apa yang di katakan Asmara.


"Stop !!, Aku bilang Stop !!!"


Asmara mengulangi ucapanya.


"Tapi --"


"Hentikan mobilnya !" tegas Asmara katakan pada Bima


"Tapi kita belum sampai di stasiun Asmara!"


Tajam mata Asmara menatap Bima, sungguh Asmara sudah muak dengan semua sikap Bima, mungkin dengan kebaikan yang saat ini di lakukan nya, Sungguh Asmara tidak bisa lebih lama bersama Bima.


Tidak ingin kembali berdebat dengan mantan istrinya, Bima memilih menepikan mobilnya, menuruti permintaan Asmara, hingga terlihat Asmara meraih handel pintu dan keluar dari mobil Bima begitu saja, bahkan tanpa berpamitan dan tanpa sepatah kata pun.


Bima mencoba mengejar Asmara, namun langkahnya terhenti ketika Asmara menatapnya dengan begitu tajam.


Dengan linangan Air mata, Asmara kembali menyusuri jalanan ibu kota, tidak cukup kuat hatinya untuk menanggung beban masa lalu yang begitu sangat menyakitkan.


***


Waktu menunjukan pukul 23.30


Sudah masuk waktu tengah malam, Asmara duduk sendiri menanti kedatangan Bus yang akan mengantarnya ke kota kelahirannya.


Sebelumnya Asmara sampai di stasiun, dan ternyata sudah tidak ada lagi keberangkatan kereta dengan tujuan nya. Sehingga Asmara memilih untuk menumpang bis malam saja, agar segera sampai di kota kelahirannya.


Sebuah desa yang selalu Asmara rindukan, di sana juga lah luka hati Asmara perlahan sirna.


Tidak ingin membuang waktu lebih lama di ibukota, Asmara memilih untuk melanjutkan perjalanan malam ini juga.


Kini Asmara sudah berada di dalam Bis yang akan mengantarkan nya ke kota tujuan.


Masih banyak bangku kosong di sekitarnya, mungkin tidak ada penghuni nya atau memang karena belum datang orang orang nya.


Untuk sesaat Asmara memejamkan matanya, mengurai sesak didada, beberapa kali dia menghembuskan nafas kasar nya.


Berusaha menata kembali hati dan pikirannya. harapan Asmara hanya satu, dia ingin sekali segera sampai di rumahnya dan memeluk putrinya Senja.

__ADS_1


Semudah dan se simple itu harapan Asmara menyembuhkan luka hatinya.


***


__ADS_2