
...Karena Tidak Semua Kata Dapat Mewakili Rasa. Maka Cukup Ikhlas dan Rela saja Kuncinya....
...🍁...
Sore ini mungkin menjadi yang terburuk dalam kehidupan Asmara.
Sendakala yang baru saja ingin menampilkan pesonanya, seolah kabur dengan begitu banyaknya luka yang bersarang dalam diri Asmara.
Senja menyapa seolah terasa biasa saja, tatkala Loka telah datang namun dengan membawa serta luka dan sakit hati untuk Asmara.
Ironi memang kehidupan yang harus kembali Asmara jalani, baru juga bahagia sudah harus kembali terluka.
Hingga bertubi rasanya, Asmara seolah sudah tidak kuat menanggung semua ingin sekali rasanya melepaskan segala sesak dalam dada.
'Bunuh diri'
Namun Apa kabar dengan Senja, buah hati yang begitu dia cintai dan sayangi, malaikat kecil yang justru membuat Asmara bertahan hingga saat ini.
Sedalam samudra begitu pula tatapan mata Loka pada Asmara, hingga Loka merasakan bagaimana wanita yang begitu dia cinta sangat terluka karena ulah nya.
Ingin rasanya Loka memeluk dan menguatkan Asmara namun rasa-rasanya Asmara sudah tidak lagi ingin bersama dirinya.
Bahkan untuk menatap Loka saja rasanya belum sekalipun Loka lihat setelah Asmara mengetahui semua kenyataan diri nya.
"Asma maafkan aku"
Lirih Loka dengan menahan sesak di dada. Sungguh rasa cinta Loka pada Asmara bukan merupakan kebohongan. Namun kenyataan dirinya telah meruntuhkan tembok pertahanan yang telah di bangun oleh Asmara.
Kenyataan tidak hanya Asmara saja yang merasakan kecewa dan terluka, namun sejujurnya Loka juga merasakan hal yang sama, setelah semua yang terjadi Loka tidak memiliki pilihan lain selain menyetujui.
'Pernikahan antara dirinya dengan Luna'
Loka memang salah telah menduakan Asmara, namun dia juga tidak bisa membiarkan kedua orang tuanya terluka, sakit, dan juga kecewa.
Mendengar suara Loka yang terdengar begitu pilu, Asmara semakin merasa sakit hati rasanya.
Dimana bukti cinta dan kalimat manis yang selalu Loka gaungkan di telinga Asmara, jika pada kenyataanya hanyalah Nol saja.
Kata-kata terukir indah mengalir bersujud didalam doa, hingga pada saat ujian kembali menyapa, Akankah cinta tetap ada ?. 'Batin Asmara'
Dan pada kenyataanya hubungan mereka hanya saling menyakiti satu sama lainya saja. 'Lalu untuk apa ? 'Asmara kembali bertanya dalam hatinya'
Hening.
Menyadari ketegangan yang belum akan ada ujungnya, sementara hari semakin senja, pak Basuki tentu juga tidak bisa berlama-lama.
"Nduk, sudah mau magrib bapak harus pulang"
"Bicarakan semua dengan suamimu"
"Bapak yakin kamu bisa menentukan apa yang terbaik untuk dirimu"
__ADS_1
Lembut dan pelan pak Basuki tekankan ucapan pada Asmara, untuk mengambil keputusan yang tentu baik untuk keduanya.
Sungguh pak Basuki juga merasa begitu sakit hati, namun ego pak Basuki tetap tidak ingin lebih jauh mencampuri rumah tangga Asmara dan Loka.
Karena bagi pak Basuki, dia sudah cukup tahu dengan semua kenyataan yang ada, dan hal itu tidak lantas membuat nya ikut campur di dalam urusan rumah tangga putrinya. Karena tentu itu tidak akan baik nantinya.
"Pak !"
Asmara seolah memohon untuk pak Basuki tidak meninggalkannya. Terlihat pula bagaimana Asmara mencekal tangan bapaknya. Berharap pak Basuki akan tetap tinggal di sana.
Namun gelengan kepala menjadi jawaban Pak Basuki pada Asmara
"Selesaikan baik-baik semuanya dengan suamimu"
Usapan lembut di puncak kepala Asmara, menjadi tanda jika pak Basuki menyerahkan semua keputusan pada putrinya.
Ak Basuki yakin jika Asmara mampu untuk melalui semua, dan tentu semua keputusan ada pada dirinya.
Hingga pak Basuki beranjak dari duduknya, dan berlalu meninggalkan Loka dan Asmara.
Mungkin juga pak Basuki sangat kecewa, bahkan untuk menatap wajah Loka saja, pak Basuki seolah tidak mau rasanya.
'Nak Loka' yang selalu Pak Basuki ucap ketika bertegur sapa dengan suami anaknya , kini tidak pernah lagi terdengar dari mulut pria paruh baya di hadapan Asmara.
Sungguh hari ini merupakan yang terburuk dari semua kejadian yang di alami Loka, selain Asmara yang mungkin sudah tidak lagi menyukainya, juga hilangnya kepercayaan pak Basuki pada dirinya.
***
Asmara masih sah berstatus sebagai istri seorang Loka Wiratmaja, sehingga tidak ada alasan untuk Asmara tidak melayani suaminya.
Makan malam telah siap, tidak butuh waktu lama karena Asmara hanya tinggal menghangatkan apa yang sebelumnya telah dia masak untuk menyambut Loka.
Dimana Mbok Jum dan Senja ?, Tentu keduanya saat ini tengah menginap di rumah Bapak Asmara, selain untuk menghindarkan Senja dari melihat pertengkaran kedua orang tuanya, juga tentu untuk memberi ruang bagi Asmara untuk sekedar berbicara dengan Loka.
Meja makan yang selalu ceria dengan canda dan gombalan dari Loka kali ini terasa hambar, datar dan terkesan biasa saja.
"Asma"
Asmara masih sibuk dengan makanan dalam piringnya, hingga Loka memanggil barulah Asmara mendongakkan kepalanya, menatap sosok laki-laki yang begitu dia cintai namun juga saat ini mungkin begitu dia benci.
"Maafkan aku, Sungguh aku ---"
"Tidak usah meminta maaf mas, semua sudah terjadi"
Belum juga Loka menyelesaikan kalimatnya Asmara lebih dulu membungkam mulut Loka dengan ucapanya.
Setelah mengatakan hal itu, kembali Asmara sibuk dengan sendok garpu nya.
"Apa ini berarti kau sudah memaafkan ku ?"
Mendengar pertanyaan Loka, seketika Asmara mendongakkan wajahnya, kini dia telah kembali menyimpan sendok dan garpu nya, hingga helaan nafas terdengar dari hidung Asmara.
__ADS_1
Lekat Asmara menatap manik mata Loka, terlihat kesedihan di sana, namun meski begitu Asmara tidak pernah sedikitpun mengabaikan rasa sakit hatinya.
"Aku telah memaafkan mu"
Terdengar dingin ucapan Asmara masuk menyusup indera pendengaran Loka. Meski tipis, namun Loka dapat melihat senyum di sudut bibir Asmara.
Binar bahagia seketika terpancar jelas di wajah Loka, meski Asmara masih begitu dingin padanya, namun setidaknya dengan Maaf dari Asmara, maka perlahan Loka akan memperbaiki kesalahannya.
"Terima kasih sayang. Terima Kasih"
Ucap Loka dengan begitu bersemangat nya, hingga dia meraih tangan Asmara yang berada diatas meja.
Namun secepat itu pula Asmara menarik kembali tangannya dari genggaman Loka.
"Aku Memang telah memaafkan mu Mas. Namun kita tidak bisa untuk kembali bersama"
Deg.
Manik mata Loka membulat sempurna, Mendengar sebuah ucapan yang begitu tidak ingin dia dengar dari sosok wanita yang begitu dia cintai.
"Asma hanya butuh satu kalimat Talak dari Mas Loka saja"
Terdengar lirih namun sangat tenang Asmara katakan, bahkan terlihat tidak ada kemarahan, tidak ada tangisan ataupun penyesalan, Asmara terlihat begitu tegar dan kuat mengatakan semua pada Loka.
Sorot mata Asmara juga tidak pernah lepas dari dua manik mata Loka , itu membuktikan bahwa jika Asmara sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Sama seperti prinsip Asmara sebelumnya, semua yang dimulai dengan baik, maka ketika berakhir pun juga harus dengan baik.
Tidak hanya pada Loka, namun juga pada Bima, dulu Asmara juga melakukan hal yang sama.
Berbeda dengan Asmara yang seolah telah ikhlas merelakan semuanya, Justru Loka tidak sedikitpun ingin melepaskan Asmara.
"Tidak . Aku tidak bisa Asma !!"
Tegas Loka menolak usulan dari Asmara.
"Kita tidak bisa terus bersama, Asma tidak bisa !"
Gelengan kepala menjadi tanda jika Loka begitu tidak menginginkan perpisahan diantara mereka.
Hingga tanpa aba-aba Loka berlutut di hadapan Asmara, memohon agar wanita yang begitu dia cintai mau memberikan kesempatan kedua pada dirinya.
Namun nyatanya usaha Loka sia-sia saja karena Asmara telah menentukan pilihannya.
Linangan air mata mengucur deras tidak hanya di pipi Loka, namun juga Asmara yang sudah tidak bisa lagi membendung air matanya.
Malam ini menjadi saksi bagaimana hancurnya hati yang sebelumnya begitu menyayangi.
Kepingan kecil yang sebelumnya tertata rapi kini harus kembali Berhamburan ketika hati telah tergoyahkan.
Bersujud, Meraung , dan memohon pun rasanya sudah sia-sia saja, sebab jika seorang wanita telah terluka maka jangankan perceraian, hidup merana dan terlunta-lunta mungkin akan siap saja.
__ADS_1
Karena Hidup menderita lebih baik daripada harus terlihat bahagia namun menahan luka dan nestapa karena orang ketiga.
***